Senin, 28 Februari 2011

PEREMPUAN DAN BUSANA “Ajining sarira saka ing busana”

MENATAP zaman edan yang begitu cepat mendekat, merubah sendi-sendi kehidupan, menyengsarakan kehidupan rakyat, merubah pola nalar, membalikkan tangan, menjauhkan kehidupan dari adat istiadat dan sopan santun. Laki-laki berulah bak perempuan, begitu juga perempuan berpenampilan seperti laki-laki. Tak ada batas pembeda antara perempuan dan laki-laki. Perempuan bercelana pendek bahkan sebatas menutup kemaluan, perut dan pusar bebas di umbar, putting susu dan mahkota tubuh dipertontonkan tanpa risih dan malu.
Busana tidak lagi berfungsi menutup aurat malah berguna untuk menambah seksinya aurat. Betapa tidak? Tubuh dan betis perempuan dianggap tidak menarik tatkala berkebaya dan berkerudung. Pakaian dianggab baik dan indah jika mampu menambah sahwat lelaki. Mempertononkan mulusnya betis dan puting adalah bagian dari seni berbusana. Atau bahkan, menyelubungi tubuh secara rapet dianggap penghambat kemajuan.
Maka tak mengherankan tat kala akan diundangkan Undang-undang Anti Prornografi dan Pornoaksi yang membatasi perempuan dan laki-laki justru banyak perempuan yang akan ber-reaksi, dengan bertelanjang. Atau bahkan jika telanjang di tempat umum tidak dilarang atau dianggab tabu oleh adat istiadat ketimuran tidak sedikit perempuan yang bersedia untuk menampilkan paha dan vagina dengan bertelanjang bulat.
Perempuan tidak lagi tabu dengan pakaian ala Suku Asmat. Analog dengan pengalaman seni pakaian suku Asmat, Asmatisasi sebagai semiotika keindahan terkesan menghegemoni perempuan. Nalar perempuan telah tercucikan oleh pengaruh globalisasi yang salah arah.
Ya, pakaian Suku Asmat yang dianggap belum beradap itu malah menjadi inspirasi trend busana perempuan di zaman beradap. Perempuan tidak lagi tabu dengan berbusana tembus pandang atau bahkan hanya busana yang cukup untuk menutupi puting dan organ kewanitaan lainnya. Yang justru pengertian dan pemaknaan perempuan cantik dan seksi itu tidak sekadar perempuan yang memiliki lekukan tubuh pada helain kain dengan bentukan mode-mode tembus pandang. Atau bahkan mulusnya tubuh yang terlihat jelas. Melainkan faktor internal perempuan lebih mendominasi tanpa harus membuka aurat. Jika beberapa lelaki diwajibkan untuk memilih dua obsi untuk menentukan nilai kecantikan perempuan yang bernama Siti Nurhaliza dan Julia Perez, maka kebanyakan lelaki lebih memilih Siti Nurhaliza daripada Julia Perez ( Jupe). Tetapi jika ada lelaki yang memilih Julia Perez hanya sekadar untuk menikmati tubuhnya. Lelaki penikmat bukan lelaki yang berkeinginan untuk bebrayan.
Makna keindahan dan kecantikan tubuh dengan segala atribut yang dikenakan, sesungguhnya ditentukan antara lain oleh konstruksi nilai yang menjadi bingkai kultur masyarakat. Asmatisasi sebagai tengara keindahan normatif – harus ditampakkan secara nyata – jadilah ia hadir sebagai perempuan yang memahami kecantikan hanya sekadar kenampakan betis yang mampu menarik lelaki untuk berseluit, suit-suit.
Begitu berkeinginan untuk berpakaian, perempuan yang menempatkan fungsi busana sebagai sarana mengumbar sahwat lelaki, perempuan itu hanya sanggup bercelana pendek yang cukup untuk menutupi makota perempuan (vagina). Celana pendek dengan asesoris lubang-lubang kecil itu, siap mempertontonkan tubuh perempuan laksana emas 24 karat yang menarik para lelaki untuk memakai dan menggunakan
Pakaian tidak hanya sebatas mempercantik tubuh, memperindah penampilan, menambah kepercayaan, bahkan dimaknai sebagai sarana untuk menambah nilai jual keseksian pantat, atau produk yang tidak berkait erat dengan busana itu sendiri. Tafsir dan sudut pandang perempuan tentang busana telah mampu mengalihkan fungsi pakaian dan fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Perempuan yang cantik dan menarik tidaklah perempuan yang mengatakan bahwa, mengenakan pakain yang mampu menambah sahwat lelaki, merupakan bagian keberhasilan perempuan dalam berpakaian. Tidak semua orang mengatakan Julia Peres itu cantik. Tetapi tidak semua orang beranggapan Julia Peres itu berakhlak baik. Banyak orang yang beranggapan bahwa perempuan yang berpakaian seronok hingga sebagain besar anggota tubuh dapat dilihat adalah perempuan yang siap dibeli tubuhnya untuk dinikmati.
Sekalipun perempuan yang duduk-duduk di depan rumah itu mahasiswa, tetapi jika perempuan itu mengenakan busana yang mempertontonkan benjolan di dada dan paha mulusnya tak seorang pun beranggapan bahwa perempuan itu mahasiswa, justru diasumsikan sebagai perempuan penyandang gelar ayam kampus. Apalagi jika ditambah dengan dandanan menor, dengan posisi duduk mengepang kaki sebutan “ perempuan perek” justru lebih pas.
Lain halnya dengan perempuan perek yang tinggal di Gang Kuburan, lokalisasi perbatasan Kendal-Semarang. Meskipun sehariannya berprofesi sebagai wanita tuna susila ( WTS) berjualan tubuh seksi tetapi jika berpakaian rapi, mengenakan celana dan baju lengan panjang, orang tidak begitu saja mengatakan perempuan itu lonthe. Bahkan lelaki yang datang untuk membeli tubuh perempuan perek itu tak langsung menawar harga persetubuhan. Melainkan , mereka akan bertanya kepada siapa saja. Atau, bahkan, lelaki itu akan lebih berhati-hati untuk menawar harga persetubuhan kepada wanita tuna susila (WTS). Dengan berasusah payah Lelaki itu sekadar memperoleh informasi tentang keberadaan perempuan berkebaya atau berkerudung itu. Meskipun sebenarnya perempuan itu perek penghuni tetap di Lokalisasi Sunan Kuning. Ketidak percayaan yang menyelimuti pikiran lelaki itu bersamaan dengan hadirnya busana yang berfungsi menjaga kehormatan.
Ya, siapa pun tidak hanya lelaki, perempuan pun akan menghargai sesorang dari cara berbusana. Begitu juga lelaki akan memberikan penilaian kepada perempuan lewat pakaian yang dikenakan. Bukan Cuma kepandaian dan harta benda yang berlimpah ruah.
Bagaimana seorang Drupadi yang tidak mau mencuci rambutnya tat kala belum membalas dendam pada Duryudana yang telah merobek bajunya hingga sebagin tubuhnya terlihat. Meski hanya sebuah cerita Mahabarata tetapi dapat menjadi pijakan berfikir, betapa pentingnya menjaga kehormatan kewanitaan dengan berpakaian yang baik.
Perempuan yang disebut juga dengan wanita “ wani di tata “ menginsipirasikan bahwa perempuan tercipta sebagai makhluk yang lemah secara fisik maupun prinsip. Tidakkah kita pernah mendengar atau membaca bahwa perempuan ( Hawa, istri Nabi Adam ) diciptakan dari tulang rusuk. Bagian tulang yang sangat rapuh, bengkok. Jika tulang itu diluruskan maka akan patah karena kerapuhannya, begitu juga jika tulang bengkok tidak akan diluruskan maka tewaslah riwayat perempuan.
Tafsir perempuan tetang pakaian yang dapat menambah sahwat lelaki adalah bentuk keberhasilan perempuan dalam berpakaian. Pencucian otak-otak perempuan yang mampu mengubah nalar perempuan bahwa cantik harus dengan berpakaian seksi bagian dari bentuk kesalahpahaman yang perlu pelurusan.
Zaman memang sudah edan, zaman edan sudah berjalan. Ya, Amenangi zaman yang sudah edan ini semua serba sulit. Ikut edan di zaman edan pasti kita tidak tahan tetapi jika tidak ikut edan atau ngedan kita tetap nglakoni. Tetapi benarkah zamannya yang edan atau justru manusianya yang sudah mengubah zaman menjadi edan.
Orang bijak tidak mesti menjadi asin meski hidup di tengah samudra dengan air yang kadar garamnya tinggi. Bak ikan di laut bebas yang sehariannya berlumuran garam laut yang tak terbilang asinnya itu tetap saja dagingnya tawar. Perempuan yang sudah hidup di zaman edan tidak perlu ikut edan. Jika ada perempuan yang tidak pernah diperkosa karena pakaiannya sebatas menutupi puting dan vagina hanyalah bagian keberuntungan di zaman edan. Tetapi keberuntungan yang mengalahkan naluri dan mencuci otak waras masih lebih baik dengan perempuan yang masih eling dengan hakekat dan fungsi pakaian.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Nur : 31 ” Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya mereka memejamkan mata mereka dari pada yang tidak halal, dan hendaklah mereka menjaga keharmonisan mereka, janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka selain dari pada yang biasa nyata kelihatan ( sukar menutupinya), dan hendaklah mereka tutupkan kerudung ( telekung) mereka kuduk dan dada mereka, dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, bapak mereka, mertua mereka, anak mereka, anak saudara mereka, saudara perempuan, hamba mereka, atau orang yang mengikutinya kepada perempuan, atau kepada kanak-kanak yang belum nafsu melihat aurat perempuan.”
Nenek moyang dan para pendahulu kita telah mampu membaca tanda-tanda zaman sebelum hal itu terjadi. Orang-orang yang sinebut Waskita ”wong kang limpad ing budi” (orang-orang yang mampu membaca tanda zaman). Sebut saja Rangga Warsita, Jaya baya, Sunan Kalijaga telah paham tentang zaman yang bakal terjadi. Mereka pun tidak sekadar tahu tetapi, bagaimana sikap kita dalam menghadapi dekadensi generasi di zaman edan. Laku manusia agar waspada dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia yang telah memiliki paugeran hidup berupa adat istiadat, sopan santun perlukah kiranya dijaga dan diugemi agar menjadi perempuan yang dihormati.
Anak-anak muda, secara tidak terelakkan, berada dalam jerat kuasa itu. Perempuan dengan pernak-pernik busana menjadi subjek komsumerisme yang terlahir dari rahim-rahim kapitalisme yah, anak-anak ( perempuan ) akan menjadi bayi yang terjerumus dalam jurang kapitalis sejati. Busana bukan lagi bagian dari piranti mempertahankan kehormatan dan harga diri. Tubuh dan busana menjadi pernik penikmat budaya eksotis yang tmenjerumuskan dalam liang kapitalis. Produk yang tak terkait erat dengan busana justru akan terkalahkan dengan eksotisme yang mengedepankan pengkultusan tubuh dari segala predikat.
Ajining sarira saka ing busana. Pakaian dapat menunjukkan derajat atau bahkan malah mampu mamberikan pemaknaan hidup dan mengangkat kehormatan manusia sebagai pribadi, maupun makhluk ciptaan Tuhan. Atau bahkan harga diri seseorang dapat dihasilkan dari kemampuan seseorang dalam menata dan menempatkan pakaian sesuai dengan fungsi busana yang sebenar-benarnya. Pakaian dan pernak-perniknya menjadi perhelatan dalam mempertahankan , harga diri, kepribadiaan, persetubuhan dan pemerkosaan. Menjadi sebab dan akibat, dari maksud dan tujuan berbusana.
.


:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar