TAK DAPAT KU MENGERTI ; MENGAPA BUTUH PEREMPUAN?
Tak dapat ku mengerti ;
Ketika bulan-bulan kecil itu mulai bersinar
Dan lebih tak dapat ku mengerti;
Sebab bulan-bulan itu taat bersinar meski kembang-kembang itu telah lama mekar
Tidak juga layu
Tidak jua rontok
Hari ini tepat itu pula kutilis ini
Bulan itu agustus tepat aku mengiakan prasetya
Diantara janur kelapa muda yang tegak berdiri
Berkibar menjadi bendera-bendera
Tidak dari kain berwarna-warna
Tidak pula kertas-kerta seperti bendera kebanyakan orang-orang
Tetap itu jadi sejarah ruah
Tidak sekadar Catatan
Sebab tidak sedikit
bahkan puluhan pasang mata
Mengantarkan bulan tuk berpapasan
Berjabat, Berucap
Sudah terlalu tua
Lelah menunggu
Lelah mendatangi
Lelah mebelikan celana jin
Suntuk mendengarkan kaset gigi
Malu berboncengan karena tangan kecil itu terus saja bererat-erat
Atau sudah bosan berbaju kuning kembang bertulis bavanas itu
Sudah terlalu tua
Catatan bukan sejarah perjuangan bangsa
Sumpah bulan gadis dua belasan tahun lalu
Goresan kumpulan huruf-huruf yang panjang panjang
Petuah-petitih pekerja bangsa basi
” Saya nikahkan kamu ....”
Berkumandang ditengah kumpulan puluhan orang berpeci
Bersarung
Berdasi dengan memegang pena hitam dan buku yang akan ku beli mahal itu
Buku sejarah
Bukan buku orang-orang yang pernah berbohong
Bukan buku tulisaan orang-orang pendusta
Sebab ini aku tidak akan berdusta
Kami sudah terlalu tua
Tidak bermenit-menit
Ujung tangan itu menjulurkan tangan
Mengantarkan aku menjawab ” kuterima nikahnya ... ”
Gusti hari ini aku akan bersama gadis itu berpuluh-puluh tahun
Seratus atau beratus-ratus tahun meski mustahil
Mimpi
Kami sudah terlalu tua
Jangan kau tulis dengan arang!
Jangan pula kau paku tulisan meski hanya sehuruf dua huruf
Apalagi kalimat-kalimat panjang yang tak pernah kau dapati lagi
Bungkus rapat-rapat
Karena hari ini angin-angin akan terus berhembus
Tidak petang tidak juga terang benerang
Benamkan dalam-dalam
Kubur bersama perginya pagi hari yang terus melaju
Kami sudah terlalu tua
Tak dapat kumengeti, sampai hari ini, mengapa aku butuh perempuan?. Bukankah perempuan bikin repot karena perempuan hanya akan menjadi beban hidup. Bukankan hidup sendiri lebih enak? Pergi jauh, pulang pagi tak ada yang merasa ditinggal.
Tak dapat kumengerti sampai detik ini, mengapa aku pingin hidup dengan perempuan?
Apakah hanya untuk pemuas sahwat dan nafsu cinta? Bukankah hari ini untuk mendapatkan perempuan pemuas nafsu tidak sulit?
Di kampung, dijalan raya bahkan, di emper toko, dimana tersediakan dengan bungkus dan aroma berbeda. Bermacam-macam bodi dan kesing. Tersedia pula di pasar perempuan.
Remuk!
Mestikah aku kawin?
Tidakkah nyaman mengawini?
Rasululku, Nabiku, bersabda untukku dan orang-orang itu,
” Hai pemuda-pemuda, barang siapa yang mampu di antara kamu serta berkeinginan kawin, hendaklah dia kawin. Karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan mata terhadap orang yang tidak halal dilihatnya, dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Dan barang siapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa, karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang”
Aku memang tidak kuat puasa
Tidak tahan melihat perempuan-perempuan pendusta
Tidak kuat dengan perempuan-perempuan berkepang pupu bersurban gulungan pita hitam.
Aku kawin!!
Tak dapat kumengerti sampai hari ini mengapa aku mengawini perempuan? Apakah hanya untuk mendapatkan keturunan?
Bukankah hari ini sangat mudah mendapatkan bayi-bayi kecil lucu di panti asuhan, rumah sakit, jalan-jalan, tempat sampah, sungai, laut, bahkan di kamar mayat.
Bayi-bayi korban perempuan penikmat sahwat.
Tak dapat ku mengerti, mengapa aku menikahi perempuan?
Aku memang mengawini perempuan, karena aku laki-laki, laki-laki hamba tuhan.
Rasululku, Rasul kita, Rasul kita semuanya, berhadis yang diriwayatkan oleh hamba Tuhan, Hakim dan Abu Dawut.
” Dari ’ Aisyah : ” Kawinilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta ( rezeki) bagi kamu ”
Ya, tak dapat ku mengerti?
Mengapa aku takut miskin?
Benarkah pemuda tidak bisa kaya?
Tak dapat ku mengerti
Tak dapat ku mengerti?
Mengapa istriku melahirkan anak lagi?
Bukankah istriku sudak berkesakitan pada kelahiran anak pertama?
Tidakkah kapok?
Atau mungkin isteri-istri keenakan tat kala melahirkan.
Tak dapat ku mengerti mengapa istriku tidak sesar? Bukankah melahirkan sesar lebih menguntungkan istri. Vagina tidak robek-robek?
Tidakkah juga aku lebih nikmat?.
Tak dapat ku mengerti, mengapa bayi-bayi itu saya besarkan. Bukankah aku berpayah-payah membeli baju, sepatu dan celana biru?
Tak dapat ku mengerti. Mengapa susu istriku harus kubagikan dengan anak kecil itu?
Bukankah menjadikan susu dan puting mungil indah itu menjadikannya kondor, mengkerut-berkerut-kerut bak buah jeruk purut?
Tidakkah banyak susu-susu bayi yang yang murah dan bermutu?
Firman Tuhanku, Al-Baqarah : 233
” Ibu-ibu menyusukan anak mereka selama dua tahun penuh bagi orang yang hendak menyempurnakan persusuan anaknya ”
Tak dapat aku mengerti mengapa aku beristri satu? Bukankan pada saat datang bulan, bersusah-susah aku?
Mengapa tidak poligamami?
Atau karena aku patuh dengan perintah Tuhan dalam surat An-Nisa’4 : )
” Maka bolehlah kamu menikahi perempuan yang kamu pandang baik untuk kamu, dua, tiga, atau empat; jika kiranya kamu takut tidak dapat berlaku adil di antara mereka itu, hendaknya kamu kawini satu saja”
Mengapa istriku pilih satu aku?
Bukankah aku sering pergi?
Sering meninggalkannya hanya sekadar ngopi-ngopi bersama rekan dan kawan. Tidakkah kedinginankah ia
Mengapa tidak poliandri?
Bukankah poliandri lebih enak?
Atau karena harus ber- susah-susah orang menyebut nama dua atau tiga bin, bin.....
Ya ...bin Paijo bin Abdulah bin Rebo bin Santosa.
Atau singkatnya bin rame-rame..
Tanpa ku mengerti, itu aku.
Tanpa ku sadari aku dan istriku.
Tak dapat ku mengerti, kesadaranku telah hilang musna
Aku tidak muda lagi
Tak ku sadari hidup sekadar mampir ngombe
Umur berbatas dengan kesadaran
Gebyok, 23 November 2010
Senin, 28 Februari 2011
PRAWAN “ KIPRAHE WAYAH AWAN”
Kedudukan perempuan dalam tradisi jawa masih memandang perempuan sebagai kaum lemah dan terpinggirkan. Gerak tubuh sebagai kekuatan fisik tak diakui sebagai kekuatan yang mampu meningkatkan derajat perempuan ditengah kehidupan bermasyarakat. Perempuan “ dianggap tidak mampu menjaga keselamatan tubuh _ dipahami secara harfiah_ maka tak sedikit orang tua yang membatasi gerak perempuan. Keselamatan diri sebagai pertimbangan awal meski sebenarnya tidak sedikit perempuan yang mampu menjalankan fungsi sebagai pemimpin.
Kodrat! Ya, semangat mendistorsi perempuan memang kuat. Jarang yang mengakui perempuan dari kemampuan dan prestasi. Pemahaman yang demikian kian manjing daging di masyarakat dan terus dipertahankan. Apalagi di masyarakat arus bawah yang justru menjadi langgengnya budaya patriarki. Kecenderungan perempuan menganggap dirinya tidak sederajat dengan laki-laki, sedikit banyak adalah pengaruh dari pemahaman tradisi yang kuat mengakar.
Untuk memberikan makna yang utuh dari Prawan Kiprahe wayah awan , perlu pemahaman mendalam dari sudut pandang yang lebih luas Ya, sudut pandang dari hakekat perempuan itu sendiri.
Perempuan secara genetik memang berbeda, namun perbedaan itu tidak lantas mengecilkan atau bahkan memenjarakan peran dan keinginannya. Pun perbedaan atribut fisik hanya sebatas atribut biologis. Perempuan bervagina dan laki-laki berpenis. Perbedaan dua atribut gender yang dimiliki oleh dua makhluk itu membawa pemahaman yang berbeda pula. Pemahaman yang menganaktirikan prempuan secara fisik tidak lagi oleh tradisi. Agama pun dipandang turut mamapankan ketimpangan peran berdasarkan jenis kelamin.
Budaya Arap misalnya, zaman sebelum Islam datang, zaman Jahiliyah, gerak perempuan amat sangat terbatas. Perempuan-perempuan pada kala itu, tidak mempunyai hak pribadi, hak politik. Seorang perempuan tidak berhak mendapat warisan bahkan dirinya menjadi “ Harta Warisan”. Yang selalu mendapat tekanan dari lelaki ( suami ). Perempuan dipandang sebagai obyek perlakuan seks kaum hawa. Perempuan berkedudukan sebagai obyek ( maf’ul bih) dan menjadi pihak ketiga ( ghaibah), sebaliknya laki-laki sebagai subyek ( fa’il ) dan pihak kedua ( mukhathabah ).
Bagaimana seorang Drupada yang akan mengawinkan anak tercantiknya, Drupadi harus melalui sayembara, sehingga tatkala melihat Raden Suryatmaja anak angkat Adirata _ seorang kusir _ Drupadi menangis, sedih. Yah, layaknya sebuah benda mati tanpa nyawa dan otak, perempuan secantik Drupadi, dijadikan hadiah dalam rangka mempertahankan kejayaan Negara Pancalaradya.
Perempuan dan vagina menjadi dua komponen yang tak terpisahkan sekaligus atribut yang berfungsi sebagai pelengkap biologis manusia. Namun terkadang dimaknai sebagai beban gender. Sebegitu kuat masyarakat memandang perempuan “ pemilik vagina “ untuk menjadikan vagina sebagai beban sekaligus atribut yang harus terjaga rapi. Maka seolah perempuan saja yang berhak atas keutuhan alat reproduksi itu. Istilah keprawanan lebih sakral ketimbang istilah ” kejejakaan ” atau istilah lain yang belum muncul atau harus dimunculkan sebagai kesimbangan.
Atau, perempuan mendapatkan batas atau pagar-pagar pemisah antara perempuan sebagai prawan sejati, atau gadis bukan perawan dengan munculnya pandangan-pandangan yang menganggap gadis perawan harus terbukti dengan robeknya selaput keprawanan. Bahkan laki-laki beranggapan jika perempuan pada malam pertama tidak mengeluarkan darah maka bukanlah gadis pwerawan. Gadis ” dor owor-owor ” perempuan yang telah kehilangan intan berharganya. Bagaimana dengan laki-laki yang menyandang jejaka sejati?
Dalam pranata sosial yang berkembang , secara khusus perempuan terbatasi oleh pelarangan-pelarangan atau pembatasan-pembatasan peran sosial-budaya perempuan. Semisal ” Aja Nglungguhi Alu Ngadek” tidak boleh menduduki antan ( penumbuk padi). Pelarangan terhadap perempuan untuk tidak boleh sembarangan duduk atau dengan sengaja duduk di antap karena akan berbahaya, pantat dan tubuh akan sakit. Tetapi didalam pelarangan itu tidak sekadar alu sebagai alat penumbuk padi tetapi lebih sebagai makna kiasan dari organ biologis laki-laki. ”Alu” melambangkan alat kelamin laki-laki yang sudah siap orgasme dan jika atau perempuan itu mendekat maka keprawanan yang dilambangkan sebagai intan akan hilang. Mengapa perempuan yang dilarang bukankah laki-laki pemilik alu juga harus berhati-hati menggunakan alu penumbuk padi agar padi tidak rusak sehingga pemilik padi akan senang.
Kodrat! Ya, semangat mendistorsi perempuan memang kuat. Jarang yang mengakui perempuan dari kemampuan dan prestasi. Pemahaman yang demikian kian manjing daging di masyarakat dan terus dipertahankan. Apalagi di masyarakat arus bawah yang justru menjadi langgengnya budaya patriarki. Kecenderungan perempuan menganggap dirinya tidak sederajat dengan laki-laki, sedikit banyak adalah pengaruh dari pemahaman tradisi yang kuat mengakar.
Untuk memberikan makna yang utuh dari Prawan Kiprahe wayah awan , perlu pemahaman mendalam dari sudut pandang yang lebih luas Ya, sudut pandang dari hakekat perempuan itu sendiri.
Perempuan secara genetik memang berbeda, namun perbedaan itu tidak lantas mengecilkan atau bahkan memenjarakan peran dan keinginannya. Pun perbedaan atribut fisik hanya sebatas atribut biologis. Perempuan bervagina dan laki-laki berpenis. Perbedaan dua atribut gender yang dimiliki oleh dua makhluk itu membawa pemahaman yang berbeda pula. Pemahaman yang menganaktirikan prempuan secara fisik tidak lagi oleh tradisi. Agama pun dipandang turut mamapankan ketimpangan peran berdasarkan jenis kelamin.
Budaya Arap misalnya, zaman sebelum Islam datang, zaman Jahiliyah, gerak perempuan amat sangat terbatas. Perempuan-perempuan pada kala itu, tidak mempunyai hak pribadi, hak politik. Seorang perempuan tidak berhak mendapat warisan bahkan dirinya menjadi “ Harta Warisan”. Yang selalu mendapat tekanan dari lelaki ( suami ). Perempuan dipandang sebagai obyek perlakuan seks kaum hawa. Perempuan berkedudukan sebagai obyek ( maf’ul bih) dan menjadi pihak ketiga ( ghaibah), sebaliknya laki-laki sebagai subyek ( fa’il ) dan pihak kedua ( mukhathabah ).
Bagaimana seorang Drupada yang akan mengawinkan anak tercantiknya, Drupadi harus melalui sayembara, sehingga tatkala melihat Raden Suryatmaja anak angkat Adirata _ seorang kusir _ Drupadi menangis, sedih. Yah, layaknya sebuah benda mati tanpa nyawa dan otak, perempuan secantik Drupadi, dijadikan hadiah dalam rangka mempertahankan kejayaan Negara Pancalaradya.
Perempuan dan vagina menjadi dua komponen yang tak terpisahkan sekaligus atribut yang berfungsi sebagai pelengkap biologis manusia. Namun terkadang dimaknai sebagai beban gender. Sebegitu kuat masyarakat memandang perempuan “ pemilik vagina “ untuk menjadikan vagina sebagai beban sekaligus atribut yang harus terjaga rapi. Maka seolah perempuan saja yang berhak atas keutuhan alat reproduksi itu. Istilah keprawanan lebih sakral ketimbang istilah ” kejejakaan ” atau istilah lain yang belum muncul atau harus dimunculkan sebagai kesimbangan.
Atau, perempuan mendapatkan batas atau pagar-pagar pemisah antara perempuan sebagai prawan sejati, atau gadis bukan perawan dengan munculnya pandangan-pandangan yang menganggap gadis perawan harus terbukti dengan robeknya selaput keprawanan. Bahkan laki-laki beranggapan jika perempuan pada malam pertama tidak mengeluarkan darah maka bukanlah gadis pwerawan. Gadis ” dor owor-owor ” perempuan yang telah kehilangan intan berharganya. Bagaimana dengan laki-laki yang menyandang jejaka sejati?
Dalam pranata sosial yang berkembang , secara khusus perempuan terbatasi oleh pelarangan-pelarangan atau pembatasan-pembatasan peran sosial-budaya perempuan. Semisal ” Aja Nglungguhi Alu Ngadek” tidak boleh menduduki antan ( penumbuk padi). Pelarangan terhadap perempuan untuk tidak boleh sembarangan duduk atau dengan sengaja duduk di antap karena akan berbahaya, pantat dan tubuh akan sakit. Tetapi didalam pelarangan itu tidak sekadar alu sebagai alat penumbuk padi tetapi lebih sebagai makna kiasan dari organ biologis laki-laki. ”Alu” melambangkan alat kelamin laki-laki yang sudah siap orgasme dan jika atau perempuan itu mendekat maka keprawanan yang dilambangkan sebagai intan akan hilang. Mengapa perempuan yang dilarang bukankah laki-laki pemilik alu juga harus berhati-hati menggunakan alu penumbuk padi agar padi tidak rusak sehingga pemilik padi akan senang.
PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN USIA DINI
Berbicara soal perempuan yang terekam dalam benak siapapun termasuk perempuan itu sendiri adalah makhluk yang mempunyai kelembutan, feminitas, sensualitas pemicu timbulnya libido seksualitas bagi kaum maskulin. Tak hayal segala komoditas produk apapa pun baik produk perlengkapan rumah tangga, elektronik, otomotif, apalagi produk kecantikan, perempuanlah sebagai simbul hasrat pasar. Sekalipun produk itu tidak ada hubungannya dengan feminitas, perempuan tetap saja dieksploitasi sebagai pemantik selera konsumen ( pasar ). Semisal, produk hand phone yang seharusnya tidak ada hubungannya dengan sensualitas tubuh perempuan nyatanya iklan produk tersebut lebih mengetengahkan kemolekan tubuh perempuan. Bahkan kemanfaatan produk itu tak semenenarik keindahan dan feminitas tubuh perempuan. Pertandingan tinju pun tanpa wanita seksi tak menarik untuk dinikmati oleh bebotoh.
Jelas sekali kelebihan perempuan yang tidak pernah dimiliki oleh kaum lelaki dimanfaatkan oleh siapapun baik perempuan itu sendiri maupun lelaki. Apalagi para pemilik modal akan getol mengeksploitasi keberadaan makhluk Tuhan yang paling seksi ini.
Meskipun gerakan perempuan mengaktualisasikan persamaan gender lewat gerakan revolusioner sekali pun sebenarnya tak mampu mengubah pandangan perempuan sebagai kaum lemah yang lazim diperebutkan, dipertaruhkan, dieksploitasi. Hal itu dapat dicermati dari perlakuan terhadap perempuan mulai dari zaman sebelum mengenal peradapan sampai zaman beradap, dari zaman penjajahan sampai zaman kemerdekakan.
Kelebihan-kelebihan perempuan yang tak pernah dimiliki oleh lelaki seperti penyabar, keibuan, telaten, manut, nurut dan tahan ujian hidup terlupakan. Namun, hal itu tidak bagi perempuan-perempuan pejuang pendidikan. Perempuan pengajar di pendidikan pendidikan usia dini (PAUD) memanfaatkan kelebihan untuk mengembangkan profesi yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa. Ya, perempuan-perempuan cerdas yang memanfaatkan kelebihan itu tanpa mempertontonkan kemontokan, kemolekan tubuh untuk melakukan sesuatu.
Lihat saja kemerebakan pendidikan usia dini (PAUD), play group, kelompok bermain, raudatul atfal ( RA) merupakan kecerdasan perempuan dalam memanfaatkan kelebihan itu. Dari sekian lembaga pendidikan yang tidak masuk dalam peta pendidikan dasar di Indonesia itu, keterlibatan perempuan dapat diyakini 90% lebih. Apalagi tenaga pengajarnya hampir 99 % perempuan. Misalnya dikecamatan Gunungpati saja tak satu pun dijumpai pengajar Taman Kanak-kanak ( TK ) laki-laki.
Yang menjadi pertanyaan, Benarkah keterlibatan perempuan itu merupakan profesi yang didasarkan pada pentingnya pendidikan anak usia dini? Atau sekadar pencarian kesibukan?
Seperti yang disampaikan oleh Ana Indarti guru TK Pertiwi Kalisegoro Gunungpati bahwa profesi yang dia lakoni merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi anak yang tidak memperoleh perlakuan pendidikan yang memadai pada usia emas ( golden age ). Anak yang masih memerlukan pendidikan dan bimbingan di usia emas tersebut harus memenuhi kebutuhan bermain, belajar, mengembangkan kecerdasan sendiri tanpa bimbingan orang tua. Anak diperlakukan sebagai orang dewasa mini, mampu berbuat dan mengembangkan potensi, mengambil keputusan sendiri. Sementara kedua orangtuanya sibuk bekerja.
Hal yang sama juga disampaikan oleh teman sejawat, Juwariyah, A.Ma bahwa kecerdasan anak yang pesat terjadi sejak anak baru lahir sampai usia lima tahun sehingga anak-anak perlu memperoleh pendidikan yang tepat di masa emasnya. “ Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Keith Osborn bahwa, kreatifitas anak mulai meningkat pada usia tiga tahun sedangkan mencapai puncaknya pada usia empat setengah tahun. Hampir 50 % potensi kecerdasan anak terbentuk pada usia empat. Kemudian secara bertahap mencapai 80 % pada usia 8 tahun” Imbuhnya.
Mengapa peluang itu tidak diambil oleh kaum laki-laki sebagai suatu bentuk peluang usaha yang menjanjikan? Misalnya, peluang mendirikan PAUD. Peluang menciptakan sarana bermain dan peluang usaha lainnya. Semua peluang itu memang dapat dilakukan oleh laki-laki.
Kaum Adam memang dapat melakukan pekerjaan tersebut, tetapi tidak sebagai tenaga pengajar di PAUD. Karena lelaki tidak mampu menandingi kelebihan perempuan yang mempunya sifat ke ibuan dengan berbagai kemampuan lain yang melekat padanya. Tanpa mengedepankan keindahan tubuh, perempuan tetap mampu berbuat untuk diri dan orang lain.Dengan keperkasaannya laki-laki tak mampu melakoni.
Benarkah kaum Adam tidak mampu? Meski tidak banyak laki-laki juga ada yang menjadi tenaga pengajar di TK dan sejenisnya. Mengapa tidak banyak? Tenaga pengajar di PAUD memang tidak menjanjikan. Bagaimana menjanjikan ? Di tengah tingginya pemaknaan hidup yang hedonisme ini hanya perempuan pengabdi mampu melakukannya. Perempuan yang mengubah nalarnya dari perempuan yang selama ini selalu memanfaatkan keindahan tubuh sebagai sarana menguasai pangsa pasar semua produk.
Benarkah perempuan-perempuan telah berafirmasi pada wilayah yang tak mengedepankan feminismi untuk melakukan sesuatu tetapi wilayah pengabdian pada bangsa. Manusia yang lebih mementingkan hidup bukan sekadar materi sebagai wujud keberhasilan hidup, tetapi hidup lebih peduli yang di imani.
Absurd memang, di tengah keberadaana dunia glamor semuanya serba mewah, hidup hanya didasari total materi yang dimiliki dan tingginya nilai konsumtif , perempuan-perempuan tetap saja menjadi sosok pengabdi pada bangsa. Ataukah karena dikotomi perempuan oleh pemerintah atau pengembil kebijakan. Benarkah pemerintah dengan segala kebijakan, pemilik yayasan dengan segala keterbukaan, wali murid dengan keihlasan , pengambil kebijakan dengan tangan besinya tak mampu mensejahterakan tenaga pengajar PAUD?
Perempuan-perempuan itu tak pernah memikirkan tetapi sebenarnya mengharap. Pekerjaan mulia yang mereka lakukan dengan kemuliaan itu tak berimbang dengan rupiah yang diperoleh. Bagaimana tidak?
Melakukan profesi yang dilakukan dengan profesionali itu sebenarnya tak menjanjikan. Pendidikan PAUD yang belum masuk ke lembaga pendidikan formal sebenarnya merupakan indikasi suramnya masa depan perempuan pengabdi itu dalam hal penghasilan. Dengan rupiah yang tak seberapa, jauh dari Upah Minimal Regional ( UMR ) perempuan itu harus sabar dalam mengajar, rapi dalam berdandan, luwes dalam bergaul, contoh bagi masyarakat semuanya harus profesional.
Sebuah masa depan yang belum jelas arahnya, karena tak ada jaminan kesejahteraan. Hal itu dikarenakan tak ada kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang mewajibkan anak untuk sekolah di taman kanak-kanak. Tak hanyal peran perempuan ini dipandang sebelah mata oleh pemangku kebijakan. Misalnya, perihal kesejahteraan. Berapa persen pengajar di sekolah ini yang menjadi PNS? Berapa persen sekolah yang telah menggaji tenaga pengajarnya sama jumlahnya dengan UMR?
Bahkan tidak ada kewajiban sekolah dasar untuk menerima murid baru yang sudah berijazah TK atau sebaliknya. Sekolah dasar hanya akan menerima siswa dengan dasar usia anak yaitu kurang lebih tujuh tahun. Apalagi kewajiban sekolah mengupah karyawannya sesuai UMR.
Ya, perempuan memang lemah namun kuat dalam cara pandang ditengah penyudutan perempuan sebagai mahkluk yang dimanfaatkan pasar. Feminisme yang mampu mengundang hasrat seksualitas kaum hawa itu telah diartikan sebagai konsumsi pasar yang menarik. Namun keterlibatan perempuan dalam profesi ini sebagai bagian dari peran perempuan ditengah maraknya distorsi terhadap keberadaan perempuan. Perempuan ( ibu ) yang mapu membuat hitam putihnya bangsa. Di tangan ibu lewat pendidikan informal ( rumah ) pendidikan yang pertama dan utama memegang peranan penting dalam perkembangan generasi. Tanpa perempuan kehidupan tak bermakna.
Jelas sekali kelebihan perempuan yang tidak pernah dimiliki oleh kaum lelaki dimanfaatkan oleh siapapun baik perempuan itu sendiri maupun lelaki. Apalagi para pemilik modal akan getol mengeksploitasi keberadaan makhluk Tuhan yang paling seksi ini.
Meskipun gerakan perempuan mengaktualisasikan persamaan gender lewat gerakan revolusioner sekali pun sebenarnya tak mampu mengubah pandangan perempuan sebagai kaum lemah yang lazim diperebutkan, dipertaruhkan, dieksploitasi. Hal itu dapat dicermati dari perlakuan terhadap perempuan mulai dari zaman sebelum mengenal peradapan sampai zaman beradap, dari zaman penjajahan sampai zaman kemerdekakan.
Kelebihan-kelebihan perempuan yang tak pernah dimiliki oleh lelaki seperti penyabar, keibuan, telaten, manut, nurut dan tahan ujian hidup terlupakan. Namun, hal itu tidak bagi perempuan-perempuan pejuang pendidikan. Perempuan pengajar di pendidikan pendidikan usia dini (PAUD) memanfaatkan kelebihan untuk mengembangkan profesi yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa. Ya, perempuan-perempuan cerdas yang memanfaatkan kelebihan itu tanpa mempertontonkan kemontokan, kemolekan tubuh untuk melakukan sesuatu.
Lihat saja kemerebakan pendidikan usia dini (PAUD), play group, kelompok bermain, raudatul atfal ( RA) merupakan kecerdasan perempuan dalam memanfaatkan kelebihan itu. Dari sekian lembaga pendidikan yang tidak masuk dalam peta pendidikan dasar di Indonesia itu, keterlibatan perempuan dapat diyakini 90% lebih. Apalagi tenaga pengajarnya hampir 99 % perempuan. Misalnya dikecamatan Gunungpati saja tak satu pun dijumpai pengajar Taman Kanak-kanak ( TK ) laki-laki.
Yang menjadi pertanyaan, Benarkah keterlibatan perempuan itu merupakan profesi yang didasarkan pada pentingnya pendidikan anak usia dini? Atau sekadar pencarian kesibukan?
Seperti yang disampaikan oleh Ana Indarti guru TK Pertiwi Kalisegoro Gunungpati bahwa profesi yang dia lakoni merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi anak yang tidak memperoleh perlakuan pendidikan yang memadai pada usia emas ( golden age ). Anak yang masih memerlukan pendidikan dan bimbingan di usia emas tersebut harus memenuhi kebutuhan bermain, belajar, mengembangkan kecerdasan sendiri tanpa bimbingan orang tua. Anak diperlakukan sebagai orang dewasa mini, mampu berbuat dan mengembangkan potensi, mengambil keputusan sendiri. Sementara kedua orangtuanya sibuk bekerja.
Hal yang sama juga disampaikan oleh teman sejawat, Juwariyah, A.Ma bahwa kecerdasan anak yang pesat terjadi sejak anak baru lahir sampai usia lima tahun sehingga anak-anak perlu memperoleh pendidikan yang tepat di masa emasnya. “ Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Keith Osborn bahwa, kreatifitas anak mulai meningkat pada usia tiga tahun sedangkan mencapai puncaknya pada usia empat setengah tahun. Hampir 50 % potensi kecerdasan anak terbentuk pada usia empat. Kemudian secara bertahap mencapai 80 % pada usia 8 tahun” Imbuhnya.
Mengapa peluang itu tidak diambil oleh kaum laki-laki sebagai suatu bentuk peluang usaha yang menjanjikan? Misalnya, peluang mendirikan PAUD. Peluang menciptakan sarana bermain dan peluang usaha lainnya. Semua peluang itu memang dapat dilakukan oleh laki-laki.
Kaum Adam memang dapat melakukan pekerjaan tersebut, tetapi tidak sebagai tenaga pengajar di PAUD. Karena lelaki tidak mampu menandingi kelebihan perempuan yang mempunya sifat ke ibuan dengan berbagai kemampuan lain yang melekat padanya. Tanpa mengedepankan keindahan tubuh, perempuan tetap mampu berbuat untuk diri dan orang lain.Dengan keperkasaannya laki-laki tak mampu melakoni.
Benarkah kaum Adam tidak mampu? Meski tidak banyak laki-laki juga ada yang menjadi tenaga pengajar di TK dan sejenisnya. Mengapa tidak banyak? Tenaga pengajar di PAUD memang tidak menjanjikan. Bagaimana menjanjikan ? Di tengah tingginya pemaknaan hidup yang hedonisme ini hanya perempuan pengabdi mampu melakukannya. Perempuan yang mengubah nalarnya dari perempuan yang selama ini selalu memanfaatkan keindahan tubuh sebagai sarana menguasai pangsa pasar semua produk.
Benarkah perempuan-perempuan telah berafirmasi pada wilayah yang tak mengedepankan feminismi untuk melakukan sesuatu tetapi wilayah pengabdian pada bangsa. Manusia yang lebih mementingkan hidup bukan sekadar materi sebagai wujud keberhasilan hidup, tetapi hidup lebih peduli yang di imani.
Absurd memang, di tengah keberadaana dunia glamor semuanya serba mewah, hidup hanya didasari total materi yang dimiliki dan tingginya nilai konsumtif , perempuan-perempuan tetap saja menjadi sosok pengabdi pada bangsa. Ataukah karena dikotomi perempuan oleh pemerintah atau pengembil kebijakan. Benarkah pemerintah dengan segala kebijakan, pemilik yayasan dengan segala keterbukaan, wali murid dengan keihlasan , pengambil kebijakan dengan tangan besinya tak mampu mensejahterakan tenaga pengajar PAUD?
Perempuan-perempuan itu tak pernah memikirkan tetapi sebenarnya mengharap. Pekerjaan mulia yang mereka lakukan dengan kemuliaan itu tak berimbang dengan rupiah yang diperoleh. Bagaimana tidak?
Melakukan profesi yang dilakukan dengan profesionali itu sebenarnya tak menjanjikan. Pendidikan PAUD yang belum masuk ke lembaga pendidikan formal sebenarnya merupakan indikasi suramnya masa depan perempuan pengabdi itu dalam hal penghasilan. Dengan rupiah yang tak seberapa, jauh dari Upah Minimal Regional ( UMR ) perempuan itu harus sabar dalam mengajar, rapi dalam berdandan, luwes dalam bergaul, contoh bagi masyarakat semuanya harus profesional.
Sebuah masa depan yang belum jelas arahnya, karena tak ada jaminan kesejahteraan. Hal itu dikarenakan tak ada kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang mewajibkan anak untuk sekolah di taman kanak-kanak. Tak hanyal peran perempuan ini dipandang sebelah mata oleh pemangku kebijakan. Misalnya, perihal kesejahteraan. Berapa persen pengajar di sekolah ini yang menjadi PNS? Berapa persen sekolah yang telah menggaji tenaga pengajarnya sama jumlahnya dengan UMR?
Bahkan tidak ada kewajiban sekolah dasar untuk menerima murid baru yang sudah berijazah TK atau sebaliknya. Sekolah dasar hanya akan menerima siswa dengan dasar usia anak yaitu kurang lebih tujuh tahun. Apalagi kewajiban sekolah mengupah karyawannya sesuai UMR.
Ya, perempuan memang lemah namun kuat dalam cara pandang ditengah penyudutan perempuan sebagai mahkluk yang dimanfaatkan pasar. Feminisme yang mampu mengundang hasrat seksualitas kaum hawa itu telah diartikan sebagai konsumsi pasar yang menarik. Namun keterlibatan perempuan dalam profesi ini sebagai bagian dari peran perempuan ditengah maraknya distorsi terhadap keberadaan perempuan. Perempuan ( ibu ) yang mapu membuat hitam putihnya bangsa. Di tangan ibu lewat pendidikan informal ( rumah ) pendidikan yang pertama dan utama memegang peranan penting dalam perkembangan generasi. Tanpa perempuan kehidupan tak bermakna.
PEREMPUAN DAN BUSANA “Ajining sarira saka ing busana”
MENATAP zaman edan yang begitu cepat mendekat, merubah sendi-sendi kehidupan, menyengsarakan kehidupan rakyat, merubah pola nalar, membalikkan tangan, menjauhkan kehidupan dari adat istiadat dan sopan santun. Laki-laki berulah bak perempuan, begitu juga perempuan berpenampilan seperti laki-laki. Tak ada batas pembeda antara perempuan dan laki-laki. Perempuan bercelana pendek bahkan sebatas menutup kemaluan, perut dan pusar bebas di umbar, putting susu dan mahkota tubuh dipertontonkan tanpa risih dan malu.
Busana tidak lagi berfungsi menutup aurat malah berguna untuk menambah seksinya aurat. Betapa tidak? Tubuh dan betis perempuan dianggap tidak menarik tatkala berkebaya dan berkerudung. Pakaian dianggab baik dan indah jika mampu menambah sahwat lelaki. Mempertononkan mulusnya betis dan puting adalah bagian dari seni berbusana. Atau bahkan, menyelubungi tubuh secara rapet dianggap penghambat kemajuan.
Maka tak mengherankan tat kala akan diundangkan Undang-undang Anti Prornografi dan Pornoaksi yang membatasi perempuan dan laki-laki justru banyak perempuan yang akan ber-reaksi, dengan bertelanjang. Atau bahkan jika telanjang di tempat umum tidak dilarang atau dianggab tabu oleh adat istiadat ketimuran tidak sedikit perempuan yang bersedia untuk menampilkan paha dan vagina dengan bertelanjang bulat.
Perempuan tidak lagi tabu dengan pakaian ala Suku Asmat. Analog dengan pengalaman seni pakaian suku Asmat, Asmatisasi sebagai semiotika keindahan terkesan menghegemoni perempuan. Nalar perempuan telah tercucikan oleh pengaruh globalisasi yang salah arah.
Ya, pakaian Suku Asmat yang dianggap belum beradap itu malah menjadi inspirasi trend busana perempuan di zaman beradap. Perempuan tidak lagi tabu dengan berbusana tembus pandang atau bahkan hanya busana yang cukup untuk menutupi puting dan organ kewanitaan lainnya. Yang justru pengertian dan pemaknaan perempuan cantik dan seksi itu tidak sekadar perempuan yang memiliki lekukan tubuh pada helain kain dengan bentukan mode-mode tembus pandang. Atau bahkan mulusnya tubuh yang terlihat jelas. Melainkan faktor internal perempuan lebih mendominasi tanpa harus membuka aurat. Jika beberapa lelaki diwajibkan untuk memilih dua obsi untuk menentukan nilai kecantikan perempuan yang bernama Siti Nurhaliza dan Julia Perez, maka kebanyakan lelaki lebih memilih Siti Nurhaliza daripada Julia Perez ( Jupe). Tetapi jika ada lelaki yang memilih Julia Perez hanya sekadar untuk menikmati tubuhnya. Lelaki penikmat bukan lelaki yang berkeinginan untuk bebrayan.
Makna keindahan dan kecantikan tubuh dengan segala atribut yang dikenakan, sesungguhnya ditentukan antara lain oleh konstruksi nilai yang menjadi bingkai kultur masyarakat. Asmatisasi sebagai tengara keindahan normatif – harus ditampakkan secara nyata – jadilah ia hadir sebagai perempuan yang memahami kecantikan hanya sekadar kenampakan betis yang mampu menarik lelaki untuk berseluit, suit-suit.
Begitu berkeinginan untuk berpakaian, perempuan yang menempatkan fungsi busana sebagai sarana mengumbar sahwat lelaki, perempuan itu hanya sanggup bercelana pendek yang cukup untuk menutupi makota perempuan (vagina). Celana pendek dengan asesoris lubang-lubang kecil itu, siap mempertontonkan tubuh perempuan laksana emas 24 karat yang menarik para lelaki untuk memakai dan menggunakan
Pakaian tidak hanya sebatas mempercantik tubuh, memperindah penampilan, menambah kepercayaan, bahkan dimaknai sebagai sarana untuk menambah nilai jual keseksian pantat, atau produk yang tidak berkait erat dengan busana itu sendiri. Tafsir dan sudut pandang perempuan tentang busana telah mampu mengalihkan fungsi pakaian dan fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Perempuan yang cantik dan menarik tidaklah perempuan yang mengatakan bahwa, mengenakan pakain yang mampu menambah sahwat lelaki, merupakan bagian keberhasilan perempuan dalam berpakaian. Tidak semua orang mengatakan Julia Peres itu cantik. Tetapi tidak semua orang beranggapan Julia Peres itu berakhlak baik. Banyak orang yang beranggapan bahwa perempuan yang berpakaian seronok hingga sebagain besar anggota tubuh dapat dilihat adalah perempuan yang siap dibeli tubuhnya untuk dinikmati.
Sekalipun perempuan yang duduk-duduk di depan rumah itu mahasiswa, tetapi jika perempuan itu mengenakan busana yang mempertontonkan benjolan di dada dan paha mulusnya tak seorang pun beranggapan bahwa perempuan itu mahasiswa, justru diasumsikan sebagai perempuan penyandang gelar ayam kampus. Apalagi jika ditambah dengan dandanan menor, dengan posisi duduk mengepang kaki sebutan “ perempuan perek” justru lebih pas.
Lain halnya dengan perempuan perek yang tinggal di Gang Kuburan, lokalisasi perbatasan Kendal-Semarang. Meskipun sehariannya berprofesi sebagai wanita tuna susila ( WTS) berjualan tubuh seksi tetapi jika berpakaian rapi, mengenakan celana dan baju lengan panjang, orang tidak begitu saja mengatakan perempuan itu lonthe. Bahkan lelaki yang datang untuk membeli tubuh perempuan perek itu tak langsung menawar harga persetubuhan. Melainkan , mereka akan bertanya kepada siapa saja. Atau, bahkan, lelaki itu akan lebih berhati-hati untuk menawar harga persetubuhan kepada wanita tuna susila (WTS). Dengan berasusah payah Lelaki itu sekadar memperoleh informasi tentang keberadaan perempuan berkebaya atau berkerudung itu. Meskipun sebenarnya perempuan itu perek penghuni tetap di Lokalisasi Sunan Kuning. Ketidak percayaan yang menyelimuti pikiran lelaki itu bersamaan dengan hadirnya busana yang berfungsi menjaga kehormatan.
Ya, siapa pun tidak hanya lelaki, perempuan pun akan menghargai sesorang dari cara berbusana. Begitu juga lelaki akan memberikan penilaian kepada perempuan lewat pakaian yang dikenakan. Bukan Cuma kepandaian dan harta benda yang berlimpah ruah.
Bagaimana seorang Drupadi yang tidak mau mencuci rambutnya tat kala belum membalas dendam pada Duryudana yang telah merobek bajunya hingga sebagin tubuhnya terlihat. Meski hanya sebuah cerita Mahabarata tetapi dapat menjadi pijakan berfikir, betapa pentingnya menjaga kehormatan kewanitaan dengan berpakaian yang baik.
Perempuan yang disebut juga dengan wanita “ wani di tata “ menginsipirasikan bahwa perempuan tercipta sebagai makhluk yang lemah secara fisik maupun prinsip. Tidakkah kita pernah mendengar atau membaca bahwa perempuan ( Hawa, istri Nabi Adam ) diciptakan dari tulang rusuk. Bagian tulang yang sangat rapuh, bengkok. Jika tulang itu diluruskan maka akan patah karena kerapuhannya, begitu juga jika tulang bengkok tidak akan diluruskan maka tewaslah riwayat perempuan.
Tafsir perempuan tetang pakaian yang dapat menambah sahwat lelaki adalah bentuk keberhasilan perempuan dalam berpakaian. Pencucian otak-otak perempuan yang mampu mengubah nalar perempuan bahwa cantik harus dengan berpakaian seksi bagian dari bentuk kesalahpahaman yang perlu pelurusan.
Zaman memang sudah edan, zaman edan sudah berjalan. Ya, Amenangi zaman yang sudah edan ini semua serba sulit. Ikut edan di zaman edan pasti kita tidak tahan tetapi jika tidak ikut edan atau ngedan kita tetap nglakoni. Tetapi benarkah zamannya yang edan atau justru manusianya yang sudah mengubah zaman menjadi edan.
Orang bijak tidak mesti menjadi asin meski hidup di tengah samudra dengan air yang kadar garamnya tinggi. Bak ikan di laut bebas yang sehariannya berlumuran garam laut yang tak terbilang asinnya itu tetap saja dagingnya tawar. Perempuan yang sudah hidup di zaman edan tidak perlu ikut edan. Jika ada perempuan yang tidak pernah diperkosa karena pakaiannya sebatas menutupi puting dan vagina hanyalah bagian keberuntungan di zaman edan. Tetapi keberuntungan yang mengalahkan naluri dan mencuci otak waras masih lebih baik dengan perempuan yang masih eling dengan hakekat dan fungsi pakaian.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Nur : 31 ” Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya mereka memejamkan mata mereka dari pada yang tidak halal, dan hendaklah mereka menjaga keharmonisan mereka, janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka selain dari pada yang biasa nyata kelihatan ( sukar menutupinya), dan hendaklah mereka tutupkan kerudung ( telekung) mereka kuduk dan dada mereka, dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, bapak mereka, mertua mereka, anak mereka, anak saudara mereka, saudara perempuan, hamba mereka, atau orang yang mengikutinya kepada perempuan, atau kepada kanak-kanak yang belum nafsu melihat aurat perempuan.”
Nenek moyang dan para pendahulu kita telah mampu membaca tanda-tanda zaman sebelum hal itu terjadi. Orang-orang yang sinebut Waskita ”wong kang limpad ing budi” (orang-orang yang mampu membaca tanda zaman). Sebut saja Rangga Warsita, Jaya baya, Sunan Kalijaga telah paham tentang zaman yang bakal terjadi. Mereka pun tidak sekadar tahu tetapi, bagaimana sikap kita dalam menghadapi dekadensi generasi di zaman edan. Laku manusia agar waspada dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia yang telah memiliki paugeran hidup berupa adat istiadat, sopan santun perlukah kiranya dijaga dan diugemi agar menjadi perempuan yang dihormati.
Anak-anak muda, secara tidak terelakkan, berada dalam jerat kuasa itu. Perempuan dengan pernak-pernik busana menjadi subjek komsumerisme yang terlahir dari rahim-rahim kapitalisme yah, anak-anak ( perempuan ) akan menjadi bayi yang terjerumus dalam jurang kapitalis sejati. Busana bukan lagi bagian dari piranti mempertahankan kehormatan dan harga diri. Tubuh dan busana menjadi pernik penikmat budaya eksotis yang tmenjerumuskan dalam liang kapitalis. Produk yang tak terkait erat dengan busana justru akan terkalahkan dengan eksotisme yang mengedepankan pengkultusan tubuh dari segala predikat.
Ajining sarira saka ing busana. Pakaian dapat menunjukkan derajat atau bahkan malah mampu mamberikan pemaknaan hidup dan mengangkat kehormatan manusia sebagai pribadi, maupun makhluk ciptaan Tuhan. Atau bahkan harga diri seseorang dapat dihasilkan dari kemampuan seseorang dalam menata dan menempatkan pakaian sesuai dengan fungsi busana yang sebenar-benarnya. Pakaian dan pernak-perniknya menjadi perhelatan dalam mempertahankan , harga diri, kepribadiaan, persetubuhan dan pemerkosaan. Menjadi sebab dan akibat, dari maksud dan tujuan berbusana.
.
:
Busana tidak lagi berfungsi menutup aurat malah berguna untuk menambah seksinya aurat. Betapa tidak? Tubuh dan betis perempuan dianggap tidak menarik tatkala berkebaya dan berkerudung. Pakaian dianggab baik dan indah jika mampu menambah sahwat lelaki. Mempertononkan mulusnya betis dan puting adalah bagian dari seni berbusana. Atau bahkan, menyelubungi tubuh secara rapet dianggap penghambat kemajuan.
Maka tak mengherankan tat kala akan diundangkan Undang-undang Anti Prornografi dan Pornoaksi yang membatasi perempuan dan laki-laki justru banyak perempuan yang akan ber-reaksi, dengan bertelanjang. Atau bahkan jika telanjang di tempat umum tidak dilarang atau dianggab tabu oleh adat istiadat ketimuran tidak sedikit perempuan yang bersedia untuk menampilkan paha dan vagina dengan bertelanjang bulat.
Perempuan tidak lagi tabu dengan pakaian ala Suku Asmat. Analog dengan pengalaman seni pakaian suku Asmat, Asmatisasi sebagai semiotika keindahan terkesan menghegemoni perempuan. Nalar perempuan telah tercucikan oleh pengaruh globalisasi yang salah arah.
Ya, pakaian Suku Asmat yang dianggap belum beradap itu malah menjadi inspirasi trend busana perempuan di zaman beradap. Perempuan tidak lagi tabu dengan berbusana tembus pandang atau bahkan hanya busana yang cukup untuk menutupi puting dan organ kewanitaan lainnya. Yang justru pengertian dan pemaknaan perempuan cantik dan seksi itu tidak sekadar perempuan yang memiliki lekukan tubuh pada helain kain dengan bentukan mode-mode tembus pandang. Atau bahkan mulusnya tubuh yang terlihat jelas. Melainkan faktor internal perempuan lebih mendominasi tanpa harus membuka aurat. Jika beberapa lelaki diwajibkan untuk memilih dua obsi untuk menentukan nilai kecantikan perempuan yang bernama Siti Nurhaliza dan Julia Perez, maka kebanyakan lelaki lebih memilih Siti Nurhaliza daripada Julia Perez ( Jupe). Tetapi jika ada lelaki yang memilih Julia Perez hanya sekadar untuk menikmati tubuhnya. Lelaki penikmat bukan lelaki yang berkeinginan untuk bebrayan.
Makna keindahan dan kecantikan tubuh dengan segala atribut yang dikenakan, sesungguhnya ditentukan antara lain oleh konstruksi nilai yang menjadi bingkai kultur masyarakat. Asmatisasi sebagai tengara keindahan normatif – harus ditampakkan secara nyata – jadilah ia hadir sebagai perempuan yang memahami kecantikan hanya sekadar kenampakan betis yang mampu menarik lelaki untuk berseluit, suit-suit.
Begitu berkeinginan untuk berpakaian, perempuan yang menempatkan fungsi busana sebagai sarana mengumbar sahwat lelaki, perempuan itu hanya sanggup bercelana pendek yang cukup untuk menutupi makota perempuan (vagina). Celana pendek dengan asesoris lubang-lubang kecil itu, siap mempertontonkan tubuh perempuan laksana emas 24 karat yang menarik para lelaki untuk memakai dan menggunakan
Pakaian tidak hanya sebatas mempercantik tubuh, memperindah penampilan, menambah kepercayaan, bahkan dimaknai sebagai sarana untuk menambah nilai jual keseksian pantat, atau produk yang tidak berkait erat dengan busana itu sendiri. Tafsir dan sudut pandang perempuan tentang busana telah mampu mengalihkan fungsi pakaian dan fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Perempuan yang cantik dan menarik tidaklah perempuan yang mengatakan bahwa, mengenakan pakain yang mampu menambah sahwat lelaki, merupakan bagian keberhasilan perempuan dalam berpakaian. Tidak semua orang mengatakan Julia Peres itu cantik. Tetapi tidak semua orang beranggapan Julia Peres itu berakhlak baik. Banyak orang yang beranggapan bahwa perempuan yang berpakaian seronok hingga sebagain besar anggota tubuh dapat dilihat adalah perempuan yang siap dibeli tubuhnya untuk dinikmati.
Sekalipun perempuan yang duduk-duduk di depan rumah itu mahasiswa, tetapi jika perempuan itu mengenakan busana yang mempertontonkan benjolan di dada dan paha mulusnya tak seorang pun beranggapan bahwa perempuan itu mahasiswa, justru diasumsikan sebagai perempuan penyandang gelar ayam kampus. Apalagi jika ditambah dengan dandanan menor, dengan posisi duduk mengepang kaki sebutan “ perempuan perek” justru lebih pas.
Lain halnya dengan perempuan perek yang tinggal di Gang Kuburan, lokalisasi perbatasan Kendal-Semarang. Meskipun sehariannya berprofesi sebagai wanita tuna susila ( WTS) berjualan tubuh seksi tetapi jika berpakaian rapi, mengenakan celana dan baju lengan panjang, orang tidak begitu saja mengatakan perempuan itu lonthe. Bahkan lelaki yang datang untuk membeli tubuh perempuan perek itu tak langsung menawar harga persetubuhan. Melainkan , mereka akan bertanya kepada siapa saja. Atau, bahkan, lelaki itu akan lebih berhati-hati untuk menawar harga persetubuhan kepada wanita tuna susila (WTS). Dengan berasusah payah Lelaki itu sekadar memperoleh informasi tentang keberadaan perempuan berkebaya atau berkerudung itu. Meskipun sebenarnya perempuan itu perek penghuni tetap di Lokalisasi Sunan Kuning. Ketidak percayaan yang menyelimuti pikiran lelaki itu bersamaan dengan hadirnya busana yang berfungsi menjaga kehormatan.
Ya, siapa pun tidak hanya lelaki, perempuan pun akan menghargai sesorang dari cara berbusana. Begitu juga lelaki akan memberikan penilaian kepada perempuan lewat pakaian yang dikenakan. Bukan Cuma kepandaian dan harta benda yang berlimpah ruah.
Bagaimana seorang Drupadi yang tidak mau mencuci rambutnya tat kala belum membalas dendam pada Duryudana yang telah merobek bajunya hingga sebagin tubuhnya terlihat. Meski hanya sebuah cerita Mahabarata tetapi dapat menjadi pijakan berfikir, betapa pentingnya menjaga kehormatan kewanitaan dengan berpakaian yang baik.
Perempuan yang disebut juga dengan wanita “ wani di tata “ menginsipirasikan bahwa perempuan tercipta sebagai makhluk yang lemah secara fisik maupun prinsip. Tidakkah kita pernah mendengar atau membaca bahwa perempuan ( Hawa, istri Nabi Adam ) diciptakan dari tulang rusuk. Bagian tulang yang sangat rapuh, bengkok. Jika tulang itu diluruskan maka akan patah karena kerapuhannya, begitu juga jika tulang bengkok tidak akan diluruskan maka tewaslah riwayat perempuan.
Tafsir perempuan tetang pakaian yang dapat menambah sahwat lelaki adalah bentuk keberhasilan perempuan dalam berpakaian. Pencucian otak-otak perempuan yang mampu mengubah nalar perempuan bahwa cantik harus dengan berpakaian seksi bagian dari bentuk kesalahpahaman yang perlu pelurusan.
Zaman memang sudah edan, zaman edan sudah berjalan. Ya, Amenangi zaman yang sudah edan ini semua serba sulit. Ikut edan di zaman edan pasti kita tidak tahan tetapi jika tidak ikut edan atau ngedan kita tetap nglakoni. Tetapi benarkah zamannya yang edan atau justru manusianya yang sudah mengubah zaman menjadi edan.
Orang bijak tidak mesti menjadi asin meski hidup di tengah samudra dengan air yang kadar garamnya tinggi. Bak ikan di laut bebas yang sehariannya berlumuran garam laut yang tak terbilang asinnya itu tetap saja dagingnya tawar. Perempuan yang sudah hidup di zaman edan tidak perlu ikut edan. Jika ada perempuan yang tidak pernah diperkosa karena pakaiannya sebatas menutupi puting dan vagina hanyalah bagian keberuntungan di zaman edan. Tetapi keberuntungan yang mengalahkan naluri dan mencuci otak waras masih lebih baik dengan perempuan yang masih eling dengan hakekat dan fungsi pakaian.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Nur : 31 ” Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya mereka memejamkan mata mereka dari pada yang tidak halal, dan hendaklah mereka menjaga keharmonisan mereka, janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka selain dari pada yang biasa nyata kelihatan ( sukar menutupinya), dan hendaklah mereka tutupkan kerudung ( telekung) mereka kuduk dan dada mereka, dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, bapak mereka, mertua mereka, anak mereka, anak saudara mereka, saudara perempuan, hamba mereka, atau orang yang mengikutinya kepada perempuan, atau kepada kanak-kanak yang belum nafsu melihat aurat perempuan.”
Nenek moyang dan para pendahulu kita telah mampu membaca tanda-tanda zaman sebelum hal itu terjadi. Orang-orang yang sinebut Waskita ”wong kang limpad ing budi” (orang-orang yang mampu membaca tanda zaman). Sebut saja Rangga Warsita, Jaya baya, Sunan Kalijaga telah paham tentang zaman yang bakal terjadi. Mereka pun tidak sekadar tahu tetapi, bagaimana sikap kita dalam menghadapi dekadensi generasi di zaman edan. Laku manusia agar waspada dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia yang telah memiliki paugeran hidup berupa adat istiadat, sopan santun perlukah kiranya dijaga dan diugemi agar menjadi perempuan yang dihormati.
Anak-anak muda, secara tidak terelakkan, berada dalam jerat kuasa itu. Perempuan dengan pernak-pernik busana menjadi subjek komsumerisme yang terlahir dari rahim-rahim kapitalisme yah, anak-anak ( perempuan ) akan menjadi bayi yang terjerumus dalam jurang kapitalis sejati. Busana bukan lagi bagian dari piranti mempertahankan kehormatan dan harga diri. Tubuh dan busana menjadi pernik penikmat budaya eksotis yang tmenjerumuskan dalam liang kapitalis. Produk yang tak terkait erat dengan busana justru akan terkalahkan dengan eksotisme yang mengedepankan pengkultusan tubuh dari segala predikat.
Ajining sarira saka ing busana. Pakaian dapat menunjukkan derajat atau bahkan malah mampu mamberikan pemaknaan hidup dan mengangkat kehormatan manusia sebagai pribadi, maupun makhluk ciptaan Tuhan. Atau bahkan harga diri seseorang dapat dihasilkan dari kemampuan seseorang dalam menata dan menempatkan pakaian sesuai dengan fungsi busana yang sebenar-benarnya. Pakaian dan pernak-perniknya menjadi perhelatan dalam mempertahankan , harga diri, kepribadiaan, persetubuhan dan pemerkosaan. Menjadi sebab dan akibat, dari maksud dan tujuan berbusana.
.
:
NSIDAM, NYIDAM
NGIDAM ; NYIDAM
Ketika perut mebuncit, punting membesar, perempuan sering mengalami keinginan untuk melakukan hal-hal yang tidak lumrah dilakukan. Mempunyai permintaan yang tidak nalar karena sering tidak ngitung bahkan tanpa mempertimbangkan ada atau tidak barang yang diinginksan Keinginan dan hasrat yang luar biasa untuk mendapatkan makanan, benda, atau apa saja haruslah terpenuhi, tidak bisa tidak. Bahkan tak seorang pun yang berkeinginan untuk melawan atau menentang keinginan itu. Meskipun keinginan itu terkadang merepotkan banyak orang. Permintaan yang nganeh-nganehi itu lazim disebut Nyidam. Namun keinginan perempuan untuk mendapatkan kepemilikan barang, makananan, kegiatan yang luar biasa itu tidak hanya saat hamil saja. Tetapi, istilah nyidam lebih identik dengan masa kehamilan.
Bagaimana Krisna tokoh imajiner dalam cerita kartun “ Krisna “ harus bersusah payah membuatkan jembatan untuk penyebrangan perempuan-perempuan cantik desa sebelah meskipun perempuan-perempuan cantik itu sering menggoda dan menyakiti hati Krisna itu. Tidak pula Rara Jonggran yang menyuruh .. membuatkan candi dalam waktu yang singkat, semalam. Masih banyak laki-laki yang pernah mengalami hal yang sama. Perempuan memang punya alat untuk menekan lelaki agar permintaan terpenuhi. Apalagi seorang perempuan yang sedang menyimpan benih lelaki yang sedang tumbuh kembang.
Perubahan perut yang terus menerus membesar diikuti oleh perubahan fungsi hormon kewanitaan membuat prilaku fisiologi tubuh perempuan semakin tidak lumrah. Terkadang perempuan itu, harus mutah-mutah, sering pipis, gelisah, tidak percaya diri, manja dan terus ingin didekati. Prubahan fisik maupun psikis sebagai bagian dari pelengkap ibu hamil. Ada anggapan dari beberapa orang ” gawan bayi .”Apa memang benar perempuan bertingkah begitu saat sedang hamil?
Dr Wachyu Hadisaputra SpOG mengatakan bahwa, perempuan merasakan berbagai macam keadaan yang tidak menyenangkan, atau bukan merupakan kebiasaan selama ini, merupakan hal yang wajar. Dalam istilah kesehatan, hal ini disebut Emesi Graridarium . Wujud yang paling sering muncul dari keadaan perubahan hormonal perempuan hamil itu adalah rasa mual-mual, mutah-mutah, mengantuk, malas bergerak, hingga yang tidak terbiasa seperti nyidam. Perubahan yang tidak nalar itu, terkadang membuat pusing seribu keliling itu sebenarnya merupakan akibat dari perubahan hormon human Clorionic Gonadatropin (hCG),yang dikeluarkan oleh indung telur. Hormon ini bertugas memberikan makan pada janin, sebelum plasenta terbentuk sempurna. Oleh karena memberikan langsung ke janin dengan hCG ini maka ibu akan mengalami rekasi-reaksi tertentu.
Reaksi yang muncul pada ibu hamil memang berbeda-beda, ada ibu hamil yang tidak mengalami hal yang demikian, namun ada yang terus-menerus mutah-mutah, mual hingga cairan tubuh habis maka itu yang perlu pertolongan medis. Kejadian ini yang sering disebut dengan hiper-emesis.
Bagaimana dengan keinginan seorang istri untuk menginginkan sesuatu, nyidam? Ngidam merupakan perubahan perasaan, maupun keinginan yang ” aneh” dan bisa muncul mendadak, kalu bisa sebagai seorang suami harus menuruti. Dalam hal ini perempuan hamil sangat membutuhkan pengertian suami. Sangatlah berat bagi seorang istri menjalani hari-hari kehamilannya. Dia butuh dukungan psikis dari lingkungan agar tetap merasa nyaman. Jika memang sulit dicari, carikanlah penggantinya agar istri tetap senang batuinnya.
Maka, siapa pun orangnya, jika istri saat hamil berkeinginan untuk makan buah yang sulit didapat, pastilah suami berusaha untuk memenuhin“nyidamnya “ istri. Nyidam memang sering dialami oleh perempuan hamil tetapi tidak lantas lelaki tidak mengalami Nyidam pada saat istri sedang hamil. Banyak lelaki yang mengalami hal sering dialami oleh perempuan itu. Namun itu belum terbukti secara medis, tetapi dalam ranah kebiasaan tak sedikit lelaki mengalaminya.
Dengan dalih “ gawan bayi “ lelaki mana pun tidak bekeberanian menolak hasrat biologis wanita itu. Tetapi, bagaimana jika perempuan itu menghendaki untuk dibelikan mobil, rumah mewah atau pingin diciumkan kepala SBY? Mungkinkah permintaan itu layak dipenuhi? Atau mencarikan penggantinya? Mungkin saja ya, jika yang hamil itu Anisa Pohan. Jangankan Cuma mobil, rumah mewah, seratus mobil mewah, dua ratus rumah megah pun akan dituruti. Makhlum karena memang ada cukup untuk menuruti kemauan yang bayi..
Meski demikian tidak semua perempuan nyidam neko-neko, ada yang hanya nyidam sawo, mie ayam. Mungkin karena janinnya yang ada di perut tahu diri. Ayahnya hanya seorang guru wiyata bhakti yang bergaji seratus ribu perbulan. Meski demikian sang suami pun bersusah payah untuk membelikan sawo meski hanya sawo BS ( dalam bahasa pertukangan disebut dengan istilah KW 3 atau KW 4). Tidak banyak yang baik hampir semuanya luwas dalam eufimisme bahasa disebut terlalu ranum. Jika bayi itu telah besar maka istilah itu akan diganti dengan sawo bosok.
Tak ada suami yang menolak keinginan perempuan yang sedang ngidam. Terlepas keinginan itu dari istri atau tidak, yang jelas suami atau istri tidak ada yang pingin anaknya bakal lahir dengan kondisi fisik yang sering ngeces __mengeluarkan air liur terus seperti anak idiot __ atau ngiler. Tak mengherankan jika untuk memenuhi ngidam istri harus ngitung-ngitung karena kondisi menuntut untuk ngitung. Istri pun dengan rela memakan sawo yang terlalu ranum itu.
Nyidam memang tidak sekali. Bagi perempuan yang telah berulang kali hamil, tidak sekali pula ngidamnya. Tetapi ada juga perempuan yang tidak ngidam.
Namun perihal ngidam, tidak sedikit pengalaman yang menarik bagi seorang suami atau istri sendiri. Nyidam memang tidak dapat dihindari karena nyidam merupakan perubahan alamiah bagi istri yang sedang hamil.
Perubahan hormon dan fungsi faal tubuh perempuan berpengaruh terhadap emosi maupun fungsi faal lainnya.
Kata nyidam membawa berkah.
Meski demikian ada pengalaman unik yang dimliki oleh lelaki paroh baya yang tinggal di Dukuh Gebyog Gunungpati bernama Juwandi dan Sarmin. Dua pedagang mangga itu menggunakan kata nyidam karena ketertarikan harga mangga bak harga emas. Betapa tidak terkesima mengetahui harga sekilogram mangga Rp12.000,00. Mangga yang hanya berjumlah satu atau dua buah per kilogram itu sangatlah tinggi jika dibanding dengan harga ketela pohon satu bagor ( karung). Kejadian itu bermula dari berkeinginan untuk membeli buah mangga yang masih berada di pohon tidak diperbolehkan oleh pemiliknya. Pemiliknya orang berduit itu memang tidak berniatan menjual, tetapi kerena kelihaian dua lelaki paroh baya itu beberapa buah bisa ditangannya. Tetapi tidak dengan membeli malah dikasih hanya dengan mengatakan bahwa istrinya yang hamil sedang nyidam.
Buah mangga yang berjumlah sepuluh buah dengan berat tujuh kilogram itu itu lalu di jual di pasar Johar.
Urusan nyidam tidak hanya suami yang direpotkan, ayah, ibu, adik atau siapaun pasti ikut sibuk. Anak memang gegantilaning ati, maka tidaklah mengherankan jika demi anak siapapun harus merelakan.
Seorang ayah berkeinginan agar anaknya terpenuhi kebutuhan biologis, mental agar anak mampu tumbuh kembang sempurna. Sejak dalam kandungan kedua orang tua sudah bersusah payah. Apalagi seorang istri. Seharian penuh harus kesana kemari membawa benih lelaki itu, menyimpan dan merawat. Mendoakan dan bahkan harus mempersiapkan nutrisi yang baik dan bergizi. Istri yang biasanya tidak pernah minum susu kini harus dipaksa atau terpaksa minum susu hamil. Pakaian yang biasanya sembarangan kini harus berdaster dan celana dalam berukuran besar. Kadang celana dalam pun harus berlapiskan pembalut.
Terlepas dari gawan bayi atau apa istilahnya yang jelas istri dan suami tidak berkeinginan anaknya tidak sehat. Orang tua berusaha agar anaknya tumbuh baik, sehat, normal. Istri yang berlelah-lelah itu akan berimbang dengan kesusahan istri dan suami. Namun jangan kawatir, bahwa nyidam itu akan hilang dengan sendirinya setelah usia kandungan memasuki minggu ke 14 atau ke-16. Pada saat itu plasenta terbentuk sempurna dan bisa menyediakan makanan untuk pertumbuhan janin. Indung telur pun tidak memproduksi hormon hCG.
Tidak ibu tidaklah ayah jika anaknya menginginkan sesuatu pastinya orang tua berusaha memenuhi meski tidak saat itu bisa lain waktu. Anak memang perlu perhatian meski masih dalam kandungan.
Misalkan saja dua anaknya berkelahi maka yang disalahkan yang pertama, tentunya anak yang telah besar. Anak memang harapan dan tumpuhan segalanya untuk mewariskan keturunan dan tahta. Anak adalah amanah maka sebagai orang tua harus menjaga amanah itu sampai kapanpun. Tidak hanya menjaga saat berada di kandungan, tetapi begitu lahir ditelantarkan, disiksa, diperkosa bahkan dibunuh. Yang namanya amanah haru dijaga dan diselamatkan dari mara bahaya, dari setan demit atau siapapun juga karena hanya generasi yang mampu menyelamatkan keturunan, bangsa dan negara.
Ketika perut mebuncit, punting membesar, perempuan sering mengalami keinginan untuk melakukan hal-hal yang tidak lumrah dilakukan. Mempunyai permintaan yang tidak nalar karena sering tidak ngitung bahkan tanpa mempertimbangkan ada atau tidak barang yang diinginksan Keinginan dan hasrat yang luar biasa untuk mendapatkan makanan, benda, atau apa saja haruslah terpenuhi, tidak bisa tidak. Bahkan tak seorang pun yang berkeinginan untuk melawan atau menentang keinginan itu. Meskipun keinginan itu terkadang merepotkan banyak orang. Permintaan yang nganeh-nganehi itu lazim disebut Nyidam. Namun keinginan perempuan untuk mendapatkan kepemilikan barang, makananan, kegiatan yang luar biasa itu tidak hanya saat hamil saja. Tetapi, istilah nyidam lebih identik dengan masa kehamilan.
Bagaimana Krisna tokoh imajiner dalam cerita kartun “ Krisna “ harus bersusah payah membuatkan jembatan untuk penyebrangan perempuan-perempuan cantik desa sebelah meskipun perempuan-perempuan cantik itu sering menggoda dan menyakiti hati Krisna itu. Tidak pula Rara Jonggran yang menyuruh .. membuatkan candi dalam waktu yang singkat, semalam. Masih banyak laki-laki yang pernah mengalami hal yang sama. Perempuan memang punya alat untuk menekan lelaki agar permintaan terpenuhi. Apalagi seorang perempuan yang sedang menyimpan benih lelaki yang sedang tumbuh kembang.
Perubahan perut yang terus menerus membesar diikuti oleh perubahan fungsi hormon kewanitaan membuat prilaku fisiologi tubuh perempuan semakin tidak lumrah. Terkadang perempuan itu, harus mutah-mutah, sering pipis, gelisah, tidak percaya diri, manja dan terus ingin didekati. Prubahan fisik maupun psikis sebagai bagian dari pelengkap ibu hamil. Ada anggapan dari beberapa orang ” gawan bayi .”Apa memang benar perempuan bertingkah begitu saat sedang hamil?
Dr Wachyu Hadisaputra SpOG mengatakan bahwa, perempuan merasakan berbagai macam keadaan yang tidak menyenangkan, atau bukan merupakan kebiasaan selama ini, merupakan hal yang wajar. Dalam istilah kesehatan, hal ini disebut Emesi Graridarium . Wujud yang paling sering muncul dari keadaan perubahan hormonal perempuan hamil itu adalah rasa mual-mual, mutah-mutah, mengantuk, malas bergerak, hingga yang tidak terbiasa seperti nyidam. Perubahan yang tidak nalar itu, terkadang membuat pusing seribu keliling itu sebenarnya merupakan akibat dari perubahan hormon human Clorionic Gonadatropin (hCG),yang dikeluarkan oleh indung telur. Hormon ini bertugas memberikan makan pada janin, sebelum plasenta terbentuk sempurna. Oleh karena memberikan langsung ke janin dengan hCG ini maka ibu akan mengalami rekasi-reaksi tertentu.
Reaksi yang muncul pada ibu hamil memang berbeda-beda, ada ibu hamil yang tidak mengalami hal yang demikian, namun ada yang terus-menerus mutah-mutah, mual hingga cairan tubuh habis maka itu yang perlu pertolongan medis. Kejadian ini yang sering disebut dengan hiper-emesis.
Bagaimana dengan keinginan seorang istri untuk menginginkan sesuatu, nyidam? Ngidam merupakan perubahan perasaan, maupun keinginan yang ” aneh” dan bisa muncul mendadak, kalu bisa sebagai seorang suami harus menuruti. Dalam hal ini perempuan hamil sangat membutuhkan pengertian suami. Sangatlah berat bagi seorang istri menjalani hari-hari kehamilannya. Dia butuh dukungan psikis dari lingkungan agar tetap merasa nyaman. Jika memang sulit dicari, carikanlah penggantinya agar istri tetap senang batuinnya.
Maka, siapa pun orangnya, jika istri saat hamil berkeinginan untuk makan buah yang sulit didapat, pastilah suami berusaha untuk memenuhin“nyidamnya “ istri. Nyidam memang sering dialami oleh perempuan hamil tetapi tidak lantas lelaki tidak mengalami Nyidam pada saat istri sedang hamil. Banyak lelaki yang mengalami hal sering dialami oleh perempuan itu. Namun itu belum terbukti secara medis, tetapi dalam ranah kebiasaan tak sedikit lelaki mengalaminya.
Dengan dalih “ gawan bayi “ lelaki mana pun tidak bekeberanian menolak hasrat biologis wanita itu. Tetapi, bagaimana jika perempuan itu menghendaki untuk dibelikan mobil, rumah mewah atau pingin diciumkan kepala SBY? Mungkinkah permintaan itu layak dipenuhi? Atau mencarikan penggantinya? Mungkin saja ya, jika yang hamil itu Anisa Pohan. Jangankan Cuma mobil, rumah mewah, seratus mobil mewah, dua ratus rumah megah pun akan dituruti. Makhlum karena memang ada cukup untuk menuruti kemauan yang bayi..
Meski demikian tidak semua perempuan nyidam neko-neko, ada yang hanya nyidam sawo, mie ayam. Mungkin karena janinnya yang ada di perut tahu diri. Ayahnya hanya seorang guru wiyata bhakti yang bergaji seratus ribu perbulan. Meski demikian sang suami pun bersusah payah untuk membelikan sawo meski hanya sawo BS ( dalam bahasa pertukangan disebut dengan istilah KW 3 atau KW 4). Tidak banyak yang baik hampir semuanya luwas dalam eufimisme bahasa disebut terlalu ranum. Jika bayi itu telah besar maka istilah itu akan diganti dengan sawo bosok.
Tak ada suami yang menolak keinginan perempuan yang sedang ngidam. Terlepas keinginan itu dari istri atau tidak, yang jelas suami atau istri tidak ada yang pingin anaknya bakal lahir dengan kondisi fisik yang sering ngeces __mengeluarkan air liur terus seperti anak idiot __ atau ngiler. Tak mengherankan jika untuk memenuhi ngidam istri harus ngitung-ngitung karena kondisi menuntut untuk ngitung. Istri pun dengan rela memakan sawo yang terlalu ranum itu.
Nyidam memang tidak sekali. Bagi perempuan yang telah berulang kali hamil, tidak sekali pula ngidamnya. Tetapi ada juga perempuan yang tidak ngidam.
Namun perihal ngidam, tidak sedikit pengalaman yang menarik bagi seorang suami atau istri sendiri. Nyidam memang tidak dapat dihindari karena nyidam merupakan perubahan alamiah bagi istri yang sedang hamil.
Perubahan hormon dan fungsi faal tubuh perempuan berpengaruh terhadap emosi maupun fungsi faal lainnya.
Kata nyidam membawa berkah.
Meski demikian ada pengalaman unik yang dimliki oleh lelaki paroh baya yang tinggal di Dukuh Gebyog Gunungpati bernama Juwandi dan Sarmin. Dua pedagang mangga itu menggunakan kata nyidam karena ketertarikan harga mangga bak harga emas. Betapa tidak terkesima mengetahui harga sekilogram mangga Rp12.000,00. Mangga yang hanya berjumlah satu atau dua buah per kilogram itu sangatlah tinggi jika dibanding dengan harga ketela pohon satu bagor ( karung). Kejadian itu bermula dari berkeinginan untuk membeli buah mangga yang masih berada di pohon tidak diperbolehkan oleh pemiliknya. Pemiliknya orang berduit itu memang tidak berniatan menjual, tetapi kerena kelihaian dua lelaki paroh baya itu beberapa buah bisa ditangannya. Tetapi tidak dengan membeli malah dikasih hanya dengan mengatakan bahwa istrinya yang hamil sedang nyidam.
Buah mangga yang berjumlah sepuluh buah dengan berat tujuh kilogram itu itu lalu di jual di pasar Johar.
Urusan nyidam tidak hanya suami yang direpotkan, ayah, ibu, adik atau siapaun pasti ikut sibuk. Anak memang gegantilaning ati, maka tidaklah mengherankan jika demi anak siapapun harus merelakan.
Seorang ayah berkeinginan agar anaknya terpenuhi kebutuhan biologis, mental agar anak mampu tumbuh kembang sempurna. Sejak dalam kandungan kedua orang tua sudah bersusah payah. Apalagi seorang istri. Seharian penuh harus kesana kemari membawa benih lelaki itu, menyimpan dan merawat. Mendoakan dan bahkan harus mempersiapkan nutrisi yang baik dan bergizi. Istri yang biasanya tidak pernah minum susu kini harus dipaksa atau terpaksa minum susu hamil. Pakaian yang biasanya sembarangan kini harus berdaster dan celana dalam berukuran besar. Kadang celana dalam pun harus berlapiskan pembalut.
Terlepas dari gawan bayi atau apa istilahnya yang jelas istri dan suami tidak berkeinginan anaknya tidak sehat. Orang tua berusaha agar anaknya tumbuh baik, sehat, normal. Istri yang berlelah-lelah itu akan berimbang dengan kesusahan istri dan suami. Namun jangan kawatir, bahwa nyidam itu akan hilang dengan sendirinya setelah usia kandungan memasuki minggu ke 14 atau ke-16. Pada saat itu plasenta terbentuk sempurna dan bisa menyediakan makanan untuk pertumbuhan janin. Indung telur pun tidak memproduksi hormon hCG.
Tidak ibu tidaklah ayah jika anaknya menginginkan sesuatu pastinya orang tua berusaha memenuhi meski tidak saat itu bisa lain waktu. Anak memang perlu perhatian meski masih dalam kandungan.
Misalkan saja dua anaknya berkelahi maka yang disalahkan yang pertama, tentunya anak yang telah besar. Anak memang harapan dan tumpuhan segalanya untuk mewariskan keturunan dan tahta. Anak adalah amanah maka sebagai orang tua harus menjaga amanah itu sampai kapanpun. Tidak hanya menjaga saat berada di kandungan, tetapi begitu lahir ditelantarkan, disiksa, diperkosa bahkan dibunuh. Yang namanya amanah haru dijaga dan diselamatkan dari mara bahaya, dari setan demit atau siapapun juga karena hanya generasi yang mampu menyelamatkan keturunan, bangsa dan negara.
Ibu, Pendidik Sepanjang Hayat
Pekerjaan ibu rumah tangga tidak lagi pilihan terakhir dari perjalanan sebuah karir perempuan. Melainkan sebuah pilihan cerdas dari sebuah pekerjaan yang merupakan profesi, maka tidaklah mengherankan jika pekerjaan itu tidak lagi dipandang sebelah mata.
Terlepas dari kodrat perempuan, profesi ibu rumah tangga tidak sekadar pekerjaan asal-asalan yang hanya berlingkup pada masak, manak, macak. Perempuan meski harus cakap kuliner, seksi, memberikan keturunan tidaklah lengkap jika belum mampu mewariskan budaya luhur bangsa kepada anak-anaknya.
Ibulah orang pertama kali mengajarkan cara berbicara, menghitung jari tangan, mengekspresikan rasa kasih sayang. Mengenalkan jenis kelamin, mengajarkan adat istiadat, sopan santun, dan tata krama yang berlaku dimasyarakat sekitar. Maka sebutan ”Al Ummu madrasatul ula, iza a’dadta sya’ban thayyibal a’raq” ibu adalah pendidik utama, bila engkau mempersiapkan dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Ya, sangat tepat karena keberadaan seorang ibu sebagai pendidik tidak mengenal ruang dan waktu, kapan saja dan dimana saja berada.
Tidaklah salah, jika ibu yang pertama kali meneteskan air mata, mendengar anak terkasih terjerumus tindak pidana. Melainkan sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dari kegagalan sebuah usaha yang telah menghabiskan seluruh atau sebagian energi yang dimilikinya. Pun bisa tangis ibu sebagai bentuk keterharuan hati menyaksikan keberhasilan anak. karena si buah hatinya mendapatkan prestasi akademik, karier, atau menjadi isteri yang baik bagi suami-suami. Kebanggaan seorang ibu tidak lagi terukur oleh berapa jumlah rupiah yang dihasilkan dari jerih payahnya melainkan, Bagaimana seorang ibu mampu menciptakan generasi Khoirul Umah bagi kelangsungan hidup sebuah kaum, bangsa?
Persitegangan peran ibu sebagai wanita karir dan ibu rumahtangga_pendidik_ dalam keluarga sangatlah mengganggu pikiran sebagian perempuan. Meski karir perempuan setinggi langit, perdebatan tak perlu menjauhkan jarak perempuan sebagai pendidik. Kematian Merilyn Monroe, merupakan bentuk penyesalan dari popularitas perempuan yang tidak mampu menjadi ibu rumah tangga, pendidik untuk anak-anaknya. Peran ibu dalam rumah tangga menjadi poros, penyatu rasa kasih sayang. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna (Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei).
Dikotomi perempuan sebagai sebuah kaum yang hanya dieksploitasi lawan jenis untuk meningkatkan nafsu sahwat atau menjual produk unggulnya agar laris manis di pasaran, hanyalah usaha untuk meletakkan posisi tawar perempuan sebagai kaum lemah, tanpa daya, yang mudah diperbudak oleh kepentingan kapitalis.
Peran ibu sebagai pendidik dalam keluarga menempatkan perempuan pada posisi tawar yang sangat tinggi. Apalagi posisi ibu rumah tangga sebagai pendidik bukanlah pekerjaan mudah, sepele, remeh temeh. Melainkan sebuah profesi yang membutuh persyaratan sebagai pelengkap penyandang profesi untuk menjalankan tanggung jawab agar mendapatkan hasil sebuah pencapain indikator, Following a line of conduct as though it were a profession, tanggung jawab yang harus dikerjakan dari sebuah profesi.
Meskipun tugas rumah merupakan peran kolektif, anak cenderung lebih dekat, manja, dan terbuka, dengan seorang ibu. Bahasa ibulah menjadi komunikasi awal dari anak untuk mengenal simbul-simbul kebenaran, tata krama yang berlaku di sekitarnya.
Pendidikan memang kunci kemajuan bangsa ( Fukuzawa ukichi). Namun pendidikan yang mana? Apakah pendidikan formal di sekolah saja yang dimaksud oleh Bapak Pendidikan Moderen itu. Mestinya tidak, Ki Hajar Dewantara secara tegas mengatakan bahwa pendidikan tidak hanya di sekolah melainkan di rumah, dan masyarakat. Lebih-lebih pendidikan sikap, karakter, di rumahlah yang sangat berpengaruh.
Bentuk perlakuan yang diterima oleh anak dari orang tua akan menentukan kualitas kepribadian dan moral anak. Pengaruh dari orang tua waktu kecil akan membekas sangat mendalam dalam memori anak. Seseorang memiliki kepribadian yang rapuh, lemah, terbentuk karena kurang memperoleh kasih sayang, kurang rasa aman, akibat pemanjaan. Sebaliknya, orang yang memiliki kepribadian yang kuat terbentuk karena pemberian kasih sayang, kehangatan jiwa dan pemberian aktivitas, life skill pada anak.
Pencapaian hasil yang demikian tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dalam membentuk moral maupun pemahaman agama, orang tua harus mampu menjalin kualitas hubungan dan komunikasi dalam keluarga. Baik komunikasi pada tingkat feeling/ emosi, maupun pada tingkat rasio/logika. Anak tidak sekadar memperoleh jawaban ”ora ilok ”_ tidak boleh _ melainkan seorang ibu harus mampu menggunakan logika untuk menjelaskan kata ”ora ilok” tersebut. Ya, memang pada komunikasi tingkat rasio/logika, seorang ibu harus mampu mengajak anak untuk mengunakan rasio dalam memecahkan problem hidupnya. Lain dengan komunikasi pada tingkat feeling, seorang ibu harus mampu mangajak anak untuk mampu memahami perasaan orang, berempati, tanpa larut dalam emosinya.
Perempuan memang makhluk yang perlu memperoleh penghormatan dan pemulian yang layak manakala seorang perempuan mempunyai kelayakan. Semakin layak jika perempuan itu mampu menciptakan tiga struktur rumah tangga, seperti yang diungkapkan oleh Syeikh Muhammad Al-Ghazali, yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah. Ibu yang selalu puas hati, setia dengannya, mampu menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya, berakhlak mulia serta tahu bersyukur.
Keberhasilan dalam menanamkan karakter, moral dan agama anak tidak mungkin dihasilkan oleh ibu yang berhati batu, mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggung jawab. Perempuan yang demikian tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia. Apalagi tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia.
Permintaan Ibunda Kartini yang ditulis dalam buku Door Duisternis tot Linctht, menyebutkan bahwa, Kami meminta dengan sangat supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan kami.... sangat yakin akan berpengaruh besar yang mungkin datang dari kaum perempuan.... hendak menjadikan perempuan lebih cakap melakukan kewajiban, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidi manusia yang pertama-tama.
Berat, mulia, peran ibu dalam mendidik anak. Ibu sebagai pendidik tak pernah mengenal batas waktu dan ruang, tak pernah pesnsiun. Dimana saja dan kapan saja. Ibu selalu menemani, mendamping, membimbing anak bahkan dari sejak dalam rahim. Meski anaknya sudah berkeluarga, hati seorang ibu akan terluka tatkala melihat anaknya melakukan kejahatan, menangis mendengar sang anak pindah keyakinan, meronta tak kala melihat anaknya durhaka. Masihkah ada orang yang menyebut pekerjaan ibu rumahtangga sebagai profesi remeh-temeh dan hina?
Terlepas dari kodrat perempuan, profesi ibu rumah tangga tidak sekadar pekerjaan asal-asalan yang hanya berlingkup pada masak, manak, macak. Perempuan meski harus cakap kuliner, seksi, memberikan keturunan tidaklah lengkap jika belum mampu mewariskan budaya luhur bangsa kepada anak-anaknya.
Ibulah orang pertama kali mengajarkan cara berbicara, menghitung jari tangan, mengekspresikan rasa kasih sayang. Mengenalkan jenis kelamin, mengajarkan adat istiadat, sopan santun, dan tata krama yang berlaku dimasyarakat sekitar. Maka sebutan ”Al Ummu madrasatul ula, iza a’dadta sya’ban thayyibal a’raq” ibu adalah pendidik utama, bila engkau mempersiapkan dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Ya, sangat tepat karena keberadaan seorang ibu sebagai pendidik tidak mengenal ruang dan waktu, kapan saja dan dimana saja berada.
Tidaklah salah, jika ibu yang pertama kali meneteskan air mata, mendengar anak terkasih terjerumus tindak pidana. Melainkan sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dari kegagalan sebuah usaha yang telah menghabiskan seluruh atau sebagian energi yang dimilikinya. Pun bisa tangis ibu sebagai bentuk keterharuan hati menyaksikan keberhasilan anak. karena si buah hatinya mendapatkan prestasi akademik, karier, atau menjadi isteri yang baik bagi suami-suami. Kebanggaan seorang ibu tidak lagi terukur oleh berapa jumlah rupiah yang dihasilkan dari jerih payahnya melainkan, Bagaimana seorang ibu mampu menciptakan generasi Khoirul Umah bagi kelangsungan hidup sebuah kaum, bangsa?
Persitegangan peran ibu sebagai wanita karir dan ibu rumahtangga_pendidik_ dalam keluarga sangatlah mengganggu pikiran sebagian perempuan. Meski karir perempuan setinggi langit, perdebatan tak perlu menjauhkan jarak perempuan sebagai pendidik. Kematian Merilyn Monroe, merupakan bentuk penyesalan dari popularitas perempuan yang tidak mampu menjadi ibu rumah tangga, pendidik untuk anak-anaknya. Peran ibu dalam rumah tangga menjadi poros, penyatu rasa kasih sayang. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna (Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei).
Dikotomi perempuan sebagai sebuah kaum yang hanya dieksploitasi lawan jenis untuk meningkatkan nafsu sahwat atau menjual produk unggulnya agar laris manis di pasaran, hanyalah usaha untuk meletakkan posisi tawar perempuan sebagai kaum lemah, tanpa daya, yang mudah diperbudak oleh kepentingan kapitalis.
Peran ibu sebagai pendidik dalam keluarga menempatkan perempuan pada posisi tawar yang sangat tinggi. Apalagi posisi ibu rumah tangga sebagai pendidik bukanlah pekerjaan mudah, sepele, remeh temeh. Melainkan sebuah profesi yang membutuh persyaratan sebagai pelengkap penyandang profesi untuk menjalankan tanggung jawab agar mendapatkan hasil sebuah pencapain indikator, Following a line of conduct as though it were a profession, tanggung jawab yang harus dikerjakan dari sebuah profesi.
Meskipun tugas rumah merupakan peran kolektif, anak cenderung lebih dekat, manja, dan terbuka, dengan seorang ibu. Bahasa ibulah menjadi komunikasi awal dari anak untuk mengenal simbul-simbul kebenaran, tata krama yang berlaku di sekitarnya.
Pendidikan memang kunci kemajuan bangsa ( Fukuzawa ukichi). Namun pendidikan yang mana? Apakah pendidikan formal di sekolah saja yang dimaksud oleh Bapak Pendidikan Moderen itu. Mestinya tidak, Ki Hajar Dewantara secara tegas mengatakan bahwa pendidikan tidak hanya di sekolah melainkan di rumah, dan masyarakat. Lebih-lebih pendidikan sikap, karakter, di rumahlah yang sangat berpengaruh.
Bentuk perlakuan yang diterima oleh anak dari orang tua akan menentukan kualitas kepribadian dan moral anak. Pengaruh dari orang tua waktu kecil akan membekas sangat mendalam dalam memori anak. Seseorang memiliki kepribadian yang rapuh, lemah, terbentuk karena kurang memperoleh kasih sayang, kurang rasa aman, akibat pemanjaan. Sebaliknya, orang yang memiliki kepribadian yang kuat terbentuk karena pemberian kasih sayang, kehangatan jiwa dan pemberian aktivitas, life skill pada anak.
Pencapaian hasil yang demikian tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dalam membentuk moral maupun pemahaman agama, orang tua harus mampu menjalin kualitas hubungan dan komunikasi dalam keluarga. Baik komunikasi pada tingkat feeling/ emosi, maupun pada tingkat rasio/logika. Anak tidak sekadar memperoleh jawaban ”ora ilok ”_ tidak boleh _ melainkan seorang ibu harus mampu menggunakan logika untuk menjelaskan kata ”ora ilok” tersebut. Ya, memang pada komunikasi tingkat rasio/logika, seorang ibu harus mampu mengajak anak untuk mengunakan rasio dalam memecahkan problem hidupnya. Lain dengan komunikasi pada tingkat feeling, seorang ibu harus mampu mangajak anak untuk mampu memahami perasaan orang, berempati, tanpa larut dalam emosinya.
Perempuan memang makhluk yang perlu memperoleh penghormatan dan pemulian yang layak manakala seorang perempuan mempunyai kelayakan. Semakin layak jika perempuan itu mampu menciptakan tiga struktur rumah tangga, seperti yang diungkapkan oleh Syeikh Muhammad Al-Ghazali, yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah. Ibu yang selalu puas hati, setia dengannya, mampu menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya, berakhlak mulia serta tahu bersyukur.
Keberhasilan dalam menanamkan karakter, moral dan agama anak tidak mungkin dihasilkan oleh ibu yang berhati batu, mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggung jawab. Perempuan yang demikian tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia. Apalagi tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia.
Permintaan Ibunda Kartini yang ditulis dalam buku Door Duisternis tot Linctht, menyebutkan bahwa, Kami meminta dengan sangat supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan kami.... sangat yakin akan berpengaruh besar yang mungkin datang dari kaum perempuan.... hendak menjadikan perempuan lebih cakap melakukan kewajiban, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidi manusia yang pertama-tama.
Berat, mulia, peran ibu dalam mendidik anak. Ibu sebagai pendidik tak pernah mengenal batas waktu dan ruang, tak pernah pesnsiun. Dimana saja dan kapan saja. Ibu selalu menemani, mendamping, membimbing anak bahkan dari sejak dalam rahim. Meski anaknya sudah berkeluarga, hati seorang ibu akan terluka tatkala melihat anaknya melakukan kejahatan, menangis mendengar sang anak pindah keyakinan, meronta tak kala melihat anaknya durhaka. Masihkah ada orang yang menyebut pekerjaan ibu rumahtangga sebagai profesi remeh-temeh dan hina?
MEMAHAMI KODRAT PEREMPUAN
Berbicara masalah kodrat perempuan, kita tak bisa begitu saja memaknai istilah tersebut tanpa menijau lebih dalam tentang pengertian kodrat. Penggunaan kata kodrat – yang sering terjadi – dipahami sebagi ketentuan yang telah digariskan oleh Tuhan. Pemilik kodrat sudah tidak mampu berbuat banyak, tinggal menerima dan menjalani ketentuan yang sudah digariskan. Tetapi, benarkah demikian?
Jika kodrat dipahami sebagai takdir – apa yang telah ditentukan oleh Tuhan – maka perempuan sebagai pemilik kodrat tidak mampu mengelak dari kodrat sebagai perempuan? Kodrat dan takdir itu dapat dimaknai sebagai kekuatan yang datangnya dari sang pencipta. Namun tak kala pemaknaan itu merujuk pada pengertian kodrat merupakan kata yang bersinonim dengan takdir yang bermuara pada kekuasaan ( mutlak ) Tuhan Yang Maha Esa. Perempuan sebagai objek, yang tak mampu berbuat banyak tentang kodrat sebagai perempuan.
Benarkah kodrat perempuan sama dengan takdir perempuan? Pertanyaan itu muncul karena apa yang menjadi kodrat perempuan baik menurut adat istiadat maupun agama sekaligus menjadi takdir perempuan. Perempuan seolah-olah sudah “ ginaris “ ada semacam tembok kuat yang memagar dan tak mungkin dijebol oleh siapapun termasuk perempuan sendiri.,
Kodrat merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arap (quadrah) yang berarti kemampuan, kekuasaan, atau sifat bawaan yang menunjukkan adanya sikap keterlibatan secara aktif dari si pelaku terhadap apa yang bisa dan dapat dilakukannya sendiri, tanpa bergantung atau terkait dengan selain dirinya. Jika dipahami, subyek dari pemilik takdir dan kodrat berbeda. Takdir dipahami sebagai kekuasaan (mutlak) Tuhan. Bandingkan dengan takdir kematian, misalnya, apakah ada yang mampu mengelak? Bagaimana dengan kodrat perempuan?
Kodrat pelaku ( perempuan ) tidak harus tunduk pada pelarangan-pelarangan, sehingga perempuan terjebak pada batasan-batasan yang sesungguhnya bukan ketentuan mutlak yang diperlakukan atas perempuan. Pemahaman perempuan dari kata kodrat maka perempuan sebagai subjek yang boleh saja mengabaikan pelarangan itu dengan melihat jauh ke depan secara seimbang pada persepsi kemampuan individu perempuan. Perempuan bukan lagi terposisikan subordinatif dari laki-laki dan tersisihkan dari sebagian peran-peran sosial budaya di masyarakat. Kemampuan, menjadi otak dalam menggerakkan segala potensi perempuan sebagai subjek yang semata-mata bukan berkah atau pemberian dari Tuhan melainkan hasil dari konstruksi sosial-budaya masyarakat yang penuh dengan muatan muatan budaya sendiri atau bahkan muatan politik. Jika perempuan menempatkan diri sebagai individu yang dapat melepaskan diri dari batasan-batasn tradisi yang mengekang karena mempuanyai kepercayaan yang didasari dari kemampuan berfikir sangatlah menentukan seberapa besar ia mampu melakukan sesuatu yang ingin ia lakukan. Kodrat yang dipahami sebagai takdir justru akan menjadikan perempuan tidak berkuasa untuk melakukan apa yang ia inginkan, semua terikat dengan ketentuan ( mutlak ) Tuhan.
Asumsi perempuan sebagai makhluk yang penuh dengan batasan-batasan atau pelarangan-pelarangan merupakan perbedaan peran secara genetis. Kodrat sebagai perempuan yang dipahami sebagai takdir perempuan dengan batasan peran sosial budaya , pemangku peran domistik secara penuh, adalah bagian dari kesalahpahaman pemaknaan kodrat dan takdir. Jika makhluk yang bervagina dikodratkan sebagai perempuan, tidaklah ada perempuan yang bercelana panjang dan berkaos oblong karena itu pakaian untuk makhluk yang berkodrat laki-laki. Atau perempuan harus memakai kebaya, stagen, dan jarit sebagai pakaian resmi prempuan. Perempuan tiap hari haruslah menjadi koki di dapur, mencuci baju atau piring tak boleh berkarir di sektor publik karena pekerjaan itu dipahami sebagai pekerjaan untuk makhluk yang dikodratkan sebagai laki-laki.
Perempuan menurut kodratnya adalah pemikul beban kerja di sektor domistik ( rumah tangga ) adalah tepat mengingat perempuan dikodratkan sebagai ibu rumah tangga. Pendapat itu memang benar jika kodrat dimaknai sebagai takdir. Siapa yang mampu mengubah takdir? Tidaklah bijak jika garis kodrat di pahami sebagai takdir yang hanya menyudutkan perempuan sebagai obyek pemikul tanggung jawab domistik. Perempuan sudah diberi kesempatan untuk menentukan pilihan sebagai bagian dari emansipasi wanita atau persamaan gender. Sudah banyak perempuan yang sudah bekerja di sektor pelayanan publik, menjadi menteri, anggota dewan, bahkan menjadi presiden
Pemaknaan kodrat perempuan hanya sebatas atribut gender tidak lebih dari itu. Bayi yang dilahirkan bervagina berkodrat menjadi perempuan begitu juga sebaliknya. Sebagai perempuan mempunyai kodrat mengandung, melahirkan dan menyusui. Tetapi pada pemaknaan gender assignment, perempuan tidak lagi terbatas perannya. Jika peran gender perempuan sebatas ibu rumah tangga, bukankah hal yang demikian justru akan merugikan perempuan sendiri?. Bagaimana tidak ? Kehidupan sosial budaya sudah begitu kuat mengkontruksikan perempuan sebagai pemilik resmi pekerjaan domistik. Sedangkan di sisi lain telah bertumpuk-tumpuk larangan-larangan yang harus diyakini untuk tidak dilakukan. Bukankah terlalu sempit kesempatan perempuan untuk berkiprah? Bagaimana seorang istri yang mampu mencari nafkah tetapi harus berbenturan dengan tradisi atau kodrat sebagai pekerja domistik, sementara suami setia menganggur. Apakah istri tidak boleh menentang kodrat dalam arti peran? Bisa mati kelaparan anak dan suami.
Jika peluang ini tidak lagi direspon oleh perempuan sebagai kesempatan untuk membebaskan diri dari pengekangan tradisi, perempuan akan terjebak pada kesulitan-kesulitan. Mengingat peluang berkiprah lebih banyak dari laki-laki.
Di negara dengan budaya, tradisi serta pertalian kekerabatan yang berbeda menjadikan pemahaman kodrat sebagai beban gender yang berbeda pula. Tatkala masyarakat menganut pertalian patrilinela, peran domistik perempuan lebih dominan sedangkan peran sektor publik laki-lakilah yang berkuasa. Lain lagi jika pertalian kekerabatan menganut matrilineal beban gender seorang perempuan lebih banyak. Jika sudah denikian kesempatan untuk menentukan pilihan sangat susah. Bukankah beban gender bukan bagian dari pilihan? Tidak mampukah perempuan untuk menjadi pilot, tentara, sopir atau profesi lain yang dianggap tabu untuk perempuan.
Memang, terkadang pengertian kodrat perempuan jika dipahami dari atribut gender sekalipun memunculkan pengertian bias pula. Lihat saja para lelaki yang mengikuti Be Man di sebuah stasiun televisi swasta itu meski berpenis dan berotot kuat tidak lagi bagian dari perempuan ( fermaleness). Benarkah orang-oarang demikian itu telah menyalahi kodrat? Atau menjadi perempuan dan laki-laki tidak bagian dari sebuah kodrat? Atau sebaliknya kita dapat menentukan sendiri jenis kelamin?
Orang berpenis dan berotot kuat seharusnya menyandang kodrat laki-laki sedangkan bayi yang dilahirkan bervagina dikodratkan sebagai perempuan. Namun dalam kenyataan tidak lagi demikian. Sudah banyak bayi yang berpenis dan bersuara keras itu harus berjalan berlenggak lenggok dengan payu dara montok. Bibir berlipstik, dandan menor meski bulu kaki panjang-panjang tetap saja marak jika dipanggil Mas Bamabang. Malah lebih senang kalau dipanggil Sinta atau Berta Hutagalung. Benarkah menjadi laki-laki ( to be a male ) atau perempuan (to be a femeleb ) merupakan pilihan meski atribut biologisnya tidak sesuai dengan pengertian laki-laki atau perempuan.
Tidaklah mudah memang mengidentifikasi identitas gender karena tidak semua orang menampilkan diri menurut atribut gender yang lazim dalam masyarakat. Orang tidak dapat begitu saja mengatakan laki-laki atau perempuan jika hanya melihat ciri fifik yang lazim sebagai batasan dari masyarakat.
Perempuan memang bervagina, tetapi tidak lantas perempuan harus berada pada posisi tawar sebagai pemikul beban gender dengan hanya berkecimpung pada sektor domistik. Pemahaman ini perlu pelurusan agar perempuan tidak terjebak pada pemaknaan kodrat sebagai hal yang mutlak. Perempuan sebagai obyek dari tafsir kodrat yang layak seperti takdir. Perempuan punya kuasa sebab pengetengahan patriarki hanya dikotomi tradisi yang tidak mutlak adanya.
Jika kodrat dipahami sebagai takdir – apa yang telah ditentukan oleh Tuhan – maka perempuan sebagai pemilik kodrat tidak mampu mengelak dari kodrat sebagai perempuan? Kodrat dan takdir itu dapat dimaknai sebagai kekuatan yang datangnya dari sang pencipta. Namun tak kala pemaknaan itu merujuk pada pengertian kodrat merupakan kata yang bersinonim dengan takdir yang bermuara pada kekuasaan ( mutlak ) Tuhan Yang Maha Esa. Perempuan sebagai objek, yang tak mampu berbuat banyak tentang kodrat sebagai perempuan.
Benarkah kodrat perempuan sama dengan takdir perempuan? Pertanyaan itu muncul karena apa yang menjadi kodrat perempuan baik menurut adat istiadat maupun agama sekaligus menjadi takdir perempuan. Perempuan seolah-olah sudah “ ginaris “ ada semacam tembok kuat yang memagar dan tak mungkin dijebol oleh siapapun termasuk perempuan sendiri.,
Kodrat merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arap (quadrah) yang berarti kemampuan, kekuasaan, atau sifat bawaan yang menunjukkan adanya sikap keterlibatan secara aktif dari si pelaku terhadap apa yang bisa dan dapat dilakukannya sendiri, tanpa bergantung atau terkait dengan selain dirinya. Jika dipahami, subyek dari pemilik takdir dan kodrat berbeda. Takdir dipahami sebagai kekuasaan (mutlak) Tuhan. Bandingkan dengan takdir kematian, misalnya, apakah ada yang mampu mengelak? Bagaimana dengan kodrat perempuan?
Kodrat pelaku ( perempuan ) tidak harus tunduk pada pelarangan-pelarangan, sehingga perempuan terjebak pada batasan-batasan yang sesungguhnya bukan ketentuan mutlak yang diperlakukan atas perempuan. Pemahaman perempuan dari kata kodrat maka perempuan sebagai subjek yang boleh saja mengabaikan pelarangan itu dengan melihat jauh ke depan secara seimbang pada persepsi kemampuan individu perempuan. Perempuan bukan lagi terposisikan subordinatif dari laki-laki dan tersisihkan dari sebagian peran-peran sosial budaya di masyarakat. Kemampuan, menjadi otak dalam menggerakkan segala potensi perempuan sebagai subjek yang semata-mata bukan berkah atau pemberian dari Tuhan melainkan hasil dari konstruksi sosial-budaya masyarakat yang penuh dengan muatan muatan budaya sendiri atau bahkan muatan politik. Jika perempuan menempatkan diri sebagai individu yang dapat melepaskan diri dari batasan-batasn tradisi yang mengekang karena mempuanyai kepercayaan yang didasari dari kemampuan berfikir sangatlah menentukan seberapa besar ia mampu melakukan sesuatu yang ingin ia lakukan. Kodrat yang dipahami sebagai takdir justru akan menjadikan perempuan tidak berkuasa untuk melakukan apa yang ia inginkan, semua terikat dengan ketentuan ( mutlak ) Tuhan.
Asumsi perempuan sebagai makhluk yang penuh dengan batasan-batasan atau pelarangan-pelarangan merupakan perbedaan peran secara genetis. Kodrat sebagai perempuan yang dipahami sebagai takdir perempuan dengan batasan peran sosial budaya , pemangku peran domistik secara penuh, adalah bagian dari kesalahpahaman pemaknaan kodrat dan takdir. Jika makhluk yang bervagina dikodratkan sebagai perempuan, tidaklah ada perempuan yang bercelana panjang dan berkaos oblong karena itu pakaian untuk makhluk yang berkodrat laki-laki. Atau perempuan harus memakai kebaya, stagen, dan jarit sebagai pakaian resmi prempuan. Perempuan tiap hari haruslah menjadi koki di dapur, mencuci baju atau piring tak boleh berkarir di sektor publik karena pekerjaan itu dipahami sebagai pekerjaan untuk makhluk yang dikodratkan sebagai laki-laki.
Perempuan menurut kodratnya adalah pemikul beban kerja di sektor domistik ( rumah tangga ) adalah tepat mengingat perempuan dikodratkan sebagai ibu rumah tangga. Pendapat itu memang benar jika kodrat dimaknai sebagai takdir. Siapa yang mampu mengubah takdir? Tidaklah bijak jika garis kodrat di pahami sebagai takdir yang hanya menyudutkan perempuan sebagai obyek pemikul tanggung jawab domistik. Perempuan sudah diberi kesempatan untuk menentukan pilihan sebagai bagian dari emansipasi wanita atau persamaan gender. Sudah banyak perempuan yang sudah bekerja di sektor pelayanan publik, menjadi menteri, anggota dewan, bahkan menjadi presiden
Pemaknaan kodrat perempuan hanya sebatas atribut gender tidak lebih dari itu. Bayi yang dilahirkan bervagina berkodrat menjadi perempuan begitu juga sebaliknya. Sebagai perempuan mempunyai kodrat mengandung, melahirkan dan menyusui. Tetapi pada pemaknaan gender assignment, perempuan tidak lagi terbatas perannya. Jika peran gender perempuan sebatas ibu rumah tangga, bukankah hal yang demikian justru akan merugikan perempuan sendiri?. Bagaimana tidak ? Kehidupan sosial budaya sudah begitu kuat mengkontruksikan perempuan sebagai pemilik resmi pekerjaan domistik. Sedangkan di sisi lain telah bertumpuk-tumpuk larangan-larangan yang harus diyakini untuk tidak dilakukan. Bukankah terlalu sempit kesempatan perempuan untuk berkiprah? Bagaimana seorang istri yang mampu mencari nafkah tetapi harus berbenturan dengan tradisi atau kodrat sebagai pekerja domistik, sementara suami setia menganggur. Apakah istri tidak boleh menentang kodrat dalam arti peran? Bisa mati kelaparan anak dan suami.
Jika peluang ini tidak lagi direspon oleh perempuan sebagai kesempatan untuk membebaskan diri dari pengekangan tradisi, perempuan akan terjebak pada kesulitan-kesulitan. Mengingat peluang berkiprah lebih banyak dari laki-laki.
Di negara dengan budaya, tradisi serta pertalian kekerabatan yang berbeda menjadikan pemahaman kodrat sebagai beban gender yang berbeda pula. Tatkala masyarakat menganut pertalian patrilinela, peran domistik perempuan lebih dominan sedangkan peran sektor publik laki-lakilah yang berkuasa. Lain lagi jika pertalian kekerabatan menganut matrilineal beban gender seorang perempuan lebih banyak. Jika sudah denikian kesempatan untuk menentukan pilihan sangat susah. Bukankah beban gender bukan bagian dari pilihan? Tidak mampukah perempuan untuk menjadi pilot, tentara, sopir atau profesi lain yang dianggap tabu untuk perempuan.
Memang, terkadang pengertian kodrat perempuan jika dipahami dari atribut gender sekalipun memunculkan pengertian bias pula. Lihat saja para lelaki yang mengikuti Be Man di sebuah stasiun televisi swasta itu meski berpenis dan berotot kuat tidak lagi bagian dari perempuan ( fermaleness). Benarkah orang-oarang demikian itu telah menyalahi kodrat? Atau menjadi perempuan dan laki-laki tidak bagian dari sebuah kodrat? Atau sebaliknya kita dapat menentukan sendiri jenis kelamin?
Orang berpenis dan berotot kuat seharusnya menyandang kodrat laki-laki sedangkan bayi yang dilahirkan bervagina dikodratkan sebagai perempuan. Namun dalam kenyataan tidak lagi demikian. Sudah banyak bayi yang berpenis dan bersuara keras itu harus berjalan berlenggak lenggok dengan payu dara montok. Bibir berlipstik, dandan menor meski bulu kaki panjang-panjang tetap saja marak jika dipanggil Mas Bamabang. Malah lebih senang kalau dipanggil Sinta atau Berta Hutagalung. Benarkah menjadi laki-laki ( to be a male ) atau perempuan (to be a femeleb ) merupakan pilihan meski atribut biologisnya tidak sesuai dengan pengertian laki-laki atau perempuan.
Tidaklah mudah memang mengidentifikasi identitas gender karena tidak semua orang menampilkan diri menurut atribut gender yang lazim dalam masyarakat. Orang tidak dapat begitu saja mengatakan laki-laki atau perempuan jika hanya melihat ciri fifik yang lazim sebagai batasan dari masyarakat.
Perempuan memang bervagina, tetapi tidak lantas perempuan harus berada pada posisi tawar sebagai pemikul beban gender dengan hanya berkecimpung pada sektor domistik. Pemahaman ini perlu pelurusan agar perempuan tidak terjebak pada pemaknaan kodrat sebagai hal yang mutlak. Perempuan sebagai obyek dari tafsir kodrat yang layak seperti takdir. Perempuan punya kuasa sebab pengetengahan patriarki hanya dikotomi tradisi yang tidak mutlak adanya.
Langganan:
Postingan (Atom)