Semua orang tua di dunia ini selalu berharap agar dikaruniai buah hati yang sempurna secara fisik , emosi, maupun mental. Jika diberi kesempatan memilih maka orang tua akan memilih buah hati yang bakal dilahirkan dari rahim sang isteri, berwajah seperti Anjasmara, berotak Habibi, berakhlak Nabi, bertubuh Ade Ray, berharta Tomi, seteguh Wiji Thukul, sesabar Mario Teguh, dan ….
Namun sayang, kesempatan untuk memilih itu tidak mesti ada. Meskipun orang tua tidak berkesempatan untuk memilih tetapi orang tua berkesempatan untuk berharap banyak tentang buah hati yang bakal terlahir dari isteri tercintanya. Berharap untuk menjadi dokter, guru, insinyur, ustad, atau bahkan menjadi presiden.
Anak memang sebuah karunia. Sebagai sebuah karunia mestinya harus kita jaga dengan sebaik-baiknya agar bisa tercapai pengharapannya. Proses anak untuk menjadi dokter, insinyur inilah yang tidak pendek dan tak mudah. Karena butuh peran yang lengkap agar proses berharap itu dapat terwujud sesuai dengan keinginan kita.
Meskipun demikian anak sebenarnya telah memiliki bekal hidup untuk berhak menjadi apa dan seperi siapa. Anak memang unik, tak sama kecakapan yang dimilikinya. Maka tak mengherankan jika Howard Gardner mempunyai keyakinan bahwa anak yang terlahir normal tidak ada yang bodoh. Karena menurutnya, masing-masing anak yang lahir itu memiliki Multiple Intelegensi yang berbeda-beda. Howard Gardner mengelompokan kecerdasan anak menjadi delapan intelegensi antara lain: kecerdasana bahasa, logis-matematika, tilikan ruang, bodily-kinesthetic, musik, antarpribadi, indra pribadi dan natralist.
Tidak ada anak yang sempurna, setiap anak berbeda-beda kecerdasannya. Anak pandai dalam olah raga belum tentu cerdas dalam matematika. Begitu sebaliknya.
Namun demikian Anda jangan yakin jika anak itu memiliki kecerdasan dan akan berhasil mewujudkan impian sesuai kecerdasan. Karena ini ditentang oleh John Loke bahwa bayi yang lahir masih seperti kertas putih, tabula rasa yang dapat ditulisi dan dilukis sekendak penulis atau pelukis. Kertas akan menjadi lukisan yang mahal harganya jika kita lukisi dengan teknik yang benar dan profesional.
Nah, jika bayi memang dilahirkan seperti kertas putih dapatkah kiranya kita menjadikan dua bayi yang terlahir dari rahim ibu yang sama itu menjadi dokter atau pilot. Jika memang bayi seperti kertas putih yang mampu kita bentuk maka kita tidak usah bersusah payah untuk memikirkan anak. Karena anak dapat kita jadikan menjadi dokter atau pilot tergantung kemauan kita. Katakan saja, tidak ada bayi yang terlahir tumbuh-kembang menjadi penjahat atau maling-maling uang rakyat.
Goresan pada anak akan bermakna mestinya tidak sekadar menggoreskan tinta tanpa mempertimbangkan tinta apa yang kita goreskan, dimana kita menggores, dengan siap kita menorehkan tinta pada kertas putih itu.
Pendapat yang demikian itu tidaklah semuanya benar. Siapa yang berani menjamin? Misalnya, kedua-duanya anak yang terlahir dari rahim yang sama itu kita jadikan pilot pesawat tempur. Saya belum yakin sepenuhnya karena kedua anak itu belum tentu memiliki keberanian layaknya pilot pesawat tempur. Meski memiliki keberanian, belum tentu memiliki kecakapan emosi, intelegensi, moral yang mendukung pekerjaan tersebut.
Atau sebaliknya, anak perempuan yang memiliki intelegensi, emosi yang cukup tetapi tidak memiliki keberanian. Hal yang mungkin terjadi, anak mempunyai bakat, ketarmpilan, keberanian tetapi tidak memiliki minat tentang pekerjaan tersebut.
Illustrasi tersebut membuka cakrawala dan pengertian orang tua terhadap anak. Anak memiliki bakat, minat dan kemapuan yang berbeda-beda. Istilah yang sering muncul tidak ada anak yang bodoh. Begitu juga sebaliknya, kita tidak dapat membentuk anak sesuai dengan keinginan kita
Sebagai orang tua harus paham terhadap ekspektasi yang nyata tentang anak. Pemahaman yang demikian haruslah dipahami sebagai bagian dari peran orang tua untuk memberikan pelayanan yang maksimal terhadap anak. Yah, pemahaman tentang perkembangan anak tak bisa ditawar lagi, mutlak dipahami, agar kedudukan sebagai orang tua mampu memahami dan mengenali tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan anak serta mengenali berbagai penyimpangan dari perkembangan anak. Sehingga sebagai orang tua mampu merespon kebutuhan anak dan memberi perlakuan yang tepat sesuai dengan tugas-tugas perkembangan.
Anak memang unik, tidak ada yang anak yang sama, baik secara fisik maupun yang lainnya. Perkembangan anak tidak hanya berdasar pada kecerdasan ( IQ) yang dimiliki, lingkungan sekitar ( orang tua, masyarakat sekitar, teman sepermainan) , atau bahkan pengaruh genetik dari keturunan.
Ada anak yang pandai dalam pelajaran berhitung namun sulit bergaul. Anak senang berolah raga namun prestasi akademiknya kurang. Ada anak yang benci dengan pelajaran eksak namun sangat cinta dengan ketrampilan. Ada anak yang hanya mencintai pelajaran melukis, bernyanyi, bersastra atau pelajaran lainnya. Setiap anak memang mempunyai kelebihan dan talenta masing-masing. Tidak ada yang sempurna. Namun tidak pula semua anak itu bodoh karena keunikannya dengan kecerdasan yang berbeda-beda.
Perlakuan orang tua mestinya tidak sama. Tetapi pada kenyataannya, orang tua justru tidak pernah memahami anak. Anak dianggap sebagai orang tua mini yang paham terhadap tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan. Atau bahkan anak dipahami sebagi pribadi tanpa memiliki perbedaan baik emosi, kepribadian maupun kecakapan lain sehingga orang tua sering melakukan pemaksaan-pemaksaan untuk melakukan sesuatu sekehendaknya.
Misalnya, Erik H. Erikson berpendapat bahwa perkembangan manusia adalah sintesis dari tugas-tugas perkembangan dan tugas sosial. Masing-masing anak mempuanya tugas perkembangan dan tugas sosial pada setiap usia. Anak usia satu, dua, tiga dan seterusnya mempunyai tugas yang berbeda sehingga perlakuannya pun haruslah berbeda.
Begitu sulitnya memahami dunia anak. Jika ingin menelusuri dunia anak jangan sekali-kali Anda berpura-pura menjadi anak namun ikutlah terlibat dalam dunia anak. Kepura-puraan dengan mengubah wajah lima puluh tahun menjadi wajah usia lima tahun sungguh sulit bahkan tidak bisa. Sungguh petaka jika kepura-puraan itu terbuka lewat pola berfikir yang tak mampu dipahami oleh anak. Orang tua yang berubah menjadi anak kecil justru akan muncul pikiran kedewasaanya tat kala kehendak pikirannya tidak diterima oleh anak. Topeng, yah, topeng akan terbuka lebar dengan berbagai karakter yang justru akan mematikan karakter anak. Misalnya, memarahi anak laksana memarahi orang dewasa, menghukum, memerintah yang kadang tidak kita sadari bahwa anak tetap anak dengan pribadi yang unik jauh dari kekurangan dengan tetap butuh bimbingan dari orang tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar