Senin, 28 Februari 2011

PEREMPUAN DAN HIV/AIDS

Kisah pilu perempuan cantik yang bernama Dinda, 26 tahun bermula dari determinasi kesenjangan hubungan dengan kekasihnya. Dinda perempuan cantik yang taat beribadah sejak berusia 15 tahun merupakan perempuan pengabdi dan setia kepada suaminya. Ia merelakan dirinya untuk berkorban demi pacarnya seorang pecandu narkoba. Perempuan yang suka menerima tantangan itu tak memedulikan tentang keadaan pacarnya, bahkan ia rela banting tulang, cari nafkah, demi membahagiakan kekasihnya itu.

Sejak berpacaran hingga menikah, Dinda sebagai tulang punggung keluarga yang selalu bersedia mengerjakan apa saja demi kebahagiaan keluarga. Namun kebahagian keluarganya yang telah terbangun tidak lama pupus setelah suami tercintanya tak sanggup melawan virus mematikan HIV/AIDS . Suaminya yang telah memberikan buah hati itu meninggalkan anak dan istrinya untuk selama-lamanya. Pun tak berlangsung lama, buah hati yang terlahir itu meneriwama warisan virus mematikan dari ibu yang ditularkan oleh ayahnya. Kelahiran bayi dengan yang diharapkan dapat menambahkan kehangatan keluarga justru menjadi beban tersendiri bagi Dinda. Tak lama, tiga bulan setelah kelahirannya, anak itu, akhirnya meninggal dunia.

Lain lagi dengan Rani, gadis cantik itu harus bergelut dengan duka karena kemiskinan keluarganya. Bagaimana tidak? Gadis yang baru kelas 6 di sekolah dasar itu harus siap dipacari oleh preman pasar karena harus berjuang untuk memperoleh rupiah demi keluarganya. Ketika usia menginjak kelas 3 SMP perempuan itu harus bersedia menemani tidur preman yang selama ini menyokong keuangan keluarganya. Rani yang masih lugu itu tak mampu berbuat banyak karena merasa berhutang budi.

Betapa terkejutnya, setelah dua minggu menikah, pengalaman pahit mulai diterima. Suami yang sering sakit-sakitan dengan demam tinggi, berkeringat, batuk-batuk bahkan tidak pernah sembuh. Suami yang Rani nikahi, tak tahunya pemakai dan bandar narkoba. Tak disadari bahwa selama ini suaminya menidap virus HIV/AIDS. Pil pahit pun terpaksa Rani telan. Belum genap usia kehamilannya, 7 bulan, suami harus mengakhiri hidupnya karena keganasan virus mematikan itu.

Demi menyelamatkan bayinya, Rani dibantu oleh LSM melakukan persalinan dengan operasi caesar dengan harapan bayi yang dilahirkan tidak tertular virus yang membunuh ayahnya. Namun begitu, bayi itu tetap terinfeksi HIV/AIDS. Bahkan belum sempat merayakan ulang tahun yang pertama bayi mungil itu menghembuskan nafas. Yah, sebegitu berat derita yang harus diterima oleh beberapa perempuan korban keganasan virus mematikan.

Perempuan memang, tidaklah lengkap jika tidak menderita, jika tidak dieksploitasi, jika tidak didistorsi. Justru itu yang menunjukkan kesempurnaan perempuan. Makhluk dengan sederet peran dan segudang penderitaan. Bagaimana tidak? Putri perempuan baik-baik yang bekerja di perusahaan swasta Jaya Pura itu harus menderita berkepanjangan karena suaminya yang seorang PNS di Jaya Pura menularkan HIV AIDS. Suami tercintanya yang belum sempat memberikan kebahagiaan itu harus meninggal karena tidak kuat berjuang melawan virus mematikan itu. Bahkan anak mungilnya harus lebih awal menanggung penderitaan, ia rela untuk tidak minum ASI, hanya minuman susu kaleng pemenuh nutrisi. Belum lagi mereka harus menerima pengucilan dari masyarakat.

Yah, perempuan memang layak hidup menderita! Jika tidak menderita maka tidaklah sempurna kodrat sebagai perempuan. Penderitaan perempuan sebetulnya merupakan akibat dari pengerdilan potensi dan harkat martabat perempuan sebagai makhluk yang mempunyai kesetaraan gender. Budaya patriarki tidaklah mudah untuk diubah atau bahkan telah manjing daging. Bahkan ada yang dengan bebas mengatakan, jangankan dalam kehidupan nyata, terlahir sebagai perempuan pun sebenarnya sudah penderitaan. Konyol, memang! Perempuan makhluk yang penuh sanjungan dalam kenyataan hanya sebuah pelengkap hidup yang tak bermakna.

Jika ada perwujudan sebenarnya merupakan bagian dari penyejuk ruangan untuk sekadar pelipur lara. Betapa tidak emansipasi yang telah jauh sebelum bangsa ini merdeka telah dikumandangkan tetap saja perempuan terletak pada posisi tawar yang rendah.

Meskipun sebenarnya, lelaki dan perempuan mempunyai derajat yang sama, peran yang tak beda, hak yang setara, kewajiban yang seimbang. Namun tatkala melihat hasil survai dari beberapa lembaga, penderita HIV/AIDS perempuan lebih banyak. Dengan melihat berbagai cerita di atas, dari dua jenis kelamin yang ada, perempuanlah yang paling rentan terhadap penderita HIV/AIDS. Yah, Perempuan memang paling rentan terhadap Human Immunodefiency Virus ( HIV) dan Acquired Immune Defisiency Syndrome (AIDS). Mengapa demikian?

Dari data yang dikeluarkan oleh PPB dalam peringatan hari AIDS Internasional tanggal 1 Desember 2004, Kofi Annan mnyebutkan, hampir separoh lebih jumlah orang dengan HIV/AIDS diseluruh dunia adalah perempuan. lebih jelas lagi badan PPB, UNAIDS, yang mengurus masalah AIDS melaporkan bahwa 67% kasus baru HIV/AIDS adalah usia muda ( 15-24 tahun) dan dari jumlah itu sebanyak 64% nya adalah perempuan.

Karena keterbatasan itulah, perempuan paling rentan terinfeksi HIV/AID. Kondisi biologis yang dimilikinya memang sangatlah mendukung perempuan lebih rentan terhadap tertularnya virus mematikan itu. Hal itu dikarenakan dalam struktur biologis perempuan (vagina) terdapat lipatan-lipatan yang membuat permukaannya menjadi luas. Begitu juga dinding-dinding vagina perempuan mempunyai mukosa ( lapisan tipis) yang lembut dan mudah terluka. Dengan demikian, jika terjadi hubungan seksual melalui penetrasi vagina, maka air mani akan bertahan lebih lama dalam rongga vagina, sehingga air mani yang terinfeksi HIV/AIDS akan dapat menulari perempuan tersebut. Apalagi jika terjadi penetrasi atau pemerkosaan yang melukai vagina, kemungkinan perempuan terinfeksi HIV/AIDS dua kali sampai empat kali lebih besar.

Faktor kultur yang dianut oleh masyarakat luas yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat, mendahului kepentingan orang lain dan tidak memahami hak-haknya. Apalagi hegemoni terhadap perempuan yang lebih pada sistem patriarki lebih menyudutkan perempuan sebagai obyek. Dalam kaitannya dengan hubungan seks,perempuan tak kuasa menolak hubungan seksual dengan pasangannya. Dampak lain dari faktor sosial kultur yang berkembang dimasyarakat dengan timbulnya nilai sosial yang menabukan pembicaraan mengenai seksualitas serta keterbatasan perempuan mengakses informasi tentang seks, kesehatan, reproduksi dan informasi lainnya.

Ketimpangan gender yang dikonstruksikan oleh budaya patriarki itu menyebabkan laki-laki merasa lebih dominan, sehingga laki-laki tidak perlu berkomunikasi dengan perempuan pasangan seksualnya. Akibatnya tatkala perempuan terinveksi HIV/AIDS perempuan sulit melakukan tindakan. Pengambilan keputusan dalam persoalan seksual ( sexual decision making) biasanya dikontrol oleh lelaki. Sehingga kekerasan seksual oleh lelaki lebih bisa ditolerir oleh banyak masyarakat. Perempuan diposisikan sebagai pelayan karena pengaruh internalisasi nilai.

Ketergantungan perempuan terhadap laki-laki karena budaya sosial kultur memabangun opini yang menyudutkan perempuan pada posisi tawar perempuan lemah. Hal ini yang menyebabkan ketergantungan ekonomi perempuan terhadap lelaki. Ketidak setaraan atau ketergantungan ekonomi perempuan terhadap suami atau pasangan yang menyebabkan perempuan tetap memilih berada pada dalam hubungan yang beresiko tinggi dari pada menghadapi risiko ekonomi yang yang lebih besar karena meninggalkan pasangan tempat bergantung. Norma kultur yang memandang pernikahan sebagai bentuk dukungan terhadap sosial ekonomi yang tidak akan didapati jika perempuan hidup sendiri. Ketakutan terhadap opini kultur yang memandang perempuan sebagai perawan tua jika tidak menikah turut serta dalam mengelompokkan perempuan dalam sudut sempit.

Begitu juga beban ganda yang harus disandang oleh perempuan menjadikan perempuan lebih tersudutkan. Sebagai ibu rumahtangga yang harus mengurus anak dan suami dan juga menjadi pemikul derita dari virus mematikan. Hal lain juga perempuan lebih disalahkan karena menjadi vektor dari inveksi dan menerima stigmatisasi, penolakan, dan pengusiran dari keluarga dan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar