GUDEL sebutan untuk anak kebo ( kerbau ), binatang mamalia yang berkulit hitam dengan perut besar. Binatang itu biasanya dipelihara untuk dimanfaatkan daging, tenaga, bahkan kulitnya. Namun bagi petani, kerbau sering dimanfaatkan tenaganya untuk membajak sawah. Kerbau termasuk binatang jinak yang mudah diatur dan penurut apalagi kalau dengan empunya. Diajak bekerja membajak sawah dari pagi hingga siang tak pernah mengeluh.
Kerbau yang terkenal manut kerap kali menerima hukuman dari pemiliknya. Tak tanggung-tanggung, hukuman cambuk dari pemiliknya sering membuat luka sekujur tubuhnya. Namun karena binatang, kerbau tak pernah berontak.
Manusia memang makhluk yang sangat kejam apalagi dengan hewan. Meskipun kerbau sudah mencurahkan seluruh jiwa dan raganya masih saja diperlakukan tidak adil. Nah, itulah manusia, jangankan dengan makhluk yang tidak berakal, dengan sesama manusia pun terkadang yang kuasa memperlakukan pemerkosaan meskipun sebenarnya mereka sudah tidak berdaya.
Lihat saja, betapa lelahnya, seharian harus berpanas-panasan di bawah terik matahari, membajak dengan sekuat tenaga. Cambukan terus saja menemani di setiap gerakan yang dianggap tidak pas oleh majikannya. Ya, ketertundudukan kerbau itulah yang mendorong majikan untuk memperdaya atau bahkan menyiksanya. Kerbau memang binatang, namun bukankah petani tanpa kerbau akan bersusah payah untuk merampungkan pekerjaan di sawah?
Dungu! Barang kali itu yang menyebabkan si hitam tambun sering diperdaya. Bukankah kebiasaan jelek manusia yang sering tidak beradap terhadap yang tak berdaya? Kerbau memang kuat secara fisik namun dungu akalnya. Kebesaran tubuhnya yang tak diimbangi dengan kecerdasan berfikir akan menjadikan manusia seperti kerbau, lemah tak berdaya. Tak mampu perkasa di tengah pergaulan yang serba membutuhkan penalaran. Bukan saatnya mengandalkan kuatan otot, apalagi perempuan secara fisik jelas kalah dengan lelaki, jika masih mengandalkan otot sama dengan bunuh diri. Apalagi hanya menangandalkan airmata, cerita basi.
Keterbatasan perempuan secara fisik ( kekuatan otot ) seharunya tidak menjadikan perempuan menjadi kaum termarjinalkan. Di tengah carut-marutnya peradaban yang mendorong manusia untuk menguasai yang lemah, menindas yang melarat, menyekik yang kelaparan. Kerakusan dan kejahatanan manusia memang tidak mengenal batas ruang dan waktu.
Orang baik, nrimo ing pandum, juga tak lepas dari tekanan kerakusan dan kejahatan manusia. Sekali manusia dianggap lemah, atau menunjukkan kelemahan, lawan terus akan menukik. Maka seluruh manusia yang terbiasa melakukan pencekikan itu akan menjadikannya lahan penindasan.” Bodho lenga-lengo kayak kebo, manusia yang tidak pernah berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup hanya mengandalkan otot akan bernasib seperti binatang kerbau.
Hidup tidak hanya butuh makan dan sandang. Ilmu pengetahuan terus berkembang mengikuti arah waktu yang terus teratur maju menggilas. Kehidupan dengan pola yang dinamis dari detik terus melaju mengubah zaman. Perempuan yang merupakan bagian dari subjek perubahan tak lepas dari perhelatan itu. Tangisan perempuan bukan lagi senjata ampuh karena seluruh faktor yang terlibat dalam perubahan sudah basi dengan suara tangisan perempuan dua puluh lima tahun silam.
Setiap orang berebut peran dalam segala kesempatan. Itulah yang mendorong perempuan untuk tetap menjaga kualitas diri dalam lingkup kesetaraan peran. Sebagai makhluk yang memiliki derajat yang sama di mata Tuhan, tidaklah tepat jika perempuan hanya mengurung diri bak ” Katak di dalam tempurung.” Bukankah cerita fiksi Siti Nurbaya hanya sebuah cerita peneman tidur anak-anak remaja dua puluh atau bahkan ratusan tahun silam. Mokal, mushil jika sebuah cerita akan menjadi kenyataan. Jarang yang percaya tatkala Leonardo Da Vinci melukis pesawat yang bisa terbang seperti burung. Namun, kini ketidak percayaan itu tergilas oleh munculnya beribu-ribu pesawat terbang dengan berbagai macam benda yang diangkutnya. Begitu juga kisah Siti Nurbaya akan menjadi kenyataan dalam hidup perempuan.
Manusia dan peradaban terus melaju. Jika manusia ( baca : perempuan ) terlalu besar mumbusungkan dada hanya berbekal ilmu pengetahuan dan teknologi dari pengalaman yang diterima saat bersekolah atau kuliah bukan bagian orang bijak.
Stigma, manusia terhadap kerbau sebagai binatang bodoh merupakan keterbatasan manusia dalam memberikan penilaian. Bagaimana tidak? Kerbau dengan segudang jasa tetap saja di cap sebagai binatang bodoh, dungu yang mudah ditipu. Keterbatasan itu yang justru mengotak-ngotak manusia dari kemampuan berfikir tanpa memperhatikan peran.
Orang tua dengan berbagai peran begitu saja ditinggalkan karena dianggap ketinggalan zaman. Memang, peran seseorang ( orang tua) yang begitu banyak (seperti kerbau), dilakukan dengan iklas tidak lantas menghilangkan cap sebagai manusia dungu. Terus, siapa yang dungu? Peran memang harus dibarengi dengan kecakapan berfikir.
Kerbau memang syarat dari ketidaksempurnaan. Jika ketertundukan kerbau bukan bagian dari pengabdian dari empunya melainkan kebodohan adalah bentuk kesalah pahaman penilaian yang luar biasa. Bagaimana tidak? Orang tua yang sering mengalah dengan anak sebenarnya adalah bentuk pengabdian orang tua kepada anak sebagai titipan dari Yang Mahaagung. Sifat ketertundukan (kerbau) menggambarkan betapa tingginya kemampuan orang tua untuk mengendalikan hawa nafsu amarah atau nafsu lainnya.
Tetapi, keikhlasan kerbau untuk diperlakukan sebagaimana pemilik menghendaki adalah bagian dari kebodohan. Tidaklah manusia mengambil hikmah dari keteladanan kerbau yang manut, miturut, ikhlas tunduk dan patuh terhadap empunya bagian dari bentuk terima kasih karena telah dipelihara dengan baik.
Mungkin juga kerbau mempunyai prinsip seperti perkataan , Sosrokartono , ” Ingkang tansah dados ancasipun lampah kula boten sanes naming sunyi pamrih, puji kula boten sanes naming sugih, sugeng, senengipun sesami. Prabot kula boten sanes badan lan budi. Memayu hayuning urip, memayu awonipun gesang, nyuwita, ngawula, bakti dateng sesaminipun”.
Yang menjadi tujuan hidup orang tua adalah berbuat baik, baik dalam hidup berkeluarga, baik dengan sesama syarat dengan budi baik dan terus menghamba kepada sesama tanpa pamrih. Orang tua tidak bodoh! Antara bodoh atau ethok-ethok bodoh memang sulit dibedakan. Orang tua memang banyak menyimpan amunisi namun jarang ditembakkan. Zaman yang sudah menggila, zaman edan kadang-kadang membuat orang tua terlena melepaskan amunisi sehingga begitu gampangnya anak leluasa keluar jalur. Dengan dalih kasihan, orang tua mengumbar kesenangan anak tanpa memedulikannya. Bahkan sebenarnya kesenangan itu bagian racun yang akan membunuh anak.
Ya, antara kesenangan atau racun tidaklah dapat dibedakan. Hanya orang tua yang tahu. Bukankah anak akan merasakan jika waktu sudah jauh meninggalkan. Penyesalan terjadi jika racun itu sudah terlanjur ditenggak. Ketidaktahuan memang sulit dipersalahkan, ”kuman diseberang lautan akan nampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”. Mencari kesalahan orang lain lebih mudah dari pada menemukan kesalahan diri sendiri.
Paribasan ” kebo nyusu gudel ” merupakan bentuk sindiran kepada manusia yang tidak mempunya keberdayaan terhadap perkembangan zaman. Orang tua kolot yang tak pernah terbuka pikirannya untuk keluar dari peradaban yang lama ditinggalkan generasi. Bukankah keperkasaan orang tua sebagai pelindung anak untuk tidak keluar dari rel menjadi pilihan? Atau kah justru kebodohan orang tua yang menghilangkan perannya meracuni anak dengan racun yang akan membinasakannya.
Orang tua sebagai pemimpin mempunyai tanggung menahkodai bahtera keluarga untuk berlayar samapai tujuan, keluarga sakinah, mawadah dan warohmah.
Bagaimana jadinya jika seorang pemimpin harus mengikuti yang dipimpin? Pemimpin itu bak nahkoda, jika nahkodanya tidak mempunyai arah maka perahu tak pernah sampai ke tujuan. Jika kerbau saja tidak mungkin nyusu dengan anaknya, Kebo Nyusu Gudel hanya sebuah paribasan. Namun paribasan itu dapat terjadi dalam kehidupan karena orang tua yang mengurung dirinya tanpa keluar dari kehidupan yang bijak Mengapa orang tua harus manut pada anaknya. Mestinya manusia lebih tidak mungkin. Manusia makhluk sempurna karena ditugaskan untuk menjadi khalifah bumi. Manusia dengan otaknya, terus saja berkembang, tidak mengenal batas waktu. Tak menutup kemungkinan anak dapat lebih pandai dengan ibu atau ayahnya, karena pikiran anak lebih muda sehingga mampu berkembang secara dinamis. Tetapi tidak lantas kemampuan anak adalah segala-galanya. Anak masih labil.
Al-Alaq 96 : 1-7 ( Bacalah, dengan ( menyebut ) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-Mulah Yang Mahamulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Sekali-kali tidak ! sungguh manusia itu benar-benar melampaui batas. Apabila melihat dirinya serba cukup. )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar