ASI, air susu ibu adalah makanan terbaik bagi bayi. Tuhan menciptakan ASI bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk bapak atau tetangga. Paradigma yang salah terhadap fungsi, manfaat dan peruntukan ASI perlu pelurusan. Yah, perlu pelurusan selurus-lurusnya agar tak bengkok nalar perempuan. Membengkokkan peruntukan ASI bukan untuk bayi adalah tafsir keliru dari seorang perempuan yang telah tercuci otaknya oleh kekuasaan liberalisme konsumtif. Termakan oleh kekuasaan lipatan-lipatan produsen susu formula yang jika dicermati mengajak perempuan berfikir moderen yang sejatinya meracuni bayi.
Meski banyak yang menggantikan ASI dengan susu formula namun tak seenak dan senikmat ASI. ASI tetap menjadi nomor satu, nomor wahid, wahai perempuan! Dalam guyon maton ASI memiliki kelebihan-kelebihan yang tak tertandingi . Bentuknya unik, cocok untuk segala usia ( satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, dua tahun, dan ... tahun ) , kemasanya praktis, mudah dibawa ke mana-mana, higienis, tak pernah basi, aroma dan rasanya khas, menyesuaikan usia bayi, panas dan suhunya stabil, mudah penyajiannya, tidak ribet, volume dan debitnya stabil, tidak membikin mulut bayi alergi, elastis dan lentur, yang jelas sesuai keadaan bayi. ASI makanan bayi sempurna nutrisi dan higienis.
Sejak zaman ke zaman, keberadaan ASI tak tertandingi. Namun sayang menurut data yang dikeluarkan Unicef hanya 14 persen bayi di Indonesi yang disusui secara eklusif oleh ibunya hingga usia 4 bulan.
Di zaman Rasulullah jarang seorang ibu yang menggantikan ASI dengan susu produksi manusia. Jika ibunya tidak mampu memberikan ASI kedua orang tua mencarikan ibu susuan.
Manusia memang sok hebat. Tidak tahu kalau bayi-bayi yang disusui oleh ibunya akan tenang dan tidak mudah gelisah untuk waktu yang lama. Bahkan setelah mereka disapih mereka lebih kuat menghadapi situasi yang bisa membuat stres, misalnya perceraian orang tuanya. Demikian bukti ilmiah terbaru tentang manfaat ASI bagi bayi yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Disease in Childhood.
"Bayi yang disusui, tidak terlalu terpengaruh oleh perceraian atau perpisahan orangtuanya, mereka juga tidak mudah gelisah dan cemas," kata Dr Scott Montgomery, ahli epidemiologi di Karolinska Institute Swedia, seperti dikutip reuters.
ASI mengandung banyak nutrisi, hormon, enzim, untuk pertumbuhan dan kekebalan tubuh yang diturunkan ibunya ke bayi. Penelitian tersebut juga menunjukkan ASI mampu mengurangi infeksi, penyakit pernapasan dan diare pada bayi. Ibu yang menyusui bayinya juga bisa terhindar dari pendarahan setelah melahirkan. Montgomery dan timnya meneliti bagaimana bayi berusia 10 tahun yang diberi ASI dan yang diberi susu formula menghadapi stres akibat masalah perkawinan orang tuanya.
Sekitar 9000 bayi menjadi responden penelitian ini. Mereka dimonitor sejak lahir sampai masuk sekolah. Guru-guru di sekolah juga ditanyai tentang tingkat kegelisahan anak-anak tersebut dalam skala 0-50. Ternyata anak yang dulunya mendapat ASI bisa menghadapi masalah dan stres lebih baik dibandingkan yang tidak mendapat ASI. Tetapi para peneliti belum mengetahui kaitan antara ASI dengan tingkat kegelisahan. Menurut dugaan sementara, anak-anak yang disusui tidak mudah gelisah karena saat disusui mereka merasa mendapat kasih sayang orangtuanya, pelukan dan dekapan ibu saat menyusui juga menenangkan bayi. Selain itu menyusui juga berpengaruh terhadap perkembangan tubuh dalam merespon stres.
Secara psikologi, produksi ASI yang mencukupi kebutuhan bayi dapat meningkatkan kepercayaan diri seorang ibu, karena sebenarnya menyususi bukan sekadar memberikan puting pada mulut bayi. Keberhasilan seorang itu dipengaruhi pula oleh emosi dan kasih sayang seorang ibu. Kedua hal tersebut dapat merangsang produksi hormon oksitosin yang berpengaruh pula terhadap produksi ASI. Interaksi ibu dan Bayi dengan kesatuan jiwanya mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi.
Pengaruh kontak langsung ibu-bayi dan ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim. Selain meningkatkan perkembangan psikologi anak Interaksi ibu-bayi dan kandungan nilai gizi ASI sangat dibutuhkan pula untuk perkembangan system syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi. Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.
Terbiasanya bayi untuk menghisap, menelan pada saat meminum ASI melalui sentuhan langsung dengan seluruh organ ibu yang dikoordinasikan dengan kemampuan bernafas bayi ternyata dapat menyempurnakan kemampuan itu secara sempurna.
Bagi keluarga yang berpenghasilan pas-pasan justru aspek ekonomis menjadi rujukan langsung untuk hidup hemat dan sehat. Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya. Apa lagi berdasarkan kajian yang sudah menjadi panutan, bahwa bayi dengan ASI eklusif bisa sampai umur enam bulan tanpa makanan tambahan. Berapa rupiah yang dapat kita hemat? Lagi pula, Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).
"Semakin kita pelajari tentang ASI, semakin banyak manfaat yang kita temukan. Menyusui bisa disebut sebagai salah satu hal penting dalam perkembangan manusia," kata Montgomery.
Sumber Buku Panduan Manajemen Laktasi: Dit.Gizi Masyarakat-Depkes RI,2001
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar