Kamis, 10 Maret 2011

TUBUH PEREMPUAN MEDAN PERSELINGKUHAN

Perempuan! Perdebatan tentang perempuan dari hari ke hari terus terulang bahkan tak pernah surut atau pun habis. Perempaun memang menarik hingga siapa pun orangnya tertarik untuk membicarakan atau pun sekadar ngomong yang tak bermaksud memahami lebih dalam. Pencitraan tentang perempuan dari beberapa dekade mangalami perubahan yang dinamis. Betapa tidak karena perempuan selama ini atau mungkin seterusnya bahwa perempuan tercitrakan oleh zaman itu sendiri sebagai makhluk yamg memiliki tubuh yang seksi, seksual, erotik, menarik, merangsang, mendorong makhluk lain untuk melihat, memandang, menafsirkan, menikmati atau hingga berkeinginan untuk mengekploitasi sampai pada titik nadir. Habis gelap segelap-gelapnya.

Tubuh perempuan memang penuh simbul yang menghasilkan inspirasi menarik untuk beberapa kajian gender maupun obyek dari hasrat penguasaan. Maka tak sedikit atau barangkali tubuh-tubuh yang eksotik, seksi akan lebih banyak memberikan pencitraan yang substansinya jauh dari harapan atau pun tujuan pemilik tubuh. Makna dan pencitraan? Tujuan dan harapan kadang dari masing-masing perempuan tak mesti sama maka keindahan tubuh yang menjadi kunci pencitraan sebelum atau sesudah penilaian dari sudut padang lain yang menghasilkan beberapa inspirasi bagi para penikmat atau pun pemilik tubuh.

Bagaimana pencitraan tubuh jugun ianfu bagi militer jepang? Hingga penikmat tubuh itu harus menghilangkan sisa-sisa tubuh-tubuh jungun ianfu hingga tinggal sampah-sambah karena sari kenikmatan sudah habis-kikis ternikmati. Bagaimana pula propaganda orde baru “SOEHARTO” dan kroninya mencitrakan tubuh perempuan “ GERWANI” sebagai pelaku dalam pembunuhan sadis beberapa jendral dengan bernyanyi-nyaji genjer-genjer sambil bertelanjang bulat. Bagaimana pula peran perempuan dalam membantu perjuangan dalam rangka menyelesaikan program Sukarno “ Konfrontasi dengan Malaysia” bahwa perempuan di citrakan bukan sebagai aktifis-aktifis sukarelawati yang dimobilisasi dan dilatih militer dalam rangka penyerbuan ke Malaysia. Namun justru tubuh perempuan dikorbankan” SOEHARTO” sebagai tubuh yang harus membantu “ Pemberontak PKI” untuk melakukan tarian Harum Bunga lengkap dengan pengelucutan pakaian untuk menyiksa perwira yang diculik sekaligus penghibur tokoh politik “ anggota PKI”. Maka hingga kini pencitraan tubuh perempuan” Gerwani” bukanlah perempuan baik melainkan perempuan asusila yang berdampak pada pencitraan perempuan masa kini.

Kegelisah perempuan kian hari dan terus berjalan seiring dengan perubahan tahun yang terus mengubah paradigma tubuh perempuan. Tat kala tubuh Inul Daratista menggoyangkan negeri ini dengan goyang ngebornya sontak hukuman buat pemilik goyang ngebor itu gencar dilakukan. Namun hukuman fatwa haram buat pemilik goyang ngebor itu terus malanggeng hingga mewaris ke generasi berikutnya pemilik goyang patah-patah Anisah Bahar. Dewi Persik, Inul Daratista, Anisah Bahara dan perempuan dengan tubuh-tubuh itu malah meningkatkan popularitas denga fatwa haram dari syuriah NU Jawa Timur dan MUI pusat. Tubuh itu tetap tidak bergeming terus saja melenggak dan melenggok di atas panggung dan bahkan meningkatkat derajat panggung dari kampung ke hotel berbintang. Meski ormas-ormas terus menyudutkan dan menghakimi dengan berbagai fatwa.

Terlalu pendek! Penafsiran tentang tubuh perempuan sebagai perselingkuhan antara pemilik dan penikmat tubuh. Kenikmatan penikmat yang tidak diawali dengan kesepakatan pemilik justru akan menghasilkan pemerkosaan tubuh perempuan. Yah, Suharto memperoleh kenikmatan dengan ereksi yang terlalu cepat setelah menikmati citra tubuh perempuan yang tak menghadirkan sedikit pun peluang untuk sekadar mengurangi citra miring gerwani “ Perempuan Politik” untuk terformulasikan citra baru perempuan korban politisasi. Namun perselingkuhan kepentingan yang tidak didasari kesepakatan dua pihak yang terlibat justru akan menghasilkan sakit yang berkepanjangan, luka dalam jauh dari obat. Begitu sebaliknya pemilik tubuh yang terkadang melupakan tubuh perempuan lain hanya sekadar mendapatkan kepuasan batin yang berlatar perolehan materi mauupun sahwat belaka.

Maka tak sedikit perempuan-perempuan yang bukan sekadar mengawinkan terselubung, menyelingkuhkan kutubuh-tubuh itu dengan harapan yang diyakini mampu menghasilkan kenikmatan sesaat. Pematian dari makna keberadaan tubuh-tubuh oleh beberapa kepentingan atau bahkan pemaknaan tubuh yang dihilangkan melatar belakangi perempuan untuk mengawinkan atau bahkan menyelingkuhkan tubuh itu dengan beberap kepentingan. Terlalu naif jika menggunakan kata perkawinan karena perkawinan harus melibatkan beberapa pihak, wali, saksi, petugas pencatat dan harus ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam sebuah perkawinan. Bahkan sebagai wali, saksi dalam setiap proses perkawinan harus ada ijab setuju. Tidak mengherankan jika Maria Ozawa harus melakukan perselingkuhan dengan produser film porno untuk melakukan kontrak kerja pembuatan film yang harus mendatangkan perselisihan dengan kedua orang tua. Dengan tragis hasil perselingkuhan itu menghasilkan film yang merusak moral penghuni planet bumi hingga mendamparkan Maria Ozawa ” Miyabi” dari keluarganya.

Pengkontruksian tubuh perempuan sebagi barang kumedol akan mendorong lembaga, penyandang dana, politisi, agen reproduksi untuk bersama-sama melakukan perselingkuhan. Maka tak menherankan jika produk-produk yang tercipta di segala penjuru dalam segala iklan memanfaatkan eksotisme yang jauh lebih memikat pembeli untuk melakukan transaksi. Produk dan kualitas justru tidaklah begitu penting disajikan kepada calon penikmat yang justru lebih penting adalah menyajikan produk itu dengan erotisme, dan keseksian tubuh perempuan. Kecerdasan mengemas iklan yang tanpa menghadirkan peran perempuan dalam memamerkan tubuh perempuan tak terbayangkan. Begitu sulit dan bahkan tak akan semenarik perselingkuhan dengan tubuh-tubuh indah itu. Indah pastilah menarik, eksotis pastilah merangsang, merangsang modal awal perselingkuhan.

Maraknya legeslasi perempaun artis tidak selamanya terbangun dari kecerdasan perempuan “ Artis” melainkan karena politisi berusaha melakukan perselingkuhan dengan ketenaran perempuan dampak dari eksotisme. Perempuan, laki-laki mengenal Julia Peres sebagai calon bupati Pacitan tidak berasal dari kecerdasan yang dimilikinya, terlepas Julia Peres itu cerdas atau tidak, keseksian tubuh yang menjadi ketenaran itu. Bagaimana tokoh-tokoh politik untuk sekadar memporeleh keuntungan pribadi dengan melakukan perselingkuhan dengan tubuh-tubuh perempuan, memunculkan nama-nama menjadi penyanding partai dalam melakukan mobilisasi partai untuk meraih simpati pemilih atas misi-misi partai yang telah direncanakan atau bahkan telah ditetapkan. Masih adakah peserta kampanye yang datang bermaksud mengenali misi partai. Bukankah kedatangannya karena ingin menikmati goyangan tubuh penyanyi dakdut atau penari-penari latar yang nota bene seksi.

Kehidupan tidak sekadar menggunakan hak privat sebagai bagian dari hak asasi murni melainkan keterbatasan hak dengan kewajiban, keterbatasan hak dengan hak orang lain justru jauh lebih penting dari sekadar meraup keuntungan belaka. Perselingkuhan justru akan mengaburkan pemaknaan eksploitasi, penetrasi, pemerkosaan, atau bahkan segala bentuk kekerasan yang berbau gender. Anda yakin jika iklan yang menghadirkan produk “Hand Phone” itu menyandingkan produk itu dengan tubuh perempuan merupakan bentuk eksploitasi, atau bahkan merendahkan citra perempuan sebagai makhluk cerdas. Bukankah perselingkuhan merupakan pilihan cerdas? Konyol!

Jangankah HP, produk makanan ringan, permen, yang hanya berharga Rp 75,00 perbiji harus menghadirkan perempuan dengan tubuh seksi mulut bergoyang-goyang bak perempuan binal yang mangajak untuk selingkuh atau menarik untuk diperkosa. Tidak cukup itu, pantat yang hanya tertutupi oleh pakaian trens Asmatisasi turut mengugah selera masklulin dengan goyang patah-patah atau goyang ngebor Inul Daratista. Permen, tubuh perempuan awal dan akhir perselingkuhan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar