Senin, 28 Februari 2011

Perempuan Korban Kekerasan Gender

Perempuan Korban Kekerasan Gender

Betapa mirisnya siang itu tatkala terdengar lantunan sajak-sajak Burung Burung Bersayap Air,

“…….Hidup terlalu pendek, tiba sawah tak menghidupkan, menjual tubuh selayak sarjana menjual otak, sambil diranjam cerca sepanjang masa, hidup terlalu pendek, diperkosa pembeli, dipajakin penguasa, sambil meneteki tukang ojek, tukang warung dan pemilik losmen, hidup terlalu pendek, berkelompok agar tak gugur, berteater mengajak warga melek pinta mereka, sambil ditunggu uang susu sama anak, uang rokok sama suami, …..hidup terlau pendek ….”

Pagi itu terus berjalan, perempuan itu tetap bertahan, mengepalkan tangan, menyusun kekuatan. Hadir ditengah-tengah mereka beberapa pejuang untuk perempuan seperti, LSM APIK, LRC-KJHAM ( Legal resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi manusia), dan masih banyak lagi perempuan muda yang berapi-api melantangkan suara di tengah gerombolan itu.

Disana terjadi pertumpahan pikiran untuk mengajak perempuan berserikat atau sekadar mencurahkan kegelisahannya. Dan barang kali itu yang aku tangkap. Yah, perempuan itu memang terbangun setelah lama ditidurkan atau bahkan terhasut oleh janji dan mimpi. Terlihat perkasa, maklum, perempuan itu memang otaknya pintar dan luas pengalaman. Pengalaman sebagai buruh migran atau bahkan korban perkosaan.

Sebagai perempuan tangguh seperti Dewi Nova pejuang gender sekaligus penulis sajak-sajak yang kali itu sedang dibedah. Tak terbesit luka atau tak terdengar tangis meski laporan kekerasan jender dari tokoh LRC KJHAM di Jawa Tengah begitu mengejutkan. Betapa tidak, dari tahun ke tahun terus saja meningkatkat. Lembaga itu berkesimpulan akhir bahwa, ternyata ” Pemerintah Jawa Tengah Lamban, Kasus Terus Meningkat.” yah meningkat, jika itu pembangunan maka semua yang hadir bertepuk riuh. Namun karena yang meningkat bukan prestasi justru kekerasan terhadap perempuan. Begitulah laporan terkini dari lembaga yang menangani masalah kekerasan berbasis gender itu. perempuan-perempuan itu terlihat menundukkan kepala bak merenungi masa depan.

Kecemasan terus meninggi kala itu. Sepuluh Desember dua ribu sepuluh para perempuan menyoal, mengapa kekerasan perempuan sering terjadi? Siang itu seolah-olah menjadi renungan para perempuan aktivis seperti LBH Apik, LBH Semarang, KPI, Setara, JPPA, Perisai.

Suara lantang perempuan dari LRC-KJHAM terus membacakan Data Kekarasan terhadap Perempuan di Jawa tengah meski yang lainnya menunduk. Data terkini dalam kurun waktu November 2009-November 1010 terdapat 629 kasus dengan korban 1118 korban. Data lengkapnya sebagai berikut :

TAHUN JENIS KASUS JUMLAH KASUS KORBAN PELAKU KORBAN MENINGGAL
2010 Perkosaan 202 229 301 6
KDRT/Isteri 207 210 209 16
KDP 111 130 133 14
Pel. Seksual 12 56 13 0
Buruh Migran Perempuan 46 51 86 19
Prostitusi Perempuan 40 417 - -
Perdagangan Perempuan 11 25 24 -
Jumlah 629 kasus 1118 Korban 766 Pelaku 55 Korban meninggal
2019 Perkosaan 207 224 338 5
KDRT/Isteri 149 149 149 17
KDP 101 119 126 5
Pel. Seksual 16 21 22 -
Buruh Migran Perempuan 44 86 Majikan PJTKi 14
Prostitusi Perempuan 71 429 95 3
Perdagangan Perempuan 23 59 54 -
Jumlah 611 Kasus 1087 Korban 784 Pelaku 44 Korban meninggal

Aku yakin itu tidak betul. Bohong! Mana mungkin data seperti itu dapat diterima. Bukankah itu hanya angka-angka yang mushil orang menuliskan data dengan tepat! “Seperti anak kecil saja dapat ditipu dengan angka statistik yang orang dapat sesuka hati menulis,” lirih batinku. Sepenting desertasi sarjana pun dapat diothak-athik murih gaduk, agar tetap pas dengan hipotesis.

Bukankah negara sudah begitu progresif dengan segala bentuk pengaduan? Responsif betul negara ini, Indonesia! Mengapa perempuan-perempuan itu terus menyoal tentang peran negara dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan? Lihat betapa responsifnya pemerintah. Tidak berbulan-bulan pemerintah langsung merespon tatkala, masyarakat mendesak pemerintah untuk menyelesaikan kasus Sumiati. Buruh migran di negara kaya minyak yang telah disobek-sobek mulut dan dilukai vaginanya itu. Sontak kemarahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono muncul dan meninggi bahkan secepat kilat mendesak pemerintah langsung mengambil sikap lewat menteri tenaga kerja. Maka Muhaimin Iskandar dengan sigap merealisasi program akibat dari desakan pemerintah atas kasus Sumiati. Lantas, Muhaimin Iskandar mengeluarkan program HP bagi perempuan migran. Maka, mokal kalau korban terus meningkat. Perempuan-perempuan yang tak pernah mengerti dan tak mau berterima kasih kepada pemerintah.

Bukankah dengan program HP, para perempuan itu, akan begitu mudah mengadu kepada Bapak Presiden tercinta kita Susilo Bambang Yudoyono. “ Pak SBY, tolong! Hari ini saya diperkosa!” Pak SBY tolong hari kemarin aku paksa untuk menemani tidur majikan lelaki dan tiga anak lelakinya! “celetuk Kang Puthu nara sumber dalam bedah karya sajak-sajak Dewi Nova.

Tulisan bisa di pesan sesuai kebutuhan, siapa pun dapat mengubah atau bahkan menambah data sesuai kebutuhan. Yah, orang dengan mudah menambah atau mengurang data agar kelak dapat digunakan energinya. Begitu getolnya pemerintah memperhatikan perempuan migran, namun para perempuan masih banyak yang menyudutkan peran pemerintah. “ Dasar perempuan tak mau di untung?” seruku.

Data tentang catatan kejahatan gender sebetulnya hanya angka-angka yang akan termentahkan oleh penalaran yang kadang memang tidak masuk akal ini. Jika dalam logika terdapat prasangka buruk, misalnya di setiap hari ada satu kasus di setiap kabupaten kota di Jawa Tengah maka selama setahun sudah ada puluhan ribu kasus.

Perhatikan saja berapa ribu pengguna jasa perempuan di Jawa tengah ini, maka sebetulnya, beribu-ribu pula kekerasan yang berbau gender dengan berbagai motif yang selalu menyudutkan perempuan. Tidakkah perempuan-perempuan perek yang beroperasi di jalan, warung remang-remang, jembatan seharian harus bergelut dengan kekerasan. Penjual jamu, sales profesional girl, tukang pijet, salon kecantikan, ibu rumah tangga, istri siri, istri simpanan, isteri sejati, tiap perubahan detik terus berjuang melawan kekerasan gender.

Data itu memang pantas diterima dan masuk akal karena data itu untuk korban yang melapor. Sedangkan korban yang tak pernah melapor dan hilang bersama raganya itu yang tak dapat dicatat. Atau data orang pinggiran yang benar-benar terpinggirkan sudah begitu kebal dengan kekerasan. Persetan data, lakukan tindakan nyata.

Berapapun jumlahnya, perempuan korban kekerasan yang berbau gender sebetulnya harus menjadi perhatian bersama. Bukankah setiap orang tidak membedakan jenis kelamin berhak untuk hidup yang memadahi untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya, termasuk hak atas pangan, pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosialdan berhak atas jaminan saat menganggur, menderita sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut atau keadaan lainnya yang mengakibatkannya kekurangan nafkah, yang berada di luar kekuasaannya. Demikian bunyi Deklarasi Hak Asasi Manusia pasal 25. Namun, bagaimana dengan hak warga negara Indonesia? Lengkap, justru lebih lengkat dari pada itu.

Negara kita tercinta punya UUD,45, punya UU No 23 Tahun 1992, punya UU No 7 Tahun 1984, Punya UU No. 11 tahun 2005, punya Presiden, punya menteri peranan wanita, punya menteri kebudayaan, punya kebijakan daerah, punya menteri hukum dan Ham, punya DPR, MPR dan punya..... Punya kekerasan perempuan yang terus meningkat, punya pejuang devisa, punya ibu rumah tangga. Dan punya hati nurani... kekerasan terhadap perempuan harus segera enyah dari mimpi....

Perempuan korban kekerasan baik yang diperkosa maupun yang disiksa gunakan HP bukan untuk meminta tolong kepada siapa pun termasuk kepada menteri tetapi gunakan HPmu untuk mengakses informasi yang dapat menambah wawasan agar kelak menjadi perempuan unggul yang kretif dan mandiri.

EMANSIPASI KELUAR GELANGGANG

Gembar-gembor perempuan memperjuangkan persamaan gender terus berkumandang. Berbagai momen yang berkait erat dengan perempuan terus ditancapkan yang barang kali itu diharapkan mampu menggedor pintu-pintu pengekang perempuan. Namun simbol-simbol yang menjadi pintu penggedor justru sebaliknya sebagai pengukuh bahwa perempuan itu berkodrat sebagai makhluk yang hanya mampu macak, masak dan manak. Bukankah itu malah sebagai pengerdilan cita-cita yang telah lama diperjuangkan oleh Kartini?

Banyak kegiatan yang berkait erat dengan perempuan misalkan saja, peringatan Hari Kartini, Hari Ibu, Hari ASI. Belum lagi simbo-simbol lain yang menenmpatkan perempuan sebagai subjek . Terbitnya beberapa bacaan khusus berceloteh tentang gender, majalah, tabloit, bahkan koran pun menyediakan banyak ruang yang khusus membahas tentang gender.

Yah, saya sebagai lelaki sebenarnya sangat miris melihat gejala-gejala pemahaman emansipasi hanya sekadar pemahaman perempuan dari sudut pandang jenis kelamin dan rutinitas tugas yang mesti dilakukan menurut tradisi di wilayahnya. Hal ini begitu kentara saat aku disuruh menjadi juri pada peringatan hari ibu di kampung kami Gebyok, Ngijo Gunungpati, Semarang. Ibu-ibu yang berorganisasi dalam wadah PPK itu, dimaknai sebagi kumpul-kumpul untuk ngrumpi, berceritan tentang, baju, celana, pembalut atau hanya sekadar pamer kecantikan. Bahkan beberapa peringatan yang berkaitan dengan perempuan selalu berlingkup pada persoalan memasak, dan macak. Lomba yang tak menggambarkan kecerdasan.

Di tengah kerasnya genderang gender ditabuh ibu-ibu malah beruforia lewat lomba yang tak bikin cerdas.

Betapa menangisnya, Kartini, jika menyaksikan ulah perempuan yang tidak terjerumus pada kegiatan seremonial seperti mengenakan jarit, memasak nasi goreng, membuat makanan dari ketela. Bukankah itu kegiatan rutinitas harian yang syarat dengan pembodohan pemaknaan emansipasi. Simbul-simbul! Hari gini lomba nglempit baju, masak nasi goreng, nyetrika? Memalukan! Mah, itu sudah kebiasan, say? Sindir perempuan yang terlahir sebelum bangsa ini terbebas dari penjajahan.

Paradigma emansipasi yang salah kaparah itu akibat kekeliruan persepsi kaum perempuan dalam memaknai kaidah persamaan gender. Bukankah emansipasi tidak dipahami sebagai proses yang sebenar-benarnya dan utuh? Yah, Emansipasi sebenarnya lebih dimengerti sebagai usaha untuk menyamakan persamaan hak dan kewajiban dalam berbagai sendi kehidupan ( persamaan hak kaum wanita dan laki-laki). Jika tidak dimaknai secara utuh, justru menimbulkan tafsir yang jauh lebih berbahaya ketimbang makna sebelumnya. Bagaimana tidak? Jika perempaun sudah diletakkan pada hak sebagai makhluk yang hanya berkecimpung di dapur dan kasur maka perempuan akan sulit untuk berkiprah di sendi kehidupan lain.

Perempuan harus keluar dari jeratan bahkan kalau bisa harus keluar dari perbudakan. Emansipasi sebenar-benarnya merupakan usaha pembebasan yang selama ini memang belum terbebas atau bahkan memang dibuat untuk tidak bebas. Menjadi budak! Kegelisahan perempuan seharusnya muncul sehingga kegiatan yang dilaksanakan tidak semata-mata kegiatan ” panas-panas tahi asu” kotoran yang menjijikan atau bahkan meracuni.








Menjadi perempuan tangguh adalah solusi. Perempuan secara genetik saja sudah tertindas. Bandingkan kodrat perempuan dengan kemampuan dasar yang dimiliki lelaki sangat jauh perbedaanya. Lihat dan badingkan baik secara fisik maupun kemampuan lain, perempuanlah memang sangat lemah dan rentan terhadap penindasan. Fisik kalah, akal kalah, nalar kalah, semuanya serba kalah. Jika itu tidak dipahami sebagai motivasi untuk bangkait maka perempuan akan berada pada titik nadir.

Perempuan yang membaca tulisan ini mesti akan anyel dan memfonis penulisnya ngawur, tidak melihat kenyataan. Justru penulis menulis ini karena melihat kenyataan yang ada sekarang. Nah para pembaca yang baik sebelum banyak berkomentar tentang tendensi penulis jawab pertanyaan ini pilih ya atau tidak! Lebih banyak mana jumlah perempuan tertindas dengan laki-laki? Perempuan bodoh dengan lelaki bodoh berkelahi menang mana? Berapa jumlah presiden perempuan? Lebih banyak mana dengan presiden laki-laki?
Padahal jumlah perempuan lebih banyak. Berapa jumlah perempuan penderita HIV-AIDS? Lebih sedikitkah? Berapa jumlah TKI perempuan yang mengalami penyiksaan? Berapa jumlah perempuan yang dijadikan gundik, istri simpanan, perempuan kontrak, pemuas sahwat dan perempuan korban penindasan lainnya. Lebih sedikitkah?

Penulis yakin bahwa, tidak akan ada lagi tangis perempuan seperti Sumiati karena digunting bibir manisnya dirobek vaginanya hanya karena tidak ada kepedualian pemerintah Indonesia terhadap perempuan migran. Perempuan jangan sangat berharap kepada siapa saja, termasuk kepada SBY karena samapean hanya akan sekadar dijanjikan HP. Bukankah para perempuan sudah mampu membeli puluhan HP lewat perusakan-perusakan vagina dan isapan puting manisnya dari lelaki-lelaki pemuas nafsu. Tidaklah itu yang harus diderita buruh migran kita.

Halo, Pak SBY, Saya diperkosa di jemban Mina? Tolong jemput kami, Pak!
Selamat malam Pak SBY, malam ini saya dan ribuan temanku berada di Malaysia dengan kaki pincang dan kemaluan berdarah-darah, tiga lainya lumpuh, lima puluh dua hamil, empat puluh tujuh geger otak, dan ribuan lainnya menunggu kepedulian pemerintah? Pulangkan saja, Pak?
Gerakan perempuan untuk melakukan penyadaran memang tidak perlu menunggu siapa-siapa. Tak ada yang peduli. Tuhan tidak akan merubah kaumnya, yang bisa merubah hanyalah kaum itu sendiri. Jangan lihat dirimu sebagai perempuan yang hanya melihat keberhasilan beberapa perempuan tetapi tengok berapa jumlah perempuan yang teraniaya?

Memahami Tugas Perkembangan Anak

Setiap anak dalam perkembanganya memiliki tugas yang berbeda-beda. Pemahaman ini dapat dimanfaatkan untuk membantu anak dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Apalagi sebagai orang tua akan membimbing anak untuk mewujudkan impian, pemahaman tugas perkembangan menjadi harus.
Mengapa kita perlu memahami tugas perkembangan? Menurut Carol Gestwicki bahwa perkembangan itu dapat diramalkan karena ada urutan dari masing-masing tugas perkembangan. Untuk itu urutan itu harus dipahami karena dari masing-masing tahap akan saling mempengaruhi. Ada waktu-waktu yang obtimal dalam perkembangan anak jika ini dipahami betul dan kita sebagai orang tua mampu memberikan tugas yang tepat pada masa itu maka anak akan menyelesaikan tugas itu dengan baik.
Perkembangan anak itu sebenarnya merupakan hasil interaksi antara kematangan biologis dengan faktor-faktor lingkungan. Maka anak beri kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan karena lingkungan akan memberikan arah perkembangan anak. Kematangan hanya sebagai prasyarat dalam menyelesaiakn tugas perkembangan.
Seluruh aspek dalam perkembangan anak maju berkelanjutan secara bersama-sama. Kegagalan tugas perkembangan pada satu aspek akan mempengaruhi aspek yang lain. Anak yang putus cinta akan malas belajar. Anak yang dikekang dengan membatasi teman bergaul akan menjadi sombong atau bahkan sebaliknya minder.
Jangan paksakan anak untuk menyelesaikan tugas perkembangan yang belum waktunya. Anak mempunyai waktu yang berbeda dalam mencapai kematangan. Justru akan berbahaya jika kita membandingkan anak hanya berpatokan pada usia. Anak mempunyai karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda. Hal itu yang memungkinkan terjadinya perbedaan dan pilihan-pilihan dalam menentukan perlakuan.
Sebagai orang tua tidaklah tergesa-gesa dalam memberikan perlakuan terhadap anak karena perkembangan mempunyai pola. Perkembangan anak berjalan teratur dari yang sederhana ke yang komplek. Pemahaman yang tepat mestinya tidak akan memaksa anak untuk menyelesaikan tugas yang belum mampu untuk diselesaikan. Misalnya, jangan paksa anak usia taman kanak-kanak untuk menulis karena usia tersebut bukan saat yang tepat untuk belajar menulis. Meskipun dapat pula anak seusia TK dapat belajar menulis karena kematangan anak memang sudah mancapai kesempurnaan pada masa itu. Tetapi tidak lantas kematangan anak yang satu menjadi rujukan untuk memperlakukan anak yang lainnya seperti anak tersebut.
Kegagalan perkembangan pada masa sebelumnya akan menjadi bencana pada tugas perkembangan berikutnya. Jangan paksa harimau untuk terbang tetapi jadikanlah harimau itu menjadi hewan yang benar-benar perkasa.
Berikut ini beberapa contoh tugas perkembangan anak. Tugas perkemabangan afektif pada manusia yang disampaian oleh Erik H. Erikson. Tahap pertama Tahap Trust vs Mistrus (0-1 tahun) ini memerlukan tempat yang aman bagi dirinya guna menghilangkan keresahan, meningkatkan rasa tolong menolong, sikap menolak, tidak percaya diri yang dapat meningkatkan rasa aman,. Usaha yang dilakukan orang tua dengan cara memenuhi kebutuhan fisik seperti minum susu, di buai, diajak bicara.
Fase kedua, fase Autonomy vs Shame and Doubt/Otonomi ( 1-3 th) munculnya kemampuan motoris dan mental anak. Anak sudah mampu berjalan, memanjat, menutup membuka, menjatuhkan, menarik dan mendorong, memegang dan melepaskan. Anak mempunyai kebanggaan karena ketrampilan ini sehingga berkeinginan untuk melakukan banyak hal. Orang tua mestinya sadar bahwa anak butuh melakukan sendiri, memberi kesempatan karena dengan terlalu banyak mengendalikan justru akan menciptakan perasaan tidak percaya diri atau ragu-ragu. Orang tua harus sabar!
Fase ketiga, Fase Initiantives vs Guil/Inisiatif ( 3-5 th ). Anak sudah memiliki kemampuan untuk merespon sesuai dengan kemampuan gerak motorik. Kemampuan itu akan lebih membuat anak mempunyai inisiatif dan kreatif jika orang tua mampu memberikan dorongan, kebebasan dalam dimensi sosial untuk berkreasi dan berinisiatif pada permainan motorik serta memberikan jawaban yang memadai dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ( intelectual inititive) maka inisiatifnya akan berkemabang pesat.
Fase ke-empat Industry vs Inferiority /Produktifitas (6-11th) anak sudah mulai berfikir deduktif dan belajar menurut peraturan yang ada. Dimensi psikososial yang muncul adalah (sense of industri, sense of inferiority). Anak sudah mampu membuat, melakukan, mengerjakan sesuatu dengan benda-benda yang praktis hingga selesai dan menghasilkan produk. Rasa ingin menghasilkan sesuatu dapat dikembangkan pada usia ini.
Fase ke-lima, fase Identity vs Role Confusion /Identity (12-18th). Anak sudah memiliki kematangan fisik dan mental. Ia memiliki perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan baru sebagai akibat perubahan-perubahan tubuhnya. Ia mulai dapat berfikir tentang orang lain, tentang apa yang dipikirkan orang lain, dan bahkan berfikir tentang dirinya. Sehingga muncul; ego identity / role confusion. Peran orang tua harus memberi kesempatan kepada anak untuk mengintegrasikan apa yang telah dialami dan dipelajari tentang dirinya sehingga mampu menunjukkan kontinuotas dengan masa lalu dan siap menghadapi masa datang.
Fase ke-enam Face Intimacy vs Isolation / Keakraba ( 19-25 th) kemampuan anak untuk berbagi rasa dan memperhatikan orang lain. Kesadaran ini muncul dengan lewat peran orang tua atau orang lain. Bahkan jika tidak ada orang lain maka akan muncul isolation yakni kesendiri tabpa adanya orang lain untuk berbagi rasa dan saling memperhatikan.
Face ke-tujuh Face Generavity vs Self Absorption/Genersi (25-45th). Orang sudah mulai memikirkan orang-orang lain di luar keluarganya sendiri, memikirkan generasi akan datang serta masyarakat dan dunia tempat generasi hidup
Face ke-delapan Face Integrity vs Despair/Interitas ( 45-....) manusia sudah mendekati kelengkapan. Timbul Integrity, kemampuan individu melihat kembali kehidupan masa yang lalu. Rekapitulasi perkembangan afektif manusia meruypakan tahapan yang terpadu. Keberhasilan perkembanga sebelumnya akan berpengaruh terhadap perkembangan berikutnya.
Begitu juga kemampuan verbal dan kemampuan motorik, orang tua haruslah paham. Apalagi pada anak usia dini yang perlu perlakuan istimewa karena pada masa itu merupakan usia emas. Pendidikan akan sangat berpengaruh dan berhasil baik jika orang tua mampu memberikan pengaruh sesuai dengan tugas perkembangan (masa peka).
Tak ada satu pun anak yang pingin dilahirkan cacat. Anak pingin dihargai, dicintai, diakui, dipuji, dimotivasi. Anak mempunyai spirit, percaya diri, cita-cita, dan tidak ingin menjadi beban orang lain.
Karena sebenarnya hidup adalah cita-cita dan perjuangan untuk mewujutkan jati diri dan keberadaannya. Maka jangan dikatakan bawel jika anak-anak kita sering bertanya, atau jangan dikata bikin ulah jika anak-anak kita sering bermain menyusun gelas hingga bertumpuk-tumpuk hingga roboh dan pecah. Alihkan kegiatan mereka yang bermanfaat dan tidak berbahaya.
Anak harus dihindarkan dari rasa susah, kecewa, sedih, malu, kecil hati, benci sehingga anak akan besar hati, tidak merasa menjadi beban orang lain, percaya diri, berspirit, damai dan tenang.
Anak bukan orang dewasa yang lahir langsung mampu berbuat tetapi melalui proses panjang. Jangan selalu menyalahkan anak atas kesalahannya.

ISTERI KANCA WINGKING

ISTRI, KANCA WINGKING?


ISTERI

ISTERI MESTI DIGEMATENI IA SUMBER BERKAH DAN REZEKI
TOWIKROMO, TAMBRAN PUNDONG BANTUL

Isteri sangat penting untuk kita
Menyapu pekarangan
Memasak dapur
Mencuci di sumur
Mengirim rantang ke sawah
Dan ngeroki kita kalau kita masuk angin
Ya, isteri sangat penting untuk kita
Ia sisihan kita
Kalau kita pergi kondangan
Ia tetimbangan kita
Kalau kita mau jual palawija
Ia teman belakang kita
Kalau kita lapar mau makan
Ia sigaraning nyawa kita
Kalau kita
Ia sakti kita!
Ah lihatlah. Ia menjadi sama penting dengan kerbau, luku, sawah dan pohon kelapa
Ia kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walau cape
Ia selalu rapih menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa syukur, tahu terima kasih dan meninggikan harkat kita sebagai laki-laki
Ia selalu memelihara anak-anak kita dengan bersungsung-sungguh seperti kita memeliha anak-anak kita dengan bersungguh-sungguh seperti kita memelihara ayam, itik, kambing atau jagung
Ah. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya :
Seperti ia di mulut kita tak terasa
Seperti jantung ia di dada kita tak teraba
Ya. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika mulai melupakannya.
Jadi waspadalah!
Tetep, madep, mantep
Gemati, nastiti, ngati-ati
Supaya kita mandiri, perkasa dan pintar ngatur hidup
Tak tergantung tengkulak, pak dukuh, bekel atau lurah.
Seperti Sembadra bagi arjuna
Makin jelita ia di antara maru-marunya;
seperti Arimbi bagi Bima
jadilah ia jelita ketika melahirkan jabang tetuka;
seperti Sawitri bagi Setyawan
Ia melahirkan nyawa kita dari malapetaka
Ahh. Ah . ah
Alangkah pentingnya isteri ketika kita mulai melupakannya
Hormatilah isterimu
Seperti kau menghormati Dewi Sri
Sumber hidupmu
Makanlah
Karena memang demikian suratannya
( Darmanto Yatman )

Istri begitu penting bagi kita, tidak banyak lelaki yang mampu menghabiskan umur tanpa bersandingan dengan perempuan. Seksi, dingin, menyenangkan, menghangatkan, bahkan pelengkap meneruskan keturunan. Mesti demikian masih banyak lelaki yang tidak gemati dengan perempuan. Menyiksa, membunuh bahkan memutilasi tubuh lembutnya.

Istri dalam bahasa jawa ” Garwa ” dalam kerata basa ” sigaring nyawa ”. Sigar berarti terbelah dua tetapi dalam satu kesatuan atau dua yang menjadi satu kesatuan utuh. Nyawa laki-laki yang telah sigar ( terbelah menjadi dua ) Perempuan dan lelaki akibat dari kesepakat untuk bersandingan dalam satu ikatan perkawinan, atau perempuan yang telah dipersunting oleh lelaki menjadi bagian dari nyawa lelaki yang telah menjadi ruh kehidupan yang dimiliki oleh laki-laki atau sebaliknya Karena merupakan bagian tubuh/ nyawa yang memberi ruh satu kesatuan dengan raga atau sebaliknya, maka ruh tak dapat hidup sendiri atau bahkan pula raga tak berarti tanpa ruh. Bisa jadi, raga hanya berupa mayat-mayat yang menakutkan atau bangkai-bangkai tanpa guna dan manfaat. Sigar tak berarti terbelah menjadi dua, tetapi dua kekuatan dan kepentingan yang harus bersatu akan fungsinya lebih baik. Cangkul tanpa doran tak bisa untuk bekerja. Keduanya tak bisa bergerak sendiri, tak dapat bersenang-senang sendiri bahkan susah pun harus bersama-sama.
Agar lebih ber-arti, sebagai bagian dari sigaring nyawa, pasangan hidup mesti di gemateni. Sebagaimana Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab tafsir mu’tabar ” Jagalah wanita itu baik-baik, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Bagian tulang rusuk yang paling rapuh adalah bagian atasnya. Jika engkau berusaha meluruskannya, ia akan patah, jika engkau membiarkannya maka ia akan terus bengkok, oleh karena itu jagalah wanita baik-baik”. Perintah untuk menjaga bukan sekadar perempuan itu lemah, melainkan perempuan sudah menjadi bagian jiwa raga yang tak terpisahkan.
Perempuan sebagai istri tidak lagi sebagai obyek pemuas sahwat suami semata, lebih dari itu, perempuan mampu mengerjakan pekerjaan domistik yang tak pernah ada ujung hentinya. Menyapu pekarangan, memasak di dapur, mencuci di sumur, atau nyebokki anak tat kala anak membuang hajat besar dicelana. Yah, pekerjaan ringan yang tak mendapat akreditasi atau pengakuan di wilayah profesi. Atau justru bagian pekerjaan menjadi kekuatan istri karena lelaki tak mampu untuk melakukan.

Istri pun sebagai mitra kerja dalam menggarap sawah, selain sebagai tukang kirim rantang di sawah pekerjaan khusus perempuan sebagai petani di sawah pun ada misalnya matun - menyiangi gulma pada tanaman padi atau tandur _ menanam padi.

Sebegitu berarti hingga padi pun membutuhkan tangan lembut perempuan, atau tak mampu tumbuh dengan baik jika tidak ditanam atau disiangi gulmanya oleh perempuan. Jika padi saja butuh perempuan, bagaimana dengan pria petani? Mestinya lebih butuh? Karena rantang dengan berbagai lauk tak pernah datang sendiri ke sawah. Apa lagi petani yang nyambi tukang ura-ura _ seniman tani _ pada saat nggaru atau membajak sawah mestinya butuh perempuan untuk menaklukkan panas matahari yang kian hari kian meninggi dan mengganas panasnya. Atau bahkan kerbau yang bekerja pun akan bahagia karena pak tani tidak segalak sebelum istri menunggui disawah. Mecut, nyeblak, kawet, ngajar sehingga tubuh kerbaik banyak mengalirkan darah.

Tubuh dan otot perempuan memang tidak sekuat perototan lelaki, tetapi begitu lelaki masuk angin hanya dengan jari lentik perempuan yang ngeroki, lelaki akan sehat. Otot yang lemah, lembut, tidak berisi itu memang diciptakan bukan untuk memegang cangkul, membajak sawah tetapi untuk ngeroki, memijit-mijit otot-otot kuat laki-laki tat kala kesel, masuk angin. Keroan, memang mudah, tetapi siapa bisa melakukan keroan sendiri diseluruh tubuh. Lagi pula, keroan tidak sekadar menggerakkan koin uang yang telah diolesi minyak gas ke tubuh kita. Tetapi ruh jiwa ” Garwa ” mempersatukan nyawa yang telah mau pisah karena kelelahan memegangi luku atau garu.


Istri, sebagai sisihan, pendaping saat kondangan, penasehat saat bersedih, penghangat saat kedinginan. Begitu juga saat menjual dagangan, hasil panen, perempuan lebih teliti, serupiah pun akan dipertahankan demi kehidupan bersama.

Ia teman rembugan kita, saat membincangkan cara menyiangi hama yang menyerang tanaman padi dan palawija. Istri juga dibutuhkan untuk menemani saat makan, sehingga tak terasa lauk gereh dan sayur oblok-oblok terasa seperti ayam goreng atau sate Pak Widodo Sampangan. Ruh perempuan memang sakti, menyulap yang susah jadi senang, yang hangat menjadi dingin, yang dingin menjadi hangat, yang marah menjadi pemaaf. Tetapi ada yang tenang menjadi murka sebagaimana kelurga Kurawa tidak mau meyerahkan Kerajaan Astina kepada Keluarga Pendawa karena bujukan Gendari.

Perempuan, sebegitu pentingnya bagi lelaki, kuat tak pernah mengeluh. Diajak kesawah mau, ke kebun tidak nolak, kondangan menambah kebesaran kita, mengaji menambah khusuk, Ya perempuan menjadi sama penting dengan kerbau, luku, sawah dan pohon kelapa. Emas, intan bahkan dengan diri lelaki sendiri, perempuan bisa lebih penting. Sebagai mana dalam Q.s.al-Hujarat /49 : 14 :
” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu sendiri orang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Menganal ”

Ia kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walau cape, meski seharian telah kita ajak mencangkut di sawah, kita ompoli dengan berbasah-basahan tetap tersenyum. Ia selalu rapih menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa syukur, tahu terima kasih dan meninggikan harkat kita sebagai laki-laki. Meski benih yang kita tanam di ladangnya kotor, ia tidak pernah sambat, apalagi berontak untuk menolak.

Benih yang kita tanam di rahim begitu rapi ia simpan. Malam dia jak tidur, siang diajak jalan-jalan meski panas terik mentari mambakar punggung dan tubuh lemahnya. Perempuan tetap berdoa dan mengelus-elus perut buncitnya supaya si jabang bayi terlahir dengan selamat menjadi adak yang shaleh.

Ya, perempuan memang tak pernah banyak berharap dari lelaki agar menggantikan si jabang bayi yang ada dirahimnya, sekalipun berkali ulang perempuan itu merintih kesakitan saat melahirkan. Nyawa menjadi taruhan karena tidak sedikit perempuan yang menghembuskan nafas terakhir saat akan melahirkan bayi. Ibu pun berharap agar bayi selamat meskipun bayi itu belum tentu tumbuh menjadi anak yang shaleh atau shalehah.

Dengan sepenuh hati merawat anak tanpa melihat untung rugi seperti kita memelihara ayam, itik, kambing atau jagung. Kadang malah banyak ruginya karena anak yang kita rawat justru membuat aib keluarga seperti korupsi, maling, garong, membunuh atau menerima suap saat menjadi hakim. Bagaimana tidak sia-sia perjuangan ibu, ibu yang tidak mengerti sebab dan akibat harus menerima aib. Jika anak bersalah masyarakat mesti akan menanyakan ” Kowe anake sapa kok kurupsi, malingan?” Benarkah ada seorang ibu yang mendidik anak menjadi maling, bajingan negara, tukang ngunthit pajak? Tidak, karena sekejam-kejamnya perempuan tidak akan mendidik anak menjadi musuh masyarakat, negara dan bangsa.


Lelaki memang kadang tidak adil, begitu kita sudah berada pada posisi yang penting kita justru menganggap istri tidak penting, padahal Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya

Lelaki memang harus waspada karena istri itu jika di mulut kita tak terasa, di jantung dan di dada kita tak sanggup meraba tak teraba. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika mulai melupakannya. Suami haruslah tetep, madep, mantep, gemati, nastiti, ngati-ati , kepada istri-istrinya, supaya kita mandiri, perkasa dan pintar ngatur hidup. seperti Sembadra bagi arjuna, makin hangat ia di antara maru-marunya. Seperti Arimbi bagi Bima. Seperti Undari bagi Supiyanto yang tambah jelita dan mesra ketika sudah melahirkan Nada Hasna Altafunuha dan Nasywa Raihan Shihap. Atau lebih hangat ketika bulan-bulan berangsur-angsur menua.

Perempuan memang perantara Tuhan melahirkan nyawa-nyawa ratusan juta dan menjauhkan nyawa itu dari malapetaka. Sebegitu pentingnya isteri ketika kita mulai melupakannya. Maka hormatilah isterimu seperti menghormati dirimu sendiri atau kau menghormati Dewi Sri, sumber hidupmu. Surga di telapak kaki ibu.

TUBUH PEREMPUAN MEDAN PERSELINGKUHAN

Perempuan! Perdebatan tentang perempuan dari hari ke hari terus terulang bahkan tak pernah surut atau pun habis. Perempaun memang menarik hingga siapa pun orangnya tertarik untuk membicarakan atau pun sekadar ngomong yang tak bermaksud memahami lebih dalam. Pencitraan tentang perempuan dari beberapa dekade mangalami perubahan yang dinamis. Betapa tidak karena perempuan selama ini atau mungkin seterusnya bahwa perempuan tercitrakan oleh zaman itu sendiri sebagai makhluk yamg memiliki tubuh yang seksi, seksual, erotik, menarik, merangsang, mendorong makhluk lain untuk melihat, memandang, menafsirkan, menikmati atau hingga berkeinginan untuk mengekploitasi sampai pada titik nadir. Habis gelap segelap-gelapnya.

Tubuh perempuan memang penuh simbul yang menghasilkan inspirasi menarik untuk beberapa kajian gender maupun obyek dari hasrat penguasaan. Maka tak sedikit atau barangkali tubuh-tubuh yang eksotik, seksi akan lebih banyak memberikan pencitraan yang substansinya jauh dari harapan atau pun tujuan pemilik tubuh. Makna dan pencitraan? Tujuan dan harapan kadang dari masing-masing perempuan tak mesti sama maka keindahan tubuh yang menjadi kunci pencitraan sebelum atau sesudah penilaian dari sudut padang lain yang menghasilkan beberapa inspirasi bagi para penikmat atau pun pemilik tubuh.

Bagaimana pencitraan tubuh jugun ianfu bagi militer jepang? Hingga penikmat tubuh itu harus menghilangkan sisa-sisa tubuh-tubuh jungun ianfu hingga tinggal sampah-sambah karena sari kenikmatan sudah habis-kikis ternikmati. Bagaimana pula propaganda orde baru “SOEHARTO” dan kroninya mencitrakan tubuh perempuan “ GERWANI” sebagai pelaku dalam pembunuhan sadis beberapa jendral dengan bernyanyi-nyaji genjer-genjer sambil bertelanjang bulat. Bagaimana pula peran perempuan dalam membantu perjuangan dalam rangka menyelesaikan program Sukarno “ Konfrontasi dengan Malaysia” bahwa perempuan di citrakan bukan sebagai aktifis-aktifis sukarelawati yang dimobilisasi dan dilatih militer dalam rangka penyerbuan ke Malaysia. Namun justru tubuh perempuan dikorbankan” SOEHARTO” sebagai tubuh yang harus membantu “ Pemberontak PKI” untuk melakukan tarian Harum Bunga lengkap dengan pengelucutan pakaian untuk menyiksa perwira yang diculik sekaligus penghibur tokoh politik “ anggota PKI”. Maka hingga kini pencitraan tubuh perempuan” Gerwani” bukanlah perempuan baik melainkan perempuan asusila yang berdampak pada pencitraan perempuan masa kini.

Kegelisah perempuan kian hari dan terus berjalan seiring dengan perubahan tahun yang terus mengubah paradigma tubuh perempuan. Tat kala tubuh Inul Daratista menggoyangkan negeri ini dengan goyang ngebornya sontak hukuman buat pemilik goyang ngebor itu gencar dilakukan. Namun hukuman fatwa haram buat pemilik goyang ngebor itu terus malanggeng hingga mewaris ke generasi berikutnya pemilik goyang patah-patah Anisah Bahar. Dewi Persik, Inul Daratista, Anisah Bahara dan perempuan dengan tubuh-tubuh itu malah meningkatkan popularitas denga fatwa haram dari syuriah NU Jawa Timur dan MUI pusat. Tubuh itu tetap tidak bergeming terus saja melenggak dan melenggok di atas panggung dan bahkan meningkatkat derajat panggung dari kampung ke hotel berbintang. Meski ormas-ormas terus menyudutkan dan menghakimi dengan berbagai fatwa.

Terlalu pendek! Penafsiran tentang tubuh perempuan sebagai perselingkuhan antara pemilik dan penikmat tubuh. Kenikmatan penikmat yang tidak diawali dengan kesepakatan pemilik justru akan menghasilkan pemerkosaan tubuh perempuan. Yah, Suharto memperoleh kenikmatan dengan ereksi yang terlalu cepat setelah menikmati citra tubuh perempuan yang tak menghadirkan sedikit pun peluang untuk sekadar mengurangi citra miring gerwani “ Perempuan Politik” untuk terformulasikan citra baru perempuan korban politisasi. Namun perselingkuhan kepentingan yang tidak didasari kesepakatan dua pihak yang terlibat justru akan menghasilkan sakit yang berkepanjangan, luka dalam jauh dari obat. Begitu sebaliknya pemilik tubuh yang terkadang melupakan tubuh perempuan lain hanya sekadar mendapatkan kepuasan batin yang berlatar perolehan materi mauupun sahwat belaka.

Maka tak sedikit perempuan-perempuan yang bukan sekadar mengawinkan terselubung, menyelingkuhkan kutubuh-tubuh itu dengan harapan yang diyakini mampu menghasilkan kenikmatan sesaat. Pematian dari makna keberadaan tubuh-tubuh oleh beberapa kepentingan atau bahkan pemaknaan tubuh yang dihilangkan melatar belakangi perempuan untuk mengawinkan atau bahkan menyelingkuhkan tubuh itu dengan beberap kepentingan. Terlalu naif jika menggunakan kata perkawinan karena perkawinan harus melibatkan beberapa pihak, wali, saksi, petugas pencatat dan harus ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam sebuah perkawinan. Bahkan sebagai wali, saksi dalam setiap proses perkawinan harus ada ijab setuju. Tidak mengherankan jika Maria Ozawa harus melakukan perselingkuhan dengan produser film porno untuk melakukan kontrak kerja pembuatan film yang harus mendatangkan perselisihan dengan kedua orang tua. Dengan tragis hasil perselingkuhan itu menghasilkan film yang merusak moral penghuni planet bumi hingga mendamparkan Maria Ozawa ” Miyabi” dari keluarganya.

Pengkontruksian tubuh perempuan sebagi barang kumedol akan mendorong lembaga, penyandang dana, politisi, agen reproduksi untuk bersama-sama melakukan perselingkuhan. Maka tak menherankan jika produk-produk yang tercipta di segala penjuru dalam segala iklan memanfaatkan eksotisme yang jauh lebih memikat pembeli untuk melakukan transaksi. Produk dan kualitas justru tidaklah begitu penting disajikan kepada calon penikmat yang justru lebih penting adalah menyajikan produk itu dengan erotisme, dan keseksian tubuh perempuan. Kecerdasan mengemas iklan yang tanpa menghadirkan peran perempuan dalam memamerkan tubuh perempuan tak terbayangkan. Begitu sulit dan bahkan tak akan semenarik perselingkuhan dengan tubuh-tubuh indah itu. Indah pastilah menarik, eksotis pastilah merangsang, merangsang modal awal perselingkuhan.

Maraknya legeslasi perempaun artis tidak selamanya terbangun dari kecerdasan perempuan “ Artis” melainkan karena politisi berusaha melakukan perselingkuhan dengan ketenaran perempuan dampak dari eksotisme. Perempuan, laki-laki mengenal Julia Peres sebagai calon bupati Pacitan tidak berasal dari kecerdasan yang dimilikinya, terlepas Julia Peres itu cerdas atau tidak, keseksian tubuh yang menjadi ketenaran itu. Bagaimana tokoh-tokoh politik untuk sekadar memporeleh keuntungan pribadi dengan melakukan perselingkuhan dengan tubuh-tubuh perempuan, memunculkan nama-nama menjadi penyanding partai dalam melakukan mobilisasi partai untuk meraih simpati pemilih atas misi-misi partai yang telah direncanakan atau bahkan telah ditetapkan. Masih adakah peserta kampanye yang datang bermaksud mengenali misi partai. Bukankah kedatangannya karena ingin menikmati goyangan tubuh penyanyi dakdut atau penari-penari latar yang nota bene seksi.

Kehidupan tidak sekadar menggunakan hak privat sebagai bagian dari hak asasi murni melainkan keterbatasan hak dengan kewajiban, keterbatasan hak dengan hak orang lain justru jauh lebih penting dari sekadar meraup keuntungan belaka. Perselingkuhan justru akan mengaburkan pemaknaan eksploitasi, penetrasi, pemerkosaan, atau bahkan segala bentuk kekerasan yang berbau gender. Anda yakin jika iklan yang menghadirkan produk “Hand Phone” itu menyandingkan produk itu dengan tubuh perempuan merupakan bentuk eksploitasi, atau bahkan merendahkan citra perempuan sebagai makhluk cerdas. Bukankah perselingkuhan merupakan pilihan cerdas? Konyol!

Jangankah HP, produk makanan ringan, permen, yang hanya berharga Rp 75,00 perbiji harus menghadirkan perempuan dengan tubuh seksi mulut bergoyang-goyang bak perempuan binal yang mangajak untuk selingkuh atau menarik untuk diperkosa. Tidak cukup itu, pantat yang hanya tertutupi oleh pakaian trens Asmatisasi turut mengugah selera masklulin dengan goyang patah-patah atau goyang ngebor Inul Daratista. Permen, tubuh perempuan awal dan akhir perselingkuhan!

PEREMPUAN DAN HIV/AIDS

Kisah pilu perempuan cantik yang bernama Dinda, 26 tahun bermula dari determinasi kesenjangan hubungan dengan kekasihnya. Dinda perempuan cantik yang taat beribadah sejak berusia 15 tahun merupakan perempuan pengabdi dan setia kepada suaminya. Ia merelakan dirinya untuk berkorban demi pacarnya seorang pecandu narkoba. Perempuan yang suka menerima tantangan itu tak memedulikan tentang keadaan pacarnya, bahkan ia rela banting tulang, cari nafkah, demi membahagiakan kekasihnya itu.

Sejak berpacaran hingga menikah, Dinda sebagai tulang punggung keluarga yang selalu bersedia mengerjakan apa saja demi kebahagiaan keluarga. Namun kebahagian keluarganya yang telah terbangun tidak lama pupus setelah suami tercintanya tak sanggup melawan virus mematikan HIV/AIDS . Suaminya yang telah memberikan buah hati itu meninggalkan anak dan istrinya untuk selama-lamanya. Pun tak berlangsung lama, buah hati yang terlahir itu meneriwama warisan virus mematikan dari ibu yang ditularkan oleh ayahnya. Kelahiran bayi dengan yang diharapkan dapat menambahkan kehangatan keluarga justru menjadi beban tersendiri bagi Dinda. Tak lama, tiga bulan setelah kelahirannya, anak itu, akhirnya meninggal dunia.

Lain lagi dengan Rani, gadis cantik itu harus bergelut dengan duka karena kemiskinan keluarganya. Bagaimana tidak? Gadis yang baru kelas 6 di sekolah dasar itu harus siap dipacari oleh preman pasar karena harus berjuang untuk memperoleh rupiah demi keluarganya. Ketika usia menginjak kelas 3 SMP perempuan itu harus bersedia menemani tidur preman yang selama ini menyokong keuangan keluarganya. Rani yang masih lugu itu tak mampu berbuat banyak karena merasa berhutang budi.

Betapa terkejutnya, setelah dua minggu menikah, pengalaman pahit mulai diterima. Suami yang sering sakit-sakitan dengan demam tinggi, berkeringat, batuk-batuk bahkan tidak pernah sembuh. Suami yang Rani nikahi, tak tahunya pemakai dan bandar narkoba. Tak disadari bahwa selama ini suaminya menidap virus HIV/AIDS. Pil pahit pun terpaksa Rani telan. Belum genap usia kehamilannya, 7 bulan, suami harus mengakhiri hidupnya karena keganasan virus mematikan itu.

Demi menyelamatkan bayinya, Rani dibantu oleh LSM melakukan persalinan dengan operasi caesar dengan harapan bayi yang dilahirkan tidak tertular virus yang membunuh ayahnya. Namun begitu, bayi itu tetap terinfeksi HIV/AIDS. Bahkan belum sempat merayakan ulang tahun yang pertama bayi mungil itu menghembuskan nafas. Yah, sebegitu berat derita yang harus diterima oleh beberapa perempuan korban keganasan virus mematikan.

Perempuan memang, tidaklah lengkap jika tidak menderita, jika tidak dieksploitasi, jika tidak didistorsi. Justru itu yang menunjukkan kesempurnaan perempuan. Makhluk dengan sederet peran dan segudang penderitaan. Bagaimana tidak? Putri perempuan baik-baik yang bekerja di perusahaan swasta Jaya Pura itu harus menderita berkepanjangan karena suaminya yang seorang PNS di Jaya Pura menularkan HIV AIDS. Suami tercintanya yang belum sempat memberikan kebahagiaan itu harus meninggal karena tidak kuat berjuang melawan virus mematikan itu. Bahkan anak mungilnya harus lebih awal menanggung penderitaan, ia rela untuk tidak minum ASI, hanya minuman susu kaleng pemenuh nutrisi. Belum lagi mereka harus menerima pengucilan dari masyarakat.

Yah, perempuan memang layak hidup menderita! Jika tidak menderita maka tidaklah sempurna kodrat sebagai perempuan. Penderitaan perempuan sebetulnya merupakan akibat dari pengerdilan potensi dan harkat martabat perempuan sebagai makhluk yang mempunyai kesetaraan gender. Budaya patriarki tidaklah mudah untuk diubah atau bahkan telah manjing daging. Bahkan ada yang dengan bebas mengatakan, jangankan dalam kehidupan nyata, terlahir sebagai perempuan pun sebenarnya sudah penderitaan. Konyol, memang! Perempuan makhluk yang penuh sanjungan dalam kenyataan hanya sebuah pelengkap hidup yang tak bermakna.

Jika ada perwujudan sebenarnya merupakan bagian dari penyejuk ruangan untuk sekadar pelipur lara. Betapa tidak emansipasi yang telah jauh sebelum bangsa ini merdeka telah dikumandangkan tetap saja perempuan terletak pada posisi tawar yang rendah.

Meskipun sebenarnya, lelaki dan perempuan mempunyai derajat yang sama, peran yang tak beda, hak yang setara, kewajiban yang seimbang. Namun tatkala melihat hasil survai dari beberapa lembaga, penderita HIV/AIDS perempuan lebih banyak. Dengan melihat berbagai cerita di atas, dari dua jenis kelamin yang ada, perempuanlah yang paling rentan terhadap penderita HIV/AIDS. Yah, Perempuan memang paling rentan terhadap Human Immunodefiency Virus ( HIV) dan Acquired Immune Defisiency Syndrome (AIDS). Mengapa demikian?

Dari data yang dikeluarkan oleh PPB dalam peringatan hari AIDS Internasional tanggal 1 Desember 2004, Kofi Annan mnyebutkan, hampir separoh lebih jumlah orang dengan HIV/AIDS diseluruh dunia adalah perempuan. lebih jelas lagi badan PPB, UNAIDS, yang mengurus masalah AIDS melaporkan bahwa 67% kasus baru HIV/AIDS adalah usia muda ( 15-24 tahun) dan dari jumlah itu sebanyak 64% nya adalah perempuan.

Karena keterbatasan itulah, perempuan paling rentan terinfeksi HIV/AID. Kondisi biologis yang dimilikinya memang sangatlah mendukung perempuan lebih rentan terhadap tertularnya virus mematikan itu. Hal itu dikarenakan dalam struktur biologis perempuan (vagina) terdapat lipatan-lipatan yang membuat permukaannya menjadi luas. Begitu juga dinding-dinding vagina perempuan mempunyai mukosa ( lapisan tipis) yang lembut dan mudah terluka. Dengan demikian, jika terjadi hubungan seksual melalui penetrasi vagina, maka air mani akan bertahan lebih lama dalam rongga vagina, sehingga air mani yang terinfeksi HIV/AIDS akan dapat menulari perempuan tersebut. Apalagi jika terjadi penetrasi atau pemerkosaan yang melukai vagina, kemungkinan perempuan terinfeksi HIV/AIDS dua kali sampai empat kali lebih besar.

Faktor kultur yang dianut oleh masyarakat luas yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat, mendahului kepentingan orang lain dan tidak memahami hak-haknya. Apalagi hegemoni terhadap perempuan yang lebih pada sistem patriarki lebih menyudutkan perempuan sebagai obyek. Dalam kaitannya dengan hubungan seks,perempuan tak kuasa menolak hubungan seksual dengan pasangannya. Dampak lain dari faktor sosial kultur yang berkembang dimasyarakat dengan timbulnya nilai sosial yang menabukan pembicaraan mengenai seksualitas serta keterbatasan perempuan mengakses informasi tentang seks, kesehatan, reproduksi dan informasi lainnya.

Ketimpangan gender yang dikonstruksikan oleh budaya patriarki itu menyebabkan laki-laki merasa lebih dominan, sehingga laki-laki tidak perlu berkomunikasi dengan perempuan pasangan seksualnya. Akibatnya tatkala perempuan terinveksi HIV/AIDS perempuan sulit melakukan tindakan. Pengambilan keputusan dalam persoalan seksual ( sexual decision making) biasanya dikontrol oleh lelaki. Sehingga kekerasan seksual oleh lelaki lebih bisa ditolerir oleh banyak masyarakat. Perempuan diposisikan sebagai pelayan karena pengaruh internalisasi nilai.

Ketergantungan perempuan terhadap laki-laki karena budaya sosial kultur memabangun opini yang menyudutkan perempuan pada posisi tawar perempuan lemah. Hal ini yang menyebabkan ketergantungan ekonomi perempuan terhadap lelaki. Ketidak setaraan atau ketergantungan ekonomi perempuan terhadap suami atau pasangan yang menyebabkan perempuan tetap memilih berada pada dalam hubungan yang beresiko tinggi dari pada menghadapi risiko ekonomi yang yang lebih besar karena meninggalkan pasangan tempat bergantung. Norma kultur yang memandang pernikahan sebagai bentuk dukungan terhadap sosial ekonomi yang tidak akan didapati jika perempuan hidup sendiri. Ketakutan terhadap opini kultur yang memandang perempuan sebagai perawan tua jika tidak menikah turut serta dalam mengelompokkan perempuan dalam sudut sempit.

Begitu juga beban ganda yang harus disandang oleh perempuan menjadikan perempuan lebih tersudutkan. Sebagai ibu rumahtangga yang harus mengurus anak dan suami dan juga menjadi pemikul derita dari virus mematikan. Hal lain juga perempuan lebih disalahkan karena menjadi vektor dari inveksi dan menerima stigmatisasi, penolakan, dan pengusiran dari keluarga dan masyarakat.

INISIASI MENYUSUI DINI

Mimpi perempuan untuk memiliki anak yang sehat, cerdas tidaklah mudah. Betapa tidak? Anak bukanlah benda mati yang dapat kita bentuk sesuka hati, perlu pertaruhan yang membutuhkan energi dan kecakapan. Yah, anak perlu penanganan yang tak terbatas waktu, terus menerus, dinamis, berkelanjutan. Semisal, seorang ibu menginginkan anak yang sehat dan cerdas tidak serta merta anak yang terlahir dari rahimnya langsung mengikuti keinginan kita, cerdas dan sehat. Mungkinkah, jika kita menghendaki bayi yang terlahir dari rahim itu sesuai dengan keinginan kita?

Berkeinginan memiliki anak yang cerdas, tidak lantas Tuhan mengaruniakan kepada kita bayi lahir dengan kecerdasan tinggi. Itu bagian dari pemikiran atau bahkan mimpi konyol! Betapa tidak konyol, anak yang terlahir dari ibu yang cerdas sekali pun, belum tentu anak turut cerdas. Mengapa demikian?

“Jer Basuki Mawa Bea, gegayuhan kudu kanthi pengorbanan,” sebuah cita-cita perlu pengorbanan. Karunia memang datang dari Tuhan yang manusia sebagai hamba tak pernah mengetahui sebuah rahasia. Namun demikian, karunia tidak datang tanpa Tuhan melihat kemapuan umatnya. Mimpi memiliki bayi yang sehat dan cerdas perlu usaha yang luar biasa kerasnya. Sejak dalam kandungan, kelahiran, atau paska kelahiran sudah memerlukan usaha dari orang tua dengan dasar pemikiran yang berlogika. Tidak asal tandang gawe! Dasar ilmiah menjadi rujukan dalam memberikan perlakuan kepada bayi.

Salah satu usaha yang dikembangkan oleh para dokter untuk meningkatkan kecerdasan dan menghasilkan bayi yang berkualitas pasca kelahiran dengan Inisiasi Menyusui Dini. Sebuah upacara yang harus dijalani oleh seseorang (bayi) yang akan menjadi anggota sebuah perkumpulan (keluarga). Meski sebenarnya bayi yang terlahir sudah menjadi bagian dari keluarga karena sudah berbulan-bulan menyatu dengan tubuh ibu dan bahkan sudah bersama-sama dengan keluarga. Semua naggota keluarga su8dah terlibat baik sejak dalam rahim maupun saat kelahiran. Lagi pula kehadirannya memang sudah menjadi kehendak pasangan suami-istri.

Upacaya yang harus dijalani oleh bayi dalam rangka menyatukan jiwa dan raganya dengan seorang ibu. Menurut Dr Utami Rusli SpA, dalam Seminar Nasional dengan tema “ Ibu Cerdas, Anak Sehat, Keluarga Bahagia, Inisiasi Menyusui Dini dapat meningkatkan kulitas bayi baik kecercasan maupun ketahanan fisik / psikis. Menurutnya, Inisiasi Menyusui Dini dapat dilakukan dengan cara menengkurapkan tubuh bayi di dada ibu setelah bayi itu lahir. Biarkan bayi itu bergerak dinamis, bahkan seorang dokter/bidan yang membantu persalinannya diwajibkan untuk membersihkan bayi di atas tubuh ibu. Biarkan gerakan bayi bergerak dan biarkan pula mulutnya s menjilat-jilat tubuh ibu hingga menemukan sendiri putting itu. Dokter pun tak boleh memisahkan tubuh bayi dengan dekapan dada sang ibu.

Betapa indah dan sakralnya jika suami yang menganut agama islam juga menyuarakan azan di telinga bayi diantara tubuh bayi dan dada seorang ibu. Kuasa Tuhan akan meneteskan air mata ibu dan menggugah jiwa anak. Biarka tetesan air mata ibu dan ayah mengiringi bayi yang terus menjilat-jilat tubuh ibunya minimal satu jam hingga menemukan ASI pertama dari seorang ibu tercintanya.

Kebesaran Tuhan memang tiada duanya, suhu tubuh perempuan itu bak termoregulator, tat kala bayi itu kedinginan suhu tubuh perempuan akan naik hinnga dua derajat celcius layaknya menjadi termosyndrome. Begitu sebaliknya tat kala bayi kepanasan tubuh perempuan itu suhu badannya akan turun hingga dua derajat celcius pula.

Bahkan siapa yang menyangka jika jilatan mulut bayi itu ternyata untuk mengumpulkan bakteri yang ada di tubuh ibu untuk dikumpulkan dan ditelan. Yah, Tuhan memang memberikan anugrah yang kadang kita tidak kuasa membuka rahasia itu miski dengan logika. Bakteri-bakteri itu dikumpulkan dan kemudian ditelan yang jumlahnya tidak ada yang tahu, namun hanya bayi yang mengetahui bersama kebesaran-Nya. Bakteri-bakteri yang jumlahnya sesuai dengan keadaan bayi akan tumbuh kembang menjadi bakteri prebiotik yang membantu pencernaan bayi dalam usus. Kaul and Kannel menjelaskan betapa penting Inisiasi Menyusui Dini bagi seorang bayi dan ibu yang menurutnya mampu membantu pengeluaran placenta, mengurangi pendarahan pasca melahirkan, mengurangi angka kematian. Sedangkan bagi seorang ibu, Mattheiesen Etal menjelsakan, dengan Inisiasi Menyusui Dini ternyata mampu mengurangi rasa sakit dan meningkatkan ambang nyeri paska melahirkan.

Jalinan kasih sayang seorang ibu-ayah-bayi dapat lebih obtimal jika perempuan dan ayah berkesadaran penuh sebab bayi siaga 1-2 jam pertama di tubuh sang ibu. Bukankah dengan kedekatan seorang ibu-ayah-bayi 1-2 jam itu mampu membuat hati ibu tentram karena kebersamaan yang menghilangkan kewaspadaan yang mendalam? Ibu lebih tenang, rileks dan perasaan sangat bahagia. Dengan kebahagiaan itu akan merangsang pengeluaran Asi lebih dini begitu hasil penelitian Kroeger & Smith dan UNICEF India : Breast Crawl initiation of breastfeelding by breast crawl.


Inisiasi Menyusui Dini berdasarkan hasil penelitian para ahli, Freudenheim, Epidemiol, Int J Cancer, ternyata mampu mengurangi kangker payudara. Resik0o yang dapat diturunkan dapat berkisar antara 23%-30%. Bahwa dalam suatu case-control study di Italia yang melibatkan 2442 ibu menemukan bahwa adanya perbandingan terbalik antara lama menyusui dengan resiko kangker indung telur ( ovarium). Fungsi perlindungan dari proses menyusui bagi seorang ibu lebih kuat dari pada tumor yang lebih ganas. Karena di dalam ASI ditemukan zat Mediator “ Innate Immune System” termasuk defensif, cathelicidins dan TLRs yang termasuk suatu zat komplek dalam ASIO yang mampu memberikan perlindungan jaringan payu dara ibu terhadap kangker. Selain kangker payu dara juga dapat mengurangi Kangker Rahim, Rheumatoid Arthritis, Maternal Diabetes. Tak kalah menariknya menyusui merupakan cara KB yang paling efektif, mengurangi resiko Overweight, stres dan kegelisahan.

Tak mengherankan jika di Negara Swedia, Norwegia, Canada memberikan hak kepada ibu yang menyusui bahkan tempat kerjanya pun mmberlakukan cuti bagi ibu menyusui hingga 54 minggu. Itu pun para perempuan tetap mendapatkan gaji sebagai hak atas karyawan.

Hak ibu untuk bekerja, hak pekerja menjadi ibu berkualitas untuk hidup lebih baik.

Salam ibu menyusui.

Gunungpati, 2010