Gembar-gembor perempuan memperjuangkan persamaan gender terus berkumandang. Berbagai momen yang berkait erat dengan perempuan terus ditancapkan yang barang kali itu diharapkan mampu menggedor pintu-pintu pengekang perempuan. Namun simbol-simbol yang menjadi pintu penggedor justru sebaliknya sebagai pengukuh bahwa perempuan itu berkodrat sebagai makhluk yang hanya mampu macak, masak dan manak. Bukankah itu malah sebagai pengerdilan cita-cita yang telah lama diperjuangkan oleh Kartini?
Banyak kegiatan yang berkait erat dengan perempuan misalkan saja, peringatan Hari Kartini, Hari Ibu, Hari ASI. Belum lagi simbo-simbol lain yang menenmpatkan perempuan sebagai subjek . Terbitnya beberapa bacaan khusus berceloteh tentang gender, majalah, tabloit, bahkan koran pun menyediakan banyak ruang yang khusus membahas tentang gender.
Yah, saya sebagai lelaki sebenarnya sangat miris melihat gejala-gejala pemahaman emansipasi hanya sekadar pemahaman perempuan dari sudut pandang jenis kelamin dan rutinitas tugas yang mesti dilakukan menurut tradisi di wilayahnya. Hal ini begitu kentara saat aku disuruh menjadi juri pada peringatan hari ibu di kampung kami Gebyok, Ngijo Gunungpati, Semarang. Ibu-ibu yang berorganisasi dalam wadah PPK itu, dimaknai sebagi kumpul-kumpul untuk ngrumpi, berceritan tentang, baju, celana, pembalut atau hanya sekadar pamer kecantikan. Bahkan beberapa peringatan yang berkaitan dengan perempuan selalu berlingkup pada persoalan memasak, dan macak. Lomba yang tak menggambarkan kecerdasan.
Di tengah kerasnya genderang gender ditabuh ibu-ibu malah beruforia lewat lomba yang tak bikin cerdas.
Betapa menangisnya, Kartini, jika menyaksikan ulah perempuan yang tidak terjerumus pada kegiatan seremonial seperti mengenakan jarit, memasak nasi goreng, membuat makanan dari ketela. Bukankah itu kegiatan rutinitas harian yang syarat dengan pembodohan pemaknaan emansipasi. Simbul-simbul! Hari gini lomba nglempit baju, masak nasi goreng, nyetrika? Memalukan! Mah, itu sudah kebiasan, say? Sindir perempuan yang terlahir sebelum bangsa ini terbebas dari penjajahan.
Paradigma emansipasi yang salah kaparah itu akibat kekeliruan persepsi kaum perempuan dalam memaknai kaidah persamaan gender. Bukankah emansipasi tidak dipahami sebagai proses yang sebenar-benarnya dan utuh? Yah, Emansipasi sebenarnya lebih dimengerti sebagai usaha untuk menyamakan persamaan hak dan kewajiban dalam berbagai sendi kehidupan ( persamaan hak kaum wanita dan laki-laki). Jika tidak dimaknai secara utuh, justru menimbulkan tafsir yang jauh lebih berbahaya ketimbang makna sebelumnya. Bagaimana tidak? Jika perempaun sudah diletakkan pada hak sebagai makhluk yang hanya berkecimpung di dapur dan kasur maka perempuan akan sulit untuk berkiprah di sendi kehidupan lain.
Perempuan harus keluar dari jeratan bahkan kalau bisa harus keluar dari perbudakan. Emansipasi sebenar-benarnya merupakan usaha pembebasan yang selama ini memang belum terbebas atau bahkan memang dibuat untuk tidak bebas. Menjadi budak! Kegelisahan perempuan seharusnya muncul sehingga kegiatan yang dilaksanakan tidak semata-mata kegiatan ” panas-panas tahi asu” kotoran yang menjijikan atau bahkan meracuni.
Menjadi perempuan tangguh adalah solusi. Perempuan secara genetik saja sudah tertindas. Bandingkan kodrat perempuan dengan kemampuan dasar yang dimiliki lelaki sangat jauh perbedaanya. Lihat dan badingkan baik secara fisik maupun kemampuan lain, perempuanlah memang sangat lemah dan rentan terhadap penindasan. Fisik kalah, akal kalah, nalar kalah, semuanya serba kalah. Jika itu tidak dipahami sebagai motivasi untuk bangkait maka perempuan akan berada pada titik nadir.
Perempuan yang membaca tulisan ini mesti akan anyel dan memfonis penulisnya ngawur, tidak melihat kenyataan. Justru penulis menulis ini karena melihat kenyataan yang ada sekarang. Nah para pembaca yang baik sebelum banyak berkomentar tentang tendensi penulis jawab pertanyaan ini pilih ya atau tidak! Lebih banyak mana jumlah perempuan tertindas dengan laki-laki? Perempuan bodoh dengan lelaki bodoh berkelahi menang mana? Berapa jumlah presiden perempuan? Lebih banyak mana dengan presiden laki-laki?
Padahal jumlah perempuan lebih banyak. Berapa jumlah perempuan penderita HIV-AIDS? Lebih sedikitkah? Berapa jumlah TKI perempuan yang mengalami penyiksaan? Berapa jumlah perempuan yang dijadikan gundik, istri simpanan, perempuan kontrak, pemuas sahwat dan perempuan korban penindasan lainnya. Lebih sedikitkah?
Penulis yakin bahwa, tidak akan ada lagi tangis perempuan seperti Sumiati karena digunting bibir manisnya dirobek vaginanya hanya karena tidak ada kepedualian pemerintah Indonesia terhadap perempuan migran. Perempuan jangan sangat berharap kepada siapa saja, termasuk kepada SBY karena samapean hanya akan sekadar dijanjikan HP. Bukankah para perempuan sudah mampu membeli puluhan HP lewat perusakan-perusakan vagina dan isapan puting manisnya dari lelaki-lelaki pemuas nafsu. Tidaklah itu yang harus diderita buruh migran kita.
Halo, Pak SBY, Saya diperkosa di jemban Mina? Tolong jemput kami, Pak!
Selamat malam Pak SBY, malam ini saya dan ribuan temanku berada di Malaysia dengan kaki pincang dan kemaluan berdarah-darah, tiga lainya lumpuh, lima puluh dua hamil, empat puluh tujuh geger otak, dan ribuan lainnya menunggu kepedulian pemerintah? Pulangkan saja, Pak?
Gerakan perempuan untuk melakukan penyadaran memang tidak perlu menunggu siapa-siapa. Tak ada yang peduli. Tuhan tidak akan merubah kaumnya, yang bisa merubah hanyalah kaum itu sendiri. Jangan lihat dirimu sebagai perempuan yang hanya melihat keberhasilan beberapa perempuan tetapi tengok berapa jumlah perempuan yang teraniaya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar