Senin, 28 Februari 2011

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN USIA DINI

Berbicara soal perempuan yang terekam dalam benak siapapun termasuk perempuan itu sendiri adalah makhluk yang mempunyai kelembutan, feminitas, sensualitas pemicu timbulnya libido seksualitas bagi kaum maskulin. Tak hayal segala komoditas produk apapa pun baik produk perlengkapan rumah tangga, elektronik, otomotif, apalagi produk kecantikan, perempuanlah sebagai simbul hasrat pasar. Sekalipun produk itu tidak ada hubungannya dengan feminitas, perempuan tetap saja dieksploitasi sebagai pemantik selera konsumen ( pasar ). Semisal, produk hand phone yang seharusnya tidak ada hubungannya dengan sensualitas tubuh perempuan nyatanya iklan produk tersebut lebih mengetengahkan kemolekan tubuh perempuan. Bahkan kemanfaatan produk itu tak semenenarik keindahan dan feminitas tubuh perempuan. Pertandingan tinju pun tanpa wanita seksi tak menarik untuk dinikmati oleh bebotoh.
Jelas sekali kelebihan perempuan yang tidak pernah dimiliki oleh kaum lelaki dimanfaatkan oleh siapapun baik perempuan itu sendiri maupun lelaki. Apalagi para pemilik modal akan getol mengeksploitasi keberadaan makhluk Tuhan yang paling seksi ini.
Meskipun gerakan perempuan mengaktualisasikan persamaan gender lewat gerakan revolusioner sekali pun sebenarnya tak mampu mengubah pandangan perempuan sebagai kaum lemah yang lazim diperebutkan, dipertaruhkan, dieksploitasi. Hal itu dapat dicermati dari perlakuan terhadap perempuan mulai dari zaman sebelum mengenal peradapan sampai zaman beradap, dari zaman penjajahan sampai zaman kemerdekakan.
Kelebihan-kelebihan perempuan yang tak pernah dimiliki oleh lelaki seperti penyabar, keibuan, telaten, manut, nurut dan tahan ujian hidup terlupakan. Namun, hal itu tidak bagi perempuan-perempuan pejuang pendidikan. Perempuan pengajar di pendidikan pendidikan usia dini (PAUD) memanfaatkan kelebihan untuk mengembangkan profesi yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa. Ya, perempuan-perempuan cerdas yang memanfaatkan kelebihan itu tanpa mempertontonkan kemontokan, kemolekan tubuh untuk melakukan sesuatu.
Lihat saja kemerebakan pendidikan usia dini (PAUD), play group, kelompok bermain, raudatul atfal ( RA) merupakan kecerdasan perempuan dalam memanfaatkan kelebihan itu. Dari sekian lembaga pendidikan yang tidak masuk dalam peta pendidikan dasar di Indonesia itu, keterlibatan perempuan dapat diyakini 90% lebih. Apalagi tenaga pengajarnya hampir 99 % perempuan. Misalnya dikecamatan Gunungpati saja tak satu pun dijumpai pengajar Taman Kanak-kanak ( TK ) laki-laki.
Yang menjadi pertanyaan, Benarkah keterlibatan perempuan itu merupakan profesi yang didasarkan pada pentingnya pendidikan anak usia dini? Atau sekadar pencarian kesibukan?
Seperti yang disampaikan oleh Ana Indarti guru TK Pertiwi Kalisegoro Gunungpati bahwa profesi yang dia lakoni merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi anak yang tidak memperoleh perlakuan pendidikan yang memadai pada usia emas ( golden age ). Anak yang masih memerlukan pendidikan dan bimbingan di usia emas tersebut harus memenuhi kebutuhan bermain, belajar, mengembangkan kecerdasan sendiri tanpa bimbingan orang tua. Anak diperlakukan sebagai orang dewasa mini, mampu berbuat dan mengembangkan potensi, mengambil keputusan sendiri. Sementara kedua orangtuanya sibuk bekerja.
Hal yang sama juga disampaikan oleh teman sejawat, Juwariyah, A.Ma bahwa kecerdasan anak yang pesat terjadi sejak anak baru lahir sampai usia lima tahun sehingga anak-anak perlu memperoleh pendidikan yang tepat di masa emasnya. “ Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Keith Osborn bahwa, kreatifitas anak mulai meningkat pada usia tiga tahun sedangkan mencapai puncaknya pada usia empat setengah tahun. Hampir 50 % potensi kecerdasan anak terbentuk pada usia empat. Kemudian secara bertahap mencapai 80 % pada usia 8 tahun” Imbuhnya.
Mengapa peluang itu tidak diambil oleh kaum laki-laki sebagai suatu bentuk peluang usaha yang menjanjikan? Misalnya, peluang mendirikan PAUD. Peluang menciptakan sarana bermain dan peluang usaha lainnya. Semua peluang itu memang dapat dilakukan oleh laki-laki.
Kaum Adam memang dapat melakukan pekerjaan tersebut, tetapi tidak sebagai tenaga pengajar di PAUD. Karena lelaki tidak mampu menandingi kelebihan perempuan yang mempunya sifat ke ibuan dengan berbagai kemampuan lain yang melekat padanya. Tanpa mengedepankan keindahan tubuh, perempuan tetap mampu berbuat untuk diri dan orang lain.Dengan keperkasaannya laki-laki tak mampu melakoni.
Benarkah kaum Adam tidak mampu? Meski tidak banyak laki-laki juga ada yang menjadi tenaga pengajar di TK dan sejenisnya. Mengapa tidak banyak? Tenaga pengajar di PAUD memang tidak menjanjikan. Bagaimana menjanjikan ? Di tengah tingginya pemaknaan hidup yang hedonisme ini hanya perempuan pengabdi mampu melakukannya. Perempuan yang mengubah nalarnya dari perempuan yang selama ini selalu memanfaatkan keindahan tubuh sebagai sarana menguasai pangsa pasar semua produk.
Benarkah perempuan-perempuan telah berafirmasi pada wilayah yang tak mengedepankan feminismi untuk melakukan sesuatu tetapi wilayah pengabdian pada bangsa. Manusia yang lebih mementingkan hidup bukan sekadar materi sebagai wujud keberhasilan hidup, tetapi hidup lebih peduli yang di imani.
Absurd memang, di tengah keberadaana dunia glamor semuanya serba mewah, hidup hanya didasari total materi yang dimiliki dan tingginya nilai konsumtif , perempuan-perempuan tetap saja menjadi sosok pengabdi pada bangsa. Ataukah karena dikotomi perempuan oleh pemerintah atau pengembil kebijakan. Benarkah pemerintah dengan segala kebijakan, pemilik yayasan dengan segala keterbukaan, wali murid dengan keihlasan , pengambil kebijakan dengan tangan besinya tak mampu mensejahterakan tenaga pengajar PAUD?
Perempuan-perempuan itu tak pernah memikirkan tetapi sebenarnya mengharap. Pekerjaan mulia yang mereka lakukan dengan kemuliaan itu tak berimbang dengan rupiah yang diperoleh. Bagaimana tidak?
Melakukan profesi yang dilakukan dengan profesionali itu sebenarnya tak menjanjikan. Pendidikan PAUD yang belum masuk ke lembaga pendidikan formal sebenarnya merupakan indikasi suramnya masa depan perempuan pengabdi itu dalam hal penghasilan. Dengan rupiah yang tak seberapa, jauh dari Upah Minimal Regional ( UMR ) perempuan itu harus sabar dalam mengajar, rapi dalam berdandan, luwes dalam bergaul, contoh bagi masyarakat semuanya harus profesional.
Sebuah masa depan yang belum jelas arahnya, karena tak ada jaminan kesejahteraan. Hal itu dikarenakan tak ada kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang mewajibkan anak untuk sekolah di taman kanak-kanak. Tak hanyal peran perempuan ini dipandang sebelah mata oleh pemangku kebijakan. Misalnya, perihal kesejahteraan. Berapa persen pengajar di sekolah ini yang menjadi PNS? Berapa persen sekolah yang telah menggaji tenaga pengajarnya sama jumlahnya dengan UMR?
Bahkan tidak ada kewajiban sekolah dasar untuk menerima murid baru yang sudah berijazah TK atau sebaliknya. Sekolah dasar hanya akan menerima siswa dengan dasar usia anak yaitu kurang lebih tujuh tahun. Apalagi kewajiban sekolah mengupah karyawannya sesuai UMR.
Ya, perempuan memang lemah namun kuat dalam cara pandang ditengah penyudutan perempuan sebagai mahkluk yang dimanfaatkan pasar. Feminisme yang mampu mengundang hasrat seksualitas kaum hawa itu telah diartikan sebagai konsumsi pasar yang menarik. Namun keterlibatan perempuan dalam profesi ini sebagai bagian dari peran perempuan ditengah maraknya distorsi terhadap keberadaan perempuan. Perempuan ( ibu ) yang mapu membuat hitam putihnya bangsa. Di tangan ibu lewat pendidikan informal ( rumah ) pendidikan yang pertama dan utama memegang peranan penting dalam perkembangan generasi. Tanpa perempuan kehidupan tak bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar