Pekerjaan ibu rumah tangga tidak lagi pilihan terakhir dari perjalanan sebuah karir perempuan. Melainkan sebuah pilihan cerdas dari sebuah pekerjaan yang merupakan profesi, maka tidaklah mengherankan jika pekerjaan itu tidak lagi dipandang sebelah mata.
Terlepas dari kodrat perempuan, profesi ibu rumah tangga tidak sekadar pekerjaan asal-asalan yang hanya berlingkup pada masak, manak, macak. Perempuan meski harus cakap kuliner, seksi, memberikan keturunan tidaklah lengkap jika belum mampu mewariskan budaya luhur bangsa kepada anak-anaknya.
Ibulah orang pertama kali mengajarkan cara berbicara, menghitung jari tangan, mengekspresikan rasa kasih sayang. Mengenalkan jenis kelamin, mengajarkan adat istiadat, sopan santun, dan tata krama yang berlaku dimasyarakat sekitar. Maka sebutan ”Al Ummu madrasatul ula, iza a’dadta sya’ban thayyibal a’raq” ibu adalah pendidik utama, bila engkau mempersiapkan dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Ya, sangat tepat karena keberadaan seorang ibu sebagai pendidik tidak mengenal ruang dan waktu, kapan saja dan dimana saja berada.
Tidaklah salah, jika ibu yang pertama kali meneteskan air mata, mendengar anak terkasih terjerumus tindak pidana. Melainkan sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dari kegagalan sebuah usaha yang telah menghabiskan seluruh atau sebagian energi yang dimilikinya. Pun bisa tangis ibu sebagai bentuk keterharuan hati menyaksikan keberhasilan anak. karena si buah hatinya mendapatkan prestasi akademik, karier, atau menjadi isteri yang baik bagi suami-suami. Kebanggaan seorang ibu tidak lagi terukur oleh berapa jumlah rupiah yang dihasilkan dari jerih payahnya melainkan, Bagaimana seorang ibu mampu menciptakan generasi Khoirul Umah bagi kelangsungan hidup sebuah kaum, bangsa?
Persitegangan peran ibu sebagai wanita karir dan ibu rumahtangga_pendidik_ dalam keluarga sangatlah mengganggu pikiran sebagian perempuan. Meski karir perempuan setinggi langit, perdebatan tak perlu menjauhkan jarak perempuan sebagai pendidik. Kematian Merilyn Monroe, merupakan bentuk penyesalan dari popularitas perempuan yang tidak mampu menjadi ibu rumah tangga, pendidik untuk anak-anaknya. Peran ibu dalam rumah tangga menjadi poros, penyatu rasa kasih sayang. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna (Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei).
Dikotomi perempuan sebagai sebuah kaum yang hanya dieksploitasi lawan jenis untuk meningkatkan nafsu sahwat atau menjual produk unggulnya agar laris manis di pasaran, hanyalah usaha untuk meletakkan posisi tawar perempuan sebagai kaum lemah, tanpa daya, yang mudah diperbudak oleh kepentingan kapitalis.
Peran ibu sebagai pendidik dalam keluarga menempatkan perempuan pada posisi tawar yang sangat tinggi. Apalagi posisi ibu rumah tangga sebagai pendidik bukanlah pekerjaan mudah, sepele, remeh temeh. Melainkan sebuah profesi yang membutuh persyaratan sebagai pelengkap penyandang profesi untuk menjalankan tanggung jawab agar mendapatkan hasil sebuah pencapain indikator, Following a line of conduct as though it were a profession, tanggung jawab yang harus dikerjakan dari sebuah profesi.
Meskipun tugas rumah merupakan peran kolektif, anak cenderung lebih dekat, manja, dan terbuka, dengan seorang ibu. Bahasa ibulah menjadi komunikasi awal dari anak untuk mengenal simbul-simbul kebenaran, tata krama yang berlaku di sekitarnya.
Pendidikan memang kunci kemajuan bangsa ( Fukuzawa ukichi). Namun pendidikan yang mana? Apakah pendidikan formal di sekolah saja yang dimaksud oleh Bapak Pendidikan Moderen itu. Mestinya tidak, Ki Hajar Dewantara secara tegas mengatakan bahwa pendidikan tidak hanya di sekolah melainkan di rumah, dan masyarakat. Lebih-lebih pendidikan sikap, karakter, di rumahlah yang sangat berpengaruh.
Bentuk perlakuan yang diterima oleh anak dari orang tua akan menentukan kualitas kepribadian dan moral anak. Pengaruh dari orang tua waktu kecil akan membekas sangat mendalam dalam memori anak. Seseorang memiliki kepribadian yang rapuh, lemah, terbentuk karena kurang memperoleh kasih sayang, kurang rasa aman, akibat pemanjaan. Sebaliknya, orang yang memiliki kepribadian yang kuat terbentuk karena pemberian kasih sayang, kehangatan jiwa dan pemberian aktivitas, life skill pada anak.
Pencapaian hasil yang demikian tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dalam membentuk moral maupun pemahaman agama, orang tua harus mampu menjalin kualitas hubungan dan komunikasi dalam keluarga. Baik komunikasi pada tingkat feeling/ emosi, maupun pada tingkat rasio/logika. Anak tidak sekadar memperoleh jawaban ”ora ilok ”_ tidak boleh _ melainkan seorang ibu harus mampu menggunakan logika untuk menjelaskan kata ”ora ilok” tersebut. Ya, memang pada komunikasi tingkat rasio/logika, seorang ibu harus mampu mengajak anak untuk mengunakan rasio dalam memecahkan problem hidupnya. Lain dengan komunikasi pada tingkat feeling, seorang ibu harus mampu mangajak anak untuk mampu memahami perasaan orang, berempati, tanpa larut dalam emosinya.
Perempuan memang makhluk yang perlu memperoleh penghormatan dan pemulian yang layak manakala seorang perempuan mempunyai kelayakan. Semakin layak jika perempuan itu mampu menciptakan tiga struktur rumah tangga, seperti yang diungkapkan oleh Syeikh Muhammad Al-Ghazali, yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah. Ibu yang selalu puas hati, setia dengannya, mampu menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya, berakhlak mulia serta tahu bersyukur.
Keberhasilan dalam menanamkan karakter, moral dan agama anak tidak mungkin dihasilkan oleh ibu yang berhati batu, mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggung jawab. Perempuan yang demikian tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia. Apalagi tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia.
Permintaan Ibunda Kartini yang ditulis dalam buku Door Duisternis tot Linctht, menyebutkan bahwa, Kami meminta dengan sangat supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan kami.... sangat yakin akan berpengaruh besar yang mungkin datang dari kaum perempuan.... hendak menjadikan perempuan lebih cakap melakukan kewajiban, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidi manusia yang pertama-tama.
Berat, mulia, peran ibu dalam mendidik anak. Ibu sebagai pendidik tak pernah mengenal batas waktu dan ruang, tak pernah pesnsiun. Dimana saja dan kapan saja. Ibu selalu menemani, mendamping, membimbing anak bahkan dari sejak dalam rahim. Meski anaknya sudah berkeluarga, hati seorang ibu akan terluka tatkala melihat anaknya melakukan kejahatan, menangis mendengar sang anak pindah keyakinan, meronta tak kala melihat anaknya durhaka. Masihkah ada orang yang menyebut pekerjaan ibu rumahtangga sebagai profesi remeh-temeh dan hina?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar