Setiap anak dalam perkembanganya memiliki tugas yang berbeda-beda. Pemahaman ini dapat dimanfaatkan untuk membantu anak dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Apalagi sebagai orang tua akan membimbing anak untuk mewujudkan impian, pemahaman tugas perkembangan menjadi harus.
Mengapa kita perlu memahami tugas perkembangan? Menurut Carol Gestwicki bahwa perkembangan itu dapat diramalkan karena ada urutan dari masing-masing tugas perkembangan. Untuk itu urutan itu harus dipahami karena dari masing-masing tahap akan saling mempengaruhi. Ada waktu-waktu yang obtimal dalam perkembangan anak jika ini dipahami betul dan kita sebagai orang tua mampu memberikan tugas yang tepat pada masa itu maka anak akan menyelesaikan tugas itu dengan baik.
Perkembangan anak itu sebenarnya merupakan hasil interaksi antara kematangan biologis dengan faktor-faktor lingkungan. Maka anak beri kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan karena lingkungan akan memberikan arah perkembangan anak. Kematangan hanya sebagai prasyarat dalam menyelesaiakn tugas perkembangan.
Seluruh aspek dalam perkembangan anak maju berkelanjutan secara bersama-sama. Kegagalan tugas perkembangan pada satu aspek akan mempengaruhi aspek yang lain. Anak yang putus cinta akan malas belajar. Anak yang dikekang dengan membatasi teman bergaul akan menjadi sombong atau bahkan sebaliknya minder.
Jangan paksakan anak untuk menyelesaikan tugas perkembangan yang belum waktunya. Anak mempunyai waktu yang berbeda dalam mencapai kematangan. Justru akan berbahaya jika kita membandingkan anak hanya berpatokan pada usia. Anak mempunyai karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda. Hal itu yang memungkinkan terjadinya perbedaan dan pilihan-pilihan dalam menentukan perlakuan.
Sebagai orang tua tidaklah tergesa-gesa dalam memberikan perlakuan terhadap anak karena perkembangan mempunyai pola. Perkembangan anak berjalan teratur dari yang sederhana ke yang komplek. Pemahaman yang tepat mestinya tidak akan memaksa anak untuk menyelesaikan tugas yang belum mampu untuk diselesaikan. Misalnya, jangan paksa anak usia taman kanak-kanak untuk menulis karena usia tersebut bukan saat yang tepat untuk belajar menulis. Meskipun dapat pula anak seusia TK dapat belajar menulis karena kematangan anak memang sudah mancapai kesempurnaan pada masa itu. Tetapi tidak lantas kematangan anak yang satu menjadi rujukan untuk memperlakukan anak yang lainnya seperti anak tersebut.
Kegagalan perkembangan pada masa sebelumnya akan menjadi bencana pada tugas perkembangan berikutnya. Jangan paksa harimau untuk terbang tetapi jadikanlah harimau itu menjadi hewan yang benar-benar perkasa.
Berikut ini beberapa contoh tugas perkembangan anak. Tugas perkemabangan afektif pada manusia yang disampaian oleh Erik H. Erikson. Tahap pertama Tahap Trust vs Mistrus (0-1 tahun) ini memerlukan tempat yang aman bagi dirinya guna menghilangkan keresahan, meningkatkan rasa tolong menolong, sikap menolak, tidak percaya diri yang dapat meningkatkan rasa aman,. Usaha yang dilakukan orang tua dengan cara memenuhi kebutuhan fisik seperti minum susu, di buai, diajak bicara.
Fase kedua, fase Autonomy vs Shame and Doubt/Otonomi ( 1-3 th) munculnya kemampuan motoris dan mental anak. Anak sudah mampu berjalan, memanjat, menutup membuka, menjatuhkan, menarik dan mendorong, memegang dan melepaskan. Anak mempunyai kebanggaan karena ketrampilan ini sehingga berkeinginan untuk melakukan banyak hal. Orang tua mestinya sadar bahwa anak butuh melakukan sendiri, memberi kesempatan karena dengan terlalu banyak mengendalikan justru akan menciptakan perasaan tidak percaya diri atau ragu-ragu. Orang tua harus sabar!
Fase ketiga, Fase Initiantives vs Guil/Inisiatif ( 3-5 th ). Anak sudah memiliki kemampuan untuk merespon sesuai dengan kemampuan gerak motorik. Kemampuan itu akan lebih membuat anak mempunyai inisiatif dan kreatif jika orang tua mampu memberikan dorongan, kebebasan dalam dimensi sosial untuk berkreasi dan berinisiatif pada permainan motorik serta memberikan jawaban yang memadai dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ( intelectual inititive) maka inisiatifnya akan berkemabang pesat.
Fase ke-empat Industry vs Inferiority /Produktifitas (6-11th) anak sudah mulai berfikir deduktif dan belajar menurut peraturan yang ada. Dimensi psikososial yang muncul adalah (sense of industri, sense of inferiority). Anak sudah mampu membuat, melakukan, mengerjakan sesuatu dengan benda-benda yang praktis hingga selesai dan menghasilkan produk. Rasa ingin menghasilkan sesuatu dapat dikembangkan pada usia ini.
Fase ke-lima, fase Identity vs Role Confusion /Identity (12-18th). Anak sudah memiliki kematangan fisik dan mental. Ia memiliki perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan baru sebagai akibat perubahan-perubahan tubuhnya. Ia mulai dapat berfikir tentang orang lain, tentang apa yang dipikirkan orang lain, dan bahkan berfikir tentang dirinya. Sehingga muncul; ego identity / role confusion. Peran orang tua harus memberi kesempatan kepada anak untuk mengintegrasikan apa yang telah dialami dan dipelajari tentang dirinya sehingga mampu menunjukkan kontinuotas dengan masa lalu dan siap menghadapi masa datang.
Fase ke-enam Face Intimacy vs Isolation / Keakraba ( 19-25 th) kemampuan anak untuk berbagi rasa dan memperhatikan orang lain. Kesadaran ini muncul dengan lewat peran orang tua atau orang lain. Bahkan jika tidak ada orang lain maka akan muncul isolation yakni kesendiri tabpa adanya orang lain untuk berbagi rasa dan saling memperhatikan.
Face ke-tujuh Face Generavity vs Self Absorption/Genersi (25-45th). Orang sudah mulai memikirkan orang-orang lain di luar keluarganya sendiri, memikirkan generasi akan datang serta masyarakat dan dunia tempat generasi hidup
Face ke-delapan Face Integrity vs Despair/Interitas ( 45-....) manusia sudah mendekati kelengkapan. Timbul Integrity, kemampuan individu melihat kembali kehidupan masa yang lalu. Rekapitulasi perkembangan afektif manusia meruypakan tahapan yang terpadu. Keberhasilan perkembanga sebelumnya akan berpengaruh terhadap perkembangan berikutnya.
Begitu juga kemampuan verbal dan kemampuan motorik, orang tua haruslah paham. Apalagi pada anak usia dini yang perlu perlakuan istimewa karena pada masa itu merupakan usia emas. Pendidikan akan sangat berpengaruh dan berhasil baik jika orang tua mampu memberikan pengaruh sesuai dengan tugas perkembangan (masa peka).
Tak ada satu pun anak yang pingin dilahirkan cacat. Anak pingin dihargai, dicintai, diakui, dipuji, dimotivasi. Anak mempunyai spirit, percaya diri, cita-cita, dan tidak ingin menjadi beban orang lain.
Karena sebenarnya hidup adalah cita-cita dan perjuangan untuk mewujutkan jati diri dan keberadaannya. Maka jangan dikatakan bawel jika anak-anak kita sering bertanya, atau jangan dikata bikin ulah jika anak-anak kita sering bermain menyusun gelas hingga bertumpuk-tumpuk hingga roboh dan pecah. Alihkan kegiatan mereka yang bermanfaat dan tidak berbahaya.
Anak harus dihindarkan dari rasa susah, kecewa, sedih, malu, kecil hati, benci sehingga anak akan besar hati, tidak merasa menjadi beban orang lain, percaya diri, berspirit, damai dan tenang.
Anak bukan orang dewasa yang lahir langsung mampu berbuat tetapi melalui proses panjang. Jangan selalu menyalahkan anak atas kesalahannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar