Mimpi perempuan untuk memiliki anak yang sehat, cerdas tidaklah mudah. Betapa tidak? Anak bukanlah benda mati yang dapat kita bentuk sesuka hati, perlu pertaruhan yang membutuhkan energi dan kecakapan. Yah, anak perlu penanganan yang tak terbatas waktu, terus menerus, dinamis, berkelanjutan. Semisal, seorang ibu menginginkan anak yang sehat dan cerdas tidak serta merta anak yang terlahir dari rahimnya langsung mengikuti keinginan kita, cerdas dan sehat. Mungkinkah, jika kita menghendaki bayi yang terlahir dari rahim itu sesuai dengan keinginan kita?
Berkeinginan memiliki anak yang cerdas, tidak lantas Tuhan mengaruniakan kepada kita bayi lahir dengan kecerdasan tinggi. Itu bagian dari pemikiran atau bahkan mimpi konyol! Betapa tidak konyol, anak yang terlahir dari ibu yang cerdas sekali pun, belum tentu anak turut cerdas. Mengapa demikian?
“Jer Basuki Mawa Bea, gegayuhan kudu kanthi pengorbanan,” sebuah cita-cita perlu pengorbanan. Karunia memang datang dari Tuhan yang manusia sebagai hamba tak pernah mengetahui sebuah rahasia. Namun demikian, karunia tidak datang tanpa Tuhan melihat kemapuan umatnya. Mimpi memiliki bayi yang sehat dan cerdas perlu usaha yang luar biasa kerasnya. Sejak dalam kandungan, kelahiran, atau paska kelahiran sudah memerlukan usaha dari orang tua dengan dasar pemikiran yang berlogika. Tidak asal tandang gawe! Dasar ilmiah menjadi rujukan dalam memberikan perlakuan kepada bayi.
Salah satu usaha yang dikembangkan oleh para dokter untuk meningkatkan kecerdasan dan menghasilkan bayi yang berkualitas pasca kelahiran dengan Inisiasi Menyusui Dini. Sebuah upacara yang harus dijalani oleh seseorang (bayi) yang akan menjadi anggota sebuah perkumpulan (keluarga). Meski sebenarnya bayi yang terlahir sudah menjadi bagian dari keluarga karena sudah berbulan-bulan menyatu dengan tubuh ibu dan bahkan sudah bersama-sama dengan keluarga. Semua naggota keluarga su8dah terlibat baik sejak dalam rahim maupun saat kelahiran. Lagi pula kehadirannya memang sudah menjadi kehendak pasangan suami-istri.
Upacaya yang harus dijalani oleh bayi dalam rangka menyatukan jiwa dan raganya dengan seorang ibu. Menurut Dr Utami Rusli SpA, dalam Seminar Nasional dengan tema “ Ibu Cerdas, Anak Sehat, Keluarga Bahagia, Inisiasi Menyusui Dini dapat meningkatkan kulitas bayi baik kecercasan maupun ketahanan fisik / psikis. Menurutnya, Inisiasi Menyusui Dini dapat dilakukan dengan cara menengkurapkan tubuh bayi di dada ibu setelah bayi itu lahir. Biarkan bayi itu bergerak dinamis, bahkan seorang dokter/bidan yang membantu persalinannya diwajibkan untuk membersihkan bayi di atas tubuh ibu. Biarkan gerakan bayi bergerak dan biarkan pula mulutnya s menjilat-jilat tubuh ibu hingga menemukan sendiri putting itu. Dokter pun tak boleh memisahkan tubuh bayi dengan dekapan dada sang ibu.
Betapa indah dan sakralnya jika suami yang menganut agama islam juga menyuarakan azan di telinga bayi diantara tubuh bayi dan dada seorang ibu. Kuasa Tuhan akan meneteskan air mata ibu dan menggugah jiwa anak. Biarka tetesan air mata ibu dan ayah mengiringi bayi yang terus menjilat-jilat tubuh ibunya minimal satu jam hingga menemukan ASI pertama dari seorang ibu tercintanya.
Kebesaran Tuhan memang tiada duanya, suhu tubuh perempuan itu bak termoregulator, tat kala bayi itu kedinginan suhu tubuh perempuan akan naik hinnga dua derajat celcius layaknya menjadi termosyndrome. Begitu sebaliknya tat kala bayi kepanasan tubuh perempuan itu suhu badannya akan turun hingga dua derajat celcius pula.
Bahkan siapa yang menyangka jika jilatan mulut bayi itu ternyata untuk mengumpulkan bakteri yang ada di tubuh ibu untuk dikumpulkan dan ditelan. Yah, Tuhan memang memberikan anugrah yang kadang kita tidak kuasa membuka rahasia itu miski dengan logika. Bakteri-bakteri itu dikumpulkan dan kemudian ditelan yang jumlahnya tidak ada yang tahu, namun hanya bayi yang mengetahui bersama kebesaran-Nya. Bakteri-bakteri yang jumlahnya sesuai dengan keadaan bayi akan tumbuh kembang menjadi bakteri prebiotik yang membantu pencernaan bayi dalam usus. Kaul and Kannel menjelaskan betapa penting Inisiasi Menyusui Dini bagi seorang bayi dan ibu yang menurutnya mampu membantu pengeluaran placenta, mengurangi pendarahan pasca melahirkan, mengurangi angka kematian. Sedangkan bagi seorang ibu, Mattheiesen Etal menjelsakan, dengan Inisiasi Menyusui Dini ternyata mampu mengurangi rasa sakit dan meningkatkan ambang nyeri paska melahirkan.
Jalinan kasih sayang seorang ibu-ayah-bayi dapat lebih obtimal jika perempuan dan ayah berkesadaran penuh sebab bayi siaga 1-2 jam pertama di tubuh sang ibu. Bukankah dengan kedekatan seorang ibu-ayah-bayi 1-2 jam itu mampu membuat hati ibu tentram karena kebersamaan yang menghilangkan kewaspadaan yang mendalam? Ibu lebih tenang, rileks dan perasaan sangat bahagia. Dengan kebahagiaan itu akan merangsang pengeluaran Asi lebih dini begitu hasil penelitian Kroeger & Smith dan UNICEF India : Breast Crawl initiation of breastfeelding by breast crawl.
Inisiasi Menyusui Dini berdasarkan hasil penelitian para ahli, Freudenheim, Epidemiol, Int J Cancer, ternyata mampu mengurangi kangker payudara. Resik0o yang dapat diturunkan dapat berkisar antara 23%-30%. Bahwa dalam suatu case-control study di Italia yang melibatkan 2442 ibu menemukan bahwa adanya perbandingan terbalik antara lama menyusui dengan resiko kangker indung telur ( ovarium). Fungsi perlindungan dari proses menyusui bagi seorang ibu lebih kuat dari pada tumor yang lebih ganas. Karena di dalam ASI ditemukan zat Mediator “ Innate Immune System” termasuk defensif, cathelicidins dan TLRs yang termasuk suatu zat komplek dalam ASIO yang mampu memberikan perlindungan jaringan payu dara ibu terhadap kangker. Selain kangker payu dara juga dapat mengurangi Kangker Rahim, Rheumatoid Arthritis, Maternal Diabetes. Tak kalah menariknya menyusui merupakan cara KB yang paling efektif, mengurangi resiko Overweight, stres dan kegelisahan.
Tak mengherankan jika di Negara Swedia, Norwegia, Canada memberikan hak kepada ibu yang menyusui bahkan tempat kerjanya pun mmberlakukan cuti bagi ibu menyusui hingga 54 minggu. Itu pun para perempuan tetap mendapatkan gaji sebagai hak atas karyawan.
Hak ibu untuk bekerja, hak pekerja menjadi ibu berkualitas untuk hidup lebih baik.
Salam ibu menyusui.
Gunungpati, 2010
Senin, 28 Februari 2011
PEREMPUAN KORBAN CINTA
DERITA PEREMPUAN KORBAN PETUALANG CINTA
Sore itu, sebelum matahari pulang, Tukinah ( bukan nama sebenarnya) terlihat terpengkur, pandangan mata nampak kosong, jauh menatap hari esok yang kian tak menentu. Betapa tidak! Kematian akan suaminya dua tahun yang lalu terus mengingatkan luka lamanya. Yah, kepergian sang suami meninggalkan kenangan pahit yang harus ditanggung wanita berusia 40 tahun itu. Derita seumur hidup tak kan hengkang, terus menemani.
Tukinah, ibu satu anak itu dinyatakan terinfekasi HIV positif. Awalnya, perempuan berkulit sawo matang, berparas cantik itu memang tidak menyadari dirinya terinfeksi HIV. Batuk yang dideritanya hampir satu bulan lebih membuat dia untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Betapa terkejutnya, setelah diperiksa oleh dokter, hasil diagnosanya meminta Tukinah untuk menjalani pemeriksaan darah. Dari hasil pemeriksaan darah itu diketahui bahwa Tukinah terinveksi HIV.
Usut punya usut, Tukinah yang terkenal sederhana, ramah, baik hati dan taat beragama itu terinvekasi HIV dari suaminya yang kesehariannya sering bergaul dengan Wanita Pekerja Seks ( WPS). Suaminya, pelanggan tetap perempuan -perempuan di beberapa lokalisasi. Hobi bersuka gembira dengan perempuan jalang itu tak cukup dengan kegembiraan yang ia dapat. Duka cita menemani kepergian nyawa dan duka derita pada istri tercintanya. Perempuan yang telah ia tinggalkan masih harus menerima duka yang begitu dalam.
Cuma sekadar memuaskan nafsu sahwatnya, lelaki itu harus mengorbankan diri dan istri. Tukinah. Kematian, yang telah meninggalkan duka itu begitu sulit untuk dilupakan. Kebencian teramat mendalam, duka terus saja mmeyelimuti di sebagian sisa hidupnya.
Suaminya memang terkenal lelaki petualang cinta. Perihal seks, lelaki tiga anak itu memang tak tanggung-tanggung. Sudah ”jajah desa milangkori” berpuluh-puluh perempuan suadah dinikmati. Setiap sudut-sudut kota yang menyajikan kenikmatan sesat itu dia pahami betul. Bahkan gang-gang kecil yang tidak tergambar dalam peta sudah pernah ia singgahi. Hingga virus mematikan itu turut serta merenggut dan mengakhiri petualang cintanya.
Tukinah, bukanlah satu-satunya perempuan yang harus menerima ulah getir suaminya. Masih banyak perempuan yang harus menerima pahit tanpa menikmati yang manis-manis. Betapa tidak? Lelaki yang ” Mangan Nangkane, Istri yang gupak pulute,” bersenang-sengang sendirian dan bebagi-bagi duka bersama. Kasus lain seperti yang diderita Lanny perempuan korban cinta yang begitu kuat memaknai cinta, bahkan ia terlalu sulit untuk mengatakan tidak dan meninggalkan pacar yang bermasalah. Begitu sulit membedakan cinta dan iba, kesulitannya untuk tegas kepada sang pacar, kenaifannya bahwa orang akan berubah demi cinta, membuatnya tak berkutik ketika diajak menikah. Lanny akhirnya menjadi perempuan kodependen. Betapa ia akan menerima hadiah cinta dengan status sebagai perempuan positif HIV/AIDS.
Maka tak mengherankan bahwa distribusi kasus HIV dan AIDS menurut jenis pekerjaan di Propinsi Jawa Tengah banyak diderita oleh perempuan penjaja seks. Sedangkan urutan ke dua ditempati oleh perempuan ibu rumah tangga. ( Laporan Estimasi Populasi Rawan Tertular HIV 2006, Depkes- KPA)
Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seks memang sangat tinggi apalagi hubungan seks dengan gonta-ganti pasangan ( heteroseksual). Dari daftar yang disampaikan oleh Depkes da KPA fektor risiko penularan HIV/AIDS melalui hubungan seks bebas ( free seks ) mencapai 72%. Maka tak mengherankan jika kasus yang diterima oleh lelaki penjaja seks di lokalisasi sangat rentang dengan penyakit mematikan itu.
Perempuan penjaja seks, pelacur, perempuan dilacurkan (pedila), wanita tuna susila (WTS), ciblek, sampah masyarakat, atau apa sebutannya, sangat beresiko terhadap penyakit mematikan itu. Betapa tidak? Perempuan yang mendapat status sebagai penjual dipersepsikan sebagai kaum yang harus nurut terhadap pelanggan. Sehingga upaya untuk membentengi diri dari penyakit HIV/AIDS tidak kuasa mereka lakukan. Anjuran mengenakan sarung (kondom) yang kian gencar disuarakan tak mampu mecegah para pengguna perempuan itu. Bahkan lelaki hidung belang itu tidak jarang yang menolak menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual dengan alasan kurang nikmat.
Yah, keberadaan Wanita Pekerja Seks ( WPS) memang sangat kontraversial. Maka tak sedikit yang berkomentar miring tentang keterkaitan AIDS dan WPS. Banyak yang menyalahkan, mengapa berkeinginan untuk tidak terserang HIV/AIDS kok menjadi WTS? Terlepas dari pro dan kontra, yang jelas, WPS, WTS atau wanita pelacur dan pelanggannya yang jelas ada. Dan kedua-duanya mempunyai peluang sebagai penyebar penyakit tersebut. Perempuan penjual jasa seks sebagai penjual sedangkan lelaki sebagai pembeli dan penikmat mempunyai resiko yang sama terhadap penularan penyakit mematikan itu. Maka keberadaan perempuan penjaja seks itu perlu diperhatikan, agar penularan HIV/AIDS terkendalikan. Bukan berarti penulis pro terhadap keberadaan WTS, begitu juga penulis tidak kontra terhadap WTS.
Benarkah hanya perempuan dan lelaki penikmat yang sering tertular HIV/AIDS. Justru malah sebaliknya! Orang kaya dan berduit juga rentan terhadap penyakit mematikan itu. Menurut Buku Laporan Estimasi populasi Rawan Tertular HIV tahun 2006, Depkes-KPA bahwa pengguna narkoba dengan jarum suntik di Jawa Tengah mencapai 39%. Bukankah tranfusi darah, pengguna narkoba, homoseksual juga rentan terhadap HIV/AIDS?
Bagaimana pencegahan HIV/AIDS? Risiko tinggi penularan HIV/AIDS memang paling banyak pada pekerja seks, langganan pekerja seks, pecandu narkoba dengan suntik, istri/pasangan seks, bayi/ anak.
Usaha untuk mencegah penularan HIV/AIDS di kalangan penghuni lokalisasi bisa dilakukan dengan penerapan izin. Layaknya surat izin mengemudi (SIM), mereka boleh beroperasi hanyalah wanita pekerja seks pemegang izin. Untuk mendapatkan izin tersebut WPS harus melalui sejumlah pemeriksaan, termasuk di antaranya HIV/AIDS. Izin tersebut sebaiknya diperbaharui setiap tiga bulan sekali. Demikian itu wacana yang pernah disampaikan oleh dokter Budi Laksono.
Barang kali bukan hanya itu, resos sebagai pihak yang paling dekat dengan pedila mestinya harus memiliki kesepakan lokal yang lebih pro terhadap pedila. Kesepakan lokal (resos) mestinya harus bertanggung jawab penuh terhadap penggunaan kondom yang pro pedila. Resos dan pedila berkewajiban menolak tamu yang tidak mau menggunakan kondom. Kesepakatan itu haruslah diimbangi dengan sanksi bagi pelanggar kesepakatan lokal (pengurus resos, mucikari,temu dan pedila). Jaminan keamanan pedila jika menolak tamu memakai kondom atau tidak membayar menjadi skala prioritas. Yang tak kalah menariknya, mekanisme sanksi jika terjadi pelanggaran haruslah jelas.
Pencegahan tehadap HIV/AIDS dengan pendekatan ABC ( tidak berhubungan seks bila bukan dengan pasangan, setia pada satu pasangan, atau menggunakan kondom) sudah tidak tepat lagi. Bagaimana kompleknya permasalahan HIV AIDS ini sehingga Epidemi HIV/ AIDS bukan hanya tanggung jawab pedila dan pengguna melainkan tanggung jawab bersama, pengambil, pelaksana, pengawas kebijakan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, media massa, dan partai politik.
Yang jelas memakai kondom dan lain sebagainya tak akan menyelesaikan penularan penyakit itu. Justru menjahui perbuatan mesum dengan gonta-ganti pasangan, menghindari narkoba, dengan meningkatkan keimanan dengan melaksanakan perintah-Nya adalah pilihan cerdas.
Sore itu, sebelum matahari pulang, Tukinah ( bukan nama sebenarnya) terlihat terpengkur, pandangan mata nampak kosong, jauh menatap hari esok yang kian tak menentu. Betapa tidak! Kematian akan suaminya dua tahun yang lalu terus mengingatkan luka lamanya. Yah, kepergian sang suami meninggalkan kenangan pahit yang harus ditanggung wanita berusia 40 tahun itu. Derita seumur hidup tak kan hengkang, terus menemani.
Tukinah, ibu satu anak itu dinyatakan terinfekasi HIV positif. Awalnya, perempuan berkulit sawo matang, berparas cantik itu memang tidak menyadari dirinya terinfeksi HIV. Batuk yang dideritanya hampir satu bulan lebih membuat dia untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Betapa terkejutnya, setelah diperiksa oleh dokter, hasil diagnosanya meminta Tukinah untuk menjalani pemeriksaan darah. Dari hasil pemeriksaan darah itu diketahui bahwa Tukinah terinveksi HIV.
Usut punya usut, Tukinah yang terkenal sederhana, ramah, baik hati dan taat beragama itu terinvekasi HIV dari suaminya yang kesehariannya sering bergaul dengan Wanita Pekerja Seks ( WPS). Suaminya, pelanggan tetap perempuan -perempuan di beberapa lokalisasi. Hobi bersuka gembira dengan perempuan jalang itu tak cukup dengan kegembiraan yang ia dapat. Duka cita menemani kepergian nyawa dan duka derita pada istri tercintanya. Perempuan yang telah ia tinggalkan masih harus menerima duka yang begitu dalam.
Cuma sekadar memuaskan nafsu sahwatnya, lelaki itu harus mengorbankan diri dan istri. Tukinah. Kematian, yang telah meninggalkan duka itu begitu sulit untuk dilupakan. Kebencian teramat mendalam, duka terus saja mmeyelimuti di sebagian sisa hidupnya.
Suaminya memang terkenal lelaki petualang cinta. Perihal seks, lelaki tiga anak itu memang tak tanggung-tanggung. Sudah ”jajah desa milangkori” berpuluh-puluh perempuan suadah dinikmati. Setiap sudut-sudut kota yang menyajikan kenikmatan sesat itu dia pahami betul. Bahkan gang-gang kecil yang tidak tergambar dalam peta sudah pernah ia singgahi. Hingga virus mematikan itu turut serta merenggut dan mengakhiri petualang cintanya.
Tukinah, bukanlah satu-satunya perempuan yang harus menerima ulah getir suaminya. Masih banyak perempuan yang harus menerima pahit tanpa menikmati yang manis-manis. Betapa tidak? Lelaki yang ” Mangan Nangkane, Istri yang gupak pulute,” bersenang-sengang sendirian dan bebagi-bagi duka bersama. Kasus lain seperti yang diderita Lanny perempuan korban cinta yang begitu kuat memaknai cinta, bahkan ia terlalu sulit untuk mengatakan tidak dan meninggalkan pacar yang bermasalah. Begitu sulit membedakan cinta dan iba, kesulitannya untuk tegas kepada sang pacar, kenaifannya bahwa orang akan berubah demi cinta, membuatnya tak berkutik ketika diajak menikah. Lanny akhirnya menjadi perempuan kodependen. Betapa ia akan menerima hadiah cinta dengan status sebagai perempuan positif HIV/AIDS.
Maka tak mengherankan bahwa distribusi kasus HIV dan AIDS menurut jenis pekerjaan di Propinsi Jawa Tengah banyak diderita oleh perempuan penjaja seks. Sedangkan urutan ke dua ditempati oleh perempuan ibu rumah tangga. ( Laporan Estimasi Populasi Rawan Tertular HIV 2006, Depkes- KPA)
Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seks memang sangat tinggi apalagi hubungan seks dengan gonta-ganti pasangan ( heteroseksual). Dari daftar yang disampaikan oleh Depkes da KPA fektor risiko penularan HIV/AIDS melalui hubungan seks bebas ( free seks ) mencapai 72%. Maka tak mengherankan jika kasus yang diterima oleh lelaki penjaja seks di lokalisasi sangat rentang dengan penyakit mematikan itu.
Perempuan penjaja seks, pelacur, perempuan dilacurkan (pedila), wanita tuna susila (WTS), ciblek, sampah masyarakat, atau apa sebutannya, sangat beresiko terhadap penyakit mematikan itu. Betapa tidak? Perempuan yang mendapat status sebagai penjual dipersepsikan sebagai kaum yang harus nurut terhadap pelanggan. Sehingga upaya untuk membentengi diri dari penyakit HIV/AIDS tidak kuasa mereka lakukan. Anjuran mengenakan sarung (kondom) yang kian gencar disuarakan tak mampu mecegah para pengguna perempuan itu. Bahkan lelaki hidung belang itu tidak jarang yang menolak menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual dengan alasan kurang nikmat.
Yah, keberadaan Wanita Pekerja Seks ( WPS) memang sangat kontraversial. Maka tak sedikit yang berkomentar miring tentang keterkaitan AIDS dan WPS. Banyak yang menyalahkan, mengapa berkeinginan untuk tidak terserang HIV/AIDS kok menjadi WTS? Terlepas dari pro dan kontra, yang jelas, WPS, WTS atau wanita pelacur dan pelanggannya yang jelas ada. Dan kedua-duanya mempunyai peluang sebagai penyebar penyakit tersebut. Perempuan penjual jasa seks sebagai penjual sedangkan lelaki sebagai pembeli dan penikmat mempunyai resiko yang sama terhadap penularan penyakit mematikan itu. Maka keberadaan perempuan penjaja seks itu perlu diperhatikan, agar penularan HIV/AIDS terkendalikan. Bukan berarti penulis pro terhadap keberadaan WTS, begitu juga penulis tidak kontra terhadap WTS.
Benarkah hanya perempuan dan lelaki penikmat yang sering tertular HIV/AIDS. Justru malah sebaliknya! Orang kaya dan berduit juga rentan terhadap penyakit mematikan itu. Menurut Buku Laporan Estimasi populasi Rawan Tertular HIV tahun 2006, Depkes-KPA bahwa pengguna narkoba dengan jarum suntik di Jawa Tengah mencapai 39%. Bukankah tranfusi darah, pengguna narkoba, homoseksual juga rentan terhadap HIV/AIDS?
Bagaimana pencegahan HIV/AIDS? Risiko tinggi penularan HIV/AIDS memang paling banyak pada pekerja seks, langganan pekerja seks, pecandu narkoba dengan suntik, istri/pasangan seks, bayi/ anak.
Usaha untuk mencegah penularan HIV/AIDS di kalangan penghuni lokalisasi bisa dilakukan dengan penerapan izin. Layaknya surat izin mengemudi (SIM), mereka boleh beroperasi hanyalah wanita pekerja seks pemegang izin. Untuk mendapatkan izin tersebut WPS harus melalui sejumlah pemeriksaan, termasuk di antaranya HIV/AIDS. Izin tersebut sebaiknya diperbaharui setiap tiga bulan sekali. Demikian itu wacana yang pernah disampaikan oleh dokter Budi Laksono.
Barang kali bukan hanya itu, resos sebagai pihak yang paling dekat dengan pedila mestinya harus memiliki kesepakan lokal yang lebih pro terhadap pedila. Kesepakan lokal (resos) mestinya harus bertanggung jawab penuh terhadap penggunaan kondom yang pro pedila. Resos dan pedila berkewajiban menolak tamu yang tidak mau menggunakan kondom. Kesepakatan itu haruslah diimbangi dengan sanksi bagi pelanggar kesepakatan lokal (pengurus resos, mucikari,temu dan pedila). Jaminan keamanan pedila jika menolak tamu memakai kondom atau tidak membayar menjadi skala prioritas. Yang tak kalah menariknya, mekanisme sanksi jika terjadi pelanggaran haruslah jelas.
Pencegahan tehadap HIV/AIDS dengan pendekatan ABC ( tidak berhubungan seks bila bukan dengan pasangan, setia pada satu pasangan, atau menggunakan kondom) sudah tidak tepat lagi. Bagaimana kompleknya permasalahan HIV AIDS ini sehingga Epidemi HIV/ AIDS bukan hanya tanggung jawab pedila dan pengguna melainkan tanggung jawab bersama, pengambil, pelaksana, pengawas kebijakan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, media massa, dan partai politik.
Yang jelas memakai kondom dan lain sebagainya tak akan menyelesaikan penularan penyakit itu. Justru menjahui perbuatan mesum dengan gonta-ganti pasangan, menghindari narkoba, dengan meningkatkan keimanan dengan melaksanakan perintah-Nya adalah pilihan cerdas.
Ajining Diri Saka Lathi (Harga Diri Karena Kemampuan Berbicara)
Dua puluh tahun lalu setiap kali jarum jam dinding berdetak, berkali pula beberapa perempuan terlibat adu mulut. Saling cerca, saling ejek dan tak sedikit pula yang terlibat adu jotos. Mungkinkah waktu itu memang sedang demam dengan petintu Eliyas Pical, lelaki tangguh dari maluku.
Jaman jahiliah! Betapa tidak, Cuma hanya persoalan sepele yang seharusnya dapat diselesaikan dengan penjelasan sederhana akan rampung. Perempun terus berkali ulang padu, kerah, congkrah selaksa anak anjing dan kucing.
Tidaklah heran jika ada yang mengumpamakan, dua perempuan kumpul akan menjadi perbincangan, tiga perempuan kumpul akan menjadi keramaian, empat perempuan kumpul akan menjadi pasar malam, lima perempuan kumpul akan terjadi ... . Maka tak mengherankan jika perempuanlah yang akan mampu membuat putih-hitamnya persoalan. Mengapa perempuan sering mengedepankan suara ketimbang penalaran yang berlogika?
Dalam banyak cerita, anonim, cerita guyon parikenan , yang berkenaan tentang perempuan, mengapa banyak cakap? Perempuan yang mempunyai leher tanpa penghalang, kolomenjing (jakun), pertanda bahwa perempuan jika memiliki kehendak, pendapat, unek-unek, rerasan, tanpa tedheng aling-aling, dikeluarkan tanpa akal dengan memperhitungkan sebab- akibat. Mungkinkah karena ada pembeda pelafalan kata (Nabi) Adam dengan (Ibu) Hawa. Yang mereduksi beberapa pengertian yang belum tentu betul, jiika mengucap Adam maka mulut/bibir akan menutup begitu sebaliknya jika kita melafalkan Hawa maka mulut kita akan terbuka lebar. Maka makhluk Tuhan yang berjenis kelamin laki-laki seperti Nabi Adam akan sedikit bicara. Jelas perumpamaan itu salah besar?
Nah, barang kali ada juga yang mencibir perempuan, mengapa perempuan banyak bicara ketimbang mengetengahkan penyelesaian persoalan dengan ranah logika yang bernalar? Mungkinkah karena perempuan tanpa penghalang dalam leher atau pun dalam struktur biologis lainnya sebagai hasil dari kematangan fungsi faat” fisiologi” akibat pengalaman empiris maupun belajar. Ataukah karena perempuan terlampau banyak lubang lebar, yang tak memberi ampun untuk menjadi umat yang lebih mengedepankan pikiran. Tat kala itu tak kuasa maka acap tangis dan ucap menjadi senjata andal. Bahkan dengan tegas Penyair metafisis Inggris pada abad ke-17 menggambarkan bahwa perempuan ” Cuma kata-kata sedang perbuatan adalah pria.”
Terlepas dari othak-athik murih gathuk, benar atau salah, yang jelas, lebih banyak perempuan yang menyelesaikan persoalan tanpa berfikir panjang, langsung berkomentar, yang terkadang komentar itu harus bertentangan dengan nalar sehat. Meski tidak semuanya, laki-laki pun banyak yang demikian. Mengapa bisa demikian?
Pernah terjadi dalam sejarah islam, ketika Rasulullah ditanya oleh umatnya ” Apakah yang paling berperan memasukkan seseorang ke dalam neraka?” Beliau saw, bersabda ” Dua lubang, yaitu mulut(lisan) dan kemaluan.” ( HR. At Turmudzi) dua lubang mulut dan kemaluan yang kerap mendatangkan dosa dan mengantarkan manusia ke neraka.
Mulut biasanya berkaitan dengan lidah ( bicara) dan perut ( makanan). Jika manusia tidak bisa mengekang bicara, lidah akan keluar kata-kata keji yang cukup menyakitkan orang lain justru itu yang akan membinasakannya. Kesadaran untuk berbicara dengan memperhatikan sebab akibat tidaklah mudah. Perlu pengalaman empiris yang tidak mudah diperoleh bak sekejab mata memandang. Justru pengalaman empiris ini yang mengantarkan manusia baik berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan untuk mencapai puncak kehidupan yanitu manusia dewasa.
Di zaman Rasulullah Abdullah Ats Tsaqafi bertanya, ”Wahai Rasulullah, terangkanlah kepadaku tentang suatu perkara yang akan dapat kubuat pedoman!” Maka Rasulullah menjawab, dengan memegang lidah, ” Ini.” (HR. An Nasai). Abu Bakar pun sangat keras terhadap bahaya lisan sehingga ia pernah mengatakan kepada Umar Bin Khathab ra dengan menjulurkan lidahnya seraya mengatakan, ” Inilah yang membawaku ke tempat kehancuran.”
Tidak sedikit bahaya yang ditimbulkan oleh bahaya lisan. Ketajaman lidah melebihi ketajaman pedang. Maka manusia yang terbekali dengan mulut dengan kemampuan berbicara tidaklah dengan mudah mengeluarkan lisan itu tanpa memperhitungkan dengan akal sehat. Tidaklah Rasulullah berpesan, ” Kamu bisa menahan Lidahmu, rumahmu terasa lapang bagimu dan engkau menangisi kesalahanmu.” ( HR. At Turmudzi) keselaman yang dapat terjaga kerena lidah sebenarnya adalah kemampuan mengucapkan pertakaan yang jauh dari perkataan kotor, mengumpat, mencela, menggerutu, menggunjing, dan sebagainya. Hal yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan penyesalan manakala melakukan kesalahan, bertaubat dengan sebenar-benarnya jika kita memang melakukan pemanfaatan lisan yang menimbulkan bencana.
Sebegitu pentingnya penjagaan lisan atas pemanfaatannya, hingga lidah yang mudah berkata jika mampu mengekangnya maka manusia akan terlindungi dari aib. Sabda Rasulullah, ’ Barang siapa mengekang lisannya( lidahnya), pasti Allah melindungi aibnya, barang siapa menahan kemarahannya pasti Allah melindungi dari siksaNya, dan barang siapa mengemukakan alasan kepada Allah, pasti Allah menerima alasannya. ( HR At Turmudzi, Ibnu Abi Dun-ya, Al Baihaqi).
Simpanlah lidahmu kecuali dari perkataan baik. Sesungguhnya dengan demikian, kamu dapat mengalahkan setan ( HR. Ibnu Abid Dun-ya, Abu Dzar). Sesungguhnya Allah di sisi lisan setiap orang yang berbicara, maka hendaklah bertakwa kepada Allah orang yang mengerti apa-apa yang dikatakan. ( HR. Ibnu Majah dari Abu Khallad).
Karena sesungguhnya orang yang banyak bicara, pastilah banyak kesalahannya. Barang siapa banyak kesalahannya, pasti banyak dosa-dosanya. Barang siapa yang banyak dosanya, pasti neraka baginya. ( HR. Abu Nu’aim).
Pertemuan beberapa perempuan memang tak lepas dari perdebatan. Banyak tontonan dan kegiatan yang menyajikan materi perdebatan perempuan, telenovela, berita artis, gosip tetangga, berita suami. Perdebatan itu sebagai awal dari perkembangan materi perdebatan yang yang jauh lebih ramai.
Bagaimana islam menyikapi tentang perdebatan itu. Islam justru tidak menyenangi perdebatan, berbantah-bantahan. Berbantah-bantahan menurut islam adalah setiap pertentangan mengenai perkataan orang lain dengan cara menampakkan kelemahan dan kekurangannya, baik mengenai uraian kata, pengertian yang dimaksud, atau mengenai maksud orang lain yang berkata sehingga meninggalkan kesan ingkar dan pertentangan. Karena sesungguhnya keterangan tentang ” keburukan” berbantah-bantahan lebih banyak dari pada kebaikan.
Jika perdebatan dipahami untuk menunjukkan kelemahan atau kekurangan orang lain maka sebetulnya itu merupakan nafsu batiniah yang dapat merusak diri sendiri
Perdebatan, pergunjingan untuk membicarakan kelemahan dan kekurangan orang lain sebenarnya akan menunjukkan kekurangan pada diri manusia sendiri. Maka untuk menghindari hal tersebut, gunakan akal dan lakukan perdebatan ketika sendiri lalu dengan cara yang lemah lembut dan tidak memancing perdebatan baru ( emosi).
Sebagai manusia yang pingin banyak saudara, tetangga, kawan maka hindari duduk bersama sehingga membicarakan pembicaraan yang batil. ” Manusia yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah mereka yang paling banyak bicara tentang kemaksiatan kepada Allah.” kata Salman Al Farisi.
Sabda Rasulullah saw, barang siapa diam, pasti selamat.
Jaman jahiliah! Betapa tidak, Cuma hanya persoalan sepele yang seharusnya dapat diselesaikan dengan penjelasan sederhana akan rampung. Perempun terus berkali ulang padu, kerah, congkrah selaksa anak anjing dan kucing.
Tidaklah heran jika ada yang mengumpamakan, dua perempuan kumpul akan menjadi perbincangan, tiga perempuan kumpul akan menjadi keramaian, empat perempuan kumpul akan menjadi pasar malam, lima perempuan kumpul akan terjadi ... . Maka tak mengherankan jika perempuanlah yang akan mampu membuat putih-hitamnya persoalan. Mengapa perempuan sering mengedepankan suara ketimbang penalaran yang berlogika?
Dalam banyak cerita, anonim, cerita guyon parikenan , yang berkenaan tentang perempuan, mengapa banyak cakap? Perempuan yang mempunyai leher tanpa penghalang, kolomenjing (jakun), pertanda bahwa perempuan jika memiliki kehendak, pendapat, unek-unek, rerasan, tanpa tedheng aling-aling, dikeluarkan tanpa akal dengan memperhitungkan sebab- akibat. Mungkinkah karena ada pembeda pelafalan kata (Nabi) Adam dengan (Ibu) Hawa. Yang mereduksi beberapa pengertian yang belum tentu betul, jiika mengucap Adam maka mulut/bibir akan menutup begitu sebaliknya jika kita melafalkan Hawa maka mulut kita akan terbuka lebar. Maka makhluk Tuhan yang berjenis kelamin laki-laki seperti Nabi Adam akan sedikit bicara. Jelas perumpamaan itu salah besar?
Nah, barang kali ada juga yang mencibir perempuan, mengapa perempuan banyak bicara ketimbang mengetengahkan penyelesaian persoalan dengan ranah logika yang bernalar? Mungkinkah karena perempuan tanpa penghalang dalam leher atau pun dalam struktur biologis lainnya sebagai hasil dari kematangan fungsi faat” fisiologi” akibat pengalaman empiris maupun belajar. Ataukah karena perempuan terlampau banyak lubang lebar, yang tak memberi ampun untuk menjadi umat yang lebih mengedepankan pikiran. Tat kala itu tak kuasa maka acap tangis dan ucap menjadi senjata andal. Bahkan dengan tegas Penyair metafisis Inggris pada abad ke-17 menggambarkan bahwa perempuan ” Cuma kata-kata sedang perbuatan adalah pria.”
Terlepas dari othak-athik murih gathuk, benar atau salah, yang jelas, lebih banyak perempuan yang menyelesaikan persoalan tanpa berfikir panjang, langsung berkomentar, yang terkadang komentar itu harus bertentangan dengan nalar sehat. Meski tidak semuanya, laki-laki pun banyak yang demikian. Mengapa bisa demikian?
Pernah terjadi dalam sejarah islam, ketika Rasulullah ditanya oleh umatnya ” Apakah yang paling berperan memasukkan seseorang ke dalam neraka?” Beliau saw, bersabda ” Dua lubang, yaitu mulut(lisan) dan kemaluan.” ( HR. At Turmudzi) dua lubang mulut dan kemaluan yang kerap mendatangkan dosa dan mengantarkan manusia ke neraka.
Mulut biasanya berkaitan dengan lidah ( bicara) dan perut ( makanan). Jika manusia tidak bisa mengekang bicara, lidah akan keluar kata-kata keji yang cukup menyakitkan orang lain justru itu yang akan membinasakannya. Kesadaran untuk berbicara dengan memperhatikan sebab akibat tidaklah mudah. Perlu pengalaman empiris yang tidak mudah diperoleh bak sekejab mata memandang. Justru pengalaman empiris ini yang mengantarkan manusia baik berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan untuk mencapai puncak kehidupan yanitu manusia dewasa.
Di zaman Rasulullah Abdullah Ats Tsaqafi bertanya, ”Wahai Rasulullah, terangkanlah kepadaku tentang suatu perkara yang akan dapat kubuat pedoman!” Maka Rasulullah menjawab, dengan memegang lidah, ” Ini.” (HR. An Nasai). Abu Bakar pun sangat keras terhadap bahaya lisan sehingga ia pernah mengatakan kepada Umar Bin Khathab ra dengan menjulurkan lidahnya seraya mengatakan, ” Inilah yang membawaku ke tempat kehancuran.”
Tidak sedikit bahaya yang ditimbulkan oleh bahaya lisan. Ketajaman lidah melebihi ketajaman pedang. Maka manusia yang terbekali dengan mulut dengan kemampuan berbicara tidaklah dengan mudah mengeluarkan lisan itu tanpa memperhitungkan dengan akal sehat. Tidaklah Rasulullah berpesan, ” Kamu bisa menahan Lidahmu, rumahmu terasa lapang bagimu dan engkau menangisi kesalahanmu.” ( HR. At Turmudzi) keselaman yang dapat terjaga kerena lidah sebenarnya adalah kemampuan mengucapkan pertakaan yang jauh dari perkataan kotor, mengumpat, mencela, menggerutu, menggunjing, dan sebagainya. Hal yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan penyesalan manakala melakukan kesalahan, bertaubat dengan sebenar-benarnya jika kita memang melakukan pemanfaatan lisan yang menimbulkan bencana.
Sebegitu pentingnya penjagaan lisan atas pemanfaatannya, hingga lidah yang mudah berkata jika mampu mengekangnya maka manusia akan terlindungi dari aib. Sabda Rasulullah, ’ Barang siapa mengekang lisannya( lidahnya), pasti Allah melindungi aibnya, barang siapa menahan kemarahannya pasti Allah melindungi dari siksaNya, dan barang siapa mengemukakan alasan kepada Allah, pasti Allah menerima alasannya. ( HR At Turmudzi, Ibnu Abi Dun-ya, Al Baihaqi).
Simpanlah lidahmu kecuali dari perkataan baik. Sesungguhnya dengan demikian, kamu dapat mengalahkan setan ( HR. Ibnu Abid Dun-ya, Abu Dzar). Sesungguhnya Allah di sisi lisan setiap orang yang berbicara, maka hendaklah bertakwa kepada Allah orang yang mengerti apa-apa yang dikatakan. ( HR. Ibnu Majah dari Abu Khallad).
Karena sesungguhnya orang yang banyak bicara, pastilah banyak kesalahannya. Barang siapa banyak kesalahannya, pasti banyak dosa-dosanya. Barang siapa yang banyak dosanya, pasti neraka baginya. ( HR. Abu Nu’aim).
Pertemuan beberapa perempuan memang tak lepas dari perdebatan. Banyak tontonan dan kegiatan yang menyajikan materi perdebatan perempuan, telenovela, berita artis, gosip tetangga, berita suami. Perdebatan itu sebagai awal dari perkembangan materi perdebatan yang yang jauh lebih ramai.
Bagaimana islam menyikapi tentang perdebatan itu. Islam justru tidak menyenangi perdebatan, berbantah-bantahan. Berbantah-bantahan menurut islam adalah setiap pertentangan mengenai perkataan orang lain dengan cara menampakkan kelemahan dan kekurangannya, baik mengenai uraian kata, pengertian yang dimaksud, atau mengenai maksud orang lain yang berkata sehingga meninggalkan kesan ingkar dan pertentangan. Karena sesungguhnya keterangan tentang ” keburukan” berbantah-bantahan lebih banyak dari pada kebaikan.
Jika perdebatan dipahami untuk menunjukkan kelemahan atau kekurangan orang lain maka sebetulnya itu merupakan nafsu batiniah yang dapat merusak diri sendiri
Perdebatan, pergunjingan untuk membicarakan kelemahan dan kekurangan orang lain sebenarnya akan menunjukkan kekurangan pada diri manusia sendiri. Maka untuk menghindari hal tersebut, gunakan akal dan lakukan perdebatan ketika sendiri lalu dengan cara yang lemah lembut dan tidak memancing perdebatan baru ( emosi).
Sebagai manusia yang pingin banyak saudara, tetangga, kawan maka hindari duduk bersama sehingga membicarakan pembicaraan yang batil. ” Manusia yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah mereka yang paling banyak bicara tentang kemaksiatan kepada Allah.” kata Salman Al Farisi.
Sabda Rasulullah saw, barang siapa diam, pasti selamat.
MENGAPA BUTUH PEREMPUAN?
TAK DAPAT KU MENGERTI ; MENGAPA BUTUH PEREMPUAN?
Tak dapat ku mengerti ;
Ketika bulan-bulan kecil itu mulai bersinar
Dan lebih tak dapat ku mengerti;
Sebab bulan-bulan itu taat bersinar meski kembang-kembang itu telah lama mekar
Tidak juga layu
Tidak jua rontok
Hari ini tepat itu pula kutilis ini
Bulan itu agustus tepat aku mengiakan prasetya
Diantara janur kelapa muda yang tegak berdiri
Berkibar menjadi bendera-bendera
Tidak dari kain berwarna-warna
Tidak pula kertas-kerta seperti bendera kebanyakan orang-orang
Tetap itu jadi sejarah ruah
Tidak sekadar Catatan
Sebab tidak sedikit
bahkan puluhan pasang mata
Mengantarkan bulan tuk berpapasan
Berjabat, Berucap
Sudah terlalu tua
Lelah menunggu
Lelah mendatangi
Lelah mebelikan celana jin
Suntuk mendengarkan kaset gigi
Malu berboncengan karena tangan kecil itu terus saja bererat-erat
Atau sudah bosan berbaju kuning kembang bertulis bavanas itu
Sudah terlalu tua
Catatan bukan sejarah perjuangan bangsa
Sumpah bulan gadis dua belasan tahun lalu
Goresan kumpulan huruf-huruf yang panjang panjang
Petuah-petitih pekerja bangsa basi
” Saya nikahkan kamu ....”
Berkumandang ditengah kumpulan puluhan orang berpeci
Bersarung
Berdasi dengan memegang pena hitam dan buku yang akan ku beli mahal itu
Buku sejarah
Bukan buku orang-orang yang pernah berbohong
Bukan buku tulisaan orang-orang pendusta
Sebab ini aku tidak akan berdusta
Kami sudah terlalu tua
Tidak bermenit-menit
Ujung tangan itu menjulurkan tangan
Mengantarkan aku menjawab ” kuterima nikahnya ... ”
Gusti hari ini aku akan bersama gadis itu berpuluh-puluh tahun
Seratus atau beratus-ratus tahun meski mustahil
Mimpi
Kami sudah terlalu tua
Jangan kau tulis dengan arang!
Jangan pula kau paku tulisan meski hanya sehuruf dua huruf
Apalagi kalimat-kalimat panjang yang tak pernah kau dapati lagi
Bungkus rapat-rapat
Karena hari ini angin-angin akan terus berhembus
Tidak petang tidak juga terang benerang
Benamkan dalam-dalam
Kubur bersama perginya pagi hari yang terus melaju
Kami sudah terlalu tua
Tak dapat kumengeti, sampai hari ini, mengapa aku butuh perempuan?. Bukankah perempuan bikin repot karena perempuan hanya akan menjadi beban hidup. Bukankan hidup sendiri lebih enak? Pergi jauh, pulang pagi tak ada yang merasa ditinggal.
Tak dapat kumengerti sampai detik ini, mengapa aku pingin hidup dengan perempuan?
Apakah hanya untuk pemuas sahwat dan nafsu cinta? Bukankah hari ini untuk mendapatkan perempuan pemuas nafsu tidak sulit?
Di kampung, dijalan raya bahkan, di emper toko, dimana tersediakan dengan bungkus dan aroma berbeda. Bermacam-macam bodi dan kesing. Tersedia pula di pasar perempuan.
Remuk!
Mestikah aku kawin?
Tidakkah nyaman mengawini?
Rasululku, Nabiku, bersabda untukku dan orang-orang itu,
” Hai pemuda-pemuda, barang siapa yang mampu di antara kamu serta berkeinginan kawin, hendaklah dia kawin. Karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan mata terhadap orang yang tidak halal dilihatnya, dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Dan barang siapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa, karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang”
Aku memang tidak kuat puasa
Tidak tahan melihat perempuan-perempuan pendusta
Tidak kuat dengan perempuan-perempuan berkepang pupu bersurban gulungan pita hitam.
Aku kawin!!
Tak dapat kumengerti sampai hari ini mengapa aku mengawini perempuan? Apakah hanya untuk mendapatkan keturunan?
Bukankah hari ini sangat mudah mendapatkan bayi-bayi kecil lucu di panti asuhan, rumah sakit, jalan-jalan, tempat sampah, sungai, laut, bahkan di kamar mayat.
Bayi-bayi korban perempuan penikmat sahwat.
Tak dapat ku mengerti, mengapa aku menikahi perempuan?
Aku memang mengawini perempuan, karena aku laki-laki, laki-laki hamba tuhan.
Rasululku, Rasul kita, Rasul kita semuanya, berhadis yang diriwayatkan oleh hamba Tuhan, Hakim dan Abu Dawut.
” Dari ’ Aisyah : ” Kawinilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta ( rezeki) bagi kamu ”
Ya, tak dapat ku mengerti?
Mengapa aku takut miskin?
Benarkah pemuda tidak bisa kaya?
Tak dapat ku mengerti
Tak dapat ku mengerti?
Mengapa istriku melahirkan anak lagi?
Bukankah istriku sudak berkesakitan pada kelahiran anak pertama?
Tidakkah kapok?
Atau mungkin isteri-istri keenakan tat kala melahirkan.
Tak dapat ku mengerti mengapa istriku tidak sesar? Bukankah melahirkan sesar lebih menguntungkan istri. Vagina tidak robek-robek?
Tidakkah juga aku lebih nikmat?.
Tak dapat ku mengerti, mengapa bayi-bayi itu saya besarkan. Bukankah aku berpayah-payah membeli baju, sepatu dan celana biru?
Tak dapat ku mengerti. Mengapa susu istriku harus kubagikan dengan anak kecil itu?
Bukankah menjadikan susu dan puting mungil indah itu menjadikannya kondor, mengkerut-berkerut-kerut bak buah jeruk purut?
Tidakkah banyak susu-susu bayi yang yang murah dan bermutu?
Firman Tuhanku, Al-Baqarah : 233
” Ibu-ibu menyusukan anak mereka selama dua tahun penuh bagi orang yang hendak menyempurnakan persusuan anaknya ”
Tak dapat aku mengerti mengapa aku beristri satu? Bukankan pada saat datang bulan, bersusah-susah aku?
Mengapa tidak poligamami?
Atau karena aku patuh dengan perintah Tuhan dalam surat An-Nisa’4 : )
” Maka bolehlah kamu menikahi perempuan yang kamu pandang baik untuk kamu, dua, tiga, atau empat; jika kiranya kamu takut tidak dapat berlaku adil di antara mereka itu, hendaknya kamu kawini satu saja”
Mengapa istriku pilih satu aku?
Bukankah aku sering pergi?
Sering meninggalkannya hanya sekadar ngopi-ngopi bersama rekan dan kawan. Tidakkah kedinginankah ia
Mengapa tidak poliandri?
Bukankah poliandri lebih enak?
Atau karena harus ber- susah-susah orang menyebut nama dua atau tiga bin, bin.....
Ya ...bin Paijo bin Abdulah bin Rebo bin Santosa.
Atau singkatnya bin rame-rame..
Tanpa ku mengerti, itu aku.
Tanpa ku sadari aku dan istriku.
Tak dapat ku mengerti, kesadaranku telah hilang musna
Aku tidak muda lagi
Tak ku sadari hidup sekadar mampir ngombe
Umur berbatas dengan kesadaran
Gebyok, 23 November 2010
Tak dapat ku mengerti ;
Ketika bulan-bulan kecil itu mulai bersinar
Dan lebih tak dapat ku mengerti;
Sebab bulan-bulan itu taat bersinar meski kembang-kembang itu telah lama mekar
Tidak juga layu
Tidak jua rontok
Hari ini tepat itu pula kutilis ini
Bulan itu agustus tepat aku mengiakan prasetya
Diantara janur kelapa muda yang tegak berdiri
Berkibar menjadi bendera-bendera
Tidak dari kain berwarna-warna
Tidak pula kertas-kerta seperti bendera kebanyakan orang-orang
Tetap itu jadi sejarah ruah
Tidak sekadar Catatan
Sebab tidak sedikit
bahkan puluhan pasang mata
Mengantarkan bulan tuk berpapasan
Berjabat, Berucap
Sudah terlalu tua
Lelah menunggu
Lelah mendatangi
Lelah mebelikan celana jin
Suntuk mendengarkan kaset gigi
Malu berboncengan karena tangan kecil itu terus saja bererat-erat
Atau sudah bosan berbaju kuning kembang bertulis bavanas itu
Sudah terlalu tua
Catatan bukan sejarah perjuangan bangsa
Sumpah bulan gadis dua belasan tahun lalu
Goresan kumpulan huruf-huruf yang panjang panjang
Petuah-petitih pekerja bangsa basi
” Saya nikahkan kamu ....”
Berkumandang ditengah kumpulan puluhan orang berpeci
Bersarung
Berdasi dengan memegang pena hitam dan buku yang akan ku beli mahal itu
Buku sejarah
Bukan buku orang-orang yang pernah berbohong
Bukan buku tulisaan orang-orang pendusta
Sebab ini aku tidak akan berdusta
Kami sudah terlalu tua
Tidak bermenit-menit
Ujung tangan itu menjulurkan tangan
Mengantarkan aku menjawab ” kuterima nikahnya ... ”
Gusti hari ini aku akan bersama gadis itu berpuluh-puluh tahun
Seratus atau beratus-ratus tahun meski mustahil
Mimpi
Kami sudah terlalu tua
Jangan kau tulis dengan arang!
Jangan pula kau paku tulisan meski hanya sehuruf dua huruf
Apalagi kalimat-kalimat panjang yang tak pernah kau dapati lagi
Bungkus rapat-rapat
Karena hari ini angin-angin akan terus berhembus
Tidak petang tidak juga terang benerang
Benamkan dalam-dalam
Kubur bersama perginya pagi hari yang terus melaju
Kami sudah terlalu tua
Tak dapat kumengeti, sampai hari ini, mengapa aku butuh perempuan?. Bukankah perempuan bikin repot karena perempuan hanya akan menjadi beban hidup. Bukankan hidup sendiri lebih enak? Pergi jauh, pulang pagi tak ada yang merasa ditinggal.
Tak dapat kumengerti sampai detik ini, mengapa aku pingin hidup dengan perempuan?
Apakah hanya untuk pemuas sahwat dan nafsu cinta? Bukankah hari ini untuk mendapatkan perempuan pemuas nafsu tidak sulit?
Di kampung, dijalan raya bahkan, di emper toko, dimana tersediakan dengan bungkus dan aroma berbeda. Bermacam-macam bodi dan kesing. Tersedia pula di pasar perempuan.
Remuk!
Mestikah aku kawin?
Tidakkah nyaman mengawini?
Rasululku, Nabiku, bersabda untukku dan orang-orang itu,
” Hai pemuda-pemuda, barang siapa yang mampu di antara kamu serta berkeinginan kawin, hendaklah dia kawin. Karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan mata terhadap orang yang tidak halal dilihatnya, dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Dan barang siapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa, karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang”
Aku memang tidak kuat puasa
Tidak tahan melihat perempuan-perempuan pendusta
Tidak kuat dengan perempuan-perempuan berkepang pupu bersurban gulungan pita hitam.
Aku kawin!!
Tak dapat kumengerti sampai hari ini mengapa aku mengawini perempuan? Apakah hanya untuk mendapatkan keturunan?
Bukankah hari ini sangat mudah mendapatkan bayi-bayi kecil lucu di panti asuhan, rumah sakit, jalan-jalan, tempat sampah, sungai, laut, bahkan di kamar mayat.
Bayi-bayi korban perempuan penikmat sahwat.
Tak dapat ku mengerti, mengapa aku menikahi perempuan?
Aku memang mengawini perempuan, karena aku laki-laki, laki-laki hamba tuhan.
Rasululku, Rasul kita, Rasul kita semuanya, berhadis yang diriwayatkan oleh hamba Tuhan, Hakim dan Abu Dawut.
” Dari ’ Aisyah : ” Kawinilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta ( rezeki) bagi kamu ”
Ya, tak dapat ku mengerti?
Mengapa aku takut miskin?
Benarkah pemuda tidak bisa kaya?
Tak dapat ku mengerti
Tak dapat ku mengerti?
Mengapa istriku melahirkan anak lagi?
Bukankah istriku sudak berkesakitan pada kelahiran anak pertama?
Tidakkah kapok?
Atau mungkin isteri-istri keenakan tat kala melahirkan.
Tak dapat ku mengerti mengapa istriku tidak sesar? Bukankah melahirkan sesar lebih menguntungkan istri. Vagina tidak robek-robek?
Tidakkah juga aku lebih nikmat?.
Tak dapat ku mengerti, mengapa bayi-bayi itu saya besarkan. Bukankah aku berpayah-payah membeli baju, sepatu dan celana biru?
Tak dapat ku mengerti. Mengapa susu istriku harus kubagikan dengan anak kecil itu?
Bukankah menjadikan susu dan puting mungil indah itu menjadikannya kondor, mengkerut-berkerut-kerut bak buah jeruk purut?
Tidakkah banyak susu-susu bayi yang yang murah dan bermutu?
Firman Tuhanku, Al-Baqarah : 233
” Ibu-ibu menyusukan anak mereka selama dua tahun penuh bagi orang yang hendak menyempurnakan persusuan anaknya ”
Tak dapat aku mengerti mengapa aku beristri satu? Bukankan pada saat datang bulan, bersusah-susah aku?
Mengapa tidak poligamami?
Atau karena aku patuh dengan perintah Tuhan dalam surat An-Nisa’4 : )
” Maka bolehlah kamu menikahi perempuan yang kamu pandang baik untuk kamu, dua, tiga, atau empat; jika kiranya kamu takut tidak dapat berlaku adil di antara mereka itu, hendaknya kamu kawini satu saja”
Mengapa istriku pilih satu aku?
Bukankah aku sering pergi?
Sering meninggalkannya hanya sekadar ngopi-ngopi bersama rekan dan kawan. Tidakkah kedinginankah ia
Mengapa tidak poliandri?
Bukankah poliandri lebih enak?
Atau karena harus ber- susah-susah orang menyebut nama dua atau tiga bin, bin.....
Ya ...bin Paijo bin Abdulah bin Rebo bin Santosa.
Atau singkatnya bin rame-rame..
Tanpa ku mengerti, itu aku.
Tanpa ku sadari aku dan istriku.
Tak dapat ku mengerti, kesadaranku telah hilang musna
Aku tidak muda lagi
Tak ku sadari hidup sekadar mampir ngombe
Umur berbatas dengan kesadaran
Gebyok, 23 November 2010
PRAWAN “ KIPRAHE WAYAH AWAN”
Kedudukan perempuan dalam tradisi jawa masih memandang perempuan sebagai kaum lemah dan terpinggirkan. Gerak tubuh sebagai kekuatan fisik tak diakui sebagai kekuatan yang mampu meningkatkan derajat perempuan ditengah kehidupan bermasyarakat. Perempuan “ dianggap tidak mampu menjaga keselamatan tubuh _ dipahami secara harfiah_ maka tak sedikit orang tua yang membatasi gerak perempuan. Keselamatan diri sebagai pertimbangan awal meski sebenarnya tidak sedikit perempuan yang mampu menjalankan fungsi sebagai pemimpin.
Kodrat! Ya, semangat mendistorsi perempuan memang kuat. Jarang yang mengakui perempuan dari kemampuan dan prestasi. Pemahaman yang demikian kian manjing daging di masyarakat dan terus dipertahankan. Apalagi di masyarakat arus bawah yang justru menjadi langgengnya budaya patriarki. Kecenderungan perempuan menganggap dirinya tidak sederajat dengan laki-laki, sedikit banyak adalah pengaruh dari pemahaman tradisi yang kuat mengakar.
Untuk memberikan makna yang utuh dari Prawan Kiprahe wayah awan , perlu pemahaman mendalam dari sudut pandang yang lebih luas Ya, sudut pandang dari hakekat perempuan itu sendiri.
Perempuan secara genetik memang berbeda, namun perbedaan itu tidak lantas mengecilkan atau bahkan memenjarakan peran dan keinginannya. Pun perbedaan atribut fisik hanya sebatas atribut biologis. Perempuan bervagina dan laki-laki berpenis. Perbedaan dua atribut gender yang dimiliki oleh dua makhluk itu membawa pemahaman yang berbeda pula. Pemahaman yang menganaktirikan prempuan secara fisik tidak lagi oleh tradisi. Agama pun dipandang turut mamapankan ketimpangan peran berdasarkan jenis kelamin.
Budaya Arap misalnya, zaman sebelum Islam datang, zaman Jahiliyah, gerak perempuan amat sangat terbatas. Perempuan-perempuan pada kala itu, tidak mempunyai hak pribadi, hak politik. Seorang perempuan tidak berhak mendapat warisan bahkan dirinya menjadi “ Harta Warisan”. Yang selalu mendapat tekanan dari lelaki ( suami ). Perempuan dipandang sebagai obyek perlakuan seks kaum hawa. Perempuan berkedudukan sebagai obyek ( maf’ul bih) dan menjadi pihak ketiga ( ghaibah), sebaliknya laki-laki sebagai subyek ( fa’il ) dan pihak kedua ( mukhathabah ).
Bagaimana seorang Drupada yang akan mengawinkan anak tercantiknya, Drupadi harus melalui sayembara, sehingga tatkala melihat Raden Suryatmaja anak angkat Adirata _ seorang kusir _ Drupadi menangis, sedih. Yah, layaknya sebuah benda mati tanpa nyawa dan otak, perempuan secantik Drupadi, dijadikan hadiah dalam rangka mempertahankan kejayaan Negara Pancalaradya.
Perempuan dan vagina menjadi dua komponen yang tak terpisahkan sekaligus atribut yang berfungsi sebagai pelengkap biologis manusia. Namun terkadang dimaknai sebagai beban gender. Sebegitu kuat masyarakat memandang perempuan “ pemilik vagina “ untuk menjadikan vagina sebagai beban sekaligus atribut yang harus terjaga rapi. Maka seolah perempuan saja yang berhak atas keutuhan alat reproduksi itu. Istilah keprawanan lebih sakral ketimbang istilah ” kejejakaan ” atau istilah lain yang belum muncul atau harus dimunculkan sebagai kesimbangan.
Atau, perempuan mendapatkan batas atau pagar-pagar pemisah antara perempuan sebagai prawan sejati, atau gadis bukan perawan dengan munculnya pandangan-pandangan yang menganggap gadis perawan harus terbukti dengan robeknya selaput keprawanan. Bahkan laki-laki beranggapan jika perempuan pada malam pertama tidak mengeluarkan darah maka bukanlah gadis pwerawan. Gadis ” dor owor-owor ” perempuan yang telah kehilangan intan berharganya. Bagaimana dengan laki-laki yang menyandang jejaka sejati?
Dalam pranata sosial yang berkembang , secara khusus perempuan terbatasi oleh pelarangan-pelarangan atau pembatasan-pembatasan peran sosial-budaya perempuan. Semisal ” Aja Nglungguhi Alu Ngadek” tidak boleh menduduki antan ( penumbuk padi). Pelarangan terhadap perempuan untuk tidak boleh sembarangan duduk atau dengan sengaja duduk di antap karena akan berbahaya, pantat dan tubuh akan sakit. Tetapi didalam pelarangan itu tidak sekadar alu sebagai alat penumbuk padi tetapi lebih sebagai makna kiasan dari organ biologis laki-laki. ”Alu” melambangkan alat kelamin laki-laki yang sudah siap orgasme dan jika atau perempuan itu mendekat maka keprawanan yang dilambangkan sebagai intan akan hilang. Mengapa perempuan yang dilarang bukankah laki-laki pemilik alu juga harus berhati-hati menggunakan alu penumbuk padi agar padi tidak rusak sehingga pemilik padi akan senang.
Kodrat! Ya, semangat mendistorsi perempuan memang kuat. Jarang yang mengakui perempuan dari kemampuan dan prestasi. Pemahaman yang demikian kian manjing daging di masyarakat dan terus dipertahankan. Apalagi di masyarakat arus bawah yang justru menjadi langgengnya budaya patriarki. Kecenderungan perempuan menganggap dirinya tidak sederajat dengan laki-laki, sedikit banyak adalah pengaruh dari pemahaman tradisi yang kuat mengakar.
Untuk memberikan makna yang utuh dari Prawan Kiprahe wayah awan , perlu pemahaman mendalam dari sudut pandang yang lebih luas Ya, sudut pandang dari hakekat perempuan itu sendiri.
Perempuan secara genetik memang berbeda, namun perbedaan itu tidak lantas mengecilkan atau bahkan memenjarakan peran dan keinginannya. Pun perbedaan atribut fisik hanya sebatas atribut biologis. Perempuan bervagina dan laki-laki berpenis. Perbedaan dua atribut gender yang dimiliki oleh dua makhluk itu membawa pemahaman yang berbeda pula. Pemahaman yang menganaktirikan prempuan secara fisik tidak lagi oleh tradisi. Agama pun dipandang turut mamapankan ketimpangan peran berdasarkan jenis kelamin.
Budaya Arap misalnya, zaman sebelum Islam datang, zaman Jahiliyah, gerak perempuan amat sangat terbatas. Perempuan-perempuan pada kala itu, tidak mempunyai hak pribadi, hak politik. Seorang perempuan tidak berhak mendapat warisan bahkan dirinya menjadi “ Harta Warisan”. Yang selalu mendapat tekanan dari lelaki ( suami ). Perempuan dipandang sebagai obyek perlakuan seks kaum hawa. Perempuan berkedudukan sebagai obyek ( maf’ul bih) dan menjadi pihak ketiga ( ghaibah), sebaliknya laki-laki sebagai subyek ( fa’il ) dan pihak kedua ( mukhathabah ).
Bagaimana seorang Drupada yang akan mengawinkan anak tercantiknya, Drupadi harus melalui sayembara, sehingga tatkala melihat Raden Suryatmaja anak angkat Adirata _ seorang kusir _ Drupadi menangis, sedih. Yah, layaknya sebuah benda mati tanpa nyawa dan otak, perempuan secantik Drupadi, dijadikan hadiah dalam rangka mempertahankan kejayaan Negara Pancalaradya.
Perempuan dan vagina menjadi dua komponen yang tak terpisahkan sekaligus atribut yang berfungsi sebagai pelengkap biologis manusia. Namun terkadang dimaknai sebagai beban gender. Sebegitu kuat masyarakat memandang perempuan “ pemilik vagina “ untuk menjadikan vagina sebagai beban sekaligus atribut yang harus terjaga rapi. Maka seolah perempuan saja yang berhak atas keutuhan alat reproduksi itu. Istilah keprawanan lebih sakral ketimbang istilah ” kejejakaan ” atau istilah lain yang belum muncul atau harus dimunculkan sebagai kesimbangan.
Atau, perempuan mendapatkan batas atau pagar-pagar pemisah antara perempuan sebagai prawan sejati, atau gadis bukan perawan dengan munculnya pandangan-pandangan yang menganggap gadis perawan harus terbukti dengan robeknya selaput keprawanan. Bahkan laki-laki beranggapan jika perempuan pada malam pertama tidak mengeluarkan darah maka bukanlah gadis pwerawan. Gadis ” dor owor-owor ” perempuan yang telah kehilangan intan berharganya. Bagaimana dengan laki-laki yang menyandang jejaka sejati?
Dalam pranata sosial yang berkembang , secara khusus perempuan terbatasi oleh pelarangan-pelarangan atau pembatasan-pembatasan peran sosial-budaya perempuan. Semisal ” Aja Nglungguhi Alu Ngadek” tidak boleh menduduki antan ( penumbuk padi). Pelarangan terhadap perempuan untuk tidak boleh sembarangan duduk atau dengan sengaja duduk di antap karena akan berbahaya, pantat dan tubuh akan sakit. Tetapi didalam pelarangan itu tidak sekadar alu sebagai alat penumbuk padi tetapi lebih sebagai makna kiasan dari organ biologis laki-laki. ”Alu” melambangkan alat kelamin laki-laki yang sudah siap orgasme dan jika atau perempuan itu mendekat maka keprawanan yang dilambangkan sebagai intan akan hilang. Mengapa perempuan yang dilarang bukankah laki-laki pemilik alu juga harus berhati-hati menggunakan alu penumbuk padi agar padi tidak rusak sehingga pemilik padi akan senang.
PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN USIA DINI
Berbicara soal perempuan yang terekam dalam benak siapapun termasuk perempuan itu sendiri adalah makhluk yang mempunyai kelembutan, feminitas, sensualitas pemicu timbulnya libido seksualitas bagi kaum maskulin. Tak hayal segala komoditas produk apapa pun baik produk perlengkapan rumah tangga, elektronik, otomotif, apalagi produk kecantikan, perempuanlah sebagai simbul hasrat pasar. Sekalipun produk itu tidak ada hubungannya dengan feminitas, perempuan tetap saja dieksploitasi sebagai pemantik selera konsumen ( pasar ). Semisal, produk hand phone yang seharusnya tidak ada hubungannya dengan sensualitas tubuh perempuan nyatanya iklan produk tersebut lebih mengetengahkan kemolekan tubuh perempuan. Bahkan kemanfaatan produk itu tak semenenarik keindahan dan feminitas tubuh perempuan. Pertandingan tinju pun tanpa wanita seksi tak menarik untuk dinikmati oleh bebotoh.
Jelas sekali kelebihan perempuan yang tidak pernah dimiliki oleh kaum lelaki dimanfaatkan oleh siapapun baik perempuan itu sendiri maupun lelaki. Apalagi para pemilik modal akan getol mengeksploitasi keberadaan makhluk Tuhan yang paling seksi ini.
Meskipun gerakan perempuan mengaktualisasikan persamaan gender lewat gerakan revolusioner sekali pun sebenarnya tak mampu mengubah pandangan perempuan sebagai kaum lemah yang lazim diperebutkan, dipertaruhkan, dieksploitasi. Hal itu dapat dicermati dari perlakuan terhadap perempuan mulai dari zaman sebelum mengenal peradapan sampai zaman beradap, dari zaman penjajahan sampai zaman kemerdekakan.
Kelebihan-kelebihan perempuan yang tak pernah dimiliki oleh lelaki seperti penyabar, keibuan, telaten, manut, nurut dan tahan ujian hidup terlupakan. Namun, hal itu tidak bagi perempuan-perempuan pejuang pendidikan. Perempuan pengajar di pendidikan pendidikan usia dini (PAUD) memanfaatkan kelebihan untuk mengembangkan profesi yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa. Ya, perempuan-perempuan cerdas yang memanfaatkan kelebihan itu tanpa mempertontonkan kemontokan, kemolekan tubuh untuk melakukan sesuatu.
Lihat saja kemerebakan pendidikan usia dini (PAUD), play group, kelompok bermain, raudatul atfal ( RA) merupakan kecerdasan perempuan dalam memanfaatkan kelebihan itu. Dari sekian lembaga pendidikan yang tidak masuk dalam peta pendidikan dasar di Indonesia itu, keterlibatan perempuan dapat diyakini 90% lebih. Apalagi tenaga pengajarnya hampir 99 % perempuan. Misalnya dikecamatan Gunungpati saja tak satu pun dijumpai pengajar Taman Kanak-kanak ( TK ) laki-laki.
Yang menjadi pertanyaan, Benarkah keterlibatan perempuan itu merupakan profesi yang didasarkan pada pentingnya pendidikan anak usia dini? Atau sekadar pencarian kesibukan?
Seperti yang disampaikan oleh Ana Indarti guru TK Pertiwi Kalisegoro Gunungpati bahwa profesi yang dia lakoni merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi anak yang tidak memperoleh perlakuan pendidikan yang memadai pada usia emas ( golden age ). Anak yang masih memerlukan pendidikan dan bimbingan di usia emas tersebut harus memenuhi kebutuhan bermain, belajar, mengembangkan kecerdasan sendiri tanpa bimbingan orang tua. Anak diperlakukan sebagai orang dewasa mini, mampu berbuat dan mengembangkan potensi, mengambil keputusan sendiri. Sementara kedua orangtuanya sibuk bekerja.
Hal yang sama juga disampaikan oleh teman sejawat, Juwariyah, A.Ma bahwa kecerdasan anak yang pesat terjadi sejak anak baru lahir sampai usia lima tahun sehingga anak-anak perlu memperoleh pendidikan yang tepat di masa emasnya. “ Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Keith Osborn bahwa, kreatifitas anak mulai meningkat pada usia tiga tahun sedangkan mencapai puncaknya pada usia empat setengah tahun. Hampir 50 % potensi kecerdasan anak terbentuk pada usia empat. Kemudian secara bertahap mencapai 80 % pada usia 8 tahun” Imbuhnya.
Mengapa peluang itu tidak diambil oleh kaum laki-laki sebagai suatu bentuk peluang usaha yang menjanjikan? Misalnya, peluang mendirikan PAUD. Peluang menciptakan sarana bermain dan peluang usaha lainnya. Semua peluang itu memang dapat dilakukan oleh laki-laki.
Kaum Adam memang dapat melakukan pekerjaan tersebut, tetapi tidak sebagai tenaga pengajar di PAUD. Karena lelaki tidak mampu menandingi kelebihan perempuan yang mempunya sifat ke ibuan dengan berbagai kemampuan lain yang melekat padanya. Tanpa mengedepankan keindahan tubuh, perempuan tetap mampu berbuat untuk diri dan orang lain.Dengan keperkasaannya laki-laki tak mampu melakoni.
Benarkah kaum Adam tidak mampu? Meski tidak banyak laki-laki juga ada yang menjadi tenaga pengajar di TK dan sejenisnya. Mengapa tidak banyak? Tenaga pengajar di PAUD memang tidak menjanjikan. Bagaimana menjanjikan ? Di tengah tingginya pemaknaan hidup yang hedonisme ini hanya perempuan pengabdi mampu melakukannya. Perempuan yang mengubah nalarnya dari perempuan yang selama ini selalu memanfaatkan keindahan tubuh sebagai sarana menguasai pangsa pasar semua produk.
Benarkah perempuan-perempuan telah berafirmasi pada wilayah yang tak mengedepankan feminismi untuk melakukan sesuatu tetapi wilayah pengabdian pada bangsa. Manusia yang lebih mementingkan hidup bukan sekadar materi sebagai wujud keberhasilan hidup, tetapi hidup lebih peduli yang di imani.
Absurd memang, di tengah keberadaana dunia glamor semuanya serba mewah, hidup hanya didasari total materi yang dimiliki dan tingginya nilai konsumtif , perempuan-perempuan tetap saja menjadi sosok pengabdi pada bangsa. Ataukah karena dikotomi perempuan oleh pemerintah atau pengembil kebijakan. Benarkah pemerintah dengan segala kebijakan, pemilik yayasan dengan segala keterbukaan, wali murid dengan keihlasan , pengambil kebijakan dengan tangan besinya tak mampu mensejahterakan tenaga pengajar PAUD?
Perempuan-perempuan itu tak pernah memikirkan tetapi sebenarnya mengharap. Pekerjaan mulia yang mereka lakukan dengan kemuliaan itu tak berimbang dengan rupiah yang diperoleh. Bagaimana tidak?
Melakukan profesi yang dilakukan dengan profesionali itu sebenarnya tak menjanjikan. Pendidikan PAUD yang belum masuk ke lembaga pendidikan formal sebenarnya merupakan indikasi suramnya masa depan perempuan pengabdi itu dalam hal penghasilan. Dengan rupiah yang tak seberapa, jauh dari Upah Minimal Regional ( UMR ) perempuan itu harus sabar dalam mengajar, rapi dalam berdandan, luwes dalam bergaul, contoh bagi masyarakat semuanya harus profesional.
Sebuah masa depan yang belum jelas arahnya, karena tak ada jaminan kesejahteraan. Hal itu dikarenakan tak ada kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang mewajibkan anak untuk sekolah di taman kanak-kanak. Tak hanyal peran perempuan ini dipandang sebelah mata oleh pemangku kebijakan. Misalnya, perihal kesejahteraan. Berapa persen pengajar di sekolah ini yang menjadi PNS? Berapa persen sekolah yang telah menggaji tenaga pengajarnya sama jumlahnya dengan UMR?
Bahkan tidak ada kewajiban sekolah dasar untuk menerima murid baru yang sudah berijazah TK atau sebaliknya. Sekolah dasar hanya akan menerima siswa dengan dasar usia anak yaitu kurang lebih tujuh tahun. Apalagi kewajiban sekolah mengupah karyawannya sesuai UMR.
Ya, perempuan memang lemah namun kuat dalam cara pandang ditengah penyudutan perempuan sebagai mahkluk yang dimanfaatkan pasar. Feminisme yang mampu mengundang hasrat seksualitas kaum hawa itu telah diartikan sebagai konsumsi pasar yang menarik. Namun keterlibatan perempuan dalam profesi ini sebagai bagian dari peran perempuan ditengah maraknya distorsi terhadap keberadaan perempuan. Perempuan ( ibu ) yang mapu membuat hitam putihnya bangsa. Di tangan ibu lewat pendidikan informal ( rumah ) pendidikan yang pertama dan utama memegang peranan penting dalam perkembangan generasi. Tanpa perempuan kehidupan tak bermakna.
Jelas sekali kelebihan perempuan yang tidak pernah dimiliki oleh kaum lelaki dimanfaatkan oleh siapapun baik perempuan itu sendiri maupun lelaki. Apalagi para pemilik modal akan getol mengeksploitasi keberadaan makhluk Tuhan yang paling seksi ini.
Meskipun gerakan perempuan mengaktualisasikan persamaan gender lewat gerakan revolusioner sekali pun sebenarnya tak mampu mengubah pandangan perempuan sebagai kaum lemah yang lazim diperebutkan, dipertaruhkan, dieksploitasi. Hal itu dapat dicermati dari perlakuan terhadap perempuan mulai dari zaman sebelum mengenal peradapan sampai zaman beradap, dari zaman penjajahan sampai zaman kemerdekakan.
Kelebihan-kelebihan perempuan yang tak pernah dimiliki oleh lelaki seperti penyabar, keibuan, telaten, manut, nurut dan tahan ujian hidup terlupakan. Namun, hal itu tidak bagi perempuan-perempuan pejuang pendidikan. Perempuan pengajar di pendidikan pendidikan usia dini (PAUD) memanfaatkan kelebihan untuk mengembangkan profesi yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa. Ya, perempuan-perempuan cerdas yang memanfaatkan kelebihan itu tanpa mempertontonkan kemontokan, kemolekan tubuh untuk melakukan sesuatu.
Lihat saja kemerebakan pendidikan usia dini (PAUD), play group, kelompok bermain, raudatul atfal ( RA) merupakan kecerdasan perempuan dalam memanfaatkan kelebihan itu. Dari sekian lembaga pendidikan yang tidak masuk dalam peta pendidikan dasar di Indonesia itu, keterlibatan perempuan dapat diyakini 90% lebih. Apalagi tenaga pengajarnya hampir 99 % perempuan. Misalnya dikecamatan Gunungpati saja tak satu pun dijumpai pengajar Taman Kanak-kanak ( TK ) laki-laki.
Yang menjadi pertanyaan, Benarkah keterlibatan perempuan itu merupakan profesi yang didasarkan pada pentingnya pendidikan anak usia dini? Atau sekadar pencarian kesibukan?
Seperti yang disampaikan oleh Ana Indarti guru TK Pertiwi Kalisegoro Gunungpati bahwa profesi yang dia lakoni merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi anak yang tidak memperoleh perlakuan pendidikan yang memadai pada usia emas ( golden age ). Anak yang masih memerlukan pendidikan dan bimbingan di usia emas tersebut harus memenuhi kebutuhan bermain, belajar, mengembangkan kecerdasan sendiri tanpa bimbingan orang tua. Anak diperlakukan sebagai orang dewasa mini, mampu berbuat dan mengembangkan potensi, mengambil keputusan sendiri. Sementara kedua orangtuanya sibuk bekerja.
Hal yang sama juga disampaikan oleh teman sejawat, Juwariyah, A.Ma bahwa kecerdasan anak yang pesat terjadi sejak anak baru lahir sampai usia lima tahun sehingga anak-anak perlu memperoleh pendidikan yang tepat di masa emasnya. “ Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Keith Osborn bahwa, kreatifitas anak mulai meningkat pada usia tiga tahun sedangkan mencapai puncaknya pada usia empat setengah tahun. Hampir 50 % potensi kecerdasan anak terbentuk pada usia empat. Kemudian secara bertahap mencapai 80 % pada usia 8 tahun” Imbuhnya.
Mengapa peluang itu tidak diambil oleh kaum laki-laki sebagai suatu bentuk peluang usaha yang menjanjikan? Misalnya, peluang mendirikan PAUD. Peluang menciptakan sarana bermain dan peluang usaha lainnya. Semua peluang itu memang dapat dilakukan oleh laki-laki.
Kaum Adam memang dapat melakukan pekerjaan tersebut, tetapi tidak sebagai tenaga pengajar di PAUD. Karena lelaki tidak mampu menandingi kelebihan perempuan yang mempunya sifat ke ibuan dengan berbagai kemampuan lain yang melekat padanya. Tanpa mengedepankan keindahan tubuh, perempuan tetap mampu berbuat untuk diri dan orang lain.Dengan keperkasaannya laki-laki tak mampu melakoni.
Benarkah kaum Adam tidak mampu? Meski tidak banyak laki-laki juga ada yang menjadi tenaga pengajar di TK dan sejenisnya. Mengapa tidak banyak? Tenaga pengajar di PAUD memang tidak menjanjikan. Bagaimana menjanjikan ? Di tengah tingginya pemaknaan hidup yang hedonisme ini hanya perempuan pengabdi mampu melakukannya. Perempuan yang mengubah nalarnya dari perempuan yang selama ini selalu memanfaatkan keindahan tubuh sebagai sarana menguasai pangsa pasar semua produk.
Benarkah perempuan-perempuan telah berafirmasi pada wilayah yang tak mengedepankan feminismi untuk melakukan sesuatu tetapi wilayah pengabdian pada bangsa. Manusia yang lebih mementingkan hidup bukan sekadar materi sebagai wujud keberhasilan hidup, tetapi hidup lebih peduli yang di imani.
Absurd memang, di tengah keberadaana dunia glamor semuanya serba mewah, hidup hanya didasari total materi yang dimiliki dan tingginya nilai konsumtif , perempuan-perempuan tetap saja menjadi sosok pengabdi pada bangsa. Ataukah karena dikotomi perempuan oleh pemerintah atau pengembil kebijakan. Benarkah pemerintah dengan segala kebijakan, pemilik yayasan dengan segala keterbukaan, wali murid dengan keihlasan , pengambil kebijakan dengan tangan besinya tak mampu mensejahterakan tenaga pengajar PAUD?
Perempuan-perempuan itu tak pernah memikirkan tetapi sebenarnya mengharap. Pekerjaan mulia yang mereka lakukan dengan kemuliaan itu tak berimbang dengan rupiah yang diperoleh. Bagaimana tidak?
Melakukan profesi yang dilakukan dengan profesionali itu sebenarnya tak menjanjikan. Pendidikan PAUD yang belum masuk ke lembaga pendidikan formal sebenarnya merupakan indikasi suramnya masa depan perempuan pengabdi itu dalam hal penghasilan. Dengan rupiah yang tak seberapa, jauh dari Upah Minimal Regional ( UMR ) perempuan itu harus sabar dalam mengajar, rapi dalam berdandan, luwes dalam bergaul, contoh bagi masyarakat semuanya harus profesional.
Sebuah masa depan yang belum jelas arahnya, karena tak ada jaminan kesejahteraan. Hal itu dikarenakan tak ada kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang mewajibkan anak untuk sekolah di taman kanak-kanak. Tak hanyal peran perempuan ini dipandang sebelah mata oleh pemangku kebijakan. Misalnya, perihal kesejahteraan. Berapa persen pengajar di sekolah ini yang menjadi PNS? Berapa persen sekolah yang telah menggaji tenaga pengajarnya sama jumlahnya dengan UMR?
Bahkan tidak ada kewajiban sekolah dasar untuk menerima murid baru yang sudah berijazah TK atau sebaliknya. Sekolah dasar hanya akan menerima siswa dengan dasar usia anak yaitu kurang lebih tujuh tahun. Apalagi kewajiban sekolah mengupah karyawannya sesuai UMR.
Ya, perempuan memang lemah namun kuat dalam cara pandang ditengah penyudutan perempuan sebagai mahkluk yang dimanfaatkan pasar. Feminisme yang mampu mengundang hasrat seksualitas kaum hawa itu telah diartikan sebagai konsumsi pasar yang menarik. Namun keterlibatan perempuan dalam profesi ini sebagai bagian dari peran perempuan ditengah maraknya distorsi terhadap keberadaan perempuan. Perempuan ( ibu ) yang mapu membuat hitam putihnya bangsa. Di tangan ibu lewat pendidikan informal ( rumah ) pendidikan yang pertama dan utama memegang peranan penting dalam perkembangan generasi. Tanpa perempuan kehidupan tak bermakna.
PEREMPUAN DAN BUSANA “Ajining sarira saka ing busana”
MENATAP zaman edan yang begitu cepat mendekat, merubah sendi-sendi kehidupan, menyengsarakan kehidupan rakyat, merubah pola nalar, membalikkan tangan, menjauhkan kehidupan dari adat istiadat dan sopan santun. Laki-laki berulah bak perempuan, begitu juga perempuan berpenampilan seperti laki-laki. Tak ada batas pembeda antara perempuan dan laki-laki. Perempuan bercelana pendek bahkan sebatas menutup kemaluan, perut dan pusar bebas di umbar, putting susu dan mahkota tubuh dipertontonkan tanpa risih dan malu.
Busana tidak lagi berfungsi menutup aurat malah berguna untuk menambah seksinya aurat. Betapa tidak? Tubuh dan betis perempuan dianggap tidak menarik tatkala berkebaya dan berkerudung. Pakaian dianggab baik dan indah jika mampu menambah sahwat lelaki. Mempertononkan mulusnya betis dan puting adalah bagian dari seni berbusana. Atau bahkan, menyelubungi tubuh secara rapet dianggap penghambat kemajuan.
Maka tak mengherankan tat kala akan diundangkan Undang-undang Anti Prornografi dan Pornoaksi yang membatasi perempuan dan laki-laki justru banyak perempuan yang akan ber-reaksi, dengan bertelanjang. Atau bahkan jika telanjang di tempat umum tidak dilarang atau dianggab tabu oleh adat istiadat ketimuran tidak sedikit perempuan yang bersedia untuk menampilkan paha dan vagina dengan bertelanjang bulat.
Perempuan tidak lagi tabu dengan pakaian ala Suku Asmat. Analog dengan pengalaman seni pakaian suku Asmat, Asmatisasi sebagai semiotika keindahan terkesan menghegemoni perempuan. Nalar perempuan telah tercucikan oleh pengaruh globalisasi yang salah arah.
Ya, pakaian Suku Asmat yang dianggap belum beradap itu malah menjadi inspirasi trend busana perempuan di zaman beradap. Perempuan tidak lagi tabu dengan berbusana tembus pandang atau bahkan hanya busana yang cukup untuk menutupi puting dan organ kewanitaan lainnya. Yang justru pengertian dan pemaknaan perempuan cantik dan seksi itu tidak sekadar perempuan yang memiliki lekukan tubuh pada helain kain dengan bentukan mode-mode tembus pandang. Atau bahkan mulusnya tubuh yang terlihat jelas. Melainkan faktor internal perempuan lebih mendominasi tanpa harus membuka aurat. Jika beberapa lelaki diwajibkan untuk memilih dua obsi untuk menentukan nilai kecantikan perempuan yang bernama Siti Nurhaliza dan Julia Perez, maka kebanyakan lelaki lebih memilih Siti Nurhaliza daripada Julia Perez ( Jupe). Tetapi jika ada lelaki yang memilih Julia Perez hanya sekadar untuk menikmati tubuhnya. Lelaki penikmat bukan lelaki yang berkeinginan untuk bebrayan.
Makna keindahan dan kecantikan tubuh dengan segala atribut yang dikenakan, sesungguhnya ditentukan antara lain oleh konstruksi nilai yang menjadi bingkai kultur masyarakat. Asmatisasi sebagai tengara keindahan normatif – harus ditampakkan secara nyata – jadilah ia hadir sebagai perempuan yang memahami kecantikan hanya sekadar kenampakan betis yang mampu menarik lelaki untuk berseluit, suit-suit.
Begitu berkeinginan untuk berpakaian, perempuan yang menempatkan fungsi busana sebagai sarana mengumbar sahwat lelaki, perempuan itu hanya sanggup bercelana pendek yang cukup untuk menutupi makota perempuan (vagina). Celana pendek dengan asesoris lubang-lubang kecil itu, siap mempertontonkan tubuh perempuan laksana emas 24 karat yang menarik para lelaki untuk memakai dan menggunakan
Pakaian tidak hanya sebatas mempercantik tubuh, memperindah penampilan, menambah kepercayaan, bahkan dimaknai sebagai sarana untuk menambah nilai jual keseksian pantat, atau produk yang tidak berkait erat dengan busana itu sendiri. Tafsir dan sudut pandang perempuan tentang busana telah mampu mengalihkan fungsi pakaian dan fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Perempuan yang cantik dan menarik tidaklah perempuan yang mengatakan bahwa, mengenakan pakain yang mampu menambah sahwat lelaki, merupakan bagian keberhasilan perempuan dalam berpakaian. Tidak semua orang mengatakan Julia Peres itu cantik. Tetapi tidak semua orang beranggapan Julia Peres itu berakhlak baik. Banyak orang yang beranggapan bahwa perempuan yang berpakaian seronok hingga sebagain besar anggota tubuh dapat dilihat adalah perempuan yang siap dibeli tubuhnya untuk dinikmati.
Sekalipun perempuan yang duduk-duduk di depan rumah itu mahasiswa, tetapi jika perempuan itu mengenakan busana yang mempertontonkan benjolan di dada dan paha mulusnya tak seorang pun beranggapan bahwa perempuan itu mahasiswa, justru diasumsikan sebagai perempuan penyandang gelar ayam kampus. Apalagi jika ditambah dengan dandanan menor, dengan posisi duduk mengepang kaki sebutan “ perempuan perek” justru lebih pas.
Lain halnya dengan perempuan perek yang tinggal di Gang Kuburan, lokalisasi perbatasan Kendal-Semarang. Meskipun sehariannya berprofesi sebagai wanita tuna susila ( WTS) berjualan tubuh seksi tetapi jika berpakaian rapi, mengenakan celana dan baju lengan panjang, orang tidak begitu saja mengatakan perempuan itu lonthe. Bahkan lelaki yang datang untuk membeli tubuh perempuan perek itu tak langsung menawar harga persetubuhan. Melainkan , mereka akan bertanya kepada siapa saja. Atau, bahkan, lelaki itu akan lebih berhati-hati untuk menawar harga persetubuhan kepada wanita tuna susila (WTS). Dengan berasusah payah Lelaki itu sekadar memperoleh informasi tentang keberadaan perempuan berkebaya atau berkerudung itu. Meskipun sebenarnya perempuan itu perek penghuni tetap di Lokalisasi Sunan Kuning. Ketidak percayaan yang menyelimuti pikiran lelaki itu bersamaan dengan hadirnya busana yang berfungsi menjaga kehormatan.
Ya, siapa pun tidak hanya lelaki, perempuan pun akan menghargai sesorang dari cara berbusana. Begitu juga lelaki akan memberikan penilaian kepada perempuan lewat pakaian yang dikenakan. Bukan Cuma kepandaian dan harta benda yang berlimpah ruah.
Bagaimana seorang Drupadi yang tidak mau mencuci rambutnya tat kala belum membalas dendam pada Duryudana yang telah merobek bajunya hingga sebagin tubuhnya terlihat. Meski hanya sebuah cerita Mahabarata tetapi dapat menjadi pijakan berfikir, betapa pentingnya menjaga kehormatan kewanitaan dengan berpakaian yang baik.
Perempuan yang disebut juga dengan wanita “ wani di tata “ menginsipirasikan bahwa perempuan tercipta sebagai makhluk yang lemah secara fisik maupun prinsip. Tidakkah kita pernah mendengar atau membaca bahwa perempuan ( Hawa, istri Nabi Adam ) diciptakan dari tulang rusuk. Bagian tulang yang sangat rapuh, bengkok. Jika tulang itu diluruskan maka akan patah karena kerapuhannya, begitu juga jika tulang bengkok tidak akan diluruskan maka tewaslah riwayat perempuan.
Tafsir perempuan tetang pakaian yang dapat menambah sahwat lelaki adalah bentuk keberhasilan perempuan dalam berpakaian. Pencucian otak-otak perempuan yang mampu mengubah nalar perempuan bahwa cantik harus dengan berpakaian seksi bagian dari bentuk kesalahpahaman yang perlu pelurusan.
Zaman memang sudah edan, zaman edan sudah berjalan. Ya, Amenangi zaman yang sudah edan ini semua serba sulit. Ikut edan di zaman edan pasti kita tidak tahan tetapi jika tidak ikut edan atau ngedan kita tetap nglakoni. Tetapi benarkah zamannya yang edan atau justru manusianya yang sudah mengubah zaman menjadi edan.
Orang bijak tidak mesti menjadi asin meski hidup di tengah samudra dengan air yang kadar garamnya tinggi. Bak ikan di laut bebas yang sehariannya berlumuran garam laut yang tak terbilang asinnya itu tetap saja dagingnya tawar. Perempuan yang sudah hidup di zaman edan tidak perlu ikut edan. Jika ada perempuan yang tidak pernah diperkosa karena pakaiannya sebatas menutupi puting dan vagina hanyalah bagian keberuntungan di zaman edan. Tetapi keberuntungan yang mengalahkan naluri dan mencuci otak waras masih lebih baik dengan perempuan yang masih eling dengan hakekat dan fungsi pakaian.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Nur : 31 ” Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya mereka memejamkan mata mereka dari pada yang tidak halal, dan hendaklah mereka menjaga keharmonisan mereka, janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka selain dari pada yang biasa nyata kelihatan ( sukar menutupinya), dan hendaklah mereka tutupkan kerudung ( telekung) mereka kuduk dan dada mereka, dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, bapak mereka, mertua mereka, anak mereka, anak saudara mereka, saudara perempuan, hamba mereka, atau orang yang mengikutinya kepada perempuan, atau kepada kanak-kanak yang belum nafsu melihat aurat perempuan.”
Nenek moyang dan para pendahulu kita telah mampu membaca tanda-tanda zaman sebelum hal itu terjadi. Orang-orang yang sinebut Waskita ”wong kang limpad ing budi” (orang-orang yang mampu membaca tanda zaman). Sebut saja Rangga Warsita, Jaya baya, Sunan Kalijaga telah paham tentang zaman yang bakal terjadi. Mereka pun tidak sekadar tahu tetapi, bagaimana sikap kita dalam menghadapi dekadensi generasi di zaman edan. Laku manusia agar waspada dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia yang telah memiliki paugeran hidup berupa adat istiadat, sopan santun perlukah kiranya dijaga dan diugemi agar menjadi perempuan yang dihormati.
Anak-anak muda, secara tidak terelakkan, berada dalam jerat kuasa itu. Perempuan dengan pernak-pernik busana menjadi subjek komsumerisme yang terlahir dari rahim-rahim kapitalisme yah, anak-anak ( perempuan ) akan menjadi bayi yang terjerumus dalam jurang kapitalis sejati. Busana bukan lagi bagian dari piranti mempertahankan kehormatan dan harga diri. Tubuh dan busana menjadi pernik penikmat budaya eksotis yang tmenjerumuskan dalam liang kapitalis. Produk yang tak terkait erat dengan busana justru akan terkalahkan dengan eksotisme yang mengedepankan pengkultusan tubuh dari segala predikat.
Ajining sarira saka ing busana. Pakaian dapat menunjukkan derajat atau bahkan malah mampu mamberikan pemaknaan hidup dan mengangkat kehormatan manusia sebagai pribadi, maupun makhluk ciptaan Tuhan. Atau bahkan harga diri seseorang dapat dihasilkan dari kemampuan seseorang dalam menata dan menempatkan pakaian sesuai dengan fungsi busana yang sebenar-benarnya. Pakaian dan pernak-perniknya menjadi perhelatan dalam mempertahankan , harga diri, kepribadiaan, persetubuhan dan pemerkosaan. Menjadi sebab dan akibat, dari maksud dan tujuan berbusana.
.
:
Busana tidak lagi berfungsi menutup aurat malah berguna untuk menambah seksinya aurat. Betapa tidak? Tubuh dan betis perempuan dianggap tidak menarik tatkala berkebaya dan berkerudung. Pakaian dianggab baik dan indah jika mampu menambah sahwat lelaki. Mempertononkan mulusnya betis dan puting adalah bagian dari seni berbusana. Atau bahkan, menyelubungi tubuh secara rapet dianggap penghambat kemajuan.
Maka tak mengherankan tat kala akan diundangkan Undang-undang Anti Prornografi dan Pornoaksi yang membatasi perempuan dan laki-laki justru banyak perempuan yang akan ber-reaksi, dengan bertelanjang. Atau bahkan jika telanjang di tempat umum tidak dilarang atau dianggab tabu oleh adat istiadat ketimuran tidak sedikit perempuan yang bersedia untuk menampilkan paha dan vagina dengan bertelanjang bulat.
Perempuan tidak lagi tabu dengan pakaian ala Suku Asmat. Analog dengan pengalaman seni pakaian suku Asmat, Asmatisasi sebagai semiotika keindahan terkesan menghegemoni perempuan. Nalar perempuan telah tercucikan oleh pengaruh globalisasi yang salah arah.
Ya, pakaian Suku Asmat yang dianggap belum beradap itu malah menjadi inspirasi trend busana perempuan di zaman beradap. Perempuan tidak lagi tabu dengan berbusana tembus pandang atau bahkan hanya busana yang cukup untuk menutupi puting dan organ kewanitaan lainnya. Yang justru pengertian dan pemaknaan perempuan cantik dan seksi itu tidak sekadar perempuan yang memiliki lekukan tubuh pada helain kain dengan bentukan mode-mode tembus pandang. Atau bahkan mulusnya tubuh yang terlihat jelas. Melainkan faktor internal perempuan lebih mendominasi tanpa harus membuka aurat. Jika beberapa lelaki diwajibkan untuk memilih dua obsi untuk menentukan nilai kecantikan perempuan yang bernama Siti Nurhaliza dan Julia Perez, maka kebanyakan lelaki lebih memilih Siti Nurhaliza daripada Julia Perez ( Jupe). Tetapi jika ada lelaki yang memilih Julia Perez hanya sekadar untuk menikmati tubuhnya. Lelaki penikmat bukan lelaki yang berkeinginan untuk bebrayan.
Makna keindahan dan kecantikan tubuh dengan segala atribut yang dikenakan, sesungguhnya ditentukan antara lain oleh konstruksi nilai yang menjadi bingkai kultur masyarakat. Asmatisasi sebagai tengara keindahan normatif – harus ditampakkan secara nyata – jadilah ia hadir sebagai perempuan yang memahami kecantikan hanya sekadar kenampakan betis yang mampu menarik lelaki untuk berseluit, suit-suit.
Begitu berkeinginan untuk berpakaian, perempuan yang menempatkan fungsi busana sebagai sarana mengumbar sahwat lelaki, perempuan itu hanya sanggup bercelana pendek yang cukup untuk menutupi makota perempuan (vagina). Celana pendek dengan asesoris lubang-lubang kecil itu, siap mempertontonkan tubuh perempuan laksana emas 24 karat yang menarik para lelaki untuk memakai dan menggunakan
Pakaian tidak hanya sebatas mempercantik tubuh, memperindah penampilan, menambah kepercayaan, bahkan dimaknai sebagai sarana untuk menambah nilai jual keseksian pantat, atau produk yang tidak berkait erat dengan busana itu sendiri. Tafsir dan sudut pandang perempuan tentang busana telah mampu mengalihkan fungsi pakaian dan fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Perempuan yang cantik dan menarik tidaklah perempuan yang mengatakan bahwa, mengenakan pakain yang mampu menambah sahwat lelaki, merupakan bagian keberhasilan perempuan dalam berpakaian. Tidak semua orang mengatakan Julia Peres itu cantik. Tetapi tidak semua orang beranggapan Julia Peres itu berakhlak baik. Banyak orang yang beranggapan bahwa perempuan yang berpakaian seronok hingga sebagain besar anggota tubuh dapat dilihat adalah perempuan yang siap dibeli tubuhnya untuk dinikmati.
Sekalipun perempuan yang duduk-duduk di depan rumah itu mahasiswa, tetapi jika perempuan itu mengenakan busana yang mempertontonkan benjolan di dada dan paha mulusnya tak seorang pun beranggapan bahwa perempuan itu mahasiswa, justru diasumsikan sebagai perempuan penyandang gelar ayam kampus. Apalagi jika ditambah dengan dandanan menor, dengan posisi duduk mengepang kaki sebutan “ perempuan perek” justru lebih pas.
Lain halnya dengan perempuan perek yang tinggal di Gang Kuburan, lokalisasi perbatasan Kendal-Semarang. Meskipun sehariannya berprofesi sebagai wanita tuna susila ( WTS) berjualan tubuh seksi tetapi jika berpakaian rapi, mengenakan celana dan baju lengan panjang, orang tidak begitu saja mengatakan perempuan itu lonthe. Bahkan lelaki yang datang untuk membeli tubuh perempuan perek itu tak langsung menawar harga persetubuhan. Melainkan , mereka akan bertanya kepada siapa saja. Atau, bahkan, lelaki itu akan lebih berhati-hati untuk menawar harga persetubuhan kepada wanita tuna susila (WTS). Dengan berasusah payah Lelaki itu sekadar memperoleh informasi tentang keberadaan perempuan berkebaya atau berkerudung itu. Meskipun sebenarnya perempuan itu perek penghuni tetap di Lokalisasi Sunan Kuning. Ketidak percayaan yang menyelimuti pikiran lelaki itu bersamaan dengan hadirnya busana yang berfungsi menjaga kehormatan.
Ya, siapa pun tidak hanya lelaki, perempuan pun akan menghargai sesorang dari cara berbusana. Begitu juga lelaki akan memberikan penilaian kepada perempuan lewat pakaian yang dikenakan. Bukan Cuma kepandaian dan harta benda yang berlimpah ruah.
Bagaimana seorang Drupadi yang tidak mau mencuci rambutnya tat kala belum membalas dendam pada Duryudana yang telah merobek bajunya hingga sebagin tubuhnya terlihat. Meski hanya sebuah cerita Mahabarata tetapi dapat menjadi pijakan berfikir, betapa pentingnya menjaga kehormatan kewanitaan dengan berpakaian yang baik.
Perempuan yang disebut juga dengan wanita “ wani di tata “ menginsipirasikan bahwa perempuan tercipta sebagai makhluk yang lemah secara fisik maupun prinsip. Tidakkah kita pernah mendengar atau membaca bahwa perempuan ( Hawa, istri Nabi Adam ) diciptakan dari tulang rusuk. Bagian tulang yang sangat rapuh, bengkok. Jika tulang itu diluruskan maka akan patah karena kerapuhannya, begitu juga jika tulang bengkok tidak akan diluruskan maka tewaslah riwayat perempuan.
Tafsir perempuan tetang pakaian yang dapat menambah sahwat lelaki adalah bentuk keberhasilan perempuan dalam berpakaian. Pencucian otak-otak perempuan yang mampu mengubah nalar perempuan bahwa cantik harus dengan berpakaian seksi bagian dari bentuk kesalahpahaman yang perlu pelurusan.
Zaman memang sudah edan, zaman edan sudah berjalan. Ya, Amenangi zaman yang sudah edan ini semua serba sulit. Ikut edan di zaman edan pasti kita tidak tahan tetapi jika tidak ikut edan atau ngedan kita tetap nglakoni. Tetapi benarkah zamannya yang edan atau justru manusianya yang sudah mengubah zaman menjadi edan.
Orang bijak tidak mesti menjadi asin meski hidup di tengah samudra dengan air yang kadar garamnya tinggi. Bak ikan di laut bebas yang sehariannya berlumuran garam laut yang tak terbilang asinnya itu tetap saja dagingnya tawar. Perempuan yang sudah hidup di zaman edan tidak perlu ikut edan. Jika ada perempuan yang tidak pernah diperkosa karena pakaiannya sebatas menutupi puting dan vagina hanyalah bagian keberuntungan di zaman edan. Tetapi keberuntungan yang mengalahkan naluri dan mencuci otak waras masih lebih baik dengan perempuan yang masih eling dengan hakekat dan fungsi pakaian.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Nur : 31 ” Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya mereka memejamkan mata mereka dari pada yang tidak halal, dan hendaklah mereka menjaga keharmonisan mereka, janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka selain dari pada yang biasa nyata kelihatan ( sukar menutupinya), dan hendaklah mereka tutupkan kerudung ( telekung) mereka kuduk dan dada mereka, dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, bapak mereka, mertua mereka, anak mereka, anak saudara mereka, saudara perempuan, hamba mereka, atau orang yang mengikutinya kepada perempuan, atau kepada kanak-kanak yang belum nafsu melihat aurat perempuan.”
Nenek moyang dan para pendahulu kita telah mampu membaca tanda-tanda zaman sebelum hal itu terjadi. Orang-orang yang sinebut Waskita ”wong kang limpad ing budi” (orang-orang yang mampu membaca tanda zaman). Sebut saja Rangga Warsita, Jaya baya, Sunan Kalijaga telah paham tentang zaman yang bakal terjadi. Mereka pun tidak sekadar tahu tetapi, bagaimana sikap kita dalam menghadapi dekadensi generasi di zaman edan. Laku manusia agar waspada dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia yang telah memiliki paugeran hidup berupa adat istiadat, sopan santun perlukah kiranya dijaga dan diugemi agar menjadi perempuan yang dihormati.
Anak-anak muda, secara tidak terelakkan, berada dalam jerat kuasa itu. Perempuan dengan pernak-pernik busana menjadi subjek komsumerisme yang terlahir dari rahim-rahim kapitalisme yah, anak-anak ( perempuan ) akan menjadi bayi yang terjerumus dalam jurang kapitalis sejati. Busana bukan lagi bagian dari piranti mempertahankan kehormatan dan harga diri. Tubuh dan busana menjadi pernik penikmat budaya eksotis yang tmenjerumuskan dalam liang kapitalis. Produk yang tak terkait erat dengan busana justru akan terkalahkan dengan eksotisme yang mengedepankan pengkultusan tubuh dari segala predikat.
Ajining sarira saka ing busana. Pakaian dapat menunjukkan derajat atau bahkan malah mampu mamberikan pemaknaan hidup dan mengangkat kehormatan manusia sebagai pribadi, maupun makhluk ciptaan Tuhan. Atau bahkan harga diri seseorang dapat dihasilkan dari kemampuan seseorang dalam menata dan menempatkan pakaian sesuai dengan fungsi busana yang sebenar-benarnya. Pakaian dan pernak-perniknya menjadi perhelatan dalam mempertahankan , harga diri, kepribadiaan, persetubuhan dan pemerkosaan. Menjadi sebab dan akibat, dari maksud dan tujuan berbusana.
.
:
Langganan:
Postingan (Atom)