Mimpi perempuan untuk memiliki anak yang sehat, cerdas tidaklah mudah. Betapa tidak? Anak bukanlah benda mati yang dapat kita bentuk sesuka hati, perlu pertaruhan yang membutuhkan energi dan kecakapan. Yah, anak perlu penanganan yang tak terbatas waktu, terus menerus, dinamis, berkelanjutan. Semisal, seorang ibu menginginkan anak yang sehat dan cerdas tidak serta merta anak yang terlahir dari rahimnya langsung mengikuti keinginan kita, cerdas dan sehat. Mungkinkah, jika kita menghendaki bayi yang terlahir dari rahim itu sesuai dengan keinginan kita?
Berkeinginan memiliki anak yang cerdas, tidak lantas Tuhan mengaruniakan kepada kita bayi lahir dengan kecerdasan tinggi. Itu bagian dari pemikiran atau bahkan mimpi konyol! Betapa tidak konyol, anak yang terlahir dari ibu yang cerdas sekali pun, belum tentu anak turut cerdas. Mengapa demikian?
“Jer Basuki Mawa Bea, gegayuhan kudu kanthi pengorbanan,” sebuah cita-cita perlu pengorbanan. Karunia memang datang dari Tuhan yang manusia sebagai hamba tak pernah mengetahui sebuah rahasia. Namun demikian, karunia tidak datang tanpa Tuhan melihat kemapuan umatnya. Mimpi memiliki bayi yang sehat dan cerdas perlu usaha yang luar biasa kerasnya. Sejak dalam kandungan, kelahiran, atau paska kelahiran sudah memerlukan usaha dari orang tua dengan dasar pemikiran yang berlogika. Tidak asal tandang gawe! Dasar ilmiah menjadi rujukan dalam memberikan perlakuan kepada bayi.
Salah satu usaha yang dikembangkan oleh para dokter untuk meningkatkan kecerdasan dan menghasilkan bayi yang berkualitas pasca kelahiran dengan Inisiasi Menyusui Dini. Sebuah upacara yang harus dijalani oleh seseorang (bayi) yang akan menjadi anggota sebuah perkumpulan (keluarga). Meski sebenarnya bayi yang terlahir sudah menjadi bagian dari keluarga karena sudah berbulan-bulan menyatu dengan tubuh ibu dan bahkan sudah bersama-sama dengan keluarga. Semua naggota keluarga su8dah terlibat baik sejak dalam rahim maupun saat kelahiran. Lagi pula kehadirannya memang sudah menjadi kehendak pasangan suami-istri.
Upacaya yang harus dijalani oleh bayi dalam rangka menyatukan jiwa dan raganya dengan seorang ibu. Menurut Dr Utami Rusli SpA, dalam Seminar Nasional dengan tema “ Ibu Cerdas, Anak Sehat, Keluarga Bahagia, Inisiasi Menyusui Dini dapat meningkatkan kulitas bayi baik kecercasan maupun ketahanan fisik / psikis. Menurutnya, Inisiasi Menyusui Dini dapat dilakukan dengan cara menengkurapkan tubuh bayi di dada ibu setelah bayi itu lahir. Biarkan bayi itu bergerak dinamis, bahkan seorang dokter/bidan yang membantu persalinannya diwajibkan untuk membersihkan bayi di atas tubuh ibu. Biarkan gerakan bayi bergerak dan biarkan pula mulutnya s menjilat-jilat tubuh ibu hingga menemukan sendiri putting itu. Dokter pun tak boleh memisahkan tubuh bayi dengan dekapan dada sang ibu.
Betapa indah dan sakralnya jika suami yang menganut agama islam juga menyuarakan azan di telinga bayi diantara tubuh bayi dan dada seorang ibu. Kuasa Tuhan akan meneteskan air mata ibu dan menggugah jiwa anak. Biarka tetesan air mata ibu dan ayah mengiringi bayi yang terus menjilat-jilat tubuh ibunya minimal satu jam hingga menemukan ASI pertama dari seorang ibu tercintanya.
Kebesaran Tuhan memang tiada duanya, suhu tubuh perempuan itu bak termoregulator, tat kala bayi itu kedinginan suhu tubuh perempuan akan naik hinnga dua derajat celcius layaknya menjadi termosyndrome. Begitu sebaliknya tat kala bayi kepanasan tubuh perempuan itu suhu badannya akan turun hingga dua derajat celcius pula.
Bahkan siapa yang menyangka jika jilatan mulut bayi itu ternyata untuk mengumpulkan bakteri yang ada di tubuh ibu untuk dikumpulkan dan ditelan. Yah, Tuhan memang memberikan anugrah yang kadang kita tidak kuasa membuka rahasia itu miski dengan logika. Bakteri-bakteri itu dikumpulkan dan kemudian ditelan yang jumlahnya tidak ada yang tahu, namun hanya bayi yang mengetahui bersama kebesaran-Nya. Bakteri-bakteri yang jumlahnya sesuai dengan keadaan bayi akan tumbuh kembang menjadi bakteri prebiotik yang membantu pencernaan bayi dalam usus. Kaul and Kannel menjelaskan betapa penting Inisiasi Menyusui Dini bagi seorang bayi dan ibu yang menurutnya mampu membantu pengeluaran placenta, mengurangi pendarahan pasca melahirkan, mengurangi angka kematian. Sedangkan bagi seorang ibu, Mattheiesen Etal menjelsakan, dengan Inisiasi Menyusui Dini ternyata mampu mengurangi rasa sakit dan meningkatkan ambang nyeri paska melahirkan.
Jalinan kasih sayang seorang ibu-ayah-bayi dapat lebih obtimal jika perempuan dan ayah berkesadaran penuh sebab bayi siaga 1-2 jam pertama di tubuh sang ibu. Bukankah dengan kedekatan seorang ibu-ayah-bayi 1-2 jam itu mampu membuat hati ibu tentram karena kebersamaan yang menghilangkan kewaspadaan yang mendalam? Ibu lebih tenang, rileks dan perasaan sangat bahagia. Dengan kebahagiaan itu akan merangsang pengeluaran Asi lebih dini begitu hasil penelitian Kroeger & Smith dan UNICEF India : Breast Crawl initiation of breastfeelding by breast crawl.
Inisiasi Menyusui Dini berdasarkan hasil penelitian para ahli, Freudenheim, Epidemiol, Int J Cancer, ternyata mampu mengurangi kangker payudara. Resik0o yang dapat diturunkan dapat berkisar antara 23%-30%. Bahwa dalam suatu case-control study di Italia yang melibatkan 2442 ibu menemukan bahwa adanya perbandingan terbalik antara lama menyusui dengan resiko kangker indung telur ( ovarium). Fungsi perlindungan dari proses menyusui bagi seorang ibu lebih kuat dari pada tumor yang lebih ganas. Karena di dalam ASI ditemukan zat Mediator “ Innate Immune System” termasuk defensif, cathelicidins dan TLRs yang termasuk suatu zat komplek dalam ASIO yang mampu memberikan perlindungan jaringan payu dara ibu terhadap kangker. Selain kangker payu dara juga dapat mengurangi Kangker Rahim, Rheumatoid Arthritis, Maternal Diabetes. Tak kalah menariknya menyusui merupakan cara KB yang paling efektif, mengurangi resiko Overweight, stres dan kegelisahan.
Tak mengherankan jika di Negara Swedia, Norwegia, Canada memberikan hak kepada ibu yang menyusui bahkan tempat kerjanya pun mmberlakukan cuti bagi ibu menyusui hingga 54 minggu. Itu pun para perempuan tetap mendapatkan gaji sebagai hak atas karyawan.
Hak ibu untuk bekerja, hak pekerja menjadi ibu berkualitas untuk hidup lebih baik.
Salam ibu menyusui.
Gunungpati, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar