Kamis, 10 Maret 2011

TAK DAPAT KU MENGERTI ; MENGAPA BUTUH PEREMPUAN?

Tak dapat ku mengerti ;
Ketika bulan-bulan kecil itu mulai bersinar
Dan lebih tak dapat ku mengerti;
Sebab bulan-bulan itu taat bersinar meski kembang-kembang itu telah lama mekar
Tidak juga layu
Tidak jua rontok
Hari ini tepat itu pula kutilis ini
Bulan itu agustus tepat aku mengiakan prasetya
Diantara janur kelapa muda yang tegak berdiri
Berkibar menjadi bendera-bendera
Tidak dari kain berwarna-warna
Tidak pula kertas-kerta seperti bendera kebanyakan orang-orang
Tetap itu jadi sejarah ruah
Tidak sekadar Catatan
Sebab tidak sedikit
bahkan puluhan pasang mata
Mengantarkan bulan tuk berpapasan
Berjabat, Berucap

Sudah terlalu tua
Lelah menunggu
Lelah mendatangi
Lelah mebelikan celana jin
Suntuk mendengarkan kaset gigi
Malu berboncengan karena tangan kecil itu terus saja bererat-erat
Atau sudah bosan berbaju kuning kembang bertulis bavanas itu

Sudah terlalu tua
Catatan bukan sejarah perjuangan bangsa
Sumpah bulan gadis dua belasan tahun lalu
Goresan kumpulan huruf-huruf yang panjang panjang
Petuah-petitih pekerja bangsa basi
” Saya nikahkan kamu ....”
Berkumandang ditengah kumpulan puluhan orang berpeci
Bersarung
Berdasi dengan memegang pena hitam dan buku yang akan ku beli mahal itu
Buku sejarah
Bukan buku orang-orang yang pernah berbohong
Bukan buku tulisaan orang-orang pendusta
Sebab ini aku tidak akan berdusta
Kami sudah terlalu tua
Tidak bermenit-menit
Ujung tangan itu menjulurkan tangan
Mengantarkan aku menjawab ” kuterima nikahnya ... ”
Gusti hari ini aku akan bersama gadis itu berpuluh-puluh tahun
Seratus atau beratus-ratus tahun meski mustahil
Mimpi

Kami sudah terlalu tua
Jangan kau tulis dengan arang!
Jangan pula kau paku tulisan meski hanya sehuruf dua huruf
Apalagi kalimat-kalimat panjang yang tak pernah kau dapati lagi
Bungkus rapat-rapat
Karena hari ini angin-angin akan terus berhembus
Tidak petang tidak juga terang benerang

Benamkan dalam-dalam
Kubur bersama perginya pagi hari yang terus melaju
Kami sudah terlalu tua


Tak dapat kumengeti, sampai hari ini, mengapa aku butuh perempuan?. Bukankah perempuan bikin repot karena perempuan hanya akan menjadi beban hidup. Bukankan hidup sendiri lebih enak? Pergi jauh, pulang pagi tak ada yang merasa ditinggal.

Tak dapat kumengerti sampai detik ini, mengapa aku pingin hidup dengan perempuan?
Apakah hanya untuk pemuas sahwat dan nafsu cinta? Bukankah hari ini untuk mendapatkan perempuan pemuas nafsu tidak sulit?
Di kampung, dijalan raya bahkan, di emper toko, dimana tersediakan dengan bungkus dan aroma berbeda. Bermacam-macam bodi dan kesing. Tersedia pula di pasar perempuan.

Remuk!
Mestikah aku kawin?
Tidakkah nyaman mengawini?
Rasululku, Nabiku, bersabda untukku dan orang-orang itu,
” Hai pemuda-pemuda, barang siapa yang mampu di antara kamu serta berkeinginan kawin, hendaklah dia kawin. Karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan mata terhadap orang yang tidak halal dilihatnya, dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Dan barang siapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa, karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang”

Aku memang tidak kuat puasa

Tidak tahan melihat perempuan-perempuan pendusta
Tidak kuat dengan perempuan-perempuan berkepang pupu bersurban gulungan pita hitam.
Aku kawin!!

Tak dapat kumengerti sampai hari ini mengapa aku mengawini perempuan? Apakah hanya untuk mendapatkan keturunan?
Bukankah hari ini sangat mudah mendapatkan bayi-bayi kecil lucu di panti asuhan, rumah sakit, jalan-jalan, tempat sampah, sungai, laut, bahkan di kamar mayat.
Bayi-bayi korban perempuan penikmat sahwat.

Tak dapat ku mengerti, mengapa aku menikahi perempuan?
Aku memang mengawini perempuan, karena aku laki-laki, laki-laki hamba tuhan.
Rasululku, Rasul kita, Rasul kita semuanya, berhadis yang diriwayatkan oleh hamba Tuhan, Hakim dan Abu Dawut.
” Dari ’ Aisyah : ” Kawinilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta ( rezeki) bagi kamu ”

Ya, tak dapat ku mengerti?
Mengapa aku takut miskin?
Benarkah pemuda tidak bisa kaya?
Tak dapat ku mengerti

Tak dapat ku mengerti?
Mengapa istriku melahirkan anak lagi?
Bukankah istriku sudak berkesakitan pada kelahiran anak pertama?
Tidakkah kapok?
Atau mungkin isteri-istri keenakan tat kala melahirkan.

Tak dapat ku mengerti mengapa istriku tidak sesar? Bukankah melahirkan sesar lebih menguntungkan istri. Vagina tidak robek-robek?
Tidakkah juga aku lebih nikmat?.

Tak dapat ku mengerti, mengapa bayi-bayi itu saya besarkan. Bukankah aku berpayah-payah membeli baju, sepatu dan celana biru?

Tak dapat ku mengerti. Mengapa susu istriku harus kubagikan dengan anak kecil itu?
Bukankah menjadikan susu dan puting mungil indah itu menjadikannya kondor, mengkerut-berkerut-kerut bak buah jeruk purut?
Tidakkah banyak susu-susu bayi yang yang murah dan bermutu?
Firman Tuhanku, Al-Baqarah : 233
” Ibu-ibu menyusukan anak mereka selama dua tahun penuh bagi orang yang hendak menyempurnakan persusuan anaknya ”

Tak dapat aku mengerti mengapa aku beristri satu? Bukankan pada saat datang bulan, bersusah-susah aku?
Mengapa tidak poligamami?
Atau karena aku patuh dengan perintah Tuhan dalam surat An-Nisa’4 : )
” Maka bolehlah kamu menikahi perempuan yang kamu pandang baik untuk kamu, dua, tiga, atau empat; jika kiranya kamu takut tidak dapat berlaku adil di antara mereka itu, hendaknya kamu kawini satu saja”

Mengapa istriku pilih satu aku?
Bukankah aku sering pergi?
Sering meninggalkannya hanya sekadar ngopi-ngopi bersama rekan dan kawan. Tidakkah kedinginankah ia
Mengapa tidak poliandri?
Bukankah poliandri lebih enak?
Atau karena harus ber- susah-susah orang menyebut nama dua atau tiga bin, bin.....
Ya ...bin Paijo bin Abdulah bin Rebo bin Santosa.
Atau singkatnya bin rame-rame..

Tanpa ku mengerti, itu aku.
Tanpa ku sadari aku dan istriku.

Tak dapat ku mengerti, kesadaranku telah hilang musna
Aku tidak muda lagi

Tak ku sadari hidup sekadar mampir ngombe
Umur berbatas dengan kesadaran

Gebyok, 23 November 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar