NGIDAM ; NYIDAM
Ketika perut mebuncit, punting membesar, perempuan sering mengalami keinginan untuk melakukan hal-hal yang tidak lumrah dilakukan. Mempunyai permintaan yang tidak nalar karena sering tidak ngitung bahkan tanpa mempertimbangkan ada atau tidak barang yang diinginksan Keinginan dan hasrat yang luar biasa untuk mendapatkan makanan, benda, atau apa saja haruslah terpenuhi, tidak bisa tidak. Bahkan tak seorang pun yang berkeinginan untuk melawan atau menentang keinginan itu. Meskipun keinginan itu terkadang merepotkan banyak orang. Permintaan yang nganeh-nganehi itu lazim disebut Nyidam. Namun keinginan perempuan untuk mendapatkan kepemilikan barang, makananan, kegiatan yang luar biasa itu tidak hanya saat hamil saja. Tetapi, istilah nyidam lebih identik dengan masa kehamilan.
Bagaimana Krisna tokoh imajiner dalam cerita kartun “ Krisna “ harus bersusah payah membuatkan jembatan untuk penyebrangan perempuan-perempuan cantik desa sebelah meskipun perempuan-perempuan cantik itu sering menggoda dan menyakiti hati Krisna itu. Tidak pula Rara Jonggran yang menyuruh .. membuatkan candi dalam waktu yang singkat, semalam. Masih banyak laki-laki yang pernah mengalami hal yang sama. Perempuan memang punya alat untuk menekan lelaki agar permintaan terpenuhi. Apalagi seorang perempuan yang sedang menyimpan benih lelaki yang sedang tumbuh kembang.
Perubahan perut yang terus menerus membesar diikuti oleh perubahan fungsi hormon kewanitaan membuat prilaku fisiologi tubuh perempuan semakin tidak lumrah. Terkadang perempuan itu, harus mutah-mutah, sering pipis, gelisah, tidak percaya diri, manja dan terus ingin didekati. Prubahan fisik maupun psikis sebagai bagian dari pelengkap ibu hamil. Ada anggapan dari beberapa orang ” gawan bayi .”Apa memang benar perempuan bertingkah begitu saat sedang hamil?
Dr Wachyu Hadisaputra SpOG mengatakan bahwa, perempuan merasakan berbagai macam keadaan yang tidak menyenangkan, atau bukan merupakan kebiasaan selama ini, merupakan hal yang wajar. Dalam istilah kesehatan, hal ini disebut Emesi Graridarium . Wujud yang paling sering muncul dari keadaan perubahan hormonal perempuan hamil itu adalah rasa mual-mual, mutah-mutah, mengantuk, malas bergerak, hingga yang tidak terbiasa seperti nyidam. Perubahan yang tidak nalar itu, terkadang membuat pusing seribu keliling itu sebenarnya merupakan akibat dari perubahan hormon human Clorionic Gonadatropin (hCG),yang dikeluarkan oleh indung telur. Hormon ini bertugas memberikan makan pada janin, sebelum plasenta terbentuk sempurna. Oleh karena memberikan langsung ke janin dengan hCG ini maka ibu akan mengalami rekasi-reaksi tertentu.
Reaksi yang muncul pada ibu hamil memang berbeda-beda, ada ibu hamil yang tidak mengalami hal yang demikian, namun ada yang terus-menerus mutah-mutah, mual hingga cairan tubuh habis maka itu yang perlu pertolongan medis. Kejadian ini yang sering disebut dengan hiper-emesis.
Bagaimana dengan keinginan seorang istri untuk menginginkan sesuatu, nyidam? Ngidam merupakan perubahan perasaan, maupun keinginan yang ” aneh” dan bisa muncul mendadak, kalu bisa sebagai seorang suami harus menuruti. Dalam hal ini perempuan hamil sangat membutuhkan pengertian suami. Sangatlah berat bagi seorang istri menjalani hari-hari kehamilannya. Dia butuh dukungan psikis dari lingkungan agar tetap merasa nyaman. Jika memang sulit dicari, carikanlah penggantinya agar istri tetap senang batuinnya.
Maka, siapa pun orangnya, jika istri saat hamil berkeinginan untuk makan buah yang sulit didapat, pastilah suami berusaha untuk memenuhin“nyidamnya “ istri. Nyidam memang sering dialami oleh perempuan hamil tetapi tidak lantas lelaki tidak mengalami Nyidam pada saat istri sedang hamil. Banyak lelaki yang mengalami hal sering dialami oleh perempuan itu. Namun itu belum terbukti secara medis, tetapi dalam ranah kebiasaan tak sedikit lelaki mengalaminya.
Dengan dalih “ gawan bayi “ lelaki mana pun tidak bekeberanian menolak hasrat biologis wanita itu. Tetapi, bagaimana jika perempuan itu menghendaki untuk dibelikan mobil, rumah mewah atau pingin diciumkan kepala SBY? Mungkinkah permintaan itu layak dipenuhi? Atau mencarikan penggantinya? Mungkin saja ya, jika yang hamil itu Anisa Pohan. Jangankan Cuma mobil, rumah mewah, seratus mobil mewah, dua ratus rumah megah pun akan dituruti. Makhlum karena memang ada cukup untuk menuruti kemauan yang bayi..
Meski demikian tidak semua perempuan nyidam neko-neko, ada yang hanya nyidam sawo, mie ayam. Mungkin karena janinnya yang ada di perut tahu diri. Ayahnya hanya seorang guru wiyata bhakti yang bergaji seratus ribu perbulan. Meski demikian sang suami pun bersusah payah untuk membelikan sawo meski hanya sawo BS ( dalam bahasa pertukangan disebut dengan istilah KW 3 atau KW 4). Tidak banyak yang baik hampir semuanya luwas dalam eufimisme bahasa disebut terlalu ranum. Jika bayi itu telah besar maka istilah itu akan diganti dengan sawo bosok.
Tak ada suami yang menolak keinginan perempuan yang sedang ngidam. Terlepas keinginan itu dari istri atau tidak, yang jelas suami atau istri tidak ada yang pingin anaknya bakal lahir dengan kondisi fisik yang sering ngeces __mengeluarkan air liur terus seperti anak idiot __ atau ngiler. Tak mengherankan jika untuk memenuhi ngidam istri harus ngitung-ngitung karena kondisi menuntut untuk ngitung. Istri pun dengan rela memakan sawo yang terlalu ranum itu.
Nyidam memang tidak sekali. Bagi perempuan yang telah berulang kali hamil, tidak sekali pula ngidamnya. Tetapi ada juga perempuan yang tidak ngidam.
Namun perihal ngidam, tidak sedikit pengalaman yang menarik bagi seorang suami atau istri sendiri. Nyidam memang tidak dapat dihindari karena nyidam merupakan perubahan alamiah bagi istri yang sedang hamil.
Perubahan hormon dan fungsi faal tubuh perempuan berpengaruh terhadap emosi maupun fungsi faal lainnya.
Kata nyidam membawa berkah.
Meski demikian ada pengalaman unik yang dimliki oleh lelaki paroh baya yang tinggal di Dukuh Gebyog Gunungpati bernama Juwandi dan Sarmin. Dua pedagang mangga itu menggunakan kata nyidam karena ketertarikan harga mangga bak harga emas. Betapa tidak terkesima mengetahui harga sekilogram mangga Rp12.000,00. Mangga yang hanya berjumlah satu atau dua buah per kilogram itu sangatlah tinggi jika dibanding dengan harga ketela pohon satu bagor ( karung). Kejadian itu bermula dari berkeinginan untuk membeli buah mangga yang masih berada di pohon tidak diperbolehkan oleh pemiliknya. Pemiliknya orang berduit itu memang tidak berniatan menjual, tetapi kerena kelihaian dua lelaki paroh baya itu beberapa buah bisa ditangannya. Tetapi tidak dengan membeli malah dikasih hanya dengan mengatakan bahwa istrinya yang hamil sedang nyidam.
Buah mangga yang berjumlah sepuluh buah dengan berat tujuh kilogram itu itu lalu di jual di pasar Johar.
Urusan nyidam tidak hanya suami yang direpotkan, ayah, ibu, adik atau siapaun pasti ikut sibuk. Anak memang gegantilaning ati, maka tidaklah mengherankan jika demi anak siapapun harus merelakan.
Seorang ayah berkeinginan agar anaknya terpenuhi kebutuhan biologis, mental agar anak mampu tumbuh kembang sempurna. Sejak dalam kandungan kedua orang tua sudah bersusah payah. Apalagi seorang istri. Seharian penuh harus kesana kemari membawa benih lelaki itu, menyimpan dan merawat. Mendoakan dan bahkan harus mempersiapkan nutrisi yang baik dan bergizi. Istri yang biasanya tidak pernah minum susu kini harus dipaksa atau terpaksa minum susu hamil. Pakaian yang biasanya sembarangan kini harus berdaster dan celana dalam berukuran besar. Kadang celana dalam pun harus berlapiskan pembalut.
Terlepas dari gawan bayi atau apa istilahnya yang jelas istri dan suami tidak berkeinginan anaknya tidak sehat. Orang tua berusaha agar anaknya tumbuh baik, sehat, normal. Istri yang berlelah-lelah itu akan berimbang dengan kesusahan istri dan suami. Namun jangan kawatir, bahwa nyidam itu akan hilang dengan sendirinya setelah usia kandungan memasuki minggu ke 14 atau ke-16. Pada saat itu plasenta terbentuk sempurna dan bisa menyediakan makanan untuk pertumbuhan janin. Indung telur pun tidak memproduksi hormon hCG.
Tidak ibu tidaklah ayah jika anaknya menginginkan sesuatu pastinya orang tua berusaha memenuhi meski tidak saat itu bisa lain waktu. Anak memang perlu perhatian meski masih dalam kandungan.
Misalkan saja dua anaknya berkelahi maka yang disalahkan yang pertama, tentunya anak yang telah besar. Anak memang harapan dan tumpuhan segalanya untuk mewariskan keturunan dan tahta. Anak adalah amanah maka sebagai orang tua harus menjaga amanah itu sampai kapanpun. Tidak hanya menjaga saat berada di kandungan, tetapi begitu lahir ditelantarkan, disiksa, diperkosa bahkan dibunuh. Yang namanya amanah haru dijaga dan diselamatkan dari mara bahaya, dari setan demit atau siapapun juga karena hanya generasi yang mampu menyelamatkan keturunan, bangsa dan negara.
Senin, 28 Februari 2011
Ibu, Pendidik Sepanjang Hayat
Pekerjaan ibu rumah tangga tidak lagi pilihan terakhir dari perjalanan sebuah karir perempuan. Melainkan sebuah pilihan cerdas dari sebuah pekerjaan yang merupakan profesi, maka tidaklah mengherankan jika pekerjaan itu tidak lagi dipandang sebelah mata.
Terlepas dari kodrat perempuan, profesi ibu rumah tangga tidak sekadar pekerjaan asal-asalan yang hanya berlingkup pada masak, manak, macak. Perempuan meski harus cakap kuliner, seksi, memberikan keturunan tidaklah lengkap jika belum mampu mewariskan budaya luhur bangsa kepada anak-anaknya.
Ibulah orang pertama kali mengajarkan cara berbicara, menghitung jari tangan, mengekspresikan rasa kasih sayang. Mengenalkan jenis kelamin, mengajarkan adat istiadat, sopan santun, dan tata krama yang berlaku dimasyarakat sekitar. Maka sebutan ”Al Ummu madrasatul ula, iza a’dadta sya’ban thayyibal a’raq” ibu adalah pendidik utama, bila engkau mempersiapkan dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Ya, sangat tepat karena keberadaan seorang ibu sebagai pendidik tidak mengenal ruang dan waktu, kapan saja dan dimana saja berada.
Tidaklah salah, jika ibu yang pertama kali meneteskan air mata, mendengar anak terkasih terjerumus tindak pidana. Melainkan sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dari kegagalan sebuah usaha yang telah menghabiskan seluruh atau sebagian energi yang dimilikinya. Pun bisa tangis ibu sebagai bentuk keterharuan hati menyaksikan keberhasilan anak. karena si buah hatinya mendapatkan prestasi akademik, karier, atau menjadi isteri yang baik bagi suami-suami. Kebanggaan seorang ibu tidak lagi terukur oleh berapa jumlah rupiah yang dihasilkan dari jerih payahnya melainkan, Bagaimana seorang ibu mampu menciptakan generasi Khoirul Umah bagi kelangsungan hidup sebuah kaum, bangsa?
Persitegangan peran ibu sebagai wanita karir dan ibu rumahtangga_pendidik_ dalam keluarga sangatlah mengganggu pikiran sebagian perempuan. Meski karir perempuan setinggi langit, perdebatan tak perlu menjauhkan jarak perempuan sebagai pendidik. Kematian Merilyn Monroe, merupakan bentuk penyesalan dari popularitas perempuan yang tidak mampu menjadi ibu rumah tangga, pendidik untuk anak-anaknya. Peran ibu dalam rumah tangga menjadi poros, penyatu rasa kasih sayang. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna (Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei).
Dikotomi perempuan sebagai sebuah kaum yang hanya dieksploitasi lawan jenis untuk meningkatkan nafsu sahwat atau menjual produk unggulnya agar laris manis di pasaran, hanyalah usaha untuk meletakkan posisi tawar perempuan sebagai kaum lemah, tanpa daya, yang mudah diperbudak oleh kepentingan kapitalis.
Peran ibu sebagai pendidik dalam keluarga menempatkan perempuan pada posisi tawar yang sangat tinggi. Apalagi posisi ibu rumah tangga sebagai pendidik bukanlah pekerjaan mudah, sepele, remeh temeh. Melainkan sebuah profesi yang membutuh persyaratan sebagai pelengkap penyandang profesi untuk menjalankan tanggung jawab agar mendapatkan hasil sebuah pencapain indikator, Following a line of conduct as though it were a profession, tanggung jawab yang harus dikerjakan dari sebuah profesi.
Meskipun tugas rumah merupakan peran kolektif, anak cenderung lebih dekat, manja, dan terbuka, dengan seorang ibu. Bahasa ibulah menjadi komunikasi awal dari anak untuk mengenal simbul-simbul kebenaran, tata krama yang berlaku di sekitarnya.
Pendidikan memang kunci kemajuan bangsa ( Fukuzawa ukichi). Namun pendidikan yang mana? Apakah pendidikan formal di sekolah saja yang dimaksud oleh Bapak Pendidikan Moderen itu. Mestinya tidak, Ki Hajar Dewantara secara tegas mengatakan bahwa pendidikan tidak hanya di sekolah melainkan di rumah, dan masyarakat. Lebih-lebih pendidikan sikap, karakter, di rumahlah yang sangat berpengaruh.
Bentuk perlakuan yang diterima oleh anak dari orang tua akan menentukan kualitas kepribadian dan moral anak. Pengaruh dari orang tua waktu kecil akan membekas sangat mendalam dalam memori anak. Seseorang memiliki kepribadian yang rapuh, lemah, terbentuk karena kurang memperoleh kasih sayang, kurang rasa aman, akibat pemanjaan. Sebaliknya, orang yang memiliki kepribadian yang kuat terbentuk karena pemberian kasih sayang, kehangatan jiwa dan pemberian aktivitas, life skill pada anak.
Pencapaian hasil yang demikian tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dalam membentuk moral maupun pemahaman agama, orang tua harus mampu menjalin kualitas hubungan dan komunikasi dalam keluarga. Baik komunikasi pada tingkat feeling/ emosi, maupun pada tingkat rasio/logika. Anak tidak sekadar memperoleh jawaban ”ora ilok ”_ tidak boleh _ melainkan seorang ibu harus mampu menggunakan logika untuk menjelaskan kata ”ora ilok” tersebut. Ya, memang pada komunikasi tingkat rasio/logika, seorang ibu harus mampu mengajak anak untuk mengunakan rasio dalam memecahkan problem hidupnya. Lain dengan komunikasi pada tingkat feeling, seorang ibu harus mampu mangajak anak untuk mampu memahami perasaan orang, berempati, tanpa larut dalam emosinya.
Perempuan memang makhluk yang perlu memperoleh penghormatan dan pemulian yang layak manakala seorang perempuan mempunyai kelayakan. Semakin layak jika perempuan itu mampu menciptakan tiga struktur rumah tangga, seperti yang diungkapkan oleh Syeikh Muhammad Al-Ghazali, yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah. Ibu yang selalu puas hati, setia dengannya, mampu menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya, berakhlak mulia serta tahu bersyukur.
Keberhasilan dalam menanamkan karakter, moral dan agama anak tidak mungkin dihasilkan oleh ibu yang berhati batu, mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggung jawab. Perempuan yang demikian tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia. Apalagi tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia.
Permintaan Ibunda Kartini yang ditulis dalam buku Door Duisternis tot Linctht, menyebutkan bahwa, Kami meminta dengan sangat supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan kami.... sangat yakin akan berpengaruh besar yang mungkin datang dari kaum perempuan.... hendak menjadikan perempuan lebih cakap melakukan kewajiban, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidi manusia yang pertama-tama.
Berat, mulia, peran ibu dalam mendidik anak. Ibu sebagai pendidik tak pernah mengenal batas waktu dan ruang, tak pernah pesnsiun. Dimana saja dan kapan saja. Ibu selalu menemani, mendamping, membimbing anak bahkan dari sejak dalam rahim. Meski anaknya sudah berkeluarga, hati seorang ibu akan terluka tatkala melihat anaknya melakukan kejahatan, menangis mendengar sang anak pindah keyakinan, meronta tak kala melihat anaknya durhaka. Masihkah ada orang yang menyebut pekerjaan ibu rumahtangga sebagai profesi remeh-temeh dan hina?
Terlepas dari kodrat perempuan, profesi ibu rumah tangga tidak sekadar pekerjaan asal-asalan yang hanya berlingkup pada masak, manak, macak. Perempuan meski harus cakap kuliner, seksi, memberikan keturunan tidaklah lengkap jika belum mampu mewariskan budaya luhur bangsa kepada anak-anaknya.
Ibulah orang pertama kali mengajarkan cara berbicara, menghitung jari tangan, mengekspresikan rasa kasih sayang. Mengenalkan jenis kelamin, mengajarkan adat istiadat, sopan santun, dan tata krama yang berlaku dimasyarakat sekitar. Maka sebutan ”Al Ummu madrasatul ula, iza a’dadta sya’ban thayyibal a’raq” ibu adalah pendidik utama, bila engkau mempersiapkan dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Ya, sangat tepat karena keberadaan seorang ibu sebagai pendidik tidak mengenal ruang dan waktu, kapan saja dan dimana saja berada.
Tidaklah salah, jika ibu yang pertama kali meneteskan air mata, mendengar anak terkasih terjerumus tindak pidana. Melainkan sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dari kegagalan sebuah usaha yang telah menghabiskan seluruh atau sebagian energi yang dimilikinya. Pun bisa tangis ibu sebagai bentuk keterharuan hati menyaksikan keberhasilan anak. karena si buah hatinya mendapatkan prestasi akademik, karier, atau menjadi isteri yang baik bagi suami-suami. Kebanggaan seorang ibu tidak lagi terukur oleh berapa jumlah rupiah yang dihasilkan dari jerih payahnya melainkan, Bagaimana seorang ibu mampu menciptakan generasi Khoirul Umah bagi kelangsungan hidup sebuah kaum, bangsa?
Persitegangan peran ibu sebagai wanita karir dan ibu rumahtangga_pendidik_ dalam keluarga sangatlah mengganggu pikiran sebagian perempuan. Meski karir perempuan setinggi langit, perdebatan tak perlu menjauhkan jarak perempuan sebagai pendidik. Kematian Merilyn Monroe, merupakan bentuk penyesalan dari popularitas perempuan yang tidak mampu menjadi ibu rumah tangga, pendidik untuk anak-anaknya. Peran ibu dalam rumah tangga menjadi poros, penyatu rasa kasih sayang. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna (Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei).
Dikotomi perempuan sebagai sebuah kaum yang hanya dieksploitasi lawan jenis untuk meningkatkan nafsu sahwat atau menjual produk unggulnya agar laris manis di pasaran, hanyalah usaha untuk meletakkan posisi tawar perempuan sebagai kaum lemah, tanpa daya, yang mudah diperbudak oleh kepentingan kapitalis.
Peran ibu sebagai pendidik dalam keluarga menempatkan perempuan pada posisi tawar yang sangat tinggi. Apalagi posisi ibu rumah tangga sebagai pendidik bukanlah pekerjaan mudah, sepele, remeh temeh. Melainkan sebuah profesi yang membutuh persyaratan sebagai pelengkap penyandang profesi untuk menjalankan tanggung jawab agar mendapatkan hasil sebuah pencapain indikator, Following a line of conduct as though it were a profession, tanggung jawab yang harus dikerjakan dari sebuah profesi.
Meskipun tugas rumah merupakan peran kolektif, anak cenderung lebih dekat, manja, dan terbuka, dengan seorang ibu. Bahasa ibulah menjadi komunikasi awal dari anak untuk mengenal simbul-simbul kebenaran, tata krama yang berlaku di sekitarnya.
Pendidikan memang kunci kemajuan bangsa ( Fukuzawa ukichi). Namun pendidikan yang mana? Apakah pendidikan formal di sekolah saja yang dimaksud oleh Bapak Pendidikan Moderen itu. Mestinya tidak, Ki Hajar Dewantara secara tegas mengatakan bahwa pendidikan tidak hanya di sekolah melainkan di rumah, dan masyarakat. Lebih-lebih pendidikan sikap, karakter, di rumahlah yang sangat berpengaruh.
Bentuk perlakuan yang diterima oleh anak dari orang tua akan menentukan kualitas kepribadian dan moral anak. Pengaruh dari orang tua waktu kecil akan membekas sangat mendalam dalam memori anak. Seseorang memiliki kepribadian yang rapuh, lemah, terbentuk karena kurang memperoleh kasih sayang, kurang rasa aman, akibat pemanjaan. Sebaliknya, orang yang memiliki kepribadian yang kuat terbentuk karena pemberian kasih sayang, kehangatan jiwa dan pemberian aktivitas, life skill pada anak.
Pencapaian hasil yang demikian tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dalam membentuk moral maupun pemahaman agama, orang tua harus mampu menjalin kualitas hubungan dan komunikasi dalam keluarga. Baik komunikasi pada tingkat feeling/ emosi, maupun pada tingkat rasio/logika. Anak tidak sekadar memperoleh jawaban ”ora ilok ”_ tidak boleh _ melainkan seorang ibu harus mampu menggunakan logika untuk menjelaskan kata ”ora ilok” tersebut. Ya, memang pada komunikasi tingkat rasio/logika, seorang ibu harus mampu mengajak anak untuk mengunakan rasio dalam memecahkan problem hidupnya. Lain dengan komunikasi pada tingkat feeling, seorang ibu harus mampu mangajak anak untuk mampu memahami perasaan orang, berempati, tanpa larut dalam emosinya.
Perempuan memang makhluk yang perlu memperoleh penghormatan dan pemulian yang layak manakala seorang perempuan mempunyai kelayakan. Semakin layak jika perempuan itu mampu menciptakan tiga struktur rumah tangga, seperti yang diungkapkan oleh Syeikh Muhammad Al-Ghazali, yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah. Ibu yang selalu puas hati, setia dengannya, mampu menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya, berakhlak mulia serta tahu bersyukur.
Keberhasilan dalam menanamkan karakter, moral dan agama anak tidak mungkin dihasilkan oleh ibu yang berhati batu, mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggung jawab. Perempuan yang demikian tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia. Apalagi tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia.
Permintaan Ibunda Kartini yang ditulis dalam buku Door Duisternis tot Linctht, menyebutkan bahwa, Kami meminta dengan sangat supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan kami.... sangat yakin akan berpengaruh besar yang mungkin datang dari kaum perempuan.... hendak menjadikan perempuan lebih cakap melakukan kewajiban, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidi manusia yang pertama-tama.
Berat, mulia, peran ibu dalam mendidik anak. Ibu sebagai pendidik tak pernah mengenal batas waktu dan ruang, tak pernah pesnsiun. Dimana saja dan kapan saja. Ibu selalu menemani, mendamping, membimbing anak bahkan dari sejak dalam rahim. Meski anaknya sudah berkeluarga, hati seorang ibu akan terluka tatkala melihat anaknya melakukan kejahatan, menangis mendengar sang anak pindah keyakinan, meronta tak kala melihat anaknya durhaka. Masihkah ada orang yang menyebut pekerjaan ibu rumahtangga sebagai profesi remeh-temeh dan hina?
MEMAHAMI KODRAT PEREMPUAN
Berbicara masalah kodrat perempuan, kita tak bisa begitu saja memaknai istilah tersebut tanpa menijau lebih dalam tentang pengertian kodrat. Penggunaan kata kodrat – yang sering terjadi – dipahami sebagi ketentuan yang telah digariskan oleh Tuhan. Pemilik kodrat sudah tidak mampu berbuat banyak, tinggal menerima dan menjalani ketentuan yang sudah digariskan. Tetapi, benarkah demikian?
Jika kodrat dipahami sebagai takdir – apa yang telah ditentukan oleh Tuhan – maka perempuan sebagai pemilik kodrat tidak mampu mengelak dari kodrat sebagai perempuan? Kodrat dan takdir itu dapat dimaknai sebagai kekuatan yang datangnya dari sang pencipta. Namun tak kala pemaknaan itu merujuk pada pengertian kodrat merupakan kata yang bersinonim dengan takdir yang bermuara pada kekuasaan ( mutlak ) Tuhan Yang Maha Esa. Perempuan sebagai objek, yang tak mampu berbuat banyak tentang kodrat sebagai perempuan.
Benarkah kodrat perempuan sama dengan takdir perempuan? Pertanyaan itu muncul karena apa yang menjadi kodrat perempuan baik menurut adat istiadat maupun agama sekaligus menjadi takdir perempuan. Perempuan seolah-olah sudah “ ginaris “ ada semacam tembok kuat yang memagar dan tak mungkin dijebol oleh siapapun termasuk perempuan sendiri.,
Kodrat merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arap (quadrah) yang berarti kemampuan, kekuasaan, atau sifat bawaan yang menunjukkan adanya sikap keterlibatan secara aktif dari si pelaku terhadap apa yang bisa dan dapat dilakukannya sendiri, tanpa bergantung atau terkait dengan selain dirinya. Jika dipahami, subyek dari pemilik takdir dan kodrat berbeda. Takdir dipahami sebagai kekuasaan (mutlak) Tuhan. Bandingkan dengan takdir kematian, misalnya, apakah ada yang mampu mengelak? Bagaimana dengan kodrat perempuan?
Kodrat pelaku ( perempuan ) tidak harus tunduk pada pelarangan-pelarangan, sehingga perempuan terjebak pada batasan-batasan yang sesungguhnya bukan ketentuan mutlak yang diperlakukan atas perempuan. Pemahaman perempuan dari kata kodrat maka perempuan sebagai subjek yang boleh saja mengabaikan pelarangan itu dengan melihat jauh ke depan secara seimbang pada persepsi kemampuan individu perempuan. Perempuan bukan lagi terposisikan subordinatif dari laki-laki dan tersisihkan dari sebagian peran-peran sosial budaya di masyarakat. Kemampuan, menjadi otak dalam menggerakkan segala potensi perempuan sebagai subjek yang semata-mata bukan berkah atau pemberian dari Tuhan melainkan hasil dari konstruksi sosial-budaya masyarakat yang penuh dengan muatan muatan budaya sendiri atau bahkan muatan politik. Jika perempuan menempatkan diri sebagai individu yang dapat melepaskan diri dari batasan-batasn tradisi yang mengekang karena mempuanyai kepercayaan yang didasari dari kemampuan berfikir sangatlah menentukan seberapa besar ia mampu melakukan sesuatu yang ingin ia lakukan. Kodrat yang dipahami sebagai takdir justru akan menjadikan perempuan tidak berkuasa untuk melakukan apa yang ia inginkan, semua terikat dengan ketentuan ( mutlak ) Tuhan.
Asumsi perempuan sebagai makhluk yang penuh dengan batasan-batasan atau pelarangan-pelarangan merupakan perbedaan peran secara genetis. Kodrat sebagai perempuan yang dipahami sebagai takdir perempuan dengan batasan peran sosial budaya , pemangku peran domistik secara penuh, adalah bagian dari kesalahpahaman pemaknaan kodrat dan takdir. Jika makhluk yang bervagina dikodratkan sebagai perempuan, tidaklah ada perempuan yang bercelana panjang dan berkaos oblong karena itu pakaian untuk makhluk yang berkodrat laki-laki. Atau perempuan harus memakai kebaya, stagen, dan jarit sebagai pakaian resmi prempuan. Perempuan tiap hari haruslah menjadi koki di dapur, mencuci baju atau piring tak boleh berkarir di sektor publik karena pekerjaan itu dipahami sebagai pekerjaan untuk makhluk yang dikodratkan sebagai laki-laki.
Perempuan menurut kodratnya adalah pemikul beban kerja di sektor domistik ( rumah tangga ) adalah tepat mengingat perempuan dikodratkan sebagai ibu rumah tangga. Pendapat itu memang benar jika kodrat dimaknai sebagai takdir. Siapa yang mampu mengubah takdir? Tidaklah bijak jika garis kodrat di pahami sebagai takdir yang hanya menyudutkan perempuan sebagai obyek pemikul tanggung jawab domistik. Perempuan sudah diberi kesempatan untuk menentukan pilihan sebagai bagian dari emansipasi wanita atau persamaan gender. Sudah banyak perempuan yang sudah bekerja di sektor pelayanan publik, menjadi menteri, anggota dewan, bahkan menjadi presiden
Pemaknaan kodrat perempuan hanya sebatas atribut gender tidak lebih dari itu. Bayi yang dilahirkan bervagina berkodrat menjadi perempuan begitu juga sebaliknya. Sebagai perempuan mempunyai kodrat mengandung, melahirkan dan menyusui. Tetapi pada pemaknaan gender assignment, perempuan tidak lagi terbatas perannya. Jika peran gender perempuan sebatas ibu rumah tangga, bukankah hal yang demikian justru akan merugikan perempuan sendiri?. Bagaimana tidak ? Kehidupan sosial budaya sudah begitu kuat mengkontruksikan perempuan sebagai pemilik resmi pekerjaan domistik. Sedangkan di sisi lain telah bertumpuk-tumpuk larangan-larangan yang harus diyakini untuk tidak dilakukan. Bukankah terlalu sempit kesempatan perempuan untuk berkiprah? Bagaimana seorang istri yang mampu mencari nafkah tetapi harus berbenturan dengan tradisi atau kodrat sebagai pekerja domistik, sementara suami setia menganggur. Apakah istri tidak boleh menentang kodrat dalam arti peran? Bisa mati kelaparan anak dan suami.
Jika peluang ini tidak lagi direspon oleh perempuan sebagai kesempatan untuk membebaskan diri dari pengekangan tradisi, perempuan akan terjebak pada kesulitan-kesulitan. Mengingat peluang berkiprah lebih banyak dari laki-laki.
Di negara dengan budaya, tradisi serta pertalian kekerabatan yang berbeda menjadikan pemahaman kodrat sebagai beban gender yang berbeda pula. Tatkala masyarakat menganut pertalian patrilinela, peran domistik perempuan lebih dominan sedangkan peran sektor publik laki-lakilah yang berkuasa. Lain lagi jika pertalian kekerabatan menganut matrilineal beban gender seorang perempuan lebih banyak. Jika sudah denikian kesempatan untuk menentukan pilihan sangat susah. Bukankah beban gender bukan bagian dari pilihan? Tidak mampukah perempuan untuk menjadi pilot, tentara, sopir atau profesi lain yang dianggap tabu untuk perempuan.
Memang, terkadang pengertian kodrat perempuan jika dipahami dari atribut gender sekalipun memunculkan pengertian bias pula. Lihat saja para lelaki yang mengikuti Be Man di sebuah stasiun televisi swasta itu meski berpenis dan berotot kuat tidak lagi bagian dari perempuan ( fermaleness). Benarkah orang-oarang demikian itu telah menyalahi kodrat? Atau menjadi perempuan dan laki-laki tidak bagian dari sebuah kodrat? Atau sebaliknya kita dapat menentukan sendiri jenis kelamin?
Orang berpenis dan berotot kuat seharusnya menyandang kodrat laki-laki sedangkan bayi yang dilahirkan bervagina dikodratkan sebagai perempuan. Namun dalam kenyataan tidak lagi demikian. Sudah banyak bayi yang berpenis dan bersuara keras itu harus berjalan berlenggak lenggok dengan payu dara montok. Bibir berlipstik, dandan menor meski bulu kaki panjang-panjang tetap saja marak jika dipanggil Mas Bamabang. Malah lebih senang kalau dipanggil Sinta atau Berta Hutagalung. Benarkah menjadi laki-laki ( to be a male ) atau perempuan (to be a femeleb ) merupakan pilihan meski atribut biologisnya tidak sesuai dengan pengertian laki-laki atau perempuan.
Tidaklah mudah memang mengidentifikasi identitas gender karena tidak semua orang menampilkan diri menurut atribut gender yang lazim dalam masyarakat. Orang tidak dapat begitu saja mengatakan laki-laki atau perempuan jika hanya melihat ciri fifik yang lazim sebagai batasan dari masyarakat.
Perempuan memang bervagina, tetapi tidak lantas perempuan harus berada pada posisi tawar sebagai pemikul beban gender dengan hanya berkecimpung pada sektor domistik. Pemahaman ini perlu pelurusan agar perempuan tidak terjebak pada pemaknaan kodrat sebagai hal yang mutlak. Perempuan sebagai obyek dari tafsir kodrat yang layak seperti takdir. Perempuan punya kuasa sebab pengetengahan patriarki hanya dikotomi tradisi yang tidak mutlak adanya.
Jika kodrat dipahami sebagai takdir – apa yang telah ditentukan oleh Tuhan – maka perempuan sebagai pemilik kodrat tidak mampu mengelak dari kodrat sebagai perempuan? Kodrat dan takdir itu dapat dimaknai sebagai kekuatan yang datangnya dari sang pencipta. Namun tak kala pemaknaan itu merujuk pada pengertian kodrat merupakan kata yang bersinonim dengan takdir yang bermuara pada kekuasaan ( mutlak ) Tuhan Yang Maha Esa. Perempuan sebagai objek, yang tak mampu berbuat banyak tentang kodrat sebagai perempuan.
Benarkah kodrat perempuan sama dengan takdir perempuan? Pertanyaan itu muncul karena apa yang menjadi kodrat perempuan baik menurut adat istiadat maupun agama sekaligus menjadi takdir perempuan. Perempuan seolah-olah sudah “ ginaris “ ada semacam tembok kuat yang memagar dan tak mungkin dijebol oleh siapapun termasuk perempuan sendiri.,
Kodrat merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arap (quadrah) yang berarti kemampuan, kekuasaan, atau sifat bawaan yang menunjukkan adanya sikap keterlibatan secara aktif dari si pelaku terhadap apa yang bisa dan dapat dilakukannya sendiri, tanpa bergantung atau terkait dengan selain dirinya. Jika dipahami, subyek dari pemilik takdir dan kodrat berbeda. Takdir dipahami sebagai kekuasaan (mutlak) Tuhan. Bandingkan dengan takdir kematian, misalnya, apakah ada yang mampu mengelak? Bagaimana dengan kodrat perempuan?
Kodrat pelaku ( perempuan ) tidak harus tunduk pada pelarangan-pelarangan, sehingga perempuan terjebak pada batasan-batasan yang sesungguhnya bukan ketentuan mutlak yang diperlakukan atas perempuan. Pemahaman perempuan dari kata kodrat maka perempuan sebagai subjek yang boleh saja mengabaikan pelarangan itu dengan melihat jauh ke depan secara seimbang pada persepsi kemampuan individu perempuan. Perempuan bukan lagi terposisikan subordinatif dari laki-laki dan tersisihkan dari sebagian peran-peran sosial budaya di masyarakat. Kemampuan, menjadi otak dalam menggerakkan segala potensi perempuan sebagai subjek yang semata-mata bukan berkah atau pemberian dari Tuhan melainkan hasil dari konstruksi sosial-budaya masyarakat yang penuh dengan muatan muatan budaya sendiri atau bahkan muatan politik. Jika perempuan menempatkan diri sebagai individu yang dapat melepaskan diri dari batasan-batasn tradisi yang mengekang karena mempuanyai kepercayaan yang didasari dari kemampuan berfikir sangatlah menentukan seberapa besar ia mampu melakukan sesuatu yang ingin ia lakukan. Kodrat yang dipahami sebagai takdir justru akan menjadikan perempuan tidak berkuasa untuk melakukan apa yang ia inginkan, semua terikat dengan ketentuan ( mutlak ) Tuhan.
Asumsi perempuan sebagai makhluk yang penuh dengan batasan-batasan atau pelarangan-pelarangan merupakan perbedaan peran secara genetis. Kodrat sebagai perempuan yang dipahami sebagai takdir perempuan dengan batasan peran sosial budaya , pemangku peran domistik secara penuh, adalah bagian dari kesalahpahaman pemaknaan kodrat dan takdir. Jika makhluk yang bervagina dikodratkan sebagai perempuan, tidaklah ada perempuan yang bercelana panjang dan berkaos oblong karena itu pakaian untuk makhluk yang berkodrat laki-laki. Atau perempuan harus memakai kebaya, stagen, dan jarit sebagai pakaian resmi prempuan. Perempuan tiap hari haruslah menjadi koki di dapur, mencuci baju atau piring tak boleh berkarir di sektor publik karena pekerjaan itu dipahami sebagai pekerjaan untuk makhluk yang dikodratkan sebagai laki-laki.
Perempuan menurut kodratnya adalah pemikul beban kerja di sektor domistik ( rumah tangga ) adalah tepat mengingat perempuan dikodratkan sebagai ibu rumah tangga. Pendapat itu memang benar jika kodrat dimaknai sebagai takdir. Siapa yang mampu mengubah takdir? Tidaklah bijak jika garis kodrat di pahami sebagai takdir yang hanya menyudutkan perempuan sebagai obyek pemikul tanggung jawab domistik. Perempuan sudah diberi kesempatan untuk menentukan pilihan sebagai bagian dari emansipasi wanita atau persamaan gender. Sudah banyak perempuan yang sudah bekerja di sektor pelayanan publik, menjadi menteri, anggota dewan, bahkan menjadi presiden
Pemaknaan kodrat perempuan hanya sebatas atribut gender tidak lebih dari itu. Bayi yang dilahirkan bervagina berkodrat menjadi perempuan begitu juga sebaliknya. Sebagai perempuan mempunyai kodrat mengandung, melahirkan dan menyusui. Tetapi pada pemaknaan gender assignment, perempuan tidak lagi terbatas perannya. Jika peran gender perempuan sebatas ibu rumah tangga, bukankah hal yang demikian justru akan merugikan perempuan sendiri?. Bagaimana tidak ? Kehidupan sosial budaya sudah begitu kuat mengkontruksikan perempuan sebagai pemilik resmi pekerjaan domistik. Sedangkan di sisi lain telah bertumpuk-tumpuk larangan-larangan yang harus diyakini untuk tidak dilakukan. Bukankah terlalu sempit kesempatan perempuan untuk berkiprah? Bagaimana seorang istri yang mampu mencari nafkah tetapi harus berbenturan dengan tradisi atau kodrat sebagai pekerja domistik, sementara suami setia menganggur. Apakah istri tidak boleh menentang kodrat dalam arti peran? Bisa mati kelaparan anak dan suami.
Jika peluang ini tidak lagi direspon oleh perempuan sebagai kesempatan untuk membebaskan diri dari pengekangan tradisi, perempuan akan terjebak pada kesulitan-kesulitan. Mengingat peluang berkiprah lebih banyak dari laki-laki.
Di negara dengan budaya, tradisi serta pertalian kekerabatan yang berbeda menjadikan pemahaman kodrat sebagai beban gender yang berbeda pula. Tatkala masyarakat menganut pertalian patrilinela, peran domistik perempuan lebih dominan sedangkan peran sektor publik laki-lakilah yang berkuasa. Lain lagi jika pertalian kekerabatan menganut matrilineal beban gender seorang perempuan lebih banyak. Jika sudah denikian kesempatan untuk menentukan pilihan sangat susah. Bukankah beban gender bukan bagian dari pilihan? Tidak mampukah perempuan untuk menjadi pilot, tentara, sopir atau profesi lain yang dianggap tabu untuk perempuan.
Memang, terkadang pengertian kodrat perempuan jika dipahami dari atribut gender sekalipun memunculkan pengertian bias pula. Lihat saja para lelaki yang mengikuti Be Man di sebuah stasiun televisi swasta itu meski berpenis dan berotot kuat tidak lagi bagian dari perempuan ( fermaleness). Benarkah orang-oarang demikian itu telah menyalahi kodrat? Atau menjadi perempuan dan laki-laki tidak bagian dari sebuah kodrat? Atau sebaliknya kita dapat menentukan sendiri jenis kelamin?
Orang berpenis dan berotot kuat seharusnya menyandang kodrat laki-laki sedangkan bayi yang dilahirkan bervagina dikodratkan sebagai perempuan. Namun dalam kenyataan tidak lagi demikian. Sudah banyak bayi yang berpenis dan bersuara keras itu harus berjalan berlenggak lenggok dengan payu dara montok. Bibir berlipstik, dandan menor meski bulu kaki panjang-panjang tetap saja marak jika dipanggil Mas Bamabang. Malah lebih senang kalau dipanggil Sinta atau Berta Hutagalung. Benarkah menjadi laki-laki ( to be a male ) atau perempuan (to be a femeleb ) merupakan pilihan meski atribut biologisnya tidak sesuai dengan pengertian laki-laki atau perempuan.
Tidaklah mudah memang mengidentifikasi identitas gender karena tidak semua orang menampilkan diri menurut atribut gender yang lazim dalam masyarakat. Orang tidak dapat begitu saja mengatakan laki-laki atau perempuan jika hanya melihat ciri fifik yang lazim sebagai batasan dari masyarakat.
Perempuan memang bervagina, tetapi tidak lantas perempuan harus berada pada posisi tawar sebagai pemikul beban gender dengan hanya berkecimpung pada sektor domistik. Pemahaman ini perlu pelurusan agar perempuan tidak terjebak pada pemaknaan kodrat sebagai hal yang mutlak. Perempuan sebagai obyek dari tafsir kodrat yang layak seperti takdir. Perempuan punya kuasa sebab pengetengahan patriarki hanya dikotomi tradisi yang tidak mutlak adanya.
GUDEL NYUSU KEBO ; KEBO NYUSU GUDEL
GUDEL sebutan untuk anak kebo ( kerbau ), binatang mamalia yang berkulit hitam dengan perut besar. Binatang itu biasanya dipelihara untuk dimanfaatkan daging, tenaga, bahkan kulitnya. Namun bagi petani, kerbau sering dimanfaatkan tenaganya untuk membajak sawah. Kerbau termasuk binatang jinak yang mudah diatur dan penurut apalagi kalau dengan empunya. Diajak bekerja membajak sawah dari pagi hingga siang tak pernah mengeluh.
Kerbau yang terkenal manut kerap kali menerima hukuman dari pemiliknya. Tak tanggung-tanggung, hukuman cambuk dari pemiliknya sering membuat luka sekujur tubuhnya. Namun karena binatang, kerbau tak pernah berontak.
Manusia memang makhluk yang sangat kejam apalagi dengan hewan. Meskipun kerbau sudah mencurahkan seluruh jiwa dan raganya masih saja diperlakukan tidak adil. Nah, itulah manusia, jangankan dengan makhluk yang tidak berakal, dengan sesama manusia pun terkadang yang kuasa memperlakukan pemerkosaan meskipun sebenarnya mereka sudah tidak berdaya.
Lihat saja, betapa lelahnya, seharian harus berpanas-panasan di bawah terik matahari, membajak dengan sekuat tenaga. Cambukan terus saja menemani di setiap gerakan yang dianggap tidak pas oleh majikannya. Ya, ketertundudukan kerbau itulah yang mendorong majikan untuk memperdaya atau bahkan menyiksanya. Kerbau memang binatang, namun bukankah petani tanpa kerbau akan bersusah payah untuk merampungkan pekerjaan di sawah?
Dungu! Barang kali itu yang menyebabkan si hitam tambun sering diperdaya. Bukankah kebiasaan jelek manusia yang sering tidak beradap terhadap yang tak berdaya? Kerbau memang kuat secara fisik namun dungu akalnya. Kebesaran tubuhnya yang tak diimbangi dengan kecerdasan berfikir akan menjadikan manusia seperti kerbau, lemah tak berdaya. Tak mampu perkasa di tengah pergaulan yang serba membutuhkan penalaran. Bukan saatnya mengandalkan kuatan otot, apalagi perempuan secara fisik jelas kalah dengan lelaki, jika masih mengandalkan otot sama dengan bunuh diri. Apalagi hanya menangandalkan airmata, cerita basi.
Keterbatasan perempuan secara fisik ( kekuatan otot ) seharunya tidak menjadikan perempuan menjadi kaum termarjinalkan. Di tengah carut-marutnya peradaban yang mendorong manusia untuk menguasai yang lemah, menindas yang melarat, menyekik yang kelaparan. Kerakusan dan kejahatanan manusia memang tidak mengenal batas ruang dan waktu.
Orang baik, nrimo ing pandum, juga tak lepas dari tekanan kerakusan dan kejahatan manusia. Sekali manusia dianggap lemah, atau menunjukkan kelemahan, lawan terus akan menukik. Maka seluruh manusia yang terbiasa melakukan pencekikan itu akan menjadikannya lahan penindasan.” Bodho lenga-lengo kayak kebo, manusia yang tidak pernah berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup hanya mengandalkan otot akan bernasib seperti binatang kerbau.
Hidup tidak hanya butuh makan dan sandang. Ilmu pengetahuan terus berkembang mengikuti arah waktu yang terus teratur maju menggilas. Kehidupan dengan pola yang dinamis dari detik terus melaju mengubah zaman. Perempuan yang merupakan bagian dari subjek perubahan tak lepas dari perhelatan itu. Tangisan perempuan bukan lagi senjata ampuh karena seluruh faktor yang terlibat dalam perubahan sudah basi dengan suara tangisan perempuan dua puluh lima tahun silam.
Setiap orang berebut peran dalam segala kesempatan. Itulah yang mendorong perempuan untuk tetap menjaga kualitas diri dalam lingkup kesetaraan peran. Sebagai makhluk yang memiliki derajat yang sama di mata Tuhan, tidaklah tepat jika perempuan hanya mengurung diri bak ” Katak di dalam tempurung.” Bukankah cerita fiksi Siti Nurbaya hanya sebuah cerita peneman tidur anak-anak remaja dua puluh atau bahkan ratusan tahun silam. Mokal, mushil jika sebuah cerita akan menjadi kenyataan. Jarang yang percaya tatkala Leonardo Da Vinci melukis pesawat yang bisa terbang seperti burung. Namun, kini ketidak percayaan itu tergilas oleh munculnya beribu-ribu pesawat terbang dengan berbagai macam benda yang diangkutnya. Begitu juga kisah Siti Nurbaya akan menjadi kenyataan dalam hidup perempuan.
Manusia dan peradaban terus melaju. Jika manusia ( baca : perempuan ) terlalu besar mumbusungkan dada hanya berbekal ilmu pengetahuan dan teknologi dari pengalaman yang diterima saat bersekolah atau kuliah bukan bagian orang bijak.
Stigma, manusia terhadap kerbau sebagai binatang bodoh merupakan keterbatasan manusia dalam memberikan penilaian. Bagaimana tidak? Kerbau dengan segudang jasa tetap saja di cap sebagai binatang bodoh, dungu yang mudah ditipu. Keterbatasan itu yang justru mengotak-ngotak manusia dari kemampuan berfikir tanpa memperhatikan peran.
Orang tua dengan berbagai peran begitu saja ditinggalkan karena dianggap ketinggalan zaman. Memang, peran seseorang ( orang tua) yang begitu banyak (seperti kerbau), dilakukan dengan iklas tidak lantas menghilangkan cap sebagai manusia dungu. Terus, siapa yang dungu? Peran memang harus dibarengi dengan kecakapan berfikir.
Kerbau memang syarat dari ketidaksempurnaan. Jika ketertundukan kerbau bukan bagian dari pengabdian dari empunya melainkan kebodohan adalah bentuk kesalah pahaman penilaian yang luar biasa. Bagaimana tidak? Orang tua yang sering mengalah dengan anak sebenarnya adalah bentuk pengabdian orang tua kepada anak sebagai titipan dari Yang Mahaagung. Sifat ketertundukan (kerbau) menggambarkan betapa tingginya kemampuan orang tua untuk mengendalikan hawa nafsu amarah atau nafsu lainnya.
Tetapi, keikhlasan kerbau untuk diperlakukan sebagaimana pemilik menghendaki adalah bagian dari kebodohan. Tidaklah manusia mengambil hikmah dari keteladanan kerbau yang manut, miturut, ikhlas tunduk dan patuh terhadap empunya bagian dari bentuk terima kasih karena telah dipelihara dengan baik.
Mungkin juga kerbau mempunyai prinsip seperti perkataan , Sosrokartono , ” Ingkang tansah dados ancasipun lampah kula boten sanes naming sunyi pamrih, puji kula boten sanes naming sugih, sugeng, senengipun sesami. Prabot kula boten sanes badan lan budi. Memayu hayuning urip, memayu awonipun gesang, nyuwita, ngawula, bakti dateng sesaminipun”.
Yang menjadi tujuan hidup orang tua adalah berbuat baik, baik dalam hidup berkeluarga, baik dengan sesama syarat dengan budi baik dan terus menghamba kepada sesama tanpa pamrih. Orang tua tidak bodoh! Antara bodoh atau ethok-ethok bodoh memang sulit dibedakan. Orang tua memang banyak menyimpan amunisi namun jarang ditembakkan. Zaman yang sudah menggila, zaman edan kadang-kadang membuat orang tua terlena melepaskan amunisi sehingga begitu gampangnya anak leluasa keluar jalur. Dengan dalih kasihan, orang tua mengumbar kesenangan anak tanpa memedulikannya. Bahkan sebenarnya kesenangan itu bagian racun yang akan membunuh anak.
Ya, antara kesenangan atau racun tidaklah dapat dibedakan. Hanya orang tua yang tahu. Bukankah anak akan merasakan jika waktu sudah jauh meninggalkan. Penyesalan terjadi jika racun itu sudah terlanjur ditenggak. Ketidaktahuan memang sulit dipersalahkan, ”kuman diseberang lautan akan nampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”. Mencari kesalahan orang lain lebih mudah dari pada menemukan kesalahan diri sendiri.
Paribasan ” kebo nyusu gudel ” merupakan bentuk sindiran kepada manusia yang tidak mempunya keberdayaan terhadap perkembangan zaman. Orang tua kolot yang tak pernah terbuka pikirannya untuk keluar dari peradaban yang lama ditinggalkan generasi. Bukankah keperkasaan orang tua sebagai pelindung anak untuk tidak keluar dari rel menjadi pilihan? Atau kah justru kebodohan orang tua yang menghilangkan perannya meracuni anak dengan racun yang akan membinasakannya.
Orang tua sebagai pemimpin mempunyai tanggung menahkodai bahtera keluarga untuk berlayar samapai tujuan, keluarga sakinah, mawadah dan warohmah.
Bagaimana jadinya jika seorang pemimpin harus mengikuti yang dipimpin? Pemimpin itu bak nahkoda, jika nahkodanya tidak mempunyai arah maka perahu tak pernah sampai ke tujuan. Jika kerbau saja tidak mungkin nyusu dengan anaknya, Kebo Nyusu Gudel hanya sebuah paribasan. Namun paribasan itu dapat terjadi dalam kehidupan karena orang tua yang mengurung dirinya tanpa keluar dari kehidupan yang bijak Mengapa orang tua harus manut pada anaknya. Mestinya manusia lebih tidak mungkin. Manusia makhluk sempurna karena ditugaskan untuk menjadi khalifah bumi. Manusia dengan otaknya, terus saja berkembang, tidak mengenal batas waktu. Tak menutup kemungkinan anak dapat lebih pandai dengan ibu atau ayahnya, karena pikiran anak lebih muda sehingga mampu berkembang secara dinamis. Tetapi tidak lantas kemampuan anak adalah segala-galanya. Anak masih labil.
Al-Alaq 96 : 1-7 ( Bacalah, dengan ( menyebut ) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-Mulah Yang Mahamulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Sekali-kali tidak ! sungguh manusia itu benar-benar melampaui batas. Apabila melihat dirinya serba cukup. )
Kerbau yang terkenal manut kerap kali menerima hukuman dari pemiliknya. Tak tanggung-tanggung, hukuman cambuk dari pemiliknya sering membuat luka sekujur tubuhnya. Namun karena binatang, kerbau tak pernah berontak.
Manusia memang makhluk yang sangat kejam apalagi dengan hewan. Meskipun kerbau sudah mencurahkan seluruh jiwa dan raganya masih saja diperlakukan tidak adil. Nah, itulah manusia, jangankan dengan makhluk yang tidak berakal, dengan sesama manusia pun terkadang yang kuasa memperlakukan pemerkosaan meskipun sebenarnya mereka sudah tidak berdaya.
Lihat saja, betapa lelahnya, seharian harus berpanas-panasan di bawah terik matahari, membajak dengan sekuat tenaga. Cambukan terus saja menemani di setiap gerakan yang dianggap tidak pas oleh majikannya. Ya, ketertundudukan kerbau itulah yang mendorong majikan untuk memperdaya atau bahkan menyiksanya. Kerbau memang binatang, namun bukankah petani tanpa kerbau akan bersusah payah untuk merampungkan pekerjaan di sawah?
Dungu! Barang kali itu yang menyebabkan si hitam tambun sering diperdaya. Bukankah kebiasaan jelek manusia yang sering tidak beradap terhadap yang tak berdaya? Kerbau memang kuat secara fisik namun dungu akalnya. Kebesaran tubuhnya yang tak diimbangi dengan kecerdasan berfikir akan menjadikan manusia seperti kerbau, lemah tak berdaya. Tak mampu perkasa di tengah pergaulan yang serba membutuhkan penalaran. Bukan saatnya mengandalkan kuatan otot, apalagi perempuan secara fisik jelas kalah dengan lelaki, jika masih mengandalkan otot sama dengan bunuh diri. Apalagi hanya menangandalkan airmata, cerita basi.
Keterbatasan perempuan secara fisik ( kekuatan otot ) seharunya tidak menjadikan perempuan menjadi kaum termarjinalkan. Di tengah carut-marutnya peradaban yang mendorong manusia untuk menguasai yang lemah, menindas yang melarat, menyekik yang kelaparan. Kerakusan dan kejahatanan manusia memang tidak mengenal batas ruang dan waktu.
Orang baik, nrimo ing pandum, juga tak lepas dari tekanan kerakusan dan kejahatan manusia. Sekali manusia dianggap lemah, atau menunjukkan kelemahan, lawan terus akan menukik. Maka seluruh manusia yang terbiasa melakukan pencekikan itu akan menjadikannya lahan penindasan.” Bodho lenga-lengo kayak kebo, manusia yang tidak pernah berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup hanya mengandalkan otot akan bernasib seperti binatang kerbau.
Hidup tidak hanya butuh makan dan sandang. Ilmu pengetahuan terus berkembang mengikuti arah waktu yang terus teratur maju menggilas. Kehidupan dengan pola yang dinamis dari detik terus melaju mengubah zaman. Perempuan yang merupakan bagian dari subjek perubahan tak lepas dari perhelatan itu. Tangisan perempuan bukan lagi senjata ampuh karena seluruh faktor yang terlibat dalam perubahan sudah basi dengan suara tangisan perempuan dua puluh lima tahun silam.
Setiap orang berebut peran dalam segala kesempatan. Itulah yang mendorong perempuan untuk tetap menjaga kualitas diri dalam lingkup kesetaraan peran. Sebagai makhluk yang memiliki derajat yang sama di mata Tuhan, tidaklah tepat jika perempuan hanya mengurung diri bak ” Katak di dalam tempurung.” Bukankah cerita fiksi Siti Nurbaya hanya sebuah cerita peneman tidur anak-anak remaja dua puluh atau bahkan ratusan tahun silam. Mokal, mushil jika sebuah cerita akan menjadi kenyataan. Jarang yang percaya tatkala Leonardo Da Vinci melukis pesawat yang bisa terbang seperti burung. Namun, kini ketidak percayaan itu tergilas oleh munculnya beribu-ribu pesawat terbang dengan berbagai macam benda yang diangkutnya. Begitu juga kisah Siti Nurbaya akan menjadi kenyataan dalam hidup perempuan.
Manusia dan peradaban terus melaju. Jika manusia ( baca : perempuan ) terlalu besar mumbusungkan dada hanya berbekal ilmu pengetahuan dan teknologi dari pengalaman yang diterima saat bersekolah atau kuliah bukan bagian orang bijak.
Stigma, manusia terhadap kerbau sebagai binatang bodoh merupakan keterbatasan manusia dalam memberikan penilaian. Bagaimana tidak? Kerbau dengan segudang jasa tetap saja di cap sebagai binatang bodoh, dungu yang mudah ditipu. Keterbatasan itu yang justru mengotak-ngotak manusia dari kemampuan berfikir tanpa memperhatikan peran.
Orang tua dengan berbagai peran begitu saja ditinggalkan karena dianggap ketinggalan zaman. Memang, peran seseorang ( orang tua) yang begitu banyak (seperti kerbau), dilakukan dengan iklas tidak lantas menghilangkan cap sebagai manusia dungu. Terus, siapa yang dungu? Peran memang harus dibarengi dengan kecakapan berfikir.
Kerbau memang syarat dari ketidaksempurnaan. Jika ketertundukan kerbau bukan bagian dari pengabdian dari empunya melainkan kebodohan adalah bentuk kesalah pahaman penilaian yang luar biasa. Bagaimana tidak? Orang tua yang sering mengalah dengan anak sebenarnya adalah bentuk pengabdian orang tua kepada anak sebagai titipan dari Yang Mahaagung. Sifat ketertundukan (kerbau) menggambarkan betapa tingginya kemampuan orang tua untuk mengendalikan hawa nafsu amarah atau nafsu lainnya.
Tetapi, keikhlasan kerbau untuk diperlakukan sebagaimana pemilik menghendaki adalah bagian dari kebodohan. Tidaklah manusia mengambil hikmah dari keteladanan kerbau yang manut, miturut, ikhlas tunduk dan patuh terhadap empunya bagian dari bentuk terima kasih karena telah dipelihara dengan baik.
Mungkin juga kerbau mempunyai prinsip seperti perkataan , Sosrokartono , ” Ingkang tansah dados ancasipun lampah kula boten sanes naming sunyi pamrih, puji kula boten sanes naming sugih, sugeng, senengipun sesami. Prabot kula boten sanes badan lan budi. Memayu hayuning urip, memayu awonipun gesang, nyuwita, ngawula, bakti dateng sesaminipun”.
Yang menjadi tujuan hidup orang tua adalah berbuat baik, baik dalam hidup berkeluarga, baik dengan sesama syarat dengan budi baik dan terus menghamba kepada sesama tanpa pamrih. Orang tua tidak bodoh! Antara bodoh atau ethok-ethok bodoh memang sulit dibedakan. Orang tua memang banyak menyimpan amunisi namun jarang ditembakkan. Zaman yang sudah menggila, zaman edan kadang-kadang membuat orang tua terlena melepaskan amunisi sehingga begitu gampangnya anak leluasa keluar jalur. Dengan dalih kasihan, orang tua mengumbar kesenangan anak tanpa memedulikannya. Bahkan sebenarnya kesenangan itu bagian racun yang akan membunuh anak.
Ya, antara kesenangan atau racun tidaklah dapat dibedakan. Hanya orang tua yang tahu. Bukankah anak akan merasakan jika waktu sudah jauh meninggalkan. Penyesalan terjadi jika racun itu sudah terlanjur ditenggak. Ketidaktahuan memang sulit dipersalahkan, ”kuman diseberang lautan akan nampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”. Mencari kesalahan orang lain lebih mudah dari pada menemukan kesalahan diri sendiri.
Paribasan ” kebo nyusu gudel ” merupakan bentuk sindiran kepada manusia yang tidak mempunya keberdayaan terhadap perkembangan zaman. Orang tua kolot yang tak pernah terbuka pikirannya untuk keluar dari peradaban yang lama ditinggalkan generasi. Bukankah keperkasaan orang tua sebagai pelindung anak untuk tidak keluar dari rel menjadi pilihan? Atau kah justru kebodohan orang tua yang menghilangkan perannya meracuni anak dengan racun yang akan membinasakannya.
Orang tua sebagai pemimpin mempunyai tanggung menahkodai bahtera keluarga untuk berlayar samapai tujuan, keluarga sakinah, mawadah dan warohmah.
Bagaimana jadinya jika seorang pemimpin harus mengikuti yang dipimpin? Pemimpin itu bak nahkoda, jika nahkodanya tidak mempunyai arah maka perahu tak pernah sampai ke tujuan. Jika kerbau saja tidak mungkin nyusu dengan anaknya, Kebo Nyusu Gudel hanya sebuah paribasan. Namun paribasan itu dapat terjadi dalam kehidupan karena orang tua yang mengurung dirinya tanpa keluar dari kehidupan yang bijak Mengapa orang tua harus manut pada anaknya. Mestinya manusia lebih tidak mungkin. Manusia makhluk sempurna karena ditugaskan untuk menjadi khalifah bumi. Manusia dengan otaknya, terus saja berkembang, tidak mengenal batas waktu. Tak menutup kemungkinan anak dapat lebih pandai dengan ibu atau ayahnya, karena pikiran anak lebih muda sehingga mampu berkembang secara dinamis. Tetapi tidak lantas kemampuan anak adalah segala-galanya. Anak masih labil.
Al-Alaq 96 : 1-7 ( Bacalah, dengan ( menyebut ) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-Mulah Yang Mahamulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Sekali-kali tidak ! sungguh manusia itu benar-benar melampaui batas. Apabila melihat dirinya serba cukup. )
ASI dan Kedamaian Bayi
ASI, air susu ibu adalah makanan terbaik bagi bayi. Tuhan menciptakan ASI bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk bapak atau tetangga. Paradigma yang salah terhadap fungsi, manfaat dan peruntukan ASI perlu pelurusan. Yah, perlu pelurusan selurus-lurusnya agar tak bengkok nalar perempuan. Membengkokkan peruntukan ASI bukan untuk bayi adalah tafsir keliru dari seorang perempuan yang telah tercuci otaknya oleh kekuasaan liberalisme konsumtif. Termakan oleh kekuasaan lipatan-lipatan produsen susu formula yang jika dicermati mengajak perempuan berfikir moderen yang sejatinya meracuni bayi.
Meski banyak yang menggantikan ASI dengan susu formula namun tak seenak dan senikmat ASI. ASI tetap menjadi nomor satu, nomor wahid, wahai perempuan! Dalam guyon maton ASI memiliki kelebihan-kelebihan yang tak tertandingi . Bentuknya unik, cocok untuk segala usia ( satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, dua tahun, dan ... tahun ) , kemasanya praktis, mudah dibawa ke mana-mana, higienis, tak pernah basi, aroma dan rasanya khas, menyesuaikan usia bayi, panas dan suhunya stabil, mudah penyajiannya, tidak ribet, volume dan debitnya stabil, tidak membikin mulut bayi alergi, elastis dan lentur, yang jelas sesuai keadaan bayi. ASI makanan bayi sempurna nutrisi dan higienis.
Sejak zaman ke zaman, keberadaan ASI tak tertandingi. Namun sayang menurut data yang dikeluarkan Unicef hanya 14 persen bayi di Indonesi yang disusui secara eklusif oleh ibunya hingga usia 4 bulan.
Di zaman Rasulullah jarang seorang ibu yang menggantikan ASI dengan susu produksi manusia. Jika ibunya tidak mampu memberikan ASI kedua orang tua mencarikan ibu susuan.
Manusia memang sok hebat. Tidak tahu kalau bayi-bayi yang disusui oleh ibunya akan tenang dan tidak mudah gelisah untuk waktu yang lama. Bahkan setelah mereka disapih mereka lebih kuat menghadapi situasi yang bisa membuat stres, misalnya perceraian orang tuanya. Demikian bukti ilmiah terbaru tentang manfaat ASI bagi bayi yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Disease in Childhood.
"Bayi yang disusui, tidak terlalu terpengaruh oleh perceraian atau perpisahan orangtuanya, mereka juga tidak mudah gelisah dan cemas," kata Dr Scott Montgomery, ahli epidemiologi di Karolinska Institute Swedia, seperti dikutip reuters.
ASI mengandung banyak nutrisi, hormon, enzim, untuk pertumbuhan dan kekebalan tubuh yang diturunkan ibunya ke bayi. Penelitian tersebut juga menunjukkan ASI mampu mengurangi infeksi, penyakit pernapasan dan diare pada bayi. Ibu yang menyusui bayinya juga bisa terhindar dari pendarahan setelah melahirkan. Montgomery dan timnya meneliti bagaimana bayi berusia 10 tahun yang diberi ASI dan yang diberi susu formula menghadapi stres akibat masalah perkawinan orang tuanya.
Sekitar 9000 bayi menjadi responden penelitian ini. Mereka dimonitor sejak lahir sampai masuk sekolah. Guru-guru di sekolah juga ditanyai tentang tingkat kegelisahan anak-anak tersebut dalam skala 0-50. Ternyata anak yang dulunya mendapat ASI bisa menghadapi masalah dan stres lebih baik dibandingkan yang tidak mendapat ASI. Tetapi para peneliti belum mengetahui kaitan antara ASI dengan tingkat kegelisahan. Menurut dugaan sementara, anak-anak yang disusui tidak mudah gelisah karena saat disusui mereka merasa mendapat kasih sayang orangtuanya, pelukan dan dekapan ibu saat menyusui juga menenangkan bayi. Selain itu menyusui juga berpengaruh terhadap perkembangan tubuh dalam merespon stres.
Secara psikologi, produksi ASI yang mencukupi kebutuhan bayi dapat meningkatkan kepercayaan diri seorang ibu, karena sebenarnya menyususi bukan sekadar memberikan puting pada mulut bayi. Keberhasilan seorang itu dipengaruhi pula oleh emosi dan kasih sayang seorang ibu. Kedua hal tersebut dapat merangsang produksi hormon oksitosin yang berpengaruh pula terhadap produksi ASI. Interaksi ibu dan Bayi dengan kesatuan jiwanya mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi.
Pengaruh kontak langsung ibu-bayi dan ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim. Selain meningkatkan perkembangan psikologi anak Interaksi ibu-bayi dan kandungan nilai gizi ASI sangat dibutuhkan pula untuk perkembangan system syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi. Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.
Terbiasanya bayi untuk menghisap, menelan pada saat meminum ASI melalui sentuhan langsung dengan seluruh organ ibu yang dikoordinasikan dengan kemampuan bernafas bayi ternyata dapat menyempurnakan kemampuan itu secara sempurna.
Bagi keluarga yang berpenghasilan pas-pasan justru aspek ekonomis menjadi rujukan langsung untuk hidup hemat dan sehat. Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya. Apa lagi berdasarkan kajian yang sudah menjadi panutan, bahwa bayi dengan ASI eklusif bisa sampai umur enam bulan tanpa makanan tambahan. Berapa rupiah yang dapat kita hemat? Lagi pula, Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).
"Semakin kita pelajari tentang ASI, semakin banyak manfaat yang kita temukan. Menyusui bisa disebut sebagai salah satu hal penting dalam perkembangan manusia," kata Montgomery.
Sumber Buku Panduan Manajemen Laktasi: Dit.Gizi Masyarakat-Depkes RI,2001
.
Meski banyak yang menggantikan ASI dengan susu formula namun tak seenak dan senikmat ASI. ASI tetap menjadi nomor satu, nomor wahid, wahai perempuan! Dalam guyon maton ASI memiliki kelebihan-kelebihan yang tak tertandingi . Bentuknya unik, cocok untuk segala usia ( satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, dua tahun, dan ... tahun ) , kemasanya praktis, mudah dibawa ke mana-mana, higienis, tak pernah basi, aroma dan rasanya khas, menyesuaikan usia bayi, panas dan suhunya stabil, mudah penyajiannya, tidak ribet, volume dan debitnya stabil, tidak membikin mulut bayi alergi, elastis dan lentur, yang jelas sesuai keadaan bayi. ASI makanan bayi sempurna nutrisi dan higienis.
Sejak zaman ke zaman, keberadaan ASI tak tertandingi. Namun sayang menurut data yang dikeluarkan Unicef hanya 14 persen bayi di Indonesi yang disusui secara eklusif oleh ibunya hingga usia 4 bulan.
Di zaman Rasulullah jarang seorang ibu yang menggantikan ASI dengan susu produksi manusia. Jika ibunya tidak mampu memberikan ASI kedua orang tua mencarikan ibu susuan.
Manusia memang sok hebat. Tidak tahu kalau bayi-bayi yang disusui oleh ibunya akan tenang dan tidak mudah gelisah untuk waktu yang lama. Bahkan setelah mereka disapih mereka lebih kuat menghadapi situasi yang bisa membuat stres, misalnya perceraian orang tuanya. Demikian bukti ilmiah terbaru tentang manfaat ASI bagi bayi yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Disease in Childhood.
"Bayi yang disusui, tidak terlalu terpengaruh oleh perceraian atau perpisahan orangtuanya, mereka juga tidak mudah gelisah dan cemas," kata Dr Scott Montgomery, ahli epidemiologi di Karolinska Institute Swedia, seperti dikutip reuters.
ASI mengandung banyak nutrisi, hormon, enzim, untuk pertumbuhan dan kekebalan tubuh yang diturunkan ibunya ke bayi. Penelitian tersebut juga menunjukkan ASI mampu mengurangi infeksi, penyakit pernapasan dan diare pada bayi. Ibu yang menyusui bayinya juga bisa terhindar dari pendarahan setelah melahirkan. Montgomery dan timnya meneliti bagaimana bayi berusia 10 tahun yang diberi ASI dan yang diberi susu formula menghadapi stres akibat masalah perkawinan orang tuanya.
Sekitar 9000 bayi menjadi responden penelitian ini. Mereka dimonitor sejak lahir sampai masuk sekolah. Guru-guru di sekolah juga ditanyai tentang tingkat kegelisahan anak-anak tersebut dalam skala 0-50. Ternyata anak yang dulunya mendapat ASI bisa menghadapi masalah dan stres lebih baik dibandingkan yang tidak mendapat ASI. Tetapi para peneliti belum mengetahui kaitan antara ASI dengan tingkat kegelisahan. Menurut dugaan sementara, anak-anak yang disusui tidak mudah gelisah karena saat disusui mereka merasa mendapat kasih sayang orangtuanya, pelukan dan dekapan ibu saat menyusui juga menenangkan bayi. Selain itu menyusui juga berpengaruh terhadap perkembangan tubuh dalam merespon stres.
Secara psikologi, produksi ASI yang mencukupi kebutuhan bayi dapat meningkatkan kepercayaan diri seorang ibu, karena sebenarnya menyususi bukan sekadar memberikan puting pada mulut bayi. Keberhasilan seorang itu dipengaruhi pula oleh emosi dan kasih sayang seorang ibu. Kedua hal tersebut dapat merangsang produksi hormon oksitosin yang berpengaruh pula terhadap produksi ASI. Interaksi ibu dan Bayi dengan kesatuan jiwanya mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi.
Pengaruh kontak langsung ibu-bayi dan ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim. Selain meningkatkan perkembangan psikologi anak Interaksi ibu-bayi dan kandungan nilai gizi ASI sangat dibutuhkan pula untuk perkembangan system syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi. Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.
Terbiasanya bayi untuk menghisap, menelan pada saat meminum ASI melalui sentuhan langsung dengan seluruh organ ibu yang dikoordinasikan dengan kemampuan bernafas bayi ternyata dapat menyempurnakan kemampuan itu secara sempurna.
Bagi keluarga yang berpenghasilan pas-pasan justru aspek ekonomis menjadi rujukan langsung untuk hidup hemat dan sehat. Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya. Apa lagi berdasarkan kajian yang sudah menjadi panutan, bahwa bayi dengan ASI eklusif bisa sampai umur enam bulan tanpa makanan tambahan. Berapa rupiah yang dapat kita hemat? Lagi pula, Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).
"Semakin kita pelajari tentang ASI, semakin banyak manfaat yang kita temukan. Menyusui bisa disebut sebagai salah satu hal penting dalam perkembangan manusia," kata Montgomery.
Sumber Buku Panduan Manajemen Laktasi: Dit.Gizi Masyarakat-Depkes RI,2001
.
Anak Bukan Orang Dewasa
Semua orang tua di dunia ini selalu berharap agar dikaruniai buah hati yang sempurna secara fisik , emosi, maupun mental. Jika diberi kesempatan memilih maka orang tua akan memilih buah hati yang bakal dilahirkan dari rahim sang isteri, berwajah seperti Anjasmara, berotak Habibi, berakhlak Nabi, bertubuh Ade Ray, berharta Tomi, seteguh Wiji Thukul, sesabar Mario Teguh, dan ….
Namun sayang, kesempatan untuk memilih itu tidak mesti ada. Meskipun orang tua tidak berkesempatan untuk memilih tetapi orang tua berkesempatan untuk berharap banyak tentang buah hati yang bakal terlahir dari isteri tercintanya. Berharap untuk menjadi dokter, guru, insinyur, ustad, atau bahkan menjadi presiden.
Anak memang sebuah karunia. Sebagai sebuah karunia mestinya harus kita jaga dengan sebaik-baiknya agar bisa tercapai pengharapannya. Proses anak untuk menjadi dokter, insinyur inilah yang tidak pendek dan tak mudah. Karena butuh peran yang lengkap agar proses berharap itu dapat terwujud sesuai dengan keinginan kita.
Meskipun demikian anak sebenarnya telah memiliki bekal hidup untuk berhak menjadi apa dan seperi siapa. Anak memang unik, tak sama kecakapan yang dimilikinya. Maka tak mengherankan jika Howard Gardner mempunyai keyakinan bahwa anak yang terlahir normal tidak ada yang bodoh. Karena menurutnya, masing-masing anak yang lahir itu memiliki Multiple Intelegensi yang berbeda-beda. Howard Gardner mengelompokan kecerdasan anak menjadi delapan intelegensi antara lain: kecerdasana bahasa, logis-matematika, tilikan ruang, bodily-kinesthetic, musik, antarpribadi, indra pribadi dan natralist.
Tidak ada anak yang sempurna, setiap anak berbeda-beda kecerdasannya. Anak pandai dalam olah raga belum tentu cerdas dalam matematika. Begitu sebaliknya.
Namun demikian Anda jangan yakin jika anak itu memiliki kecerdasan dan akan berhasil mewujudkan impian sesuai kecerdasan. Karena ini ditentang oleh John Loke bahwa bayi yang lahir masih seperti kertas putih, tabula rasa yang dapat ditulisi dan dilukis sekendak penulis atau pelukis. Kertas akan menjadi lukisan yang mahal harganya jika kita lukisi dengan teknik yang benar dan profesional.
Nah, jika bayi memang dilahirkan seperti kertas putih dapatkah kiranya kita menjadikan dua bayi yang terlahir dari rahim ibu yang sama itu menjadi dokter atau pilot. Jika memang bayi seperti kertas putih yang mampu kita bentuk maka kita tidak usah bersusah payah untuk memikirkan anak. Karena anak dapat kita jadikan menjadi dokter atau pilot tergantung kemauan kita. Katakan saja, tidak ada bayi yang terlahir tumbuh-kembang menjadi penjahat atau maling-maling uang rakyat.
Goresan pada anak akan bermakna mestinya tidak sekadar menggoreskan tinta tanpa mempertimbangkan tinta apa yang kita goreskan, dimana kita menggores, dengan siap kita menorehkan tinta pada kertas putih itu.
Pendapat yang demikian itu tidaklah semuanya benar. Siapa yang berani menjamin? Misalnya, kedua-duanya anak yang terlahir dari rahim yang sama itu kita jadikan pilot pesawat tempur. Saya belum yakin sepenuhnya karena kedua anak itu belum tentu memiliki keberanian layaknya pilot pesawat tempur. Meski memiliki keberanian, belum tentu memiliki kecakapan emosi, intelegensi, moral yang mendukung pekerjaan tersebut.
Atau sebaliknya, anak perempuan yang memiliki intelegensi, emosi yang cukup tetapi tidak memiliki keberanian. Hal yang mungkin terjadi, anak mempunyai bakat, ketarmpilan, keberanian tetapi tidak memiliki minat tentang pekerjaan tersebut.
Illustrasi tersebut membuka cakrawala dan pengertian orang tua terhadap anak. Anak memiliki bakat, minat dan kemapuan yang berbeda-beda. Istilah yang sering muncul tidak ada anak yang bodoh. Begitu juga sebaliknya, kita tidak dapat membentuk anak sesuai dengan keinginan kita
Sebagai orang tua harus paham terhadap ekspektasi yang nyata tentang anak. Pemahaman yang demikian haruslah dipahami sebagai bagian dari peran orang tua untuk memberikan pelayanan yang maksimal terhadap anak. Yah, pemahaman tentang perkembangan anak tak bisa ditawar lagi, mutlak dipahami, agar kedudukan sebagai orang tua mampu memahami dan mengenali tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan anak serta mengenali berbagai penyimpangan dari perkembangan anak. Sehingga sebagai orang tua mampu merespon kebutuhan anak dan memberi perlakuan yang tepat sesuai dengan tugas-tugas perkembangan.
Anak memang unik, tidak ada yang anak yang sama, baik secara fisik maupun yang lainnya. Perkembangan anak tidak hanya berdasar pada kecerdasan ( IQ) yang dimiliki, lingkungan sekitar ( orang tua, masyarakat sekitar, teman sepermainan) , atau bahkan pengaruh genetik dari keturunan.
Ada anak yang pandai dalam pelajaran berhitung namun sulit bergaul. Anak senang berolah raga namun prestasi akademiknya kurang. Ada anak yang benci dengan pelajaran eksak namun sangat cinta dengan ketrampilan. Ada anak yang hanya mencintai pelajaran melukis, bernyanyi, bersastra atau pelajaran lainnya. Setiap anak memang mempunyai kelebihan dan talenta masing-masing. Tidak ada yang sempurna. Namun tidak pula semua anak itu bodoh karena keunikannya dengan kecerdasan yang berbeda-beda.
Perlakuan orang tua mestinya tidak sama. Tetapi pada kenyataannya, orang tua justru tidak pernah memahami anak. Anak dianggap sebagai orang tua mini yang paham terhadap tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan. Atau bahkan anak dipahami sebagi pribadi tanpa memiliki perbedaan baik emosi, kepribadian maupun kecakapan lain sehingga orang tua sering melakukan pemaksaan-pemaksaan untuk melakukan sesuatu sekehendaknya.
Misalnya, Erik H. Erikson berpendapat bahwa perkembangan manusia adalah sintesis dari tugas-tugas perkembangan dan tugas sosial. Masing-masing anak mempuanya tugas perkembangan dan tugas sosial pada setiap usia. Anak usia satu, dua, tiga dan seterusnya mempunyai tugas yang berbeda sehingga perlakuannya pun haruslah berbeda.
Begitu sulitnya memahami dunia anak. Jika ingin menelusuri dunia anak jangan sekali-kali Anda berpura-pura menjadi anak namun ikutlah terlibat dalam dunia anak. Kepura-puraan dengan mengubah wajah lima puluh tahun menjadi wajah usia lima tahun sungguh sulit bahkan tidak bisa. Sungguh petaka jika kepura-puraan itu terbuka lewat pola berfikir yang tak mampu dipahami oleh anak. Orang tua yang berubah menjadi anak kecil justru akan muncul pikiran kedewasaanya tat kala kehendak pikirannya tidak diterima oleh anak. Topeng, yah, topeng akan terbuka lebar dengan berbagai karakter yang justru akan mematikan karakter anak. Misalnya, memarahi anak laksana memarahi orang dewasa, menghukum, memerintah yang kadang tidak kita sadari bahwa anak tetap anak dengan pribadi yang unik jauh dari kekurangan dengan tetap butuh bimbingan dari orang tua.
Namun sayang, kesempatan untuk memilih itu tidak mesti ada. Meskipun orang tua tidak berkesempatan untuk memilih tetapi orang tua berkesempatan untuk berharap banyak tentang buah hati yang bakal terlahir dari isteri tercintanya. Berharap untuk menjadi dokter, guru, insinyur, ustad, atau bahkan menjadi presiden.
Anak memang sebuah karunia. Sebagai sebuah karunia mestinya harus kita jaga dengan sebaik-baiknya agar bisa tercapai pengharapannya. Proses anak untuk menjadi dokter, insinyur inilah yang tidak pendek dan tak mudah. Karena butuh peran yang lengkap agar proses berharap itu dapat terwujud sesuai dengan keinginan kita.
Meskipun demikian anak sebenarnya telah memiliki bekal hidup untuk berhak menjadi apa dan seperi siapa. Anak memang unik, tak sama kecakapan yang dimilikinya. Maka tak mengherankan jika Howard Gardner mempunyai keyakinan bahwa anak yang terlahir normal tidak ada yang bodoh. Karena menurutnya, masing-masing anak yang lahir itu memiliki Multiple Intelegensi yang berbeda-beda. Howard Gardner mengelompokan kecerdasan anak menjadi delapan intelegensi antara lain: kecerdasana bahasa, logis-matematika, tilikan ruang, bodily-kinesthetic, musik, antarpribadi, indra pribadi dan natralist.
Tidak ada anak yang sempurna, setiap anak berbeda-beda kecerdasannya. Anak pandai dalam olah raga belum tentu cerdas dalam matematika. Begitu sebaliknya.
Namun demikian Anda jangan yakin jika anak itu memiliki kecerdasan dan akan berhasil mewujudkan impian sesuai kecerdasan. Karena ini ditentang oleh John Loke bahwa bayi yang lahir masih seperti kertas putih, tabula rasa yang dapat ditulisi dan dilukis sekendak penulis atau pelukis. Kertas akan menjadi lukisan yang mahal harganya jika kita lukisi dengan teknik yang benar dan profesional.
Nah, jika bayi memang dilahirkan seperti kertas putih dapatkah kiranya kita menjadikan dua bayi yang terlahir dari rahim ibu yang sama itu menjadi dokter atau pilot. Jika memang bayi seperti kertas putih yang mampu kita bentuk maka kita tidak usah bersusah payah untuk memikirkan anak. Karena anak dapat kita jadikan menjadi dokter atau pilot tergantung kemauan kita. Katakan saja, tidak ada bayi yang terlahir tumbuh-kembang menjadi penjahat atau maling-maling uang rakyat.
Goresan pada anak akan bermakna mestinya tidak sekadar menggoreskan tinta tanpa mempertimbangkan tinta apa yang kita goreskan, dimana kita menggores, dengan siap kita menorehkan tinta pada kertas putih itu.
Pendapat yang demikian itu tidaklah semuanya benar. Siapa yang berani menjamin? Misalnya, kedua-duanya anak yang terlahir dari rahim yang sama itu kita jadikan pilot pesawat tempur. Saya belum yakin sepenuhnya karena kedua anak itu belum tentu memiliki keberanian layaknya pilot pesawat tempur. Meski memiliki keberanian, belum tentu memiliki kecakapan emosi, intelegensi, moral yang mendukung pekerjaan tersebut.
Atau sebaliknya, anak perempuan yang memiliki intelegensi, emosi yang cukup tetapi tidak memiliki keberanian. Hal yang mungkin terjadi, anak mempunyai bakat, ketarmpilan, keberanian tetapi tidak memiliki minat tentang pekerjaan tersebut.
Illustrasi tersebut membuka cakrawala dan pengertian orang tua terhadap anak. Anak memiliki bakat, minat dan kemapuan yang berbeda-beda. Istilah yang sering muncul tidak ada anak yang bodoh. Begitu juga sebaliknya, kita tidak dapat membentuk anak sesuai dengan keinginan kita
Sebagai orang tua harus paham terhadap ekspektasi yang nyata tentang anak. Pemahaman yang demikian haruslah dipahami sebagai bagian dari peran orang tua untuk memberikan pelayanan yang maksimal terhadap anak. Yah, pemahaman tentang perkembangan anak tak bisa ditawar lagi, mutlak dipahami, agar kedudukan sebagai orang tua mampu memahami dan mengenali tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan anak serta mengenali berbagai penyimpangan dari perkembangan anak. Sehingga sebagai orang tua mampu merespon kebutuhan anak dan memberi perlakuan yang tepat sesuai dengan tugas-tugas perkembangan.
Anak memang unik, tidak ada yang anak yang sama, baik secara fisik maupun yang lainnya. Perkembangan anak tidak hanya berdasar pada kecerdasan ( IQ) yang dimiliki, lingkungan sekitar ( orang tua, masyarakat sekitar, teman sepermainan) , atau bahkan pengaruh genetik dari keturunan.
Ada anak yang pandai dalam pelajaran berhitung namun sulit bergaul. Anak senang berolah raga namun prestasi akademiknya kurang. Ada anak yang benci dengan pelajaran eksak namun sangat cinta dengan ketrampilan. Ada anak yang hanya mencintai pelajaran melukis, bernyanyi, bersastra atau pelajaran lainnya. Setiap anak memang mempunyai kelebihan dan talenta masing-masing. Tidak ada yang sempurna. Namun tidak pula semua anak itu bodoh karena keunikannya dengan kecerdasan yang berbeda-beda.
Perlakuan orang tua mestinya tidak sama. Tetapi pada kenyataannya, orang tua justru tidak pernah memahami anak. Anak dianggap sebagai orang tua mini yang paham terhadap tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan. Atau bahkan anak dipahami sebagi pribadi tanpa memiliki perbedaan baik emosi, kepribadian maupun kecakapan lain sehingga orang tua sering melakukan pemaksaan-pemaksaan untuk melakukan sesuatu sekehendaknya.
Misalnya, Erik H. Erikson berpendapat bahwa perkembangan manusia adalah sintesis dari tugas-tugas perkembangan dan tugas sosial. Masing-masing anak mempuanya tugas perkembangan dan tugas sosial pada setiap usia. Anak usia satu, dua, tiga dan seterusnya mempunyai tugas yang berbeda sehingga perlakuannya pun haruslah berbeda.
Begitu sulitnya memahami dunia anak. Jika ingin menelusuri dunia anak jangan sekali-kali Anda berpura-pura menjadi anak namun ikutlah terlibat dalam dunia anak. Kepura-puraan dengan mengubah wajah lima puluh tahun menjadi wajah usia lima tahun sungguh sulit bahkan tidak bisa. Sungguh petaka jika kepura-puraan itu terbuka lewat pola berfikir yang tak mampu dipahami oleh anak. Orang tua yang berubah menjadi anak kecil justru akan muncul pikiran kedewasaanya tat kala kehendak pikirannya tidak diterima oleh anak. Topeng, yah, topeng akan terbuka lebar dengan berbagai karakter yang justru akan mematikan karakter anak. Misalnya, memarahi anak laksana memarahi orang dewasa, menghukum, memerintah yang kadang tidak kita sadari bahwa anak tetap anak dengan pribadi yang unik jauh dari kekurangan dengan tetap butuh bimbingan dari orang tua.
Selasa, 22 Februari 2011
Ajining Diri Saka Lathi (Harga Diri Karena Kemampuan Berbicara)
Dua puluh tahun lalu setiap kali jarum jam dinding berdetak, berkali pula beberapa perempuan terlibat adu mulut. Saling cerca, saling ejek dan tak sedikit pula yang terlibat adu jotos. Mungkinkah waktu itu memang sedang demam dengan petintu Eliyas Pical, lelaki tangguh dari maluku.
Jaman jahiliah! Betapa tidak, Cuma hanya persoalan sepele yang seharusnya dapat diselesaikan dengan penjelasan sederhana akan rampung. Perempun terus berkali ulang padu, kerah, congkrah selaksa anak anjing dan kucing.
Tidaklah heran jika ada yang mengumpamakan, dua perempuan kumpul akan menjadi perbincangan, tiga perempuan kumpul akan menjadi keramaian, empat perempuan kumpul akan menjadi pasar malam, lima perempuan kumpul akan terjadi ... . Maka tak mengherankan jika perempuanlah yang akan mampu membuat putih-hitamnya persoalan. Mengapa perempuan sering mengedepankan suara ketimbang penalaran yang berlogika?
Dalam banyak cerita, anonim, cerita guyon parikenan , yang berkenaan tentang perempuan, mengapa banyak cakap? Perempuan yang mempunyai leher tanpa penghalang, kolomenjing (jakun), pertanda bahwa perempuan jika memiliki kehendak, pendapat, unek-unek, rerasan, tanpa tedheng aling-aling, dikeluarkan tanpa akal dengan memperhitungkan sebab- akibat. Mungkinkah karena ada pembeda pelafalan kata (Nabi) Adam dengan (Ibu) Hawa. Yang mereduksi beberapa pengertian yang belum tentu betul, jiika mengucap Adam maka mulut/bibir akan menutup begitu sebaliknya jika kita melafalkan Hawa maka mulut kita akan terbuka lebar. Maka makhluk Tuhan yang berjenis kelamin laki-laki seperti Nabi Adam akan sedikit bicara. Jelas perumpamaan itu salah besar?
Nah, barang kali ada juga yang mencibir perempuan, mengapa perempuan banyak bicara ketimbang mengetengahkan penyelesaian persoalan dengan ranah logika yang bernalar? Mungkinkah karena perempuan tanpa penghalang dalam leher atau pun dalam struktur biologis lainnya sebagai hasil dari kematangan fungsi faat” fisiologi” akibat pengalaman empiris maupun belajar. Ataukah karena perempuan terlampau banyak lubang lebar, yang tak memberi ampun untuk menjadi umat yang lebih mengedepankan pikiran. Tat kala itu tak kuasa maka acap tangis dan ucap menjadi senjata andal. Bahkan dengan tegas Penyair metafisis Inggris pada abad ke-17 menggambarkan bahwa perempuan ” Cuma kata-kata sedang perbuatan adalah pria.”
Terlepas dari othak-athik murih gathuk, benar atau salah, yang jelas, lebih banyak perempuan yang menyelesaikan persoalan tanpa berfikir panjang, langsung berkomentar, yang terkadang komentar itu harus bertentangan dengan nalar sehat. Meski tidak semuanya, laki-laki pun banyak yang demikian. Mengapa bisa demikian?
Pernah terjadi dalam sejarah islam, ketika Rasulullah ditanya oleh umatnya ” Apakah yang paling berperan memasukkan seseorang ke dalam neraka?” Beliau saw, bersabda ” Dua lubang, yaitu mulut(lisan) dan kemaluan.” ( HR. At Turmudzi) dua lubang mulut dan kemaluan yang kerap mendatangkan dosa dan mengantarkan manusia ke neraka.
Mulut biasanya berkaitan dengan lidah ( bicara) dan perut ( makanan). Jika manusia tidak bisa mengekang bicara, lidah akan keluar kata-kata keji yang cukup menyakitkan orang lain justru itu yang akan membinasakannya. Kesadaran untuk berbicara dengan memperhatikan sebab akibat tidaklah mudah. Perlu pengalaman empiris yang tidak mudah diperoleh bak sekejab mata memandang. Justru pengalaman empiris ini yang mengantarkan manusia baik berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan untuk mencapai puncak kehidupan yanitu manusia dewasa.
Di zaman Rasulullah Abdullah Ats Tsaqafi bertanya, ”Wahai Rasulullah, terangkanlah kepadaku tentang suatu perkara yang akan dapat kubuat pedoman!” Maka Rasulullah menjawab, dengan memegang lidah, ” Ini.” (HR. An Nasai). Abu Bakar pun sangat keras terhadap bahaya lisan sehingga ia pernah mengatakan kepada Umar Bin Khathab ra dengan menjulurkan lidahnya seraya mengatakan, ” Inilah yang membawaku ke tempat kehancuran.”
Tidak sedikit bahaya yang ditimbulkan oleh bahaya lisan. Ketajaman lidah melebihi ketajaman pedang. Maka manusia yang terbekali dengan mulut dengan kemampuan berbicara tidaklah dengan mudah mengeluarkan lisan itu tanpa memperhitungkan dengan akal sehat. Tidaklah Rasulullah berpesan, ” Kamu bisa menahan Lidahmu, rumahmu terasa lapang bagimu dan engkau menangisi kesalahanmu.” ( HR. At Turmudzi) keselaman yang dapat terjaga kerena lidah sebenarnya adalah kemampuan mengucapkan pertakaan yang jauh dari perkataan kotor, mengumpat, mencela, menggerutu, menggunjing, dan sebagainya. Hal yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan penyesalan manakala melakukan kesalahan, bertaubat dengan sebenar-benarnya jika kita memang melakukan pemanfaatan lisan yang menimbulkan bencana.
Sebegitu pentingnya penjagaan lisan atas pemanfaatannya, hingga lidah yang mudah berkata jika mampu mengekangnya maka manusia akan terlindungi dari aib. Sabda Rasulullah, ’ Barang siapa mengekang lisannya( lidahnya), pasti Allah melindungi aibnya, barang siapa menahan kemarahannya pasti Allah melindungi dari siksaNya, dan barang siapa mengemukakan alasan kepada Allah, pasti Allah menerima alasannya. ( HR At Turmudzi, Ibnu Abi Dun-ya, Al Baihaqi).
Simpanlah lidahmu kecuali dari perkataan baik. Sesungguhnya dengan demikian, kamu dapat mengalahkan setan ( HR. Ibnu Abid Dun-ya, Abu Dzar). Sesungguhnya Allah di sisi lisan setiap orang yang berbicara, maka hendaklah bertakwa kepada Allah orang yang mengerti apa-apa yang dikatakan. ( HR. Ibnu Majah dari Abu Khallad).
Karena sesungguhnya orang yang banyak bicara, pastilah banyak kesalahannya. Barang siapa banyak kesalahannya, pasti banyak dosa-dosanya. Barang siapa yang banyak dosanya, pasti neraka baginya. ( HR. Abu Nu’aim).
Pertemuan beberapa perempuan memang tak lepas dari perdebatan. Banyak tontonan dan kegiatan yang menyajikan materi perdebatan perempuan, telenovela, berita artis, gosip tetangga, berita suami. Perdebatan itu sebagai awal dari perkembangan materi perdebatan yang yang jauh lebih ramai.
Bagaimana islam menyikapi tentang perdebatan itu. Islam justru tidak menyenangi perdebatan, berbantah-bantahan. Berbantah-bantahan menurut islam adalah setiap pertentangan mengenai perkataan orang lain dengan cara menampakkan kelemahan dan kekurangannya, baik mengenai uraian kata, pengertian yang dimaksud, atau mengenai maksud orang lain yang berkata sehingga meninggalkan kesan ingkar dan pertentangan. Karena sesungguhnya keterangan tentang ” keburukan” berbantah-bantahan lebih banyak dari pada kebaikan.
Jika perdebatan dipahami untuk menunjukkan kelemahan atau kekurangan orang lain maka sebetulnya itu merupakan nafsu batiniah yang dapat merusak diri sendiri
Perdebatan, pergunjingan untuk membicarakan kelemahan dan kekurangan orang lain sebenarnya akan menunjukkan kekurangan pada diri manusia sendiri. Maka untuk menghindari hal tersebut, gunakan akal dan lakukan perdebatan ketika sendiri lalu dengan cara yang lemah lembut dan tidak memancing perdebatan baru ( emosi).
Sebagai manusia yang pingin banyak saudara, tetangga, kawan maka hindari duduk bersama sehingga membicarakan pembicaraan yang batil. ” Manusia yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah mereka yang paling banyak bicara tentang kemaksiatan kepada Allah.” kata Salman Al Farisi.
Sabda Rasulullah saw, barang siapa diam, pasti selamat.
Jaman jahiliah! Betapa tidak, Cuma hanya persoalan sepele yang seharusnya dapat diselesaikan dengan penjelasan sederhana akan rampung. Perempun terus berkali ulang padu, kerah, congkrah selaksa anak anjing dan kucing.
Tidaklah heran jika ada yang mengumpamakan, dua perempuan kumpul akan menjadi perbincangan, tiga perempuan kumpul akan menjadi keramaian, empat perempuan kumpul akan menjadi pasar malam, lima perempuan kumpul akan terjadi ... . Maka tak mengherankan jika perempuanlah yang akan mampu membuat putih-hitamnya persoalan. Mengapa perempuan sering mengedepankan suara ketimbang penalaran yang berlogika?
Dalam banyak cerita, anonim, cerita guyon parikenan , yang berkenaan tentang perempuan, mengapa banyak cakap? Perempuan yang mempunyai leher tanpa penghalang, kolomenjing (jakun), pertanda bahwa perempuan jika memiliki kehendak, pendapat, unek-unek, rerasan, tanpa tedheng aling-aling, dikeluarkan tanpa akal dengan memperhitungkan sebab- akibat. Mungkinkah karena ada pembeda pelafalan kata (Nabi) Adam dengan (Ibu) Hawa. Yang mereduksi beberapa pengertian yang belum tentu betul, jiika mengucap Adam maka mulut/bibir akan menutup begitu sebaliknya jika kita melafalkan Hawa maka mulut kita akan terbuka lebar. Maka makhluk Tuhan yang berjenis kelamin laki-laki seperti Nabi Adam akan sedikit bicara. Jelas perumpamaan itu salah besar?
Nah, barang kali ada juga yang mencibir perempuan, mengapa perempuan banyak bicara ketimbang mengetengahkan penyelesaian persoalan dengan ranah logika yang bernalar? Mungkinkah karena perempuan tanpa penghalang dalam leher atau pun dalam struktur biologis lainnya sebagai hasil dari kematangan fungsi faat” fisiologi” akibat pengalaman empiris maupun belajar. Ataukah karena perempuan terlampau banyak lubang lebar, yang tak memberi ampun untuk menjadi umat yang lebih mengedepankan pikiran. Tat kala itu tak kuasa maka acap tangis dan ucap menjadi senjata andal. Bahkan dengan tegas Penyair metafisis Inggris pada abad ke-17 menggambarkan bahwa perempuan ” Cuma kata-kata sedang perbuatan adalah pria.”
Terlepas dari othak-athik murih gathuk, benar atau salah, yang jelas, lebih banyak perempuan yang menyelesaikan persoalan tanpa berfikir panjang, langsung berkomentar, yang terkadang komentar itu harus bertentangan dengan nalar sehat. Meski tidak semuanya, laki-laki pun banyak yang demikian. Mengapa bisa demikian?
Pernah terjadi dalam sejarah islam, ketika Rasulullah ditanya oleh umatnya ” Apakah yang paling berperan memasukkan seseorang ke dalam neraka?” Beliau saw, bersabda ” Dua lubang, yaitu mulut(lisan) dan kemaluan.” ( HR. At Turmudzi) dua lubang mulut dan kemaluan yang kerap mendatangkan dosa dan mengantarkan manusia ke neraka.
Mulut biasanya berkaitan dengan lidah ( bicara) dan perut ( makanan). Jika manusia tidak bisa mengekang bicara, lidah akan keluar kata-kata keji yang cukup menyakitkan orang lain justru itu yang akan membinasakannya. Kesadaran untuk berbicara dengan memperhatikan sebab akibat tidaklah mudah. Perlu pengalaman empiris yang tidak mudah diperoleh bak sekejab mata memandang. Justru pengalaman empiris ini yang mengantarkan manusia baik berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan untuk mencapai puncak kehidupan yanitu manusia dewasa.
Di zaman Rasulullah Abdullah Ats Tsaqafi bertanya, ”Wahai Rasulullah, terangkanlah kepadaku tentang suatu perkara yang akan dapat kubuat pedoman!” Maka Rasulullah menjawab, dengan memegang lidah, ” Ini.” (HR. An Nasai). Abu Bakar pun sangat keras terhadap bahaya lisan sehingga ia pernah mengatakan kepada Umar Bin Khathab ra dengan menjulurkan lidahnya seraya mengatakan, ” Inilah yang membawaku ke tempat kehancuran.”
Tidak sedikit bahaya yang ditimbulkan oleh bahaya lisan. Ketajaman lidah melebihi ketajaman pedang. Maka manusia yang terbekali dengan mulut dengan kemampuan berbicara tidaklah dengan mudah mengeluarkan lisan itu tanpa memperhitungkan dengan akal sehat. Tidaklah Rasulullah berpesan, ” Kamu bisa menahan Lidahmu, rumahmu terasa lapang bagimu dan engkau menangisi kesalahanmu.” ( HR. At Turmudzi) keselaman yang dapat terjaga kerena lidah sebenarnya adalah kemampuan mengucapkan pertakaan yang jauh dari perkataan kotor, mengumpat, mencela, menggerutu, menggunjing, dan sebagainya. Hal yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan penyesalan manakala melakukan kesalahan, bertaubat dengan sebenar-benarnya jika kita memang melakukan pemanfaatan lisan yang menimbulkan bencana.
Sebegitu pentingnya penjagaan lisan atas pemanfaatannya, hingga lidah yang mudah berkata jika mampu mengekangnya maka manusia akan terlindungi dari aib. Sabda Rasulullah, ’ Barang siapa mengekang lisannya( lidahnya), pasti Allah melindungi aibnya, barang siapa menahan kemarahannya pasti Allah melindungi dari siksaNya, dan barang siapa mengemukakan alasan kepada Allah, pasti Allah menerima alasannya. ( HR At Turmudzi, Ibnu Abi Dun-ya, Al Baihaqi).
Simpanlah lidahmu kecuali dari perkataan baik. Sesungguhnya dengan demikian, kamu dapat mengalahkan setan ( HR. Ibnu Abid Dun-ya, Abu Dzar). Sesungguhnya Allah di sisi lisan setiap orang yang berbicara, maka hendaklah bertakwa kepada Allah orang yang mengerti apa-apa yang dikatakan. ( HR. Ibnu Majah dari Abu Khallad).
Karena sesungguhnya orang yang banyak bicara, pastilah banyak kesalahannya. Barang siapa banyak kesalahannya, pasti banyak dosa-dosanya. Barang siapa yang banyak dosanya, pasti neraka baginya. ( HR. Abu Nu’aim).
Pertemuan beberapa perempuan memang tak lepas dari perdebatan. Banyak tontonan dan kegiatan yang menyajikan materi perdebatan perempuan, telenovela, berita artis, gosip tetangga, berita suami. Perdebatan itu sebagai awal dari perkembangan materi perdebatan yang yang jauh lebih ramai.
Bagaimana islam menyikapi tentang perdebatan itu. Islam justru tidak menyenangi perdebatan, berbantah-bantahan. Berbantah-bantahan menurut islam adalah setiap pertentangan mengenai perkataan orang lain dengan cara menampakkan kelemahan dan kekurangannya, baik mengenai uraian kata, pengertian yang dimaksud, atau mengenai maksud orang lain yang berkata sehingga meninggalkan kesan ingkar dan pertentangan. Karena sesungguhnya keterangan tentang ” keburukan” berbantah-bantahan lebih banyak dari pada kebaikan.
Jika perdebatan dipahami untuk menunjukkan kelemahan atau kekurangan orang lain maka sebetulnya itu merupakan nafsu batiniah yang dapat merusak diri sendiri
Perdebatan, pergunjingan untuk membicarakan kelemahan dan kekurangan orang lain sebenarnya akan menunjukkan kekurangan pada diri manusia sendiri. Maka untuk menghindari hal tersebut, gunakan akal dan lakukan perdebatan ketika sendiri lalu dengan cara yang lemah lembut dan tidak memancing perdebatan baru ( emosi).
Sebagai manusia yang pingin banyak saudara, tetangga, kawan maka hindari duduk bersama sehingga membicarakan pembicaraan yang batil. ” Manusia yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah mereka yang paling banyak bicara tentang kemaksiatan kepada Allah.” kata Salman Al Farisi.
Sabda Rasulullah saw, barang siapa diam, pasti selamat.
Langganan:
Postingan (Atom)