Selasa, 22 Februari 2011

Ajining Diri Saka Lathi (Harga Diri Karena Kemampuan Berbicara)

Dua puluh tahun lalu setiap kali jarum jam dinding berdetak, berkali pula beberapa perempuan terlibat adu mulut. Saling cerca, saling ejek dan tak sedikit pula yang terlibat adu jotos. Mungkinkah waktu itu memang sedang demam dengan petintu Eliyas Pical, lelaki tangguh dari maluku.

Jaman jahiliah! Betapa tidak, Cuma hanya persoalan sepele yang seharusnya dapat diselesaikan dengan penjelasan sederhana akan rampung. Perempun terus berkali ulang padu, kerah, congkrah selaksa anak anjing dan kucing.

Tidaklah heran jika ada yang mengumpamakan, dua perempuan kumpul akan menjadi perbincangan, tiga perempuan kumpul akan menjadi keramaian, empat perempuan kumpul akan menjadi pasar malam, lima perempuan kumpul akan terjadi ... . Maka tak mengherankan jika perempuanlah yang akan mampu membuat putih-hitamnya persoalan. Mengapa perempuan sering mengedepankan suara ketimbang penalaran yang berlogika?

Dalam banyak cerita, anonim, cerita guyon parikenan , yang berkenaan tentang perempuan, mengapa banyak cakap? Perempuan yang mempunyai leher tanpa penghalang, kolomenjing (jakun), pertanda bahwa perempuan jika memiliki kehendak, pendapat, unek-unek, rerasan, tanpa tedheng aling-aling, dikeluarkan tanpa akal dengan memperhitungkan sebab- akibat. Mungkinkah karena ada pembeda pelafalan kata (Nabi) Adam dengan (Ibu) Hawa. Yang mereduksi beberapa pengertian yang belum tentu betul, jiika mengucap Adam maka mulut/bibir akan menutup begitu sebaliknya jika kita melafalkan Hawa maka mulut kita akan terbuka lebar. Maka makhluk Tuhan yang berjenis kelamin laki-laki seperti Nabi Adam akan sedikit bicara. Jelas perumpamaan itu salah besar?

Nah, barang kali ada juga yang mencibir perempuan, mengapa perempuan banyak bicara ketimbang mengetengahkan penyelesaian persoalan dengan ranah logika yang bernalar? Mungkinkah karena perempuan tanpa penghalang dalam leher atau pun dalam struktur biologis lainnya sebagai hasil dari kematangan fungsi faat” fisiologi” akibat pengalaman empiris maupun belajar. Ataukah karena perempuan terlampau banyak lubang lebar, yang tak memberi ampun untuk menjadi umat yang lebih mengedepankan pikiran. Tat kala itu tak kuasa maka acap tangis dan ucap menjadi senjata andal. Bahkan dengan tegas Penyair metafisis Inggris pada abad ke-17 menggambarkan bahwa perempuan ” Cuma kata-kata sedang perbuatan adalah pria.”

Terlepas dari othak-athik murih gathuk, benar atau salah, yang jelas, lebih banyak perempuan yang menyelesaikan persoalan tanpa berfikir panjang, langsung berkomentar, yang terkadang komentar itu harus bertentangan dengan nalar sehat. Meski tidak semuanya, laki-laki pun banyak yang demikian. Mengapa bisa demikian?

Pernah terjadi dalam sejarah islam, ketika Rasulullah ditanya oleh umatnya ” Apakah yang paling berperan memasukkan seseorang ke dalam neraka?” Beliau saw, bersabda ” Dua lubang, yaitu mulut(lisan) dan kemaluan.” ( HR. At Turmudzi) dua lubang mulut dan kemaluan yang kerap mendatangkan dosa dan mengantarkan manusia ke neraka.

Mulut biasanya berkaitan dengan lidah ( bicara) dan perut ( makanan). Jika manusia tidak bisa mengekang bicara, lidah akan keluar kata-kata keji yang cukup menyakitkan orang lain justru itu yang akan membinasakannya. Kesadaran untuk berbicara dengan memperhatikan sebab akibat tidaklah mudah. Perlu pengalaman empiris yang tidak mudah diperoleh bak sekejab mata memandang. Justru pengalaman empiris ini yang mengantarkan manusia baik berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan untuk mencapai puncak kehidupan yanitu manusia dewasa.

Di zaman Rasulullah Abdullah Ats Tsaqafi bertanya, ”Wahai Rasulullah, terangkanlah kepadaku tentang suatu perkara yang akan dapat kubuat pedoman!” Maka Rasulullah menjawab, dengan memegang lidah, ” Ini.” (HR. An Nasai). Abu Bakar pun sangat keras terhadap bahaya lisan sehingga ia pernah mengatakan kepada Umar Bin Khathab ra dengan menjulurkan lidahnya seraya mengatakan, ” Inilah yang membawaku ke tempat kehancuran.”

Tidak sedikit bahaya yang ditimbulkan oleh bahaya lisan. Ketajaman lidah melebihi ketajaman pedang. Maka manusia yang terbekali dengan mulut dengan kemampuan berbicara tidaklah dengan mudah mengeluarkan lisan itu tanpa memperhitungkan dengan akal sehat. Tidaklah Rasulullah berpesan, ” Kamu bisa menahan Lidahmu, rumahmu terasa lapang bagimu dan engkau menangisi kesalahanmu.” ( HR. At Turmudzi) keselaman yang dapat terjaga kerena lidah sebenarnya adalah kemampuan mengucapkan pertakaan yang jauh dari perkataan kotor, mengumpat, mencela, menggerutu, menggunjing, dan sebagainya. Hal yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan penyesalan manakala melakukan kesalahan, bertaubat dengan sebenar-benarnya jika kita memang melakukan pemanfaatan lisan yang menimbulkan bencana.

Sebegitu pentingnya penjagaan lisan atas pemanfaatannya, hingga lidah yang mudah berkata jika mampu mengekangnya maka manusia akan terlindungi dari aib. Sabda Rasulullah, ’ Barang siapa mengekang lisannya( lidahnya), pasti Allah melindungi aibnya, barang siapa menahan kemarahannya pasti Allah melindungi dari siksaNya, dan barang siapa mengemukakan alasan kepada Allah, pasti Allah menerima alasannya. ( HR At Turmudzi, Ibnu Abi Dun-ya, Al Baihaqi).

Simpanlah lidahmu kecuali dari perkataan baik. Sesungguhnya dengan demikian, kamu dapat mengalahkan setan ( HR. Ibnu Abid Dun-ya, Abu Dzar). Sesungguhnya Allah di sisi lisan setiap orang yang berbicara, maka hendaklah bertakwa kepada Allah orang yang mengerti apa-apa yang dikatakan. ( HR. Ibnu Majah dari Abu Khallad).

Karena sesungguhnya orang yang banyak bicara, pastilah banyak kesalahannya. Barang siapa banyak kesalahannya, pasti banyak dosa-dosanya. Barang siapa yang banyak dosanya, pasti neraka baginya. ( HR. Abu Nu’aim).
Pertemuan beberapa perempuan memang tak lepas dari perdebatan. Banyak tontonan dan kegiatan yang menyajikan materi perdebatan perempuan, telenovela, berita artis, gosip tetangga, berita suami. Perdebatan itu sebagai awal dari perkembangan materi perdebatan yang yang jauh lebih ramai.
Bagaimana islam menyikapi tentang perdebatan itu. Islam justru tidak menyenangi perdebatan, berbantah-bantahan. Berbantah-bantahan menurut islam adalah setiap pertentangan mengenai perkataan orang lain dengan cara menampakkan kelemahan dan kekurangannya, baik mengenai uraian kata, pengertian yang dimaksud, atau mengenai maksud orang lain yang berkata sehingga meninggalkan kesan ingkar dan pertentangan. Karena sesungguhnya keterangan tentang ” keburukan” berbantah-bantahan lebih banyak dari pada kebaikan.

Jika perdebatan dipahami untuk menunjukkan kelemahan atau kekurangan orang lain maka sebetulnya itu merupakan nafsu batiniah yang dapat merusak diri sendiri
Perdebatan, pergunjingan untuk membicarakan kelemahan dan kekurangan orang lain sebenarnya akan menunjukkan kekurangan pada diri manusia sendiri. Maka untuk menghindari hal tersebut, gunakan akal dan lakukan perdebatan ketika sendiri lalu dengan cara yang lemah lembut dan tidak memancing perdebatan baru ( emosi).

Sebagai manusia yang pingin banyak saudara, tetangga, kawan maka hindari duduk bersama sehingga membicarakan pembicaraan yang batil. ” Manusia yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah mereka yang paling banyak bicara tentang kemaksiatan kepada Allah.” kata Salman Al Farisi.

Sabda Rasulullah saw, barang siapa diam, pasti selamat.

1 komentar:

  1. diam itu emas.....tapi emas tak akan muncul jika tak diucapkan....maka berucaplah yng manis...menyilaukan nurani mahluk yang lain....keluarkan butiran kata bak butiran emas....logam yg mulia...semulia perkataanmu

    BalasHapus